Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 59 - Alkemis Gila dan Naga Hitam


__ADS_3

"Lalu tentang ilmuwan Kekaisaran Wei tadi, kau belum menceritakan apapun padaku."


Wei Feng seperti berpikir-pikir dulu, memikirkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan para ilmuwan di tempatnya dulu.


"Sebut saja mereka orang gila."


"Orang gila?"


"Ya, mereka tidak lebih dari orang gila. Jujur saja saat datang ke tempat kalian aku menyadari peradaban kami lima kali lebih maju dari ini semua, dalam bidang obat maupun tanaman medis. Karena di tanah kami pun, tanaman-tanaman seperti itu sangat mudah didapatkan. Hanya saja..."


"Hanya saja apa?"


Wei Feng sedikit melirik ke arah Xin Chen. "Ramuan dan peralatan itu digunakan untuk mengubah manusia, binatang, siluman dan tumbuhan. Segala sesuatu yang hidup akan digabungkan untuk menciptakan individu yang lebih unggul. Begitu cara kerja mereka, menyingkirkan yang lemah dan menciptakan yang kuat."


"Sekarang aku mengerti mengapa kau memilih pergi dari sana. Aku sempat melihat perbuatan mereka di Desa Houbi. Mereka mengambil organ-organ tubuh penduduk di sana."


"Ya, ya, anggap saja sekarang aku yang paling menyedihkan di antara temanku. Teman-teman sesama pemanah sepertiku, mereka bunuh diri secara terhormat. Sedangkan aku masih hidup sampai sekarang. Di tengah kekejaman Kaisar Wei saat itu ...." Wei Feng menggelengkan kepalanya sesaat.


"Pihak penguasa di sana hanya akan memperkerjakan para pemanah jika kami membawa manusia untuk dijadikan kelinci percobaan. Untuk mengembangkan kemajuan dan kekuatan Kekaisaran. Mereka mengatakan harus ada orang yang berkorban demi kemajuan itu."


Penjelasan Wei Feng tentang Kekaisaran tempatnya berasal memang cukup mengerikan, bisa dibilang kini mereka mengalami hal yang sama seperti yang dirasakan Kekaisaran Shang. Menderita akan ancaman pembunuhan, letak perbedaannya hanyalah di Kekaisaran mereka yang menjadi musuh adalah pemimpinnya sendiri.


"Aku tidak akan memaafkan mereka," ucap Wei Feng tiba-tiba. Tidak ada lagi wajah malas di wajahnya, berubah marah dan kesal. "Mereka membunuh ibuku yang sedang sekarat untuk dijadikan kelinci percobaan. Mereka ...." Tangan Wei Feng menghentak keras batu di sampingnya.


"Mereka membunuh ibumu? Bukankah membunuh orang yang sedang sakit seperti itu tidak pantas?"


"Justru karena ibu sakit, mereka mengatakan dia sudah tak memiliki harapan untuk hidup. Daripada mati sia-sia dan membusuk tanpa guna, mereka bilang lebih baik tubuhnya digunakan untuk percobaan, sebagai bentuk abdi kepada Kaisar Wei. Tapi..."

__ADS_1


Xin Chen tak berniat memotongnya, dia membiarkan Wei Feng meneruskan ceritanya.


"Mereka memperkosa ibu hingga tewas dan tubuhnya dibuang begitu saja di selokan sampah. Kematian yang paling menyedihkan itu... Harus dirasakan ibuku selama-lamanya..." Wei Feng menahan air matanya, tidak ingin menunjukkan kesedihan itu pada Xin Chen.


Gurat kekecewaan tampak dalam binar matanya, meskipun di awal Xin Chen menganggap pria ini hanyalah orang dengan asal-usul tak jelas kini dia menyadari bahwa Wei Feng memendam seluruh rasa terpuruknya dengan bersikap seenaknya.


Xin Chen dapat merasakan kesedihan mendalam itu, tak bisa terbayangkan jika dia yang harus ditempatkan pada situasi seperti yang Wei Feng rasakan. Membayangkan satu-satunya anggota keluarganya dibunuh dengan cara paling hina. Dan pergi dari sana tanpa bisa melakukan apa-apa. Hal itulah yang dialami Wei Feng selama belasan tahun ini.


Xin Chen sendiri kurang lebihnya bisa menebak berapa umur Wei Feng, jika saat ini dia berumur 22 tahun berarti Wei Feng meninggalkan Kekaisaran Wei dan mengelana sendirian saat umurnya dua belas tahun. Di umur yang masih terbilang muda itu kehilangan seseorang yang disayanginya dan bepergian membawa penyesalan, mengarungi kejamnya dunia dan berakhir di Desa Pelarian seperti ini.


