
"Merusak hukum alam katamu?"
"Rubah yang diutus oleh Roh Elemen Petir berniat melatihmu kekuatan para Siluman Penguasa Bumi, bukan? Jika itu maunya, aku yakin kutukan akan menggerogoti dirinya tanpa ampun. Menghancurkan kalian berdua masih menjadi tugasku, meskipun sebenarnya ini bukan tanggung jawabku lagi..." Roh Elemen Api menancapkan ujung tongkatnya, bulatan kobaran api menyebar di sekitarnya dalam skala besar. Menimbulkan deru angin panas yang sangat kencang hingga Xin Chen bahkan tak sanggup mempertahankan posisi berdirinya.
"Roh Suci Surgawi - Gerbang Ketujuh."
Sebuah tembok tinggi muncul naik ke atas, menimbulkan suara derak yang begitu kuat dan juga serpihan dari bebatuan mengincar tubuh Xin Chen yang masih dikelilingi oleh singa api, mereka tak lagi berjalan mendekat seperti sebelumnya melainkan langsung menyerang membabi-buta, layaknya binatang kelaparan yang sedang memangsa makanan satu-satunya. Mereka menerkam Xin Chen berebutan hingga tanpa sadar, justru binatang buas itu menyerang sesamanya.
Xin Chen yang cukup gesit dalam hal mengelak nyaris tipis bisa selamat di antara para singa api ini, untuk sementara dia sama sekali tak memiliki cara untuk menembus kulit tebal mereka yang dilapisi armor besi yang begitu kuat. Jika dilihat-lihat teliti, tingkat ketebalan dari armor tersebut setidaknya dapat membuat patah pedang setajam apapun saat mencoba menembusnya.
__ADS_1
Curam tebing yang diciptakan oleh Roh Elemen Api berhenti bersuara, bebatuan yang lebih terlihat seperti kristal kebiruan tersebut memancarkan kekuatan yang setara dengan para singa buas yang sedang dihadapinya. Xin Chen mengutuk keras dalam hati, dia sudah menebak ini semua akan menjadi seperti apa. Sudah jelas tebing tinggi tersebut bukan benda mati, melihat bentuknya saja sudah tak biasa, keping-keping dari bebatuan kristal itu bergerak perlahan seiring dengan Roh Elemen Api yang mengendalikan mereka menggunakan tongkatnya.
'Dunia alam bawah sadarku dikuasai oleh Roh Elemen Api sepertinya? Walaupun ayah pernah bilang kalau di sini aku takkan mati, bukannya ada kesempatan Roh Elemen Api ini memiliki cara untuk membunuhku tanpa harus menghancurkan tubuhku?' batinnya, derit suara pedang petir yang digunakannya untuk melindungi tubuh mulai menghilang. Pedang petir itu akan patah untuk yang kesekian kalinya.
Langkah Xin Chen kembali mundur beberapa meter, dia melompat jauh agar tak terkena cakaran dan libasan ekor yang terus berdatangan. Untuk memastikan situasinya takkan terpojok seperti sebelumnya Xin Chen melompat-lompat di atas kepala singa itu.
"Kau tahu mengapa manusia tak pantas memiliki kekuatan seperti para Siluman Penguasa Bumi? Mengapa para Roh Elemen tak memilih ras kalian untuk mengambilnya?"
Roh Elemen Api sempat terdiam, dia kira Xin Chen cukup mengerti arah pembicaraan ini dan sadar posisinya sebagai manusia yang serba lemah
__ADS_1
"Secara fisik kalian sangat lemah, bahkan terlalu lemah. Namun kalian memiliki perasaan yang kuat. Keegoisan, serakah, dan semua sifat buruk lainnya. Dibandingkan para siluman yang membunuh hanya karena ingin menjadi yang terkuat, kalian bisa saling membunuh hanya karena secuil makanan."
Roh Elemen Api menggelengkan kepalanya berulang kali, mengingat dirinya pernah turun langsung melihat kekacauan yang terjadi di masa lalu. Saat bencana kelaparan melanda, wabah dan kemarau berkepanjangan. Rasa mirisnya menjadi semakin menjadi melihat mereka, sifat asli Manusia yang keluar ketika mereka berada dalam situasi antara hidup dan mati.
"Kau salah."
"Hm? Ingin membela ras mu yang jelas-jelas lemah itu? Silakan, tapi aku sama sekali tidak ingin mendengar apapun darimu."
"Seseorang bisa saja dipukuli hingga babak belur dan mengalami patah tulang, hanya demi sebuah kentang. Tapi dia melakukannya karena memang adiknya kelaparan menunggunya membawa makanan." Xin Chen berbicara kembali dengan lantang, "Kami melakukan apapun jika ingin melindungi apa yang kami anggap berharga. Nyawa sendiri, keluarga, atau semua orang."
__ADS_1
"Melindungi semua orang, hahahaha justru yang seperti ini juga sering aku lihat. Ah, melindungi semua orang! Orang seperti itu melakukan pekerjaannya setengah hati, pendekar terkuat seperti mereka takkan mau mengurus hal-hal sepele seperti kisah anak pencuri kentang yang kau permasalahkan tadi. Apalagi perampok kelas teri, melindungi semua orang katamu?"