
Ren Yuan menutup mulutnya seolah-olah tak percaya, Xin Chen sudah mengetahui kebenaran ini sejak awal sementara para pengintai Kekaisaran baru mengetahui penyerangan akan terjadi hanya beberapa jam sebelum kota dihancurkan.
Xin Chen tampak menyesal, di saat itu pula Xin Zhan meninjunya. Dan dia terkejut, dirinya hanya meninju udara kosong. Tak lebih dari itu. Saat ditatapnya Xin Chen, tubuh adiknya itu tampak nyata namun seolah hanya bayangan semata.
"Kau-adik bodoh! Kau pikir apa yang kau lakukan, hah?!" Xin Zhan berpikir adiknya tadi menghindari serangannya, Xin Chen tak mau berdebat. Diperhatikannya Ren Yuan, seakan-akan berat untuk jujur pada wanita itu.
"Aku tahu kalau mengatakan ini ibu pasti akan membenciku. Tapi ... Tubuhku ini, bukan milikku lagi."
Hening menyambangi mereka, tatapan Ren Yuan yang semula khawatir berubah dingin. Tangannya menampar Xin Chen hingga anak itu tertoleh ke samping. Tak berani lagi dia menjawab jika Ren Yuan yang mengamuk.
"Aku tak menyangkanya... Xin Chen, aku mengizinkanmu keluar, untuk belajar dan memahami dirimu sendiri. Bukan menjadi sesuatu yang bukan dirimu!"
Ren Yuan mencoba menyentuh pipi anaknya itu, saat tangan Xin Chen memegang tangannya terasa kulit Xin Chen yang begitu dingin.
"Aku masih bisa menyentuh, tapi sepertinya aku lebih suka dengan tubuh tanpa wujud ini."
Ren Yuan memeluk anak itu erat-erat, sekali lagi dia tak ingin kehilangannya. Tapi apa daya, Xin Chen tak bisa berada terus di sisinya. Bahkan jika Ren Yuan memohon.
Sementara pertarungan di atas mereka menjadi semakin sengit, Ratu Iblis menggila di atas sana dan Xin Fai kesulitan menghentikannya. Terhitung sejak awal pertarungan, hari ini sudah lima Pilar Kekaisaran tewas di tangan Naga Kegelapan. Mereka mati terhormat, dan agaknya dalam penyesalan terberat. Tak bisa memastikan peperangan ini akan pihak mereka menangkan atau tidak.
Ratu Iblis dan Xin Fai bertukar serangan pedang, begitu cepat hingga hanya terlihat seperti kilatan di mata orang lain. Suara berdebum di atas tanah menandakan pertarungan mereka tengah terjadi di daratan. Bunyi pedang beruntun tak henti-hentinya berdengung di telinga.
Hingga pada saat itu, Ratu Iblis melibaskan pedang merah tipis di tangannya dan memenggal kepala dari patung Pilar Kekaisaran pertama, Xin Fai. Kepala dari batu itu menggelinding di tanah. Ren Yuan terdiam, seolah-olah menangkap pertanda buruk.
__ADS_1
Karena lengah salah satu sayatan berhasil menancap di bahunya, Xin Fai melepas pedang itu setelah mundur beberapa langkah. Darah mengalir di bibirnya.
Diiringi suara hantaman dahsyat ketika api biru jatuh membakar tanah. Kini Kota Renwu tak lagi seperti kota damai yang indah, melainkan tanah berdarah yang dilalap api biru. Mayat bergelimpangan, beberapa dari mereka kehilangan anggota tubuh dan banyak yang terbakar. Di tanah-tanah itu kadang hanya ada kepala yang tercecer dari badannya. Masih terbuka matanya menatap langit yang kelabu, seolah mengatakan dunia sudah hancur.
Hanya Xin Fai satu-satunya yang dapat berjuang di pertarungan terakhir. Dan kini laki-laki itu ambruk setelah menerima hantaman keras dari ekor Naga Kegelapan. Membuat tulang-tulangnya seakan berpindah dari tempat seharusnya. Pukulan dahsyat tak berhenti sampai di situ, Ratu Iblis mengimbangi penyerangan mereka dengan membenturkan kakinya di kepala manusia tersebut. Tertawa-tawa bengis dan gigi-giginya muncul saat teriakan wanita itu mengeras.
"Matilah semua manusia biadab ini! Dunia tak membutuhkan kebusukan kalian! Enyahlah! Hingga abu tidak bersisa dari mayat kalian!"
