Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 292 - Latih Pedang II


__ADS_3

Babak kedua dimulai, tapi kali ini berbeda, Xin Zhan sudah mengambil langkah tepat setelah Ren Yuan memberi aba-aba. Pergerakan yang jauh berbeda dari sebelumnya, serangan Xin Zhan kini berpusat untuk menyerang dari bawah layaknya binatang buas. Serangan yang diajarkan Ayahnya dulu dan difokuskan untuk membuyarkan keseimbangan lawan. Xin Chen bukannya tak tahu tentang teknik ini hanya saja dirinya dulu terlalu malas untuk latihan.


Pedang kayu di tangan Xin Zhan berpindah dari tangan kanan ke kiri bergantian, mencari-cari letak kelemahan Xin Chen dan menyerang pedang kayunya. Sayang karena terlalu gegabah, Xin Zhan tak memperhatikan jarak mereka terlalu dekat hingga membuka celah lebar. Xin Chen menyikut punggung Xin Zhan, membuatnya buru-buru mundur untuk mengubah strategi. Tapi dia tak bisa lolos begitu saja, tak menunggu Xin Zhan mendapatkan kembali keseimbangannya, Xin Chen menyerang telak ke bagian dadanya.


Namun pergerakan cepat itu segera di sadari Xin Zhan, dia merunduk dan mengincar pinggang kiri lawan dengan kedua tangan memegang pedang kayu.


Saat kayu itu nyaris menghantam tubuh Xin Chen, dari arah bawah pedang kayu lain menangkisnya. Xin Zhan hampir ambruk karena tangkisan Xin Chen naik ke atas, menghantam jidatnya.


Xin Zhan memegang jidatnya, curiga ada benjolan bertingkat di sana lalu menyoroti adiknya garang. "Kau harus membayarnya dua kali lipat!"


Xin Chen sempat merinding. Antara takut dan ingin tertawa. Takut karena Xin Zhan mulai mengamuk dan tertawa karena benjolan benar-benar muncul di jidat kakaknya.


Ren Yuan hendak melanjutkan pertarungan, tetapi dia melihat tangan anaknya yang kedua terangkat. Sementara Xin Zhan terus memijit dahinya, dia menutupi jidat dengan rambut. Sementara mulutnya mulai menyumpah serapahi adiknya.


"Tunggu, beri aku waktu." Xin Chen melihat Xin Zhan lagi, sepertinya separah itu dia menangkis sampai benjolan di kepala Xin Zhan membulat merah. Bukannya menolong, dia malah tertawa.


"Waktu untuk menertawaiku?" Xin Zhan sudah ambil ancang-ancang untuk menghajar Xin Chen, dia kesal namun di saat bersamaan juga tak mau mengusik kesenangan adiknya itu. "Jaga baik-baik jidatmu, Chen. Jangan sampai aku memukulnya sampai tumbuh tanduk di sana."


Ren Yuan tertawa kecil, baru kali ini dia melihat anak tertuanya itu rela ditertawai. Biasanya dia akan bersikap dingin sambil memasang wajah dingin.


'Xin Zhan memang kakak yang baik.' ucap Ren Yuan sembari menarik napas lega. Dia hanya bisa melihat dua putranya itu saling adu debat mempermasalahkan tinggi tidaknya benjolan Xin Zhan. Mungkin hanya dengan saling bertengkar saja kedua pemuda itu bisa akur. Samar-samar, dia dapat melihat dua anak kecil kembar yang saling memukul lalu tertawa terbahak-bahak, berlarian di sekeliling halaman dan menginjak bunga yang ditanamnya. Tanpa sadar Ren Yuan tersenyum, hari-hari itu begitu indah.

__ADS_1


"Pertarungan ketiga sebentar lagi akan dimulai!" teriak Ren Yuan membuyarkan perhatian dua anaknya itu. Mereka saling menjauh kembali, serius memandangi satu sama lain bukan sebagai kakak atau adik, melainkan seorang musuh.


Keadaan yang luar biasa hening di antara mereka membuat suara dari kejauhan pun dapat terdengar jelas. Xin Zhan mengangkat pedangnya sejajar dengan bahu kiri, kuda-kuda bertarung yang dipelajarinya oleh seorang ahli pedang di Kekaisaran Shang. Dia sempat berguru oleh banyak pendekar hebat, hanya saja ada beberapa yang meninggal karena usia yang sudah tua atau mati di medan perang.


