
Xin Chen melemparkan pedang kayu itu kepada Lan Zhuxian lalu mengambil pedang miliknya sendiri di tanah. Lan Zhuxian mengembalikan sarung pedang. Menundukkan kepalanya kembali dengan sopan. "Suatu kehormatan bisa berduel dengan tuan."
Xin Chen menyipitkan mata, "Tidak perlu sungkan. Dan juga tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan."
"Saya hanya terbiasa berbicara seperti ini."
Lan Zhuxian terlalu kaku dalam bertutur kata, tapi saat bertarung tadi bahkan pergerakannya begitu leluasa. Dia terbiasa berduel dan menguasai pertarungan. Jika di perguruan, Xin Chen yakin lawannya itu akan mendapatkan gelar sebagai murid berbakat.
Qi Baixuan mendekat, menatap lurus ke arah Xin Chen. "Apakah anda-"
"Aku hanya pengembara biasa. Tolong jangan terlalu memikirkan identitasku."
Qi Baixuan kontan membungkam mulutnya sebelum berkata lebih banyak, dia tidak bisa memastikan lebih jauh lagi. Sosok itu sudah lebih dulu memperingatinya. "Baiklah."
*
Malam hari datang begitu cepat, Xin Chen tidak betah berlama-lama di rumah Qi Baixuan, laki-laki itu senang sekali memancingnya untuk membuka identitas. Di sebuah pohon tinggi yang berhadapan langsung dengan sungai tenang, Xin Chen duduk di dahan yang paling tinggi. Memainkan irama seruling yang begitu sayu, nada tinggi mendayu-dayu memanjakan telinga.
Xin Chen tak tahu mengapa seruling ini selalu menghiburnya di saat kesepian, merasa langit dan bumi akan mendengar pesan yang dia sampaikan lewat alunan suara. Semenjak tujuh tahun terakhir, permainan sulingnya jauh lebih bagus dari yang dulu. Pemuda itu sedikit berhenti saat mengingat seekor naga yang begitu membenci irama seruling yang dia mainkan. Naga itu, Xin Chen tak pernah melihatnya memunculkan diri semenjak tujuh tahun yang lalu. Mungkin karena kata-katanya waktu itu.
"Mengapa kau berhenti? Sesuatu mengganggu pikiranmu?"
Qi Baixuan tahu-tahu sudah berdiri di sebelah pohon. Xin Chen bergeming, melanjutkan permainan serulingnya yang sempat terhenti.
Qi Baixuan menatap lurus ke depan, sungai di depan terlalu tenang dari biasanya. Hati laki-laki itu gundah.
"Kau sudah melihat bakat anak itu 'kan?"
"Siapa?" Xin Chen mengembalikan pertanyaannya, meskipun dia tahu siapa yang Qi Baixuan maksud.
__ADS_1
"Lan Zhuxian." Qi Baixuan duduk dengan tangan menumpu di batang pohon, sedikit meringis ngilu.
"Begitu."
Xin Chen berhenti memainkan seruling, membiarkan angin malam yang menggantikannya meramaikan suasana. Qi Baixuan mengerutkan dahi, susah sekali menghadapi pemuda keras kepala yang satu ini. Dia sengaja tak mengikuti alur pembicaraannya dan memutuskan percakapan begitu saja.
Qi Baixuan mengumpulkan keberaniannya untuk berterus terang tanpa Xin Chen meminta, "Lan Zhuxian itu, dia dibuang dari tempatnya. Tengah sekarat saat aku memungutnya kemari. Dia memiliki keyakinan kuat untuk terus hidup, tapi tidak ada satu pun yang bersedia menerimanya. Termasuk Kota Qingyun yang damai."
Qi Baixuan tak bisa mengelak lagi, Kekaisaran Qing telah menjadi musuh terbesar Kekaisaran Shang. Situasi di perbatasan sering kali memanas, konflik tak dapat dihindarkan dan kini para masyarakat tanpa sadar telah menanamkan pemikiran buruk tentang orang-orang dari Kekaisaran Qing. Kehadiran Lan Zhuxian ke tengah-tengah masyarakat tentu menjadi cibiran masyarakat terlebih lagi yang memberikannya tempat tinggal adalah seorang pembelot.
Beberapa kali Qi Baixuan menerima surat peringatan langsung dari Walikota atas tindakannya itu, awalnya Qi Baixuan tak menggubrisnya namun lama kelamaan ancaman semakin datang menghampirinya. Di kota ini hampir tidak ada lagi yang mau menerimanya bekerja, Qi Baixuan sudah kehilangan akal. Sama halnya dengan Lan Zhuxian yang seringkali diserang tiba-tiba oleh sekawanan pengintai.
