
"Terimakasih-"
Belum sempat menyelesaikan perkataannya sosok tersebut telah menghilang bersama hembusan angin malam. Xin Chen memperhatikan Kitab Irama Kematian di tangannya, meski hanya dua lembar dia yakin isi dalam kertas itu adalah ilmu tingkat tinggi yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri untuk menguasainya.
"Chen, aku tidak tahu mengapa kau begitu ingin menguasai ilmu aliran hitam ini. Kusarankan saja, sebaiknya kau berhati-hati saat mempelajarinya. Kau sudah mendengar sendiri, kan? Kakek itu mengatakan dia sempat menyesal semasa hidupnya. Jangan sampai kau merasakan penyesalan sama seperti yang dia rasakan."
"Aku tidak merasa takut. Jika aku berjalan di jalan yang salah, kau boleh mematahkan semua tulangku."
Rubah Petir tahu Xin Chen tak mungkin menarik kembali kata-katanya, dia memperlihatkan senyum kecil, menepuk pundak anak itu pelan. "Sepertinya kau mendapatkan barang yang bagus."
Iris mata Rubah Petir tertuju pada pedang di tangan Xin Chen, hampir saja dia menertawai anak itu. "Kau tidak masuk akal sekali, mana bisa kau gunakan pedang yang dua kali lebih panjang dari ukuran tubuhmu dalam pertarungan."
Sedikit malu Xin Chen menjawab, "Ini... Memang tidak bisa dipakai, aku tidak berniat juga menggunakannya."
"Jadi untuk apa juga kau ambil?"
"Sebagai koleksi, nanti kalau bisa dijual ya dijual, mudah." Rubah Petir menelan ludah kecut. "Dalam hal keuangan kuakui otakmu sangat encer,"
"Hahahaha itu lebih baik, jika di tanganku harta itu akan lebih berguna daripada dipergunakan untuk membuat malapetaka."
Langit dini hari berubah kebiruan, Xin Chen menguap lebar-lebar, dia sedikit tertohok saat menyadari satu fakta mengejutkan. Wajahnya buru-buru menatap Rubah Petir. "Jadi selama lima hari berturut-turut aku tidak tidur?!"
"Mana aku tahu, salahmu sendiri tak meminta beristirahat."
"Terserah! Sekarang kita harus ke mana?"
Rubah Petir memejamkan matanya, menjawab Xin Chen dengan ekspresi datar. "Mengikuti arah mata angin."
"Serius?" Xin Chen memerhatikan sekelilingnya, keduanya saling menatap.
"Kau lupa? Dengan peta yang kau ambil di Desa Hantu itu, seharusnya kau tahu ke mana kita harus pergi sekarang."
Xin Chen baru saja teringat akan hal itu, dia memeriksa peta tersebut. Mencari-cari letak berbagai tempat yang telah ditandai, tapi sejenak alisnya merapat.
__ADS_1
"Terlalu banyak tempat yang mereka tandai... Sepertinya mereka juga mengincar satu pusaka langit lainnya.."
"Armor Dewa Perang? Bukankah katanya pusaka itu sudah dihancurkan?"
Sepengetahuan Rubah Petir, perempuan roh bernama Huo Zhao pernah mengatakannya. Tapi dia juga belum bisa memastikan hal itu benar atau tidak, apalagi dengan ilmu tingkat tinggi pedang yang telah patah saja masih bisa dengan mudah disatukan.
"Menurutku sendiri untuk senjata tingkat pusaka langit walaupun hanya kepingannya saja masih sangat diincar. Seperti halnya kepingan Baja Phoenix, mungkin hanya tersisa setengah tapi semua orang menginginkannya."
"Kau benar, kalau begitu kita harus pergi ke mana dulu?"
Sesaat Xin Chen hanya diam tak menjawab sedangkan matanya bergerak memerhatikan isi peta tersebut, dia memperlihatkannya pada Rubah Petir sembari menunjuk salah satu tempat.
"Kita akan pergi ke Utara."
**
Siang terik kembali memudar, angin sore bertiup pelan bersama langkah kaki Xin Chen melalui jalan setapak kecil dengan tepian ilalang hijau. Sesekali terdengar siulan kecil dari mulutnya, sekedar untuk mengusir rasa bosan.
