
"Aku haus... Kita harus berhenti sebentar Guru, kalau tidak aku akan pingsan lagi nanti."
Keluhan Xin Chen akhirnya didengar juga oleh Rubah Petir, dia menghela napas lega sembari menelusuri sekitar. Persediaan air dalam penyimpanan cincin ruang telah habis terpakai sedangkan dia masih tetap tak melihat sumur di perjalanan.
"Kau mencari air?" tanya Rubah Petir kemudian.
Dia mengiyakan Rubah Petir, siluman itu mengeluarkan sebuah kendi berukuran sedang. Sebenarnya Xin Chen merasa agak ganjil dengan sikap ini dikarenakan Rubah Petir tak pernah sepenuhnya bersikap baik. Bahkan untuk menyiksanya saja Rubah Petir tak pernah berpikir dua kali untuk melakukannya.
Tapi karena sudah terlanjur haus dan tak memiliki air lagi, Xin Chen segera meneguknya. Merasakan sensasi beda saat air dalam kendi itu mengalir dalam kerongkongannya.
"Air ini sangat sejuk, tubuhku juga menjadi lebih baik setelah meminumnya.." Xin Chen memejamkan mata, dehidrasinya hilang setelah meminum air yang dingin itu.
"Begitukah? Aku tak pernah meminumnya. Setelah seekor siluman katak memberikannya padaku enam belas tahun yang lalu dan mengatakan itu adalah air seninya..."
Mata Xin Chen melotot kencang, air itu refleks disemburkannya. Tak berapa lama kemudian dia memuntahkan isi perutnya dengan jijik. "Dasar rubah menyebalkan! Hueekk!"
"Hahahaha kau tenang saja, air itu akan mengobati luka dalam maupun luar dalam tubuhmu."
Xin Chen terdiam untuk menenangkan dirinya, meskipun agak jengkel akan sikap Rubah Petir terhadapnya tapi dia mengerti semua itu memiliki alasan. Mau itu baik atau tidak, sejauh ini Rubah Petir tak benar-benar ingin membunuhnya.
"Bagaimana dengan roh topeng itu? Apa dia sudah muncul kembali?" Rubah Petir mengalihkan perhatian, teringat akan sosok perempuan roh itu. Penasaran apa yang sedang terjadi dengannya saat ini.
"Kurasa kita tidak memiliki banyak waktu untuk menunggunya, dia akan muncul delapan hari lagi. Itupun jika benar. Kalau menunggunya aku tak yakin kepingan Baja Phoenix itu masih aman atau tidak di Telaga Hijau."
"Kau benar. Setidaknya dengan kecepatan tinggi kita bisa mencapai Telaga Hijau lima hari lagi. Itupun jika kau sanggup berlari secepat diriku."
__ADS_1
Alis Xin Chen menyatu, menunjukkan wajah protesnya. "Kata siapa aku tidak bisa?!"
"Buktikan kalau bisa! Dan jangan sampai kau tertinggal!"
Tepat di kalimat terakhir Rubah Petir telah menghilang dari pandangan Xin Chen, menyisakan abu jalan yang menguar di udara. "Berlari secepat itu-!? Mana aku sanggup–! Rubaaah! Tunggu aku!" Semakin banyak mengoceh jarak antara keduanya semakin melebar, lagi-lagi mental dan fisik Xin Chen diuji. Tidak ada jeda untuk menenangkan diri jika bersama Rubah Petir.
**
Xin Chen memegang dadanya, berusaha merasakan denyut jantungnya di sana masih ada atau tidak. Rasanya benar-benar seperti ingin mati saja. Lima hari mengejar Rubah Petir dengan kecepatan berlari seperti tadi membuat kakinya bahkan sekarang tidak bisa berhenti berlari lagi.
Xin Chen tak mau melihat keadaan kakinya saat ini, jika bukan karena keabadian dalam tubuhnya mungkin tubuh Xin Chen sudah membusuk di desa yang telah mereka lalui. Memar di kakinya kini mulai membiru dan tubuhnya sendiri tergores-gores akibat dedaunan hutan yang tajam.
"Kau kelelahan?" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Rubah Petir setelah menyiksanya berlari siang-malam tanpa henti. Rasa kesal tak main-main ini membuat jari Xin Chen ingin sekali mencakar batang pohon di sebelahnya.
"Kalau aku mati konyol nanti yang pertama kali ku datangi adalah kau, Guru." Suaranya ketika berhasil menstabilkan deru napas. Mengelilingi sekitar mereka yang sudah gelap dan hanya diisi dengan suara jangkrik.
