
Angin barat bertiup tenang saat matahari merangkak naik ke atas bumi, dua belas hari usai pertempuran yang menghancurkan satu kota itu. Porak poranda yang melanda di ibukota Kekaisaran Shang itu takkan bisa dipulihkan lagi, sehingga tempat itu ditinggalkan bersama api yang terus membakar tanah dan udara. Membumihanguskan kota yang terkenal megah dan damai itu.
Beredar kabar akan menghilangnya Xin Chen usai peperangan, banyak orang mempertanyakan hal itu dan adu mulut tentang kebenarannya. Cerita tentang Xin Chen meluas, namanya mulai dikenang saat putra kedua Xin sudah tak lagi menunjukkan dirinya. Mereka mengharapkan Xin Zhan dan Xin Chen yang menggantikan posisi ayahnya untuk menopang Kekaisaran ini meski umur mereka masih belum cukup.
Saat itu mereka tiba di kota Fanlu, jangkar telah diturunkan dan para penduduk yang tersisa berkumpul di pelabuhan yang sangat-sangat ramai. Salah satu prajurit Kekaisaran menghampiri Ren Yuan dan Xin Zhan, memberi hormat dengan sopan.
"Kami sudah persiapkan tempat tinggal untuk Anda dan Tuan Muda Xin pertama. Walikota Hong sangat menerima kedatangan Anda di kediamannya." Ucapnya dengan sedikit mengangkat kepala.
Ren Yuan tak menjawab, Xin Zhan membaca keengganan ibunya untuk menjawab dan mengeluarkan suara. "Kami tidak perlu tempat yang besar, kami akan tinggal di rumah-rumah warga saja."
"Tapi, Tuan-"
Xin Zhan mengikuti Ren Yuan menuju tempat pengungsian yang disediakan, meskipun mereka cukup terpandang di Kekaisaran namun Xin Zhan tak pernah sungkan untuk duduk bersama rakyat-rakyat kecil. Kemurahan hati adalah salah satu hal yang diajarkan oleh ayahnya, Xin Zhan menyatu dengan hiruk pikuk di tengah masyarakat. Mengobati dan menyiapkan tenda darurat untuk tempat berlindung bagi keluarga yang belum mendapatkan tempat tinggal sementara sampai keadaan bisa stabil seperti semula.
Hari itu telah memasuki musim hujan, Xin Zhan baru saja pulang dari tenda-tenda untuk membantu merawat luka para penduduk. Malam itu Ren Yuan duduk di sebuah meja rendah menatap ke luar jendela selama berjam-jam. Kehilangan Xin Fai dan Xin Chen di waktu yang bersamaan adalah hal yang membuatnya begitu terpukul, tak pernah jatuh lagi air matanya. Takut Xin Zhan akan khawatir, tapi kesehatannya semakin hari semakin menurun. Dan semua itu membuat Xin Zhan sedih.
"Zhan'er ...."
Suara Ren Yuan membuyarkan lamunannya, Xin Zhan lekas menoleh untuk melihat sang ibu yang menyadari kehadirannya. Ren Yuan tersenyum kecil, menepuk tempat duduk di sebelahnya.
"Mengapa kau bersedih? Ceritakan pada ibu."
__ADS_1
"Ibu, aku tidak bersedih."
Xin Zhan telah duduk di sebelahnya, Ren Yuan menyapu sebelah pipi anaknya itu.
"Tapi kau baru saja menangis."
Xin Zhan tak menyadarinya, dia mencoba menghindari kesedihan itu dengan menyibukkan diri. Kenyataan bahwa keluarga mereka menjadi hancur dan hanya tersisa mereka berdua di sini. Xin Xia dirawat di tempat lain bersama Lan An. Banyak dari anggota klan Ren yang ditemukan tak bernyawa di kediaman dan juga sekarang Xin Zhan tak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan Xin Fai.
Musuh memiliki kekuatan besar di belakang mereka. Naga kegelapan dan Kekaisaran Qing yang memulai peperangan, untuk memperebutkan pusaka langit dan wilayah. Seandainya dirinya memiliki kekuatan untuk menghentikan itu semua, kata andai itu terus membuat Xin Zhan menyesal. Tak sadar sebelah tangannya terkepal.
Ren Yuan menepuk-nepuk kepala itu, dulu saat masih kecil Xin Zhan yang paling keras menangis. membuat ayahnya tak bisa tidur siang malam karena kelakuannya. Xin Zhan cerewet dan adiknya, Xin Chen juga sama cerewetnya. Hari-hari penuh kebahagiaan itu membuat Ren Yuan rindu, tapi sekarang bahkan mereka sudah tak memiliki rumah.
