Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 41 - Orang-orang Terbuang


__ADS_3

Kepala desa yang telah mengambil jarak jauh dari Xin Chen bergidik ngeri, takut Xin Chen datang untuk membalaskan kematiannya di sana. Dia menelan ludah kasar, melirik kanan kiri berharap ada yang mau mengatasi anak kecil dan sosok misterius yang kini ikut masuk ke dalam desa.


"Apa kau benar-benar hantu?"


Terdengar suara dari sebelah kiri, seorang kakek berumur 70 tahun mendekat ke arahnya.


"Aku bukan hantu."


Tatapan orang-orang seperti tak mempercayai ucapannya, selain karena tubuh Xin Chen dapat menembus benda mati, tubuhnya juga telah berlumuran dengan darah. Memperjelas pandangan orang-orang akan dugaan dirinya adalah hantu.


Sedikit jengah dengan keadaan ini Xin Chen akhirnya memungut satu kerikil tajam dari tanah kemudian menggoreskan batu kecil itu di tangannya hingga mengeluarkan darah.


"Sekarang sudah percaya?"


"Ba-bagaimana bisa..." Kepala desa mulai berkeringat dingin, merasa takut telah menyinggung Xin Chen sebelumnya. Tapi jika dia pikir-pikir lagi tak mungkin penduduk desa Houbi memakai pakaian seperti yang dikenakan Xin Chen. Semakin berpikir ternyata perasaannya semakin buruk.


"Tuan Muda, kau sebenarnya siapa? Bisa kau lepaskan topeng itu dulu agar aku bisa mengenalmu?"


Sebenarnya agak ragu Xin Chen memberitahukan identitasnya, tak ingin mengambil resiko dia hanya menggeleng. Menolak melepaskan topengnya itu.


"Kami hanya perlu melewati desa ini. Tidak akan mengganggu kalian lagi."


"Ba-baik, aku mengerti. Hei kalian minggir lah! Berikan mereka jalan!"


Rubah Petir masih terus menyembunyikan kekuatannya seperti biasa ketika menghadapi orang banyak. Namun salah satu pejuang dari desa tersebut sedikitnya bisa mengukur kekuatan sosok dalam balutan jubah tersebut. Terlihat sangat kuat dan cukup untuk membunuh ribuan orang dalam satu kedipan mata.


Dibanding itu Xin Chen rasa sebesar apapun kekuatan Rubah Petir, kalaupun dirinya berada di posisi antara hidup atau mati rubah itu takkan menyelamatkannya.

__ADS_1


Wajah Xin Chen seketika masam mengingat dirinya mungkin takkan pernah mati. Pil Keabadian yang berada di tubuhnya telah menjaga jantungnya agar selalu berdetak. Sehancur apapun fisiknya ke depan nanti. Itu artinya dia harus bersiap merasakan kematian berkali-kali.


Xin Chen menaikkan sebelah alisnya ketika dia menoleh ke belakang, mendapati kepala desa tengah mengikuti mereka dari belakang. Saat mereka bertatapan pria itu mengalihkan matanya ke arah lain. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi agak ragu-ragu.


Tak berniat bertanya mengapa akhirnya Xin Chen meneruskan langkahnya, agak lama kemudian akhirnya mereka tiba di ujung desa. Menemukan beberapa wanita sedang bergiliran membawakan makanan pada satu tempat. Wajah mereka tak terlihat sedang baik-baik saja, lebih seperti terpaksa melakukan itu semua.


Berselang beberapa detik pula suara jeritan perempuan di balik-balik perumahan penduduk terdengar. Seketika langkah Xin Chen berhenti, hidungnya dapat mencium bau darah segar di balik sana. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


Menganggap ini kesempatan untuk mengadu, kepala desa menceritakan sedikit apa yang telah terjadi beberapa minggu belakangan kepada anak itu. Dia yakin Xin Chen dan sosok di sampingnya dapat membantu mereka atas permasalahan ini.


"Tuan, aku merasa tak enak karena telah mengusirmu tadi. Sungguh aku merasa bersalah, tapi... Tapi aku memiliki alasan lainnya yang tak bisa kukatakan pada orang luar."


"Terus terang saja, apa yang terjadi di sini? Kenapa wajah kalian sangat lesu seperti itu?"


"Kau menyadarinya, Tuan?" Pria itu mulai berkaca-kaca, "Kami semua kelaparan. Semua bahan makan dan lahan kami diperah habis-habisan oleh mereka..." ujarnya setengah berbisik takut. Dua kali melihat kanan kiri, dia mendekat untuk berbisik.