"Maafkan sikapku sebelumnya, aku tadi sempat berpikiran buruk tentangmu, Kak Wei. Tapi tenang saja, jika kau sudah siap membunuh orang gila itu kau boleh datang padaku. Kita akan membunuh mereka bersama-sama..."


Tangan Xin Chen yang sibuk mengelus punggung Wei Feng seketika berhenti bergerak, sadar ada sebuah kekuatan besar mendekat dia menjauh dari sana.


"Kak Wei! Apa yang terjadi, hei sadarlah!"


"Apakah rasa penyesalan yang menarik roh itu masuk? Sial, bagaimana cara mengeluarkan mereka?!" Xin Chen tak menyadari rasa bersalah dan kekecewaan tadi mengeluarkan energi negatif dari tubuh Wei Feng, membuat jiwanya lebih mudah dimasuki oleh roh-roh di sini.


Wei Feng sudah tak sadarkan diri lagi, tubuhnya mengambang di atas udara secara perlahan-lahan, membuat Xin Chen kebingungan harus bertindak seperti apa. Bagaimana tidak, dia sudah melakukan segala cara untuk mengembalikan kesadaran Wei Feng tapi pria itu tak kunjung bangun dari alam bawah sadarnya. Dan justru kini energi roh semakin kuat, hendak mengambil alih tubuh Wei Feng.


"Kak Wei!" Xin Chen menepuk pipi pria itu, Wei Feng kini berbaring di atas tanah. Meski begitu tubuhnya tetap bergerak mengambang ke atas. Membuat Xin Chen harus menahannya sambil mencari cara agar pria itu segera sadar.


Sebuah serangan masuk menyerang Xin Chen, dia menangkisnya dengan Pedang Petir akan tetapi hal itu tidak cukup.


"Apa-apaan...."


Kaki Xin Chen sedikit mundur saat melihat wujud dari siluman yang muncul di depannya, meski hanya samar tapi dia sudah merasakan ketakutan tersendiri saat melihatnya muncul. Di saat yang tidak tepat tubuh Wei Feng bereaksi, dia berdiri dan datang menyerang Xin Chen.

__ADS_1


"Celaka! Kak Wei, sadarlah-!" Lirikan mata Xin Chen teralih ke kiri di mana semburan api keluar dari mulut siluman misterius itu, akibat panik ini dia tak bisa fokus dalam pertarungan. Selain untuk menjaga agar tubuh Wei Feng tak dilukai dia juga harus menghadapi siluman itu lebih dulu.


"Hutan ini... Sebenarnya berapa banyak jenis siluman di dalamnya?!" Semburan api berwarna merah gelap muncul. Di balik kepulan asap itu keluarlah seekor naga dengan tubuh yang hampir sepantaran dengan ukuran tubuh Lang, nyaris membuat Xin Chen tersedak ludahnya sendiri.


Anak itu menunjuk siluman tersebut, bekas luka cakaran dan robekan di kulitnya sudah memperjelas bahwa yang bertarung sejak tadi di tengah hutan adalah Naga itu. Tampaknya dia baru saja memenangkan pertarungannya. "N-naga!?"


"Sejak kapan ada Naga di hutan ini! Kak Wei, cepat sadar! Kau harus lihat ini," teriak Xin Chen menggoyang-goyangkan tubuh Wei Feng. Wei Feng mengambil busurnya, lalu menggunakan badan busur itu untuk menyerang Xin Chen.


Pria itu melayang begitu saja saat mendekat, Xin Chen menghindar berusaha mencari titik lemah pria itu untuk membuatnya pingsan sebentar.


Tapi kelihatannya roh-roh yang mengendalikan pria itu memiliki daya pikir sama halnya seperti manusia, mereka melindungi leher Wei Feng menggunakan kekuatan roh pula.


Semburan api lainnya menyusul, Xin Chen harus benar-benar sabar menghadapi dua masalah ini. Mata Wei Feng masih mengintai Xin Chen, di saat anak itu melewati sebuah pohon yang besar dia menghilang begitu saja tanpa jejak.


Xin Chen kembali memunculkan diri di depan mata Wei Feng, merapatkan semua jarinya dan menghentakkannya ke tulang leher. Membuat pria itu pingsan seketika dibuatnya.


Kini tatapan Xin Chen beralih pada Naga Hitam di dekatnya, tampaknya dia sudah tak memiliki daya lagi untuk menyemburkan apinya seperti tadi.


Xin Chen menciptakan Pedang Petir dengan cepat, menghunuskannya pada Naga Hitam itu dengan berani.


***


malam ini cuma satu chapter ya, Thor bnyk kerjaan


besok malam deh crazy up-nya


gak jd pake tapi boong deh✌️ nanti kualat lagi🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2