Qi Baixuan merasa tak berdaya jika harus menghadapi orang-orang suruhan itu. Dia hanya seorang mantan prajurit, tidak ada teknik berpedang khusus yang dikuasainya. Sementara Lan Zhuxian bisa saja sewaktu-waktu dibunuh mereka. Ke mana pun dibawanya pemuda itu, takkan mengubah apa-apa. Lan Zhuxian adalah bagian dari Kekaisaran Qing yang sangat dibenci.
Cerita Qi Baixuan tak membuat hati Xin Chen melunak, pemuda itu bahkan sudah memejamkan mata tanpa bergerak di tempatnya. khawatir sosok itu tertidur, Qi Baixuan menegurnya.
"Kau tak mendengarku?"
Qi Baixuan menyentuh bekas tusukan dalam di perutnya, meski sudah diperban Lan Zhuxian tapi darah tetap mengalir jika dia sembarangan bergerak. Bekas tusukan itu didapatkannya tiga hari lalu saat untuk yang kesekian kalinya kaki tangan walikota datang. Memberikan peringatan untuk terakhir kali dan membawakan pesan dari pemimpin mereka.
Bahwa jika Qi Baixuan tidak segera mengusir Lan Zhuxian maka dengan berat hati kedua dari mereka akan dijatuhi hukuman mati/ Ketentuan itu diputuskan langsung di tangan walikota, dia menganggap permasalahan ini begitu serius karena tahu seperti apa kemampuan berpdang Lan Zhuxian. Pemuda itu adalah ancaman kota.
"Lusa Lan Zhuxian akan kembali ke tempat asalnya, hanya saja dia mengatakan tak memiliki rumah atau siapa pun di sana. Dia menawarkan diri untuk menjadi pelayan atau pekerja, tidak ada yang mau menerimanya."
Qi Baixuan berhenti menjelaskan, membiarkan keputusan lain berada di tangan Xin Chen.
"Aku tetap tak mau."
"Hahhh ... Kau sangat tidak pengertian."
__ADS_1
"Bukannya kau sendiri yang mengatakan padaku untuk tidak terlalu baik kepada orang?"
Qi Baixuan menyesal pernah mengatakannya, "Aku hanya kasihan padanya." Laki-laki itu mengubah topik pembicaraan, "Kau hendak ke mana setelah ini?"
"Ke Jembatan Shangyu."
"Kau membutuhkan rekan, Chen! Kau tidak tahu seberapa banyak musuhmu di sana."
"Oh ya? Kau mencoba mempengaruhiku?"
Qi Baixuan terkekeh pelan. "Hahahaha, baru mengenalmu tapi sungguh kau ini sulit sekali diajak berdebat. Kau lebih cocok menjadi kakek tua penasehat daripada seorang pendekar!"
"Sudahlah Kakek Qi. Aku sudah bilang tidak."
Di bilang seperti itu Qi Baixuan juga tak sepenuhnya menyerah, laki-laki dewasa sepertinya memiliki banyak trik untuk mempengaruhi Xin Chen yang jauh lebih muda dibandingkan dengannya.
"Tuan Muda Xin kedua."
Panggilan itu membuat Xin Chen menoleh.
"Aku tahu apa yang sedang kau rencakan saat ini. Memasuki Kekaisaran Qing adalah perkara sulit, Lan Zhuxian terbiasa tinggal di perbatasan. Dia mengingat setiap seluk beluk di sana di luar ingatan. Kadang pembeli informasi datang kepadanya untuk menanyakan hal tersebut, dengan uang itulah kami bisa tetap bertahan hidup sampai saat ini."
"Seratus keping emas jika kau bisa menebak dengan benar tujuanku." Xin Chen menantang, lalu dengan percaya diri Qi Baixuan menjawab. "Menyelamatkan Pedang Iblis."
"Tebakan yang bagus." Xin Chen turun dari sana, "Tapi salah besar. Coba lagi lain kali."
Qi Baixuan terkejut, tidak mungkin tebakannya salah. Tidak ada tujuan yang lebih besar dari itu. Sementara Xin Chen berdiri di depannya. "Kalau dipikir-pikir lagi aku juga berencana akan ke sana, mungkin dia diperlukan. Mungkin saja tidak."
Qi Baixuan sendiri masih bertanya-tanya tentang tujuan sebenarnya Xin Chen. "Apa tujuanmu yang sebenarnya?"
__ADS_1
"Lebih baik kau tidak tahu," cekal Xin Chen memasang wajah terganggu. "Tujuan itu, tidak semua orang menginginkannya."