Xin Zhan sempat maju beberapa kali dan mundur dengan cepat, strategi yang tak pernah Xin Chen pelajari. Pengetahuannya tentang ilmu berpedang hanya dari ayahnya. Selebih dari itu, Xin Chen tak pernah berguru dengan ahli silat mana pun.


Rupanya strategi Xin Zhan memang dimaksudkan untuk menggentarkan langkahnya, Xin Chen sempat ragu untuk mundur. Suara tapak kaki Xin Zhan secara tak sadar membuatnya ikut dengan alur pertarungan yang diinginkan Xin Zhan.


Langkah Xin Zhan maju sekali lagi, Xin Chen menebaskan serangan tepat di depan wajah Xin Zhan. Sadar pergerakannya terlalu gegabah, dia menarik langkah untuk mundur.


Cara bertarung Xin Zhan tadi sempat memanipulasi cara berpikirnya, keragu-raguannya untuk menyerang dan menebas asal saat Xin Zhan maju tadi adalah tujuan dari gaya bertarung Xin Zhan. Pedang Xin Zhan nyaris menghentak senjatanya, namun Xin Chen bertindak mengikuti instingnya untuk melindungi benda tersebut. Alhasil senjata Xin Zhan hanya sebatas memukul lengan tangannya. Xin Zhan memprotes.


"Menangkis dengan tangan tak ada di peraturan." Xin Chen tak mau kalah debat. Dua pemuda itu menatap Ren Yuan di waktu bersamaan.


"Curang atau tidak, ibu?"


Ren Yuan agak ragu-ragu melihat wajah kusam Xin Zhan, padahal strateginya tadi sudah berhasil dan dengan mudah dipatahkan.


"Tidak curang. Itu hanya pergerakan refleks untuk melindungi diri."


Xin Zhan menarik napas panjang, lalu mendecak pelan.

__ADS_1


Pertarungan dilanjutkan lagi, kali ini keduanya jauh lebih hati-hati. Baru pertarungan ketiga, tetapi baik Xin Chen maupun Xin Zhan sudah dapat mengukur kemampuan lawannya masing-masing.


"Kau juga berlatih mati-matian seperti ku, bukan? Aku tahu kau memang orang yang tak mau kalah."


Seandainya Xin Chen bisa menjawab jika dirinya bahkan tak memiliki waktu untuk melatih kemampuan berpedangnya. Ambisi Xin Zhan jauh lebih besar daripadanya, hal itu memang tak bisa dipungkiri lagi. Xin Zhan selalu serius dengan perkataannya.


"Kau sudah memiliki gelar Pilar Pertama, untuk apa lagi kau harus bersaing denganku?"


Dengan kedua tangan mencengkram pedang kayu, Xin Chen menyejajarkan benda itu di tengah wajah lawannya.


"Karena tanpa ambisi untuk mengalahkan mu, aku yakin aku tak akan berkembang sampai sejauh ini."


"Lebih terdengar seperti kau membenciku setengah mati."


Xin Zhan tak menyangkalnya, tak juga mengiyakannya. Tetapi yang pasti, Xin Chen baginya adalah orang yang benar-benar harus dia kalahkan. Detik itu dia juga berpikir untuk membeli obat peninggi badan. Harga dirinya sebagai seorang kakak seperti tercoreng dengan kenyataan Xin Chen lebih tinggi darinya.


Xin Zhan tak memakai trik yang telah digunakannya, tahu itu akan sia-sia. Dalam sesaat dia mulai menyadari bahwa adiknya itu begitu memperhatikan pertahanannya. Sikap berdiri dan cara memegang senjata yang sulit untuk diikuti. Guru-guru di Lembah Kabut Putih dulu tak pernah mengajarkan pada adiknya cara bertarung. Namun, Xin Zhan bisa mengakui bahwa perkembangan Xin Chen jauh melampaui perkiraannya.


"Setelah ini kau harus mengenalkan padaku gurumu."


Xin Zhan memasukkan serangan awal, berniat memukul mundur lawannya. Namun Xin Chen tetap pada tempatnya berdiri, menangis semua serangan yang datang dari Xin Zhan. Bunyi tangkisan kedua kayu tersebut bersusulan sengit, dalam satu detik saja terdengar dua kali tangkisan cepat.

__ADS_1


__ADS_2