Mereka tiba di sebuah tempat yang asing, mungkin sebuah tempat antah berantah yang minim penduduk. Sejauh mata memandang pun hanya berisi hamparan dedaunan selutut. Beberapa menit berjalan akhirnya mereka menemui perumahan, meski hanya sedikit setidaknya di tempat itu masih menyediakan penginapan.
Peluh membanjiri tubuh mereka di tengah udara yang kian memanas di dalam sana.
"Kau mau ke mana?" Rubah Petir bercelutuk ketika menyadari kaki Xin Chen malah berbelok ke tempat lain, dari arah pandangannya dia yakin anak itu pasti sedang tertarik dengan rumah penempa pedang itu.
"Kalau kau tidak mau ikut ya sudah, aku mau mampir dulu di sini."
Rubah memalingkan bola matanya jengah, dia juga tak mau ikut campur urusan manusia lagi. Memilih mencari tempat penginapan untuk bermeditasi akhirnya dia segera meninggalkan Xin Chen.
Hantaman palu berat terdengar berdentum-dentum di telinga, persis di sebelah dua orang tersebut sebuah tungku api dengan suhu tinggi menyala-nyala.
"Paman, boleh aku masuk ke sini?"
Trang!! Trang! Trang!
__ADS_1
Tidak menerima respon, Xin Chen kembali berteriak kencang hingga kedua kakinya berjinjit. Tiga kali melakukan hal sama tapi tetap tidak mendapatkan jawaban akhirnya Xin Chen memberanikan diri untuk masuk. Mendekat pada pria yang kemungkinan adalah ayah dari pemuda tersebut.
"Maaf!!! Tidak sopan!"
Jeritan Xin Chen tenggelam oleh suara dentuman palu yang semakin berat, dia menarik napas sabar.
"Hei, ayolah! Kalian bisa mendengarku tidak?"
"Bocah tengil darimana lagi ini?! Maaf, kalau mau mengemis lebih baik kau pergi ke rumah sebelah saja!!"
"Memangnya siapa yang mau mengemis!" teriak Xin Chen keras, "Aku mau meminta kalian untuk menempa sebuah pedang untukku!" teriak Xin Chen agar suaranya dapat didengar oleh pria itu.
Pekerjaan mereka berdua terhenti sesaat, terdengar penolakan dari mulutnya. "Kami tidak bisa menerima tawaranmu, lagipula kau bisa lihat kami sedang menyelesaikan pedang ini."
Xin Chen masih berat hati, setelah melihat di atas batu besar terdapat sebuah pedang yang ditempa dengan sangat bagus membuatnya ingin sekali memiliki senjata. Yang bisa dia pergunakan tentunya.
"Aku akan membayar mahal untuk ini, ayolah..."
Mata Xin Chen mulai memelas, meskipun tidak ada yang mau melihat tatapan penuh harapnya itu. "Dua ribu keping emas akan langsung kubayar..." Dia menawar lagi.
"Lima ribu keping emas," sanggah pemuda di sebelahnya.
"Li-lima ribu?! Kau bercanda?" Xin Chen terbatuk-batuk, kalau dipikir-pikir lagi jumlah itu tak seberapa jika langsung dia serahkan, barang-barang dalam cincin ruangnya pun memiliki nilai tinggi yang jika ditaksir sudah melebihi angka ratusan ribu keping emas.
Hanya saja Xin Chen ingin sekali menyimpannya, barangkali suatu saat dia menemukan orang-orang yang nantinya akan membutuhkan uang itu untuk bertahan hidup.
"Tiga ribu lima ratus keping emas bisa?" Xin Chen masih berusaha menawar.
"Tuan Muda, maaf saja. Penempa pedang dari klan kami membutuhkan waktu 3 bulan bahkan sampai setengah tahun hanya untuk menempa satu pedang. Kurasa itu merupakan bayaran yang cukup sebagai hasil kerja keras kami."
Pemuda itu mengalihkan tatapan matanya ketika seorang wanita masuk ke ruangan, mengantarkan bekal makan siang mereka. Wajahnya yang seputih salju terlihat makin pucat, bibirnya pun kering akibat penyakit dalam di tubuhnya.
"I-ibu! Awas!"
__ADS_1
Kaki wanita itu tersandung rongsokan besi, membuat tubuhnya merosot jatuh ke arah besi panas.
***