Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 266 - Pembantai Roh


__ADS_3

"Sebagai salah satu penjahat kau rupanya peduli padanya."


Dua kali hentakan berikutnya jauh lebih keras, kali ini laki-laki itu tidak bertarung dengan tenang. Dia mengikuti emosinya sendiri yang semakin naik semakin lama Xiu Qiaofeng mengungkit tentang si Nomor Empat itu.


Sudah jelas terlihat bahwa lawannya terprovokasi dengan kata-katanya, tetapi Xiu Qiaofeng tak memperkirakan bahwa hal itu justru akan menempatkannya pada situasi buruk.


Lawan memakan sebuah pil aneh yang pada akhirnya menambah kekuatannya tiga kali lipat, sebuah kekuatan meledak dari tubuh laki-laki tersebut.


Xiu Qiaofeng tanpa sadar mundur, mulai merasa cemas saat pikirannya mengatakan bahwa kekuatannya takkan bisa mengimbangi orang tersebut. Dia mengeluarkan rantai untuk menangkap tubuh lawan yang melompat tinggi sebagai pembukaan pertarungan mereka yang selanjutnya. Rantai tersebut pecah dan hancur seperti debu. Xiu Qiaofeng menggunakan pedang tetapi benda itu ditangkap dengan tangan kosong lalu dipatahkan.


Kini gadis itu tak memiliki pertahanan apa-apa lagi sementara kawannya terlalu sibuk dengan musuh sendiri.


Mata laki-laki itu telah berubah kemerahan akibat efek dari obat yang ditelannya tadi. Xiu Qiaofeng tak tahu jelas apa yang tadi dimakannya, hal itu tentu saja berbahaya apalagi sampai dipasarkan ke Kekaisaran Shang. Karena tidak seperti pil-pil lainnya, pil tersebut tanpa memakan waktu lama menambah kekuatan sampai tiga ratus persen.


Satu serangan nyaris menembus jantungnya, Xiu Qiaofeng terlalu buru-buru untuk mengelak hingga dia jatuh ke tanah. Sedangkan lawan telah mengambil posisi serang di mana dalam satu gerakan saja pedang di tangannya menancap di atas kepala Xiu Qiaofeng. Terlalu ketakutan Xiu Qiaofeng tak dapat menggerakkan tubuhnya lagi, dia hanya dapat memejamkan mata dengan tubuh gemetaran hebat.


Sekilas dia dapat merasakan angin cepat di atas kepalanya. Namun hal itu terhenti. Dengan memberanikan diri dia membuka mata dan melihat laki-laki tadi melotot kuat dengan sudut bibir mengeluarkan darah hitam. Dia ambruk ke samping lalu menghilang saat angin kecil menyapu tanah.


"Mainan yang bagus."


"Si-siapa di sana?!" Xiu Qiaofeng berteriak kencang, tak memakan waktu sepuluh detik sampai semua musuh mereka lenyap dari muka bumi. Padahal untuk menumbangkan satu saja sampai memakan waktu berjam-jam. Xiu Qiaofeng juga sadar suara itu sama dengan suara yang sempat di dengarnya saat berada di tepi sungai.


Namun tak ada jawaban lagi setelah itu, dia menunggu beberapa menit dan menyadari sosok tersebut sudah menghilang beserta dengan penjahat dari Kekaisaran Qing.


"Nona, Anda bicara dengan siapa?"

__ADS_1


"Apa kalian tak mendengarkan? Seseorang tadi mengatakan sesuatu, seperti tepat berada di telingaku. Atau ... Jangan bilang kalian tidak mendengarnya?"


Semuanya menggeleng kecil, memang mereka tak mendengar apa pun sedari selain suara Xiu Qiaofeng. Gadis itu seakan-akan tak percaya, atau suara itu berasal dari pikirannya sendiri? Dia bisa mendengarnya dengan jelas.


Wakil mengeluarkan pendapatnya, yang memang sempat terpikirkan oleh Xiu Qiaofeng. "jangan bilang pengguna roh tadi? Sial, kita tak sebaiknya berurusan dengannya, ini bisa berbahaya bagi kelompok. Sebaiknya kita pergi dari sini."


Saat kelompok itu telah meninggalkan tempat, Xin Chen masih bisa mendengar suara tapak kaki mereka. Dia duduk di atas pohon tinggi sembari merenungi sesuatu.


Tentang mantra anti-roh dan segala hal tentang penggunaan roh yang tak diketahuinya. Setelah perang tujuh tahun lalu dia kehilangan seluruh roh yang dibunuh oleh Ratu Iblis. Mereka lenyap tak bersisa dan hanya menyisakan dirinya yang juga hampir dibuat tewas hari itu. Dengan begitu Xin Chen mempelajari segala hal tentang Kitab Pengendali Roh seorang diri, dia tak mengetahui apa pun lebih tepatnya. Terlebih lagi cara menangkal serangan roh ini.


