
"Kau begitu keras kepala, manusia. Sial."
Salamender Api membuang pandangan ke arah lain, di sisi lain Shui terus melihat gerak-geriknya. Pasti ada yang disembunyikan oleh salamender tersebut. Terlebih lagi sikapnya kini, begitu tak bersahabat dengan kaum manusia. Shui tak tahu apa yang terjadi pada Salamender Api setelah mereka berpisah cukup lama. hanya saja sekarang dia dapat melihat tatapan sesal dan marah dari Salamender Api saat melihat manusia.
"Aku pernah mengenal seorang manusia."
Tanpa diduga Salamender Api mengatakannya, jelas membuat keduanya menoleh pada salamender. namun tampaknya kisah itu adalah sesuatu yang berat untuk diusik kembali.
"Aku pernah mempercayai seorang manusia, di dunia ini, aku sampai pernah menyesal mengapa aku menjadi siluman. Mengapa tidak menjadi manusia agar aku bisa selalu bersama orang itu? Tanpa harus dimusuhi oleh manusia-manusia lain, dengan begitu kami akan terus bersama-atau jika bisa, kami akan mati di medan perang yang sama."
Tidak ada yang berani memotong cerita Salamender Api. Ketiganya serius. Usai mengatakannya salamender menoleh ke arah Xin Chen."Aku berteman dengannya cukup lama, dia bahkan sudah menganggapku sebagai saudara. Sampai aku lupa bahwa aku tetaplah siluman yang jauh berbeda dari kalian, aku lupa siapa aku sebenarnya dan membuatnya dalam bahaya ratusan kali. Aku ... aku mungkin adalah penyebab kematiannya."
Di akhir kata Salamender Api hanya menjauh dari mereka, bergerak di tepi pantai. Shui mengira salamender itu akan kembali ke sarangnya tapi ternyata tidak. Dia berhenti dan melihat jauh ke laut lepas. "Hanya sepotong jarinya yang ku temukan usai perang hari itu. Aku menguburnya bersamaku di kedalaman laut. Tapi semakin aku memikirkannya, manusia semakin membuatku muak. Kalian begitu naif dan juga sensitif, lemah sekaligus serakah. Menyelamatkan orang-orang hanya karena menginginkan perdamaian yang sangat mustahil untuk dicapai."
Meskipun berkata demikian Salamender Api masih begitu teringat dengan manusia itu, yang bahkan membagi secuil makanan padanya saat mereka berdua kelaparan. Saat itu dia menyamar di antara manusia, menjadi salah satu yang terkuat dan melihat bagaimana situasi di Kekaisaran Qing. Mereka dulu memiliki tujuan yang sama, namun harus berhenti di garis yyang berbeda. Laki-laki itu sudah pergi setelah awal yang baru sedang dimulai.
"Kekaisaran ini sudah lama tidak berperang karena dirinya. Dia menghentikan semua kekacauan itu dan hanya menjadi cerita lama. Kupikir setelah hari itu semuanya sudah selesai. Tapi orang itu mati terlalu cepat. Kekaisaran Qing menjadi lebih serakah dan sekarang ingin menguasai seluruh daratan? Itu artinya percuma saja, bukan. Untuk apa harus menghentikan perang sedangkan hari ini masalah yang lebih besar muncul kembali."
Salamender Api bertanya pada dirinya sendiri, dia tak tahu lagi apa yang dilakukan manusia itu selama ini. Mati-matian mengehntikan perang yang tak pernah habis.
__ADS_1
Sebelum Salamender Api berbicara kembali Xin Chen lebih dulu memotong, "Setidaknya dengan menghentikan perang itu dia sudah menyelamatkan ribuan nyawa."
"Alasan itu memang sederhana. Tapi pikiran manusia yang rumit. Jadi menurutmu menghentikan perang ini adalah perbuatan yang sia-sia, cicak api?"
"Terserah apa katamu. Aku rasa ini sama sekali tidak ada gunanya."
Perdebatan mereka berhenti sampai di sana. Salamender Api memang sulit untuk dibujuk, seperti perkiraan Shui. Tapi dia baru tahu bahkan Xin Chen pun kesulitan untuk mengajaknya.
