Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 195 - Kalung Kerang


__ADS_3

Langkah sosok itu sama sekali tidak berhenti walau pun dua puluh pria yang badannya bahkan jauh lebih besar darinya menghadang. Pimpinan Pejuang memberikan peringatan, suaranya lantang dan keras. Di antara para pejuang lain dia lah yang paling senior, pengalamannya dalam pertarungan sudah tak bisa dihitung dengan jari. Tapi baru kali ini langkah kakinya gentar saat berhadapan dngan seseorang yang bahkan tampak jauh lebih muda dengannya. Tak terlihat sosok itu berhenti setelah mendapatkan peringatan pertama, Pimpinan Pejuang mengacungkan pedangnya dengan teriakan lebih menggelegar, berharap orang itu mundur segera dan meninggalkan Kota Fanlu.


"Ku hitung sampai tiga! Jika kau tak segera mundur maka dengan berat hati kami akan menyerangmu."


Tak disangka sosok itu berhenti, membuat pimpinan pejuang sedikit menarik napas lega. "Bagus. Tetap berdiri di situ, kami takkan melukaimu."


"Lalu apa? Kalian akan menangkapku?"


Tak disangka orang itu bersuara, sekilas mereka seperti pernah mendengar suara itu atau yang mirip dengannya. Tapi karena terlalu panik tak ada yang mau memusingkan hal tersebut.


"Kami akan membawamu,serahkan dirimu dengan jalan damai. Kami tak menginginkan pertumpah darahan."


Lalu tak lama berselang sebuah tawa terdengar, seolah-olah meledek kalimat sang pimpinan pejuang. Dia menggelengkan kepala beberapa kali.


"Aku datang ke sini dengan damai, justru kalian lah yang kelihatan seperti mencari masalah."


"Hei jaga mulutmu, kau pikir kau siapa berbicara seperti itu pada pimpinan kami?!" salah seorang pejuang lain tersulut emosinya, tampak jelas dia hendak mengeluarkan pedang dari sarung untuk membunuh lawan mereka.


"Aku tak akan lama di sini, kalau kalian bersikeras menangkapku silakan saja, Tapi jangan salahkan aku jika nyawa kalian menjadi taruhannya."


Pimpinan pejuang seakan menimbang-nimbang perkataan tersebut, namun belum sempat mengambil keputusan dua orang telah maju menyambut musuh mereka, melakukan serangan kompak dari dua sisi berbeda. Sang pemimpin berniat menahan tapi sudah kepalang tanggung, pejuang lain juga tersulut semangat bertarung mereka. Dalam sekejap mata pertarungan tak terelakkan lagi.


"Demi Kota Fanlu!"


"Jayalah nama kita!"


Sorak-sorakan tersebut ternyata dapat didengar prajurit yang kebetulan berjaga di tempat itu, melihat pertarungan sedang terjadi lantas saja merek turun tangan. Sementara Pimpinan Pejuang masih membatu di tempatnya, sebagai seorang yang telah lama berada di dalam dunia persilatan, hanya dengan merasakan hawanya saja dia sudah dapat mengukur seberapa kuat lawannnya.


Kakinya bergeming di tempat , sukar digerakkan. Puluhan pejuang tumbang. Seisi jalan Kota Fanlu dipenuhi darah yang membanjiri hingga ke parit-parit. Membuat aliran air menjadi merah oleh darah, badai semakin menjadi-jadi di atasnya. Seolah-olah menyanyikan lagu kematian untuk lebih dari dua puluh nyawa yang melayang di Kota Fanlu dan akan bertambah.


"Hentikan! Kita tak menginginkan perang!"

__ADS_1


Terlanjur sudah, mayat teman-teman pejuang lainnya sebagian mati dengan jantung ditancap oleh pedang mereka sendiri. Pimpinan pejuang itu menyadari bahwa sedari tadi bahkan musuh mereka tak mencabut pedangnya. Mereka mati oleh senjata mereka sendiri.


Sebuah kepala kembali terpenggal dan menggelinding di bawah kaki pimpinan pejuang itu, tanpa disadarnya musuh telah berdiri di hadapannya. Tak dapat terlihat apa pun dari balik tudung jubah yang telah terbakar di bawahnya.


Langsung saja hawa mematikan itu membekuk tubuh besar tersebut, sang pimpinan pejuang terdiam dalam keheningan yang begitu mencekik. Meski pun ketakutan menghabisi akal sehatnya laki-laki itu berusaha mati-matian untuk berbicara.


"Kau-! Apa yang kau inginkan?!"


Peluh membasahi wajah pimpinan itu, napasnya tersengal bukan main. Tapi tampaknya musuhnya itu bahkan tidak kehabisan napas setelah menghabisi hampir tiga puluh pejuang dan prajurit Kota Fanlu. Hanya tersisa dirinya sendiri.