Selain itu, ada banyak roh yang dikumpulkannya. Terhitung dari keroco-keroco dari Empat Unit Pengintai. Mereka berjumlah nyaris ribuan tetapi sulit sekali mengendalikan mereka. Masih sedikit yang mau mengikuti perintahnya.


"Aku sebaiknya menanyakan ini pada Lan Zhuxian." Xin Chen memberikan gulungan surat pada gagak hitam di tangannya, sama seperti yang dimiliki Lan Zhuxian di Lembah Para Dewa. Burung itu melaju cepat membelah angin, meninggalkan sayap-sayap hitam di belakangnya. Sementara pemuda itu masih terus berpikir tentang semua pertanyaan yang tiba-tiba datang di kepalanya.


"Selagi menunggu sepertinya aku harus membereskan semua pemburu ini. Apalagi Hantu dari YuangXe itu. Tidak perlu terburu-buru, hutan ini akan ku jadikan tempat latihan keduaku."


Surat dari Xin Chen sampai ke tangan Lan Zhuxian tiga hari setelahnya, gagak yang sampai di tangannya tampak terluka parah di beberapa bagian. Meski pun hanya roh tetapi jika ada sebuah kekuatan yang lebih besar menyerangnya, burung itu akan tetap terluka. Dia mengambil gulungan di kakinya, membaca huruf demi huruf dengan sedikit terkejut.


"Guru Yuhao? Mengapa saya baru menyadarinya?!"


Kepanikan Lan Zhuxian saat itu menimbulkan kericuhan di markas Unit Satu. Hanya ada empat orang dan semuanya saling menyahuti Lan Zhuxian.


"Hei, ada apa denganmu?"


"Guru Yuhao siapa? Jangan bilang orang itu akan datang ke sini? Lan Zhuxian, jelaskan dulu."

__ADS_1


"Oi, oi, oi! Kalian tidak melihat situasi? Nanti saja tanyakan, dia akan menjelaskannya sendiri!" seru Nan Ran, dia mendekati Lan Zhuxian sembari menepuk pundaknya.


"Ada apa kawanku?"


Tian Xi memutar bola mata jengah, dia pun tak mau ketinggalan informasi dan merapat ke meja Lan Zhuxian.


"Ikan mana lagi yang berulah?"


"Guru Yuhao bukan ikanmu, Tian Xi."


Baru kali ini Tian Xi melihat Lan Zhuxian menampakkan ekspresi tersinggung, terlepas dari sikapnya yang terlalu santun. Hal itu membuat kedua pemuda itu sedikit tak enak. Nan Ran menyenggol tangan Tian Xi, menyuruhnya segera meminta maaf.


"Baik, baik! Maaf malah menjadikannya lelucon. Tapi jika kau memiliki masalah mungkin bisa kita selesaikan bersama-sama."


"Sudah terlambat. Kita tak bisa berbuat apa-apa. Jika Guru Yuhao sudah turun tangan maka ... Tuan Muda, semoga dia baik-baik saja."


Saat mendengar nama Tuan Muda, Shui pun ikut mendekat dengan wajah tegang.


"Apa maksudmu dia akan baik-baik saja? Dan siapa pula Guru Yuhao itu?"


Lan Zhuxian menggeleng lemah, memegang surat itu dengan mata menyorot cemas. Dia membuka suara, lebih terdengar seperti bisikan.


"Guru Yuhao adalah guru saya, dia orang yang keras. Jalan hidupnya tak pernah keluar dari jalur berdarah. Wanita itu melarikan diri setelah membantai ribuan pengguna roh di Kekaisaran Qing. Dia meninggalkan saya sendirian dan setelah mendengar kabar Guru Yuhao bersembunyi di Kekaisaran Shang, saya berniat menyusulnya. Namun sudah hampir setahun di sini, tak pernah berjumpa dengannya."


Kertas di tangannya bergetar. "Saya benar-benar ingin menemuinya dan mengatakan terima kasih." Dia mengeluarkan sebuah kertas yang selalu disimpannya baik-baik.

__ADS_1


"Ini adalah pemberian terakhirnya. Mantra pengusir roh. Dia adalah pembantai seluruh pengendali roh. Mungkin setelah mendengar kabar kematian Zhang Ziyi, dia sudah mewanti-wanti akan adanya pengganti yang lain. Dan Tuuan Muda akan menjadi incarannya selanjutnya."


__ADS_2