
"Youji anakku, apakah dia akan..." Raut wajah sedih terpampang jelas di wajahnya, Ibu Youji mengelus bahu anak satu-satunya itu, tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya ke depan nanti.
Tatapan mata itu sama seperti yang pernah Xin Chen lihat pada Ibunya. Seberapa besar kasih sayang seorang ibu untuk melindungi anak-anaknya, tapi di sisi lain Ibu Jin Youji tak memiliki daya untuk menahan putranya.
Memang sudah keinginan hati Youji untuk membalaskan dendam terhadap musuh klan Jin, semenjak kecil dia telah melatih pedang hingga membuat telapak tangannya mendapatkan luka goresan yang tak bisa dihilangkan bahkan saat umurnya sudah beranjak dewasa. Sama sekali tak bisa disembuhkan.
Ibu Youji yakin kelak siapapun yang akan menikah dengan anaknya akan bahagia, Youji adalah pekerja keras. Tak kenal waktu demi menggapai hal yang dianggapnya penting.
"Tidak perlu kau ingatkan juga aku akan terus berlatih keras! Chen, kau harus menepati janjimu ini atau jika tidak aku akan meninggalkanmu dan pergi sendirian ke sana!"
"Hahaha, kalau kau pergi sendirian bagaimana nasibku? Belum satu hari mungkin aku akan dihukum gantung karena sembarangan memasuki wilayah kalian."
Xin Chen akui dia memang tak tahu menahu tentang Negeri Samurai tempat Jin Youji berasal. Bagaimana aturan dan pola hidup mereka serta tata krama di sana. Salah-salah berbuat bisa saja lehernya dipenggal.
Jin Sakai mengangguk pelan, tak bisa menghentikan keinginan Xin Chen maupun anaknya. Sama-sama sulit dibelokkan jika sudah menetap pada satu pilihan.
Sementara Wei Feng terdiam lama saat melihat salah satu tempat yang ditandai dalam peta.
"Iblis Kecil, apa kau akan mendatangi tempat-tempat yang ditandai dalam peta ini?"
Xin Chen teralihkan pada Wei Feng, menggerakkan tangannya untuk bisa melihat isi peta lebih jelas. "Benar, memangnya kenapa?"
Sejenak hening terjadi hingga akhirnya jari Wei Feng bergerak membuka ujung peta yang sedikit terlipat, satu hal yang tak diketahui oleh Xin Chen sebelumnya. Ada satu titik yang selama ini tidak masuk dalam hitungannya, "Ini... Bukannya di luar Kekaisaran Shang?" tanya Xin Chen pada dirinya sendiri.
"Itu daerah Kekaisaran Wei, kenapa kau terkejut?"
"Aku tidak memperhitungkan tempat ini, jika begini artinya aku juga harus berkeliaran ke luar Kekaisaran?"
"Kekaisaran Wei, ya?" Jin Sakai mengelus dagunya, "Kurasa Wei Feng sendiri paham bagaimana nerakanya tempat lahirnya itu."
__ADS_1
Wei Feng mengiyakan, "Alkemis Gila, sarang siluman iblis dan praktisi perang berjumlah sampai ratusan ribu. Kau harus berpikir setidaknya sepuluh kali sebelum datang ke sana, di tempat itu hukum rimba berlaku. Aliran hitam mendominasi seluruh penjuru mata angin, selatan Kekaisaran Wei adalah tempat paling berbahaya. Kau tidak sedang bermain di hutan rimba lagi, melainkan di sarang iblis terdalam. Ilmu sihir di sana bahkan dipergunakan untuk menghidupkan mayat yang telah mati."
Sejauh yang Xin Chen ingat, bukan hanya dari Wei Feng saja dia mendengar ancaman tersebut bahkan dari orang-orang terdekatnya pun mengatakan bahwa Kekaisaran Wei memang adalah neraka bagi para pendekar aliran putih yang biasanya bertarung secara adil.
Di sana membunuh nyawa orang adalah sebuah kebanggaan besar. Seperti halnya menaikkan kekuatan agar bisa berdiri di atas yang lain. Semua orang hanya tergila-gila pada kekuasaan. Jika ada seseorang yang berhasil membunuh siluman kuat atau pendekar hebat maka orang tersebut akan diincar. Sudah bukan rahasia lagi Kekaisaran Wei amat ditakuti oleh kekaisaran lain.
Kekaisaran Shang sendiri merupakan kekaisaran paling damai dan adil, kekuatan aliran hitam sedikit tertekan oleh dominasi Pilar Kekaisaran yang memang diciptakan untuk menegakkan keadilan kaum aliran putih. Kekuatan aliran hitam sendiri tak benar-benar dihapuskan, kecuali jika terjadi kekacauan yang sudah di luar batas kendali, pihak aliran putih akan bergerak langsung memberantasnya.
