
Tak mau pergi dengan tangan kosong Xin Chen lantas menanyakan hal lainnya.
"Kalau begitu tadi teman kalian yang berjaga di dekat dermaga bilang kalian mengirimkan utusan ke Kekaisaran kami. Boleh aku tahu ke mana saja mereka dikirim dan untuk apa?"
Mereka terdiam ragu, antara ingin menjawab atau tidak.
Tak mendengarkan jawaban lantas Xin Chen kembali berbicara "Sebenarnya aku tidak ingin membawa organ dalam kalian ke dalam sana juga.." Xin Chen menunjuk ke berbagai bagian tubuh yang mereka pindahkan tadi. Mereka menelan ludah kasar.
"Ba-baik Tuan... Aku akan ambilkan petanya." Wanita itu berdiri tergesa-gesa. Xin Chen menahannya sebentar, agak merasa curiga dengan gelagatnya.
"Jangan melarikan diri atau leher mereka jadi taruhannya."
Ancaman itu membuatnya bergidik ngeri untuk yang kesekian kalinya, bagaimana bisa dia melarikan diri sedangkan mata Xin Chen terus mengawasinya dari ujung ke ujung.
Tak lama dia kembali membawa peta yang terbuat dari kain, beberapa tempat di Kekaisaran Shang telah ditandai menggunakan tinta. Tempat yang kemungkinan sedang dicari-cari oleh pendekar Kekaisaran Wei untuk mengambil senjata pusaka langit.
Xin Chen menerimanya, para wanita itu terheran-heran saat melihat peta tersebut seketika menghilang dari tangan Xin Chen. Berpindah ke cincin ruang.
"Aku beri waktu dua jam untuk menghilangkan kabut racun dan pergi dari tempat ini. Secepatnya!"
"Baik!"
Sembari menunggu mereka Xin Chen mengeluarkan kembali peta tersebut, salah satu dari tempat yang ditandai adalah Telaga Hijau yang akan dia datangi bersama Rubah Petir. Tentu saja ini seperti kabar buruk, bisa jadi orang yang mereka utus telah lebih dulu mengambil kepingan Baja Phoenix di sana. Atau bahkan pihak dari Lembah Para Dewa duluan yang telah datang.
Merasa tak memiliki waktu banyak Xin Chen mengalihkan pandangannya ke orang-orang tersebut, satu dari mereka tampaknya sedang berusaha sembunyi-sembunyi mengirimkan surat. Dia menggunakan merpati untuk mengantarkan surat itu ke pimpinan mereka di Kekaisaran Wei.
Jelas saja Xin Chen tak terima, sebelum merpati itu terbang lebih jauh Xin Chen sempat teringat akan pusaka yang dia dapatkan dari toko di Lembah Para Dewa. Sebuah panah dikeluarkannya dari cincin ruang dan dibidiknya secara cepat.
__ADS_1
Tiga anak panah nyaris mengenai merpati tersebut namun targetnya menghindar gesit. Tampaknya memang hewan peliharaan yang sudah dilatih oleh pemiliknya. Terbang merpati tersebut semakin menjauh dan anak panah mulai tak bisa menjangkaunya lagi.
"Sepertinya kau harus berlatih memanah dulu, Chen." Rubah Petir datang dan tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Dia memandu tangan Xin Chen dan mengarahkannya sejajar dengan tubuh merpati tersebut.
"Jangan ragu, lepaskan anak panahnya."
Kekuatan petir dari si rubah mengalir pada anak panah dan meluncur seperti kilat, menembus tubuh merpati tersebut. Berhasil menggagalkan rencana si wanita yang sedang ditahannya ini. Xin Chen mendekat, memasang tatapan awas.
"Aku tak berniat membunuh wanita sepertimu karena Ibu sendiri yang memintanya." Bola mata wanita tersebut mulai bergerak ke arah lain, mencari tempat untuk melarikan diri sebelum Xin Chen membunuhnya.
Rubah Petir menyahut dari arah belakang. "Justru kau salah besar, para dokter-dokter licik inilah yang membunuh penduduk Huobi dengan racun buatan mereka."
Alasan itu membuat tekad Xin Chen semakin besar, belum sempat membunuh mereka Rubah Petir telah lebih dulu menggunakan kekuatan petirnya dan seketika menghanguskan semua musuh dalam satu kedipan mata.
Sikap tanpa ampun ini mengajarkan banyak hal pada Xin Chen, mungkin dia harus memilih jalan berdarah seperti yang dilalui Ayahnya dulu. Mengampuni nyawa seperti tadi memang hanya akan menambah beban saja.