"Aku tak membunuh semuanya. Hanya yang menodongkan senjata padaku yang mati. Kau bisa memastikannya sendiri."


Pria itu melihat sekitar, walaupun membuat orang-orangnya sekarat tapi dia juga dapat melihat sendiri masih banyak yang bergerak. Dia harus bersegera menyudahi perbincangan ini jika ingin nyawa teman-temannya bisa diselamatkan.


"Baiklah, aku tahu kau orang yang cukup tahu tentang berdiskusi dengan jalan damai. Bukan begitu?"


"Aku tak mengenal kata damai."


Serasa seperti jawaban itu menjadi pertanda bahwa sosok berjubah itu takkan mudah diajak bicara.


"Kau menginginkan apa? Harta? Uang? Atau apa pun? Tinggalkan kota ini tanpa pertumpahan darah lagi."


Hawa mencekam seketika menyelimuti pimpinan pejuang, membuat napasnya seketika berhenti. Pundaknya berat dan lutut kakinya seketika jatuh menghantam tanah.


"Tu-tuan, saya mohon ...." Laki-laki itu ketakutan setengah mati, dia paling tak ingin dibunuh saat ini. Seketika teringat dirinya akan sang istri yang sedang mengandung anaknya. Dia tidak bisa mati sekarang, siapa yang akan menjaga istri yang dicintainya.


Dalam keheningan malam dapat dilihatnya mata biru indah itu bersinar saat redupnya cahaya bulan terpantul di sana, begitu indah tapi juga membuat lelaki itu kehilangan kendali atas tubuhnya.


"Apa kau mempunyai makanan?"


"H-ha?" Pimpinan pejuang ternganga, dia segera sadar dan mengeluarkan sekantong kue kering yang sempat dibawanya. Pemberian sang istri. Tapi dia tak yakin itu cukup untuk sosok itu.

__ADS_1


"Aku hanya punya ini ...."


"Ini saja sudah cukup. Terimakasih. Dan maaf telah mengacaukan tempatmu."


Begitu terpana pemimpin pejuang saat melihat lembutnya tutur kata itu, hawa seram dan dingin di sekitarnya memang nyata. Tapi di sisi lain masih ada kebaikan dalam sosok tersebut.


Saat sang pemimpin pejuang melihat ke belakangnya, di situ dia dapat melihat tiga puluhan prajurit serta pejuang telah bangun dengan keadaan sangat membingungkan. Mereka tidak terluka-atau bahkan berdarah setetes pun. Hanya terlihat orang-orang itu terheran-heran dengan apa yang baru saja terjadi.


Tak ada yang dapat menjelaskan tentang apa yang baru saja dialami, dan menganggap bahwa mereka baru saja terkena jurus Ilusi.


Padamnya penerangan di Kota Fanlu membuat tak satu pun warga berani keluar dari rumah, kebanyakan hanya mengintip dari balik pintu atau jendela. Berharap-harap tak ada kemalangan yang akan menimpa mereka.


Sementara itu badai telah berlalu, hanya kesunyian berkepanjangan yang mengisi malam itu. Diam-diam angin menerbangkan tirai di jendela tempat jasad Xin Zhan dibaringkan. Tak ada siapa pun di ruangan itu. Lantai terdengar sedikit berderak, namun hening kembali menyertai tak lama sesudahnya.


Ren Yuan mendengarkan derak itu, jantungnya berdetak kencang. Asal suara terdengar dari kamar Xin Zhan, langsung tanpa pikir panjang dia bergerak ke kamar putra pertamanya itu dan dibuat kaget oleh kehadiran sesosok berjubah yang kini mengusap wajah Xin Zhan.


"Pergi kau atau-!" Ren Yuan bergetar, seperti perintahnya sosok itu pergi. Atau lebih tepatnya menghilang di tengah-tengah ruangan tersebut. Hingga akhirnya suara batuk Xin Zhan terdengar, dia bangun dengan tanda Bunga Api yang menyala di keningnya.


"Zhan'er ...."


Ren Yuan tak dapat memahami apa yang baru saja dilihatnya, tapi semua itu menjadi jelas saat dia melihat di atas meja kecil di samping tempat Xin Zhan dibaringkan.


Kalung kerang yang tempo hari diberikannya pada Xin Zhan, benda itu menghilang saat Xin Zhan kembali ke Fanlu dan sekarang sudah tergeletak di atas meja.


"Xin Chen, kau kah itu?"


Ren Yuan membuka jendela lebar-lebar. Melihat seseorang berjalan di pekarangan rumah, membelakanginya.


"Xin Chen!!"


Lalu, bayangan itu hilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2