Ratu Iblis membelalak saat di jantungnya telah bersarang sebuah pedang, membuat dirinya memuntahkan darah. Xin Fai tak serta-merta melepas. Dia menarik pedang itu hingga ke bawah. Mengoyak tubuh Iblis itu hingga ke akarnya
Jerit-jeritan sekarat tedengar memilukan setelahnya. Dalam satu serangan terakhir, Xin Fai menghabisi kepala Ratu Iblis. Tak membiarkan setitik darah pun tersisa dari musuhnya, dia membakar jasad tersebut.
Kaki Xin Fai pincang, di belakangnya hanya kobaran api yang sudah melalap tubuh Ratu Iblis yang telah mati. Untuk yang kedua kalinya, dia menghadapi ras iblis terakhir itu dan pada akhirnya Xin Fai memang harus membunuh untuk menghindari kesengsaraan lain di masa depan. Sekarang hanya tersisa Naga Kegelapan, dan meskipun kekuatannya terasa mencapai ambang batas laki-laki itu tetap berdiri tegap. Seorang pahlawan sebenarnya, yang ditakdirkan berdiri saat semua orang bersembunyi di belakangnya.
Xin Fai baru saja mengeluarkan pedang kembali saat suara lancang menyahutnya.
"Oh, tampaknya kau jauh lebih kuat daripada yang kulihat. Anak dan ayah tak ada bedanya ... Kalian, kalian menghancurkan semua mainanku! Setan tidak tahu diri! Seharusnya kalian mati saja!"
Kemarahan laki-laki bertopeng gagak itu semakin menjadi, kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya terkepal erat. Dia menggeram saat menarik napas, tak habis pikir dengan apa yang diperbuat musuhnya. Terlebih lagi dengan hancurnya pusaka suci Lembar Ketiga yang takkan bisa gantikan keberadaannya bahkan oleh ribuan nyawa sekali pun.
Tapi tampaknya Xin Chen tak peduli ada tidaknya pusaka yang berarti itu. Dan hal itulah yang membuatnya kesal tak main-main.
"Kau tahu, kalian sudah terlalu jauh meremehkan ku."
__ADS_1
"Oh, sekarang kau berlagak seperti kau yang menjadi korbannya?" Xin Fai menyeru, menekan suaranya keras. Dia juga kesal setengah mati dengan orang ini.
"Kalau kau berani hadapiku di sini! Tidak perlu kau libatkan hal-hal lain di dalamnya. sebenarnya apa masalahmu?" Naik pitam juga Xin Fai akhirnya, walaupun bicaranya tetap tenang.
"Apa masalahku?" Pria itu tersenyum dibuat-buat, lalu tertawa dan terus tertawa seperti orang gila. Tak lama terdengar makian serta umpatan yang ditujukan pada Xin Fai. Dia seperti menangis namun mencoba menyembunyikannya dengan teriakan.
"Kau merebut segalanya dariku!"
Xin Chen tak heran lagi jika seorang pahlawan juga memiliki banyak orang yang membencinya sama seperti penjahat itu sendiri. Semua itu tak bisa dipungkiri lagi.
"Kau membuatku hina! Kau membuatku diludah oleh semua orang! Kau-!" Geramnya menggemeretakkan gigi, terlihat jelas emosi meledak-ledak dalam dirinya.
"Kau meledekku. Memenjarakanku di bawah tanah. Hina dina ku dapat. Semua bangsawan, penduduk, para Pilar Kekaisaran membenciku. Bahkan tak sama sekali mengingat kebaikan yang pernah kutoreh di masa lalu!"
Xin Fai yang terdiam membisu, dia berusaha tak mempercayai siapa yang berada di balik topeng tersebut. Dia tak tahu seberapa besar luka yang didapatkannya usai hari itu. Ketidakpeduliannya terhadap mereka yang tersisihkan hanya akan menimbulkan kesengsaraan berikutnya.
Dan sekarang Xin Fai sadar, yang namanya perdamaian hanya sekedar kata yang semu. Sehebat apa pun dia mencapainya masalah lain akan timbul di kemudian hari. Sama seperti orang ini.
"Kau pasti sudah tahu siapa aku, kan?"
Detik-detik selanjutnya semua orang tak berani bergerak atau berbicara, pria itu melepas topeng di wajahnya.
***
__ADS_1