Xin Chen pernah sekali melihat bagaimana Ayahnya bertarung dan merasa tak mungkin dirinya melakukan jalan penuh darah seperti itu karena percaya Xin Zhan lah yang akan mewarisi nama Pedang Iblis kedua. Tapi makin ke sini dia mengerti, alasan mengapa dia dilahirkan adalah untuk menjaga perdamaian yang susah payah diperjuangkan Ayahnya.
Perut Xin Chen berputar-putar saat tangannya memegang otak manusia, rasa jijiknya kian memuncak ketika melihat di balik tumpukan daging itu sebuah mata melotot menatapnya. Kepala tanpa badan tersebut adalah mayat seorang pejuang yang habis bertempur mempertahankan rumahnya.
"Semoga kalian semua tenang di alam sana."
Usai membuat pemakaman massal untuk menguburkan mayat penduduk yang telah mati sia-sia, Xin Chen membereskan beberapa hal lagi seperti asal kabut beracun dan menelusuri tenda yang didirikan oleh orang-orang dari Kekaisaran Wei ini.
Beberapa jam kemudian asap kabut mulai menipis seiring dengan menjauhnya langkah Xin Chen dan Rubah Petir. Desa Hantu yang telah dilupakan mungkin akan menjadi saksi bisu atas peperangan besar yang akan terjadi beberapa tahun kemudian.
Entah sejauh mana mereka melangkah hingga akhirnya tiba di sebuah perbatasan yang dijaga ketat oleh masyarakat penduduk seberang. Kelihatannya mereka keberatan membiarkan siapapun yang baru saja memasuki Desa Hantu melewati daerah mereka. Takut sewaktu-waktu mereka menularkan penyakit dari desa tersebut.
__ADS_1
Saat mendekat saja penduduk di sana sudah memperlihatkan wajah tak suka, seolah mengusir keduanya agar berputar balik dan tidak membawa bencana ke dalam tempat mereka tinggal. Terjadi perdebatan sengit saat Xin Chen ingin memasuki desa tersebut dengan beberapa orang dewasa.
"Kami tidak akan membiarkan kalian masuk ke sini, kalian pasti membawa penyakit dan menularkannya pada kami!" teriak salah seorang pria paruh baya, mengangkat tinggi-tinggi cangkul di tangannya.
"Kalau kau tak mau menurut, sayang saja. Kau akan merasakan bagaimana rasanya mati dengan cangkulku ini."
"Aku tidak berniat memulai keributan di sini, izinkan aku lewat saja. Aku tidak akan mampir atau menyentuh penduduk kalian, aku bisa memegang kata-kataku."
"Tetap tidak bisa!" Kali ini kepala desa menyahut, suara menggema keras seisi desa. "Membiarkanmu masuk sama saja dengan mengorek makam para pendudukku."
"Betul sekali!"
"Jangan berikan mereka jalan!"
"Tutup saja pintu gerbangnya!"
Sahut-sahutan terdengar seiring berjalannya waktu, pintu gerbang telah sepenuhnya tertutup rapat. Mereka mengusir sambil memaki-maki. Tak terima Xin Chen dan Rubah Petir masuk ke sana walau satu langkah pun.
"Ya sudah kalau tidak diizinkan masuk, aku akan memaksa lewat," tanggap Xin Chen tak peduli, sebenarnya dia bisa saja menggunakan nama Ayahnya untuk memudahkan urusan ini. Tapi Xin Chen rasa dia masih bisa menanganinya dengan cara sendiri.
Pintu gerbang yang sedemikian tebalnya dilewati Xin Chen begitu saja, membuat para penduduk memelototkan mata mereka lebar-lebar. Tak percaya pada apa yang baru saja terjadi, kepala desa mendekat. Memastikan gerbang itu tetap utuh dan Xin Chen bukanlah hantu.
"Kau..."
"Apa?"
"Kau arwah gentayangan dari Desa Hantu!!"
__ADS_1
Rombongan manusia berlarian tak karuan, masuk ke dalam rumah dan menguncinya rapat-rapat. Tidak menyangka hari ini akan kedatangan tamu tak diundang dari Desa Hantu. Xin Chen mencebik kesal.
"Seandainya bukan karena kalian menutup akses begini, orang-orang di Desa Hantu mungkin akan selamat sebelum racun itu benar-benar membunuh mereka." Xin Chen menambahkan sedikit seraya menggelengkan kepala, "Justru kalianlah yang mempermudah kematian mereka."