"Kau mendatangiku ke dunia untuk berlatih lagi? Memangnya siapa yang mengajakmu bertarung di akhirat?"
Ketenangan yang Xin Chen coba bangun seketika buyar, dia kembali kesal dibuat gurunya ini.
"Memang benar kata Ayah, mahkluk sepertimu memang lebih cerewet dari manusia sendiri."
"Apa katamu?"
"Itu, ada sebuah goa di dekat telaga. Mungkin kita masuknya lewat sana?" ujar Xin Chen mengalihkan perhatian, benar saja atensi Rubah Petir pindah ke mulut goa yang mengeluarkan suara-suara angin di dalamnya. Sepertinya udara bergerak masuk ke dalam tempat itu, membuat angin kencang bergejolak hebat di dalamnya.
__ADS_1
"Tempat itu sangat tidak biasa..." ucap Rubah Petir mendekat, mengintai dari luar sembari memejamkan mata. Dengan intuisinya yang tajam menebak seberapa luas goa ini bukanlah hal yang sulit lagi.
Mata keperakannya terbuka cepat, menunjukkan wajah percaya tak percaya pada Xin Chen. "Mungkin inilah alasan mengapa roh itu mengatakan kita membutuhkan petunjuk agar bisa mendapatkan Baja Phoenix tersebut."
"Memangnya kenapa?"
Terlihat sedikit enggan Rubah Petir saat berbicara, "Sebelumnya aku yakin dengan kekuatanku ini bisa merasakan di mana letak Baja Phoenix itu, tapi roh yang melindunginya menyembunyikan benda itu dengan sangat tersembunyi."
"Kita bisa masuk ke dalam dan mencarinya."
"Masalahnya sekarang, kau tahu? Ujung goa itu sudah masuk terlalu dalam ke permukaan bumi. Semakin kau jatuh ke dalam semakin tipis pula oksigen di dalamnya. Dan dari suara yang ditimbulkan dari dalam, goa itu memiliki banyak jalan, salah ambil langkah kau akan tiba di ujung goa tanpa oksigen. Tidak menemukan apa-apa di sana kecuali kematian."
Kenyataan yang lebih terlihat seperti peringatan ini malah membuat Xin Chen kian tertarik, dia menerobos masuk ke dalam. Merasakan angin kencang seperti memaksanya untuk masuk.
Hanya membutuhkan waktu singkat dia dibuat kebingungan dengan goa ini, angin kencang membuat tubuhnya terdorong menabrak bebatuan runcing. Xin Chen berusaha melawan arus angin ini, dalam situasi terdesak matanya masih bisa menangkap satu hal ganjil. Beberapa gundukan batu tampaknya sudah dirusak, dalam artian lain mungkin ada orang yang sudah lebih dulu memasuki tempat ini.
Rubah Petir tiba di dalam, tubuhnya sama sekali tidak terpengaruh oleh angin kencang tersebut. Tetap terlihat dirinya berdiri tegak tak berpindah sedikitpun. "Sampai di sini apa kau sudah memiliki rencana?"
"Aku belum tau..." Xin Chen bergerak lamban, ingin menyusul Rubah Petir dan berpegangan pada sebuah batu runcing seukuran tubuhnya. "Kita tidak memiliki artefak atau pun petunjuk agar bisa tiba di tempat roh penghuni Baja Phoenix ini."
Selagi sibuk memikirkan jalan yang akan mengantarkan mereka ke tempat Baja Phoenix, Xin Chen menajamkan matanya. Barangkali dia menemukan petunjuk dari setidaknya lima jalan dalam goa ini, semuanya akan memiliki arah yang berbeda pula. Maka dari itu, salah ambil satu langkah mungkin nyawanya juga akan tamat.
Rubah Petir menahan dada Xin Chen saat anak itu hendak memasuki salah satu jalan, "Di dalam jalan itu terlalu banyak kalajengking besar. Aku mencium aroma Kematian di dalamnya, kemungkinan jasad orang-orang yang pernah memasuki tempat ini sebelumnya."
Xin Chen segera memundurkan tubuh, mengangkat kepala ke atas dan tak menemukan satupun petunjuk di tempat ini. Kepalanya mulai pusing karena terpengaruh suara bising dari angin ini.
__ADS_1
"Jangan biarkan irama angin ini memasuki kepalamu, Chen."