Di Kekaisaran Qing sendiri mereka tak kalah mengerikannya dengan Kekaisaran Wei, senjata peledak dan taktik perang mereka terbilang hebat. Dalam beberapa dekade saja dikatakan mereka telah memiliki empat pendekar tanpa tanding. Prestasi yang cukup bagus untuk menahan pergerakan musuh yang ingin menghancurkan wilayah mereka.
"Aku akan tetap mendatanginya, jika memang ke delapan titik ini kosong dan terpaksa harus berangkat ke Kekaisaran Wei. Misi tetaplah misi." Keputusan Xin Chen sudah bulat, tidak ada alasan lagi untuk membiarkan masalah ini berlarut-larut.
Armor Dewa Perang adalah senjata Pusaka Langit yang cukup berbahaya. Jika saja orang-orang dari Empat Unit Pengintai saja berhasil mendapatkannya bukan tidak mungkin senjata itu akan menjadi musuh terbesar Kekaisaran Shang di masa depan.
"Aku sudah selesai. Paman Jin, aku akan berangkat."
Di depan rumah Jin Sakai Naga Hitam dan Kukang Kecil sedang sibuk bermain, ketika menyadari Xin Chen telah kembali Ye Long berhenti sebentar. Melihat temannya si Kukang kecil.
"Hahahaha lihatlah wajah perpisahan mereka!" goda Wei Feng tertawa lucu, dia memegang perut kesakitan. Kukang kecil miliknya mungkin paham dengan gerak-gerik Wei Feng yang seolah sedang menertawakan mereka. Dia melompat dan menggigit kaki Wei Feng keras-keras.
"Aduhh! Sial, kakiku! Heii! LEPASKAN KUKANG BODOH!" jerit Wei Feng kencang, yang lainnya hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Watak Wei Feng memang tak pernah bisa berubah, dia masih bersikap seenaknya saja.
"Kakak Chen!!"
Yu Xiong berteriak dari ujung desa, khawatir Xin Chen menghilang dari halaman depan rumah Jin Sakai jika dia tak segera mengejar. Sesudah kakinya tiba di dekat Xin Chen, Yu Xiong menyodorkan sebuah kaca bening berisi kumbang besar.
"Untukmu." Bibir Yu Xiong merekah lebar menampakkan giginya yang tumbuh tak teratur, dia senang saat Xin Chen menerimanya dengan senang hati.
"Kumbang memang memiliki daya tarik tersendiri." Youji ikut tersenyum melihat pemberian Yu Xiong. Tampaknya anak nakal itu hanya bisa patuh pada Xin Chen. Bahkan ibunya sendiri sulit mengendalikan anak nakal itu.
__ADS_1
Xin Chen membuka kain yang menutupi bagian atas kaca tersebut.
"Oh iya, hati-hati racunnya tiga kali lebih kuat dari kumbang hutan yang pernah kau temukan."
Secepat mungkin Xin Chen menutup kaca tersebut sebelum racun dari sayap kumbang masuk ke hidungnya. Bisa-bisa keberangkatannya harus ditunda karena pingsan oleh racun kumbang lagi.
"Kak Youji, kau masih belum berubah," katanya datar. Jin Youji memang selalu telat memberitahu. Untung saja dia cepat tangkap sebelum racun itu benar-benar menyebar di udara. Bisa-bisa semua orang pingsan karena kumbang Yu Xiong.
Ibu Yu Xiong mengeluarkan suara. "Kumbang itu bisa kau jual di kota-kota besar. Di sana harganya bahkan bisa mencapai lima ratus keping emas "
"Hah? Benarkah?" Xin Chen baru tahu, "Tapi bukannya ini terlalu berlebihan? Kurasa kumbang ini lebih baik kalian simpan."
"Tidak, kau simpan saja. Aku akan merasa senang jika kau mau menerimanya karena kau telah menyelamatkan nyawa anakku."
"Tapi...."
Wei Feng tiba-tiba memotong alur pembicaraan.
"Sudah, sudah pembahasannya! Kalau begitu untuk yang terakhir kalinya aku ingin bertemu dengan adik kecilmu itu. Sepertinya dia memiliki kekuatan yang tidak biasa.."
Xin Chen terkejut saat menyadari yang dimaksud Wei Feng adalah Rubah Petir.
***
kalau sehari cuma up satu chapter maaf ya, yg pasti bakal ada crazy up buat gantiinnya di lain hari
kebijakan nt sekarang udh cukup menekan, thor cuma bisa pasrah dan semangatin diri sendiri supaya bisa tamatin ppi2 di nt sebelum pergi dari sini
Makasih banyak masih terus membaca dan support❤️😭
__ADS_1