Setelah sedikit menarik napas kepala desa melanjutkan, "Mereka akan menyebarkan penyakit itu ke para penduduk kami. Aku tidak punya pilihan lain, mereka bilang akan membunuhku kalau membiarkan orang asing masuk."


Xin Chen menepuk jidatnya. "Ayah, kerjaanmu rupanya belum selesai."


"Ayah?" Kepala desa mengernyit heran, menebak-nebak maksud perkataan Xin Chen. "Sudahlah lupakan, aku harus menemui mereka."


Rubah Petir menahan lengan Xin Chen, "Kau baru saja bertarung habis-habisan di desa sebelumnya, apa kau yakin ingin melawan mereka? Kukatakan saja, mungkin kau tidak akan menerima pertolonganku sebelum benar-benar dibutuhkan."


Mengerti maksud Rubah Petir, Xin Chen mengangguk kecil. "Kau memang takkan membantuku, tapi setidaknya biarkan aku membantu mereka."


Rubah Petir sedikit tertegun mendengarnya, dia berdehem kecil. Membiarkan si iblis cilik bekerja dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Setidaknya dia sudah mengingatkan, terlalu banyak menggunakan kekuatan Topeng Hantu Darah dapat mempengaruhi kesehatan mentalnya. Lagipula kini tubuh Xin Chen terluka banyak, mungkin harus dirawat agar luka di sana tak menjalar.


Ketika bola matanya dapat melihat jelas beberapa tenda dan juga tempat memasak didirikan di tempat yang sangat tersembunyi, Xin Chen mengeluarkan beberapa botol kaca yang dia temukan dari markas medis dari Kekaisaran Wei tadi. Botol berisi cairan kehijauan itu didapatkannya secara acak, Xin Chen mengambil semua agar saat orang lain memasuki Desa Houbi, mereka tak menyalahkan gunakannya.


Terlihat sekitar 11 orang tengah berpesta di sana, para wanita meletakkan makanan di tempat yang agak jauh agar tidak tertular penyakit. Selebihnya dua gadis yang sudah direlakan untuk menghibur mereka menangis-nangis, meronta meminta pertolongan.


Tatap mata para pendekar itu terkunci di satu titik di mana kepala desa, Xin Chen dan Rubah Petir tengah mengamati mereka.


"Hei Pak Tua! Bawakan aku satu gadis lagi atau semua pendudukmu akan merasakan penyakit yang sama seperti kami!"


"Ma-maafkan aku Tuan, mungkin nanti sore kami bisa memberinya padamu..."


"Hahahaha, ngomong-ngomong kau membawa siapa di sampingmu? Terlihat penuh darah."


Xin Chen menggelengkan kepalanya, para pria ini meskipun kulitnya mulai berubah akibat efek penyakit yang menggerogoti tubuh mereka tapi tetap saja mereka menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Mungkin kesempatan seperti inilah yang mereka tunggu-tunggu seumur hidup.


Bisa bersenang-senang dengan wanita dan arak. Siang-malam hanya menghabiskan waktu dengan menghibur diri.


"Me-mereka mungkin bisa mengatasi penyakit di tubuh kalian.." ujar kepala desa cemas, tangannya saling bertaut khawatir bagaimana Xin Chen menghadapi delapan belas pendekar sekaligus. Mengingat sosok berjubah itu tak kunjung melangkahkan kakinya untuk menyusul Xin Chen, itu artinya anak kecil itu hanya mengatasi Pendekar Manusia Darah Iblis ini sendirian.


"Maksudmu menyembuhkan kami? Hahahaha lucu sekali! Mana bisa, mana bisa!" Salah seorang dari mereka berdiri. "Ketua kami yang pergi sendirian untuk mencari penawarnya bahkan tak pernah kembali sejak hari itu. Dan kau mengatakan anak kecil ini bisa membantu kami?" Lantas pria itu mendekati kepala desa dan mencengkram bajunya.


"Kau menertawakan kami?!"


"Ja-jangan menyentuhku!" Kepala desa menangkis tangannya dan menjauh buru-buru. Dia segera mencuci melepaskan pakaian luarnya agar tak tertular penyakit. Sikap tersebut jelas saja membuat pendekar itu ingin mengamuk, melampiaskan kekesalannya pada apapun.


Xin Chen tercenung sedikit, mungkin orang yang tempo hari terbunuh di tangannya adalah Ketua dari sisa Manusia Darah Iblis ini. Dia berucap pelan. "Kau bisa mempercayaiku."

__ADS_1


__ADS_2