Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 172 - Hadiah dan Permintaan


__ADS_3

Tranggg!!!


Sebuah laju pedang menahan serangannya, membuyarkan konsentrasi Qiang Jun dalam sesaat. Namun sesosok yang menghalanginya tak menampakkan diri, hal itu membuat Qiang Jun berulang kali melihat sekitar agar dapat menyerang balik musuh lainnya itu. Hanya saja matanya tidak menangkap apa-apa seusai munculnya serangan tiba-tiba tersebut.


Qiang Jun mundur beberapa langkah saat mendapati senjatanya dialiri oleh sebuah panas dan sengatan tingkat tinggi, pedang yang berwujud dari aliran api biru dan petir menghalau serangannya. Membuat lelaki itu mundur sangat jauh.


"Jika kau merasa hebat dengan kekuatan tanpa batasmu itu, maka lawanmu adalah aku," ucap seseorang dengan nada mengintimidasi. Berbeda halnya dengan aura yang di miliki Qiang Jun, bercahaya dan begitu silau, sebaliknya lawannya kini dipenuhi dengan energi jahat nan hitam. Siapapun akan bergidik ngeri merasakannya.


Perlahan-lahan wujud Xin Chen terlihat dari balik bayangan yang saling menyatu, energi jahat mengerubungi tubuhnya dan membludak semakin besar ketika dia memanggil seluruh roh yang berada di Kota Renwu.


Kali ini aliran energi alam dan kekuatan roh saling bertabrakan. Keduanya memiliki kekuatan layaknya sebuah koin dengan dua sisi. Tidak terlihat sedikitpun keraguan di wajah anaknya, hal yang selama ini sangat sulit dilakukan Xin Fai saat melawan orang yang dikenalnya.


Kekuatan roh yang paling besar berasal dari Hutan Kabut, di mana tempat itu sendiri telah banyak manusia mati dalam sebuah pertarungan antara Rubah Petir dan para manusia yang berperang untuk memperebutkan Kitab Terlarang. Puluhan ribu roh bersatu padanya, tak memungkiri bahwa saat ini energi alam dan kekuatan roh berimbang satu sama lainnya.


"Jadi dia yang namanya Qiang Jun?"


"Benar sekali."


Xin Fai tertawa kecil, melihat anaknya sama sekali tak gentar biarpun mengetahui siapa yang dilawannya barusan. Sang jagoan nomor satu yang namanya telah diabadikan dalam sejarah. Qiang Jun di Bunga Api dari kerajaan.


"Ayah memang sangat hebat. Bertarung dengannya dan masih belum kalah juga,"


"Hampir, andai kau tidak menahannya tadi."


"Aku tidak ingin menonton saja saat pahlawan kami bertarung mati-matian di sini."


Xin Fai hanya bisa mengelus kepalanya, "memang kau sanggup melawannya?"


Senyuman lelaki itu memudar saat kepala yang dielusnya tiba-tiba menghilang. Namun wujud Xin Chen masih terlihat dengan jelas.


"Kau ... Mengorbankan tubuhmu pada mereka?"


"Untuk menyelamatkan orang lain, Ayah bilang harus ada sesuatu yang dikorbankan?"


Jawaban anaknya terasa menyakitkan, Xin Fai rasanya ingin sekali kembali ke masa lalu dan takkan mengatakan hal itu lagi pada anaknya.

__ADS_1


"Tentang hadiah ulang tahunku tahun ini ...."


Xin Fai tertegun beberapa lama, dia memejamkan mata sesaat. Bagaimana dia bisa melupakan hari penting itu setelah bertemu dengan anaknya sendiri. Pertarungan ini menghabiskan sebagian besar pikirannya.


"Boleh aku meminta satu hal saja? Dan berjanji Ayah akan mengabulkannya?"


"Apapun."


Xin Chen tersenyum polos, wajahnya tak pernah berubah dan akan selalu membuat siapapun yang berada di sisinya merasakan energi positif darinya.


"Kalau begitu aku meminta Ayah untuk menyerahkan Qiang Jun ini padaku, dan membantu guru Rubah di sana. Bisa?"


Xin Fai tersedak napasnya dan batuk beberapa kali, dia sampai-sampai mengira telinganya salah mendengar omongan putranya itu. Namun melihat senyuman Xin Chen, terlihat ada banyak sekali hal yang menjadi alasan dia melakukan ini semua.