Untuk terakhir kali Salamender Api menyampaikan pendapatnya, setelah itu dia berniat kembali sebelum para manusia mencurigai akan apa yang terjadi di tempat ini dan memeriksanya.
"Selamanya keadaan para manusia tak akan berubah. Selagi raja yang tamak masih hidup, atau orang jahat muncul, dan ancaman dari masa lalu tetap ada. Nyatanya hal-hal seperti itu tak akan bisa dipisahkan dari kita semua."
Salamender Api sempat terkejut, lalu terbahak untuk waktu yang lama. "Kau orang kedua yang pernah mengatakan hal yang sama. Dan orang pertama sudah disiksa di neraka sebelum dia mampu mewujudkan impian-atau mungkin bualannya itu?"
Xin Chen kehabisan akal. Dia benar-benar frustrasi dengan siluman cicak tersebut. Kalau bukan karena situasi sedang serius, dia pasti akan menampar mahkluk banyak alasan itu dengan Kitab Pengendali Roh.
"Inti dari omonganmu berarti, kau ingin tetap disarangmu dan menunggu Naga itu datang sendiri padamu, bukan? Jika tidak ingin terlibat terserah padamu. Aku tidak memaksa. Tapi jika sampai kau mati dan kekuatan spesial ketahanan empat elemenmu jatuh ke tangannya, kau hanya akan menambah masalah kepada kami."
Xin Chen pergi lebih dulu ke tempat yang agak jauh dari keduanya. Karena memakai terlalu banyak kekuatan tadi dia harus memulihkan diri lebih dulu. Xin Chen menghabiskan waktu untuk bermeditasi, berharap Shui mau berhadapan dengan Salamender Api yang menyebalkan.
__ADS_1
Shui menatap Xin Chen yang baru saja menutup mata, tampaknya adu debat dengan Salamender Api jauh lebih melelahkan daripada bertarung dengannya. Dia melirik ke arah Salamender Api yang tengah menyeringai di matanya. Padahal Salamender Api tak melakukan hal apa-apa tapi Shui sudah takut.
"Memang lawan berdebatmu hanya Rubah Petir. Kalian menang kalau urusan silat lidah."
"Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan. Kenapa anak muda itu seperti putus asa saja melihatku?"
"Mungkin karena dengan si rubah saja dia tidak bisa berkutik. Apalagi menghadapi kau ini." Daripada membahas hal itu, Shui kembali pada percakapan awal mereka.
"Aku tahu kau tidak sepengecut itu untuk mundur dari pertempuran ini. KIta bukan sedang memperjuangkan manusia saja, tetapi teman-teman kita yang lain."
"Hanya tersisa beberapa dann itu tidak cukup untuk menjatuhkan Naga Kegelapan itu." Untuk kesekian kalinya Shui menarik napas, merangkai kata-kata yang cocok untuk menghadapi Salamender Api ini.
"Anak muda itu, dia pernah bertarung dengan Naga Kegelapan. Bersama ayahnya. Mereka nyaris menang, tapi musuh tahu cara mengancam seorang pelindung bagaimana. mereka mengatakan akan menghancurkan seisi kekaisaran jika tidak menyerah. Dan sekarang, anak muda itu kehilangan ayahnya. Dia juga sedang berjuang untuk ayahnya."
"Mengalahkan naga Kegelapan? Jangan bercanda."
"Aku dan Rubah Petir ada di sana." Sesaat Salamender Api menoleh padanya, mencari-cari kebohongan di mata sebiru laut itu. Shui tak berbohong, dia melihat begitu kuatnya rubah itu bertahan. Dia sudah memperkirakan hal itu akan terjadi dan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin demi bisa menjaga para manusia. Sampai hari ini, Shui tak tahu mengapa Rubah Petir begitu memperjuangkan para manusia. Namun jika benar dia melakukan hal itu demi Siluman Penguasa Bumi lainnya, maka tak heran mengapa rubah itu menyinggung soal Salamender Api.
"Saat itu rubah mengatakan seandainya kau ada di sana, kemenangan pasti ada di tangan kita."
__ADS_1