
Perjalanan menjadi begitu lama karena beberapa kali mereka dihadang oleh segerombolan penjahat, sampai pertarungan tak bisa dihindarkan. Salah satu dari mereka nyaris kehilangan nyawa akibat pertarungan tengah malam itu. Namun siapa duga, dalam kegelapan malam, para penjahat tersebut seolah-olah hilang ditelan bumi. Tanpa menyisakan jejak atau pun darah. Banyak dari mereka yang mengira penjahat tersebut adalah hantu, tetapi senjata yang masih tersisa bekas pertarungan itu nyata.
Hampir sepuluh jam untuk mencapai satu kota yang memiliki susunan bangunan yang unik serta banyaknya bendera-bendera dikibarkan dengan gagah berani. Di sepanjang jalan kota dilindungi oleh deretan prajurit bertombak yang berdiri layaknya sebuah patung. Tanpa bergerak dan hanya menatap lurus ke depan. Mereka mengawasi jalan di mana kereta kuda dan juga kendaraan berkuda lainnya masuk membawa calon prajurit yang dipanggil dari berbagai daerah. Saat giliran kereta mereka yang masuk, Xin Chen dapat melihat lebih jelas bagaimana keadaan di sekitarkot tersebut. Tampakny bukan sebuah kota yang ditinggali oleh penduduk melainkan tempat yang sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah militer demi menjalankan kepentingannya.
Kuda mereka tiba-tiba saja berhenti karena barisan di depannya tertahan. Terjadi keributan persis di depan mereka. Terdapat satu kereta kuda dengan salah satu penumpang yang membawa pedang. Tak begitu lama para pemanah yang berada di setiap sisi jalan menembakkan panah kompak ke arah mereka. Membuat orang-orang dalamnya sekaligus dengan kudanya mati di tempat. Mereka disingkirkan segera agar barisan kuda lainnya dapat melanjutkan perjalanan.
Xin Chen menyembunyikan pedangnya segera dalam cincin penyimpanan. Mereka sebentar lagi akan diperiksa dan di situlah orang duduk di hadapan Xin Chen mengeluarkan belati di balik jubahnya, "Ba-bagaimana i-ini ..." Tangannya yang mmegang belati bergetar hebat tak karuan, Xin Chen memukul tangan itu hingga belatinya jatuh ke bawah. Tepat saat itu pula salah atu prajurit masuk ke dalam dan memeriksa mereka satu per satu. Laki-laki di hadapan Xin Chen panik saat prajurit tersebut langsung ke tempat Xin Chen yang menutupi senjata miliknya dengan kaki. Sang prajurit berbicara dengan suara lantang.
"Berikan senjata di tanganmu!"
Para laki-laki lainnya menatap Xin Chen cemas, membuat sang prajurit makin yin bahwa mereka memang menyembunyikan sesuatu. Tangan prajurt terangkat ke atas, dalam hitungan ketiga jika Xin Chen tak kunjung menjawab maka pasukan pemanah akan langsung menghabisi mereka.
"Satu!"
"Ka-kami tidak membawa senjata, kami berani bersumpah!"
__ADS_1
"Dua!" Prajurit itu tak mempedulikan apa kata yang lainnya, wajahnya terus menghadap ke arah Xin Chen. Satu hitungan lagi, prajurit itu akan mundur dan mereka dihabisi langsung di tempat.
"Tiga."
Tepat saat hitungan ketiga Xin Chen membungkukkan badannya demi mengambil sesuatu di bawah kakinya, sontak yang lainnya menggumam ketakutan. Sepeti menyuruhnya untuk tidak meneruskan hal itu.
"Aku membawa permata murahan. Apa tidak dibolehkan?"
Sebuah permata biru daun di tangannya berkilau redup, prajurit itu segera merampas benda itu dari tangannya dan memstikan berulang kali. Benda itu biasa digunakan untuk penyembuhan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengobatan. Jadi sebenarnya tak ada masalah. "Tidak ada masalah."
Dia turun dan menggerakkan tangan menyuruh kemudi untuk maju. Laki-laki di depan Xin Chen menarik napas berulang kali, tak percaya dia masih selamat dari ajalnya. Ditatapnya Xin Chen dengan mata yang sayu, belum begitu pulih dari paniknya tadi.