"Tentang pertarungan ini, kau sudah menduganya akan terjadi, kan?"


"Kurang lebih, saat aku kembali ke rumah untuk mengobati kakak Zhan. Aku tahu ini akan terjadi."


"Seperti yang ku duga. Keberadaan Liu Fengying itu, hanya kau yang pertama kali mengetahuinya." Xin Fai menghela napas panjang.


Dibanding keputusannya melepas Xin Chen meninggalkan rumah atau membiarkannya bertarung melawan Han Wu, kali ini keputusan terberatnya adalah untuk membiarkan anaknya melawan petarung yang bahkan sulit dihadapinya sendiri. Qiang Jun bukanlah lawan yang sepadan untuknya.


Dua kali menarik napas, Xin Fai tetap tak bisa membenarkan keputusannya untuk membiarkan anaknya menghadapi Qiang Jun sendirian. Xin Chen menyadarinya dan menyelutuk, "Aku bisa menjamin kali ini aku bisa bertarung imbang melawan Ayah "


"Tentu saja ... Argh, anak ini. Sebenarnya apa saja yang kau lakukan dua bulan ini sampai kekuatanmu itu bahkan berkembang tak masuk akal? Ya, ya! Aku tahu pasti si rubah yang mengajarkanmu tapi-" Xin Fai menghentikan pembicaraannya, kehabisan kata-kata.


"Tapi semua kekuatan di tubuhmu ... Itu sangat tidak masuk akal."


"Aku akan menjelaskannya setelah perang ini jika Ayah mengabulkan permintaanku."


Lagi-lagi ayahnya menarik napas sampai sepuluh kali dan baru berani menatap Xin Chen.


"Tidak."


Xin Chen menatap Qiang Jun yang tampaknya muak menunggu mereka berdebat, melirik sebentar ke Ayahnya.

__ADS_1


"Jika permintaan ini tidak dikabulkan maka aku benar-benar tidak akan kembali ke rumah. Selamanya."


"Apa!?!" Xin Fai tertohok. "Dua bulan saja kau sudah membuat kepalaku pusing bukan main! Haish anak ini, seharusnya aku menjewer telingamu sekarang."


"Dan aku juga akan melepaskan nama klan Xin dariku."


Xin Fai terdiam, semakin lama bicara anaknya mulai kelam. Dia tidak main-main dengan kalimatnya barusan. Sebagai seorang Ayah harga dirinya akan terluka ketika melihat justru anaknya yang bertarung di sini.


Tapi keinginan Xin Chen takkan bisa ditolaknya.


"Kau harus kembali ke rumah. Atau jika tidak Ayah akan mengejarmu bahkan sampai ke ujung dunia, paham?"


"Siap, Kapten!"


Xin Fai berulang kali memegang dahinya pusing, benar-benar kelakuan anaknya kali ini membuat dirinya ketar-ketir. Ini soal nyawa, dan Xin Fai terpaksa harus membiarkan anaknya bertarung sementara dirinya membantu Rubah Petir mengalahkan Naga Kegelapan.


Ketika Xin Fai berjalan ke arah lain, Xin Chen anaknya menyahut kencang.


"Kapal miring, Kapten!"


"Ck, anak itu ...."


***


note:


**halo semuanya! (. ❛ ᴗ ❛.)


kayaknya cuma bab ini yg rada2 pendek wkwkwk (cuma 900kata btw)


mana hatiku dag dig dug, klo gak revisi cerita sendiri rasanya was-was. udh coba nyari solusi, kyk pake web typoonline dll. eh, nama Rubah Petir digantinya jadi ubah petir😂


btw, novel lain yg pernah thor ceritakan bakal terbit hehehe insyaallah mungkin bulan depan (temanya sendiri ttg samurai di abad 16)


ada yang tertarik gak? kalo iya, nabung dari sekarang, oke.

__ADS_1


kelebihan novelnya, dari segi bahasa yg lebih rapi (karena di sana thor dipandu oleh mentor yg pro pake sangad), alur yg matang dan yg penting novel itu benar-benar tamat. jd gak ada tuh cerita di-php in lagi wkwkw🙈 selebihnya? masih banyak lagi kok, ke depan akan thor beritahu lebih lanjut (。•̀ᴗ-)✧


sankyouuu**~~


__ADS_2