"Aku tak menemukan jejaknya lagi. Dia benar-benar menghilang. Ibu, tolong jangan pikirkan dia lagi. Memikirkan dia hanya akan membuatmu jatuh sakit," pinta Xin Zhan. Sebetulnya selama berhari-hari ini dia juga sudah mencari informasi mengenai keberadaan Xin Chen. Takut jika adiknya itu mengejar Xin Fai sampai ke Kekaisaran orang. Tapi dari semua penduduk tak ada yang mengetahui ke mana perginya Xin Chen. Tak ada yang melihat dia melewati pelabuhan atau pun jalan kota Fanlu.
"Kesehatan Anda semakin memburuk, Nyonya Ren."
"Aku hanya tidak terbiasa dengan musim hujan, tidak perlu khawatir." Ren Yuan mengulum senyum tipis. Wanita yang umurnya sudah memasuki kepala empat itu melempar pandangan ke luar jendela
"Kekaisaran ini sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu dengan penyerahan diri Pedang Iblis itu membuat para penduduk merasa tak aman. Tapi, Nyonya Ren, suamimu mengambil jalan terbaik. Sekarang adalah Era Perdamaian dan dia tak menginginkan pertumpahan darah ...."
"Andai hari itu dia tak berkorban mungkin perang akan pecah, Kekaisaran Qing memiliki ratusan ribu prajurit. Kita tak akan sanggup menahannya." Sambung wanita itu, sebagai istri seorang prajurit ia tahu betul keadaan Kekaisaran ini. Dan saat semua orang menyayangkan tindakan Pilar Pertama mereka, justru dia memaklumi itu semua dilakukan Xin Fai untuk menjaga jutaan nyawa di Kekaisaran ini.
__ADS_1
"Ah, aku ingat sekali dulu. Saat suamimu menyelamatkan kota ini." Ren Yuan menatap wanita yang masih terus bercerita, "Dulu saat kudeta terjadi oleh Pangeran kedua. Desa ini nyaris dibantai habis, saat itu Tuan Xin sangat terburu-buru. Perang sedang terjadi di Kota Renwu. Tapi hari itu, dia mengutamakan nyawa-nyawa kami yang hanya masyarakat kecil ini dibandingkan mengejar musuh mereka."
"Ya, aku sangat mengenalnya. Jika itu semua mengenai nyawa yang diembannya. Xin Fai tidak akan berpikir dua kali untuk menyelamatkan, bahkan jika harus mengorbankan nyawanya."
Xin Zhan hanya terdiam menyimak percakapan tersebut, membayangkan saat perang beberapa hari lalu, di mana seseorang yang bahkan dia kira sudah mati bersikeras untuk hidup dan bangun untuk menghabisi musuhnya.
"Nyawa setiap manusia itu berharga, Zhan'er." Ren Yuan berbicara pelan, menepuk pundaknya. "Ayahmu sudah melewati masa pembantaian, dan tugasmu sekarang, untuk mempertahankan apa yang sudah diperjuangkannya."
"Sekalipun harus mengorbankan nyawa?"
"Nyawamu juga sama berharganya seperti mereka, Zhan'er."
Wanita tua itu seperti teringat sesuatu, dia mengambil sesuatu di balik lipatan bajunya. Sebuah kayu tipis dengan tulisan yang diukir dengan mata pedang.
Dia bercerita bahwa pagi-pagi sekali, sebuah perahu tanpa penghuni berlayar ke tepian pelabuhan. Tak ada orang di atasnya, kecuali hanya sebuah kayu itu. Wanita itu belum menyerahkannya ke penjaga kota dan memilih bertanya kepada Xin Zhan terlebih dahulu.
Xin Zhan menerima kebingungan, saat dia membaca tulisan itu dirinya tahu betul siapa yang menulisnya.
'Anggap aku sudah mati. Jangan menunggu.'
Ren Yuan menerima kayu itu dan mendekapnya erat, tanpa menyembunyikan tangisnya lagi. Ren Yuan menangis, hatinya rapuh walau berulang kali wanita itu mencoba untuk tegar. Sekarang, Xin Chen meminta dirinya untuk menganggap anak itu sudah mati. Seumur hidup Ren Yuan tak pernah siap menerima bahkan jika Xin Chen benar-benar sudah tiada.
__ADS_1
Xin Zhan mengelus punggung ibunya, wanita di depan mereka baru saja mengerti mengapa Ren Yuan menangis. Kemungkinan besar itu adalah pesan terakhir dari anaknya, Xin Chen yang belakangan ramai diperbincangkan.