"Aku hanya menyimpannya di cincin ruang dan mengeluarkan benda lain."
"Sial. Kau membuatku panik, hahhaa. Kenalkan, namaku Hei Xing. Senang bisa bertemu denganmu, anak muda." Dia mengulurkan tangannya yang disambut dengan tangan yang begitu dingin."Hm? Tanganmu begitu dingin. Kau sangat gugup karena tadi, ya? Maafkan aku. Tapi untungnya kita masih bisa selamat ..."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Sepertinya kita harus lebih berhati-hati." Memang dalam iituasi tak terduga seperti tadi kekuatan roh paling berguna. Hei Xing terus menanyainya apakah baik-baik saja atau tidak. Padahal wajar bagi tubuh roh sepertinya tk memiliki subu\=\=hu tubuh selayaknya manusia biasa. Di sana terdapat lebih dari seratus penjaga ketat dan sisanya adalah mereka yang memiliki pangkat tinggi. Saat keuar dar kereta kuda, mereka dapat melihat begitu banyaknya laki-laki yang dikumpulkan. Bahkan mereka yang masih sangat belia dipasa untuk maju di pertempuran. Tengah hari terlewatkan begitu saja, mereka mulai mendata calon prajurit. Kebanyakan memang bertanya tentang nama, asal dan juga klan. Mereka berbaris menunggu giliran untuk didata oleh orang yang duduk di meja kayu. Dia seperti orang cerewet yang mempermasalahkan banyak hal. Kepala desa brnama Bao Ning berdiri di belakangnya, dia mengatakan jika Xin Chen kesulitan menjawab maka dirinya akan membantu.
Xin Chen sekali lagi memperhatikan sekelilingnya, merasa dirinya diperhatikan oleh seseorang dengan mata yang curiga. Tatapan keduanya bertemu, laki-lai itu meludah teoat saat Xin Chen menoleh ke arahnya. "Lihatlah orang dungu itu, dia berdiri melihat ke sana kemri seperti tak pernah melihat manusia. Aku yakin dia tinggal di goa sebelum datang ke tempat ini."
Dua orang di belakangnya tertawa terbahak-bahak, mereka berpenampilan seperti preman yang tak mengerti sopan santun. Pakaian mereka koyak di beberapa bagian dan di bagian wajah mereka terdapat bekas sayatan lama. "Apa? Mengapa kau diam? Mau menantangku?"
Laki-laki itu tambah marah ketika Xin Chen memalingkan muka dan melihat ke tempat lain, "Hei kau meledekku, ya?!" Preman itu keluar dari barisannya dan langsung menarik kerah baju Xin Chen. Untuk beberapa saat tngannya gemetar saat mata berwarna aneh itu menampakkan kilat marah di dalamnya. Meskipun wajahnya tetap tenang seperti sebelumnya. Preman itu merasa semakin tertantang, dia mengepalkan tangan kuat bersiap melayangkan tinju.
Namun sebelum sempat menumbuk wajah menyebalkan itu, dia jatuh tersungkur saat salah satu tombak prajurit memukul tulang belakangnya. Di balikkan badannya sambil mengumpat bengis.
"Cih, sialan!" Dia segera bangun dan sengaja menabrakkan bahunya pada Xin Chen sebagai tanda permusuhan. Xin Chen mengernyit. Padahal dia tak mengeluarkan sepatah kata pun dan sebaik mungkin menghindari masalah yang tak perlu. Ditariknya napas, sembari membalas tatapan laki-laki tadi yang seperti tengah berdoa agar dia cepat mati. Andai saja tadi dia membalas preman tadi, tapi dia tak mau para prajurit mencurigai dirinya.
"Lebih baik untuk tidak mencari perhatian."
Seseorang di depannya bercelutuk enteng, caranya berbicara seperti dia juga menyusup di barisan prajurit ini. Xin Chen melihat laki-laki itu dari belakang, merasa tak asing dengan orang tersebut.
__ADS_1
Sosok itu menoleh ke belakang dengan kedua tangan di pinggang. "Kau begitu merindukanku sampai tak bisa berkata-kata lagi, ya?" Cara bicaranya terkesan congkak dan sok tahu, dua orang di depannya ikut menoleh sambil memamerkan senyuman.
"Kami di sini."