
Latihan bersama Rubah Petir jauh lebih berbahaya dari yang biasa dia lakukan di rumah, bahkan Xin Chen sendiri hampir tak bisa bernapas demi menghindari tiga macan petir sekaligus yang menyerangnya.
Tidak ada cara lain untuk melatih Xin Chen, menurut Rubah Petir latihan seperti inilah yang sebenarnya harus dilalui Xin Chen. Terlebih dia yakin beberapa hari lagi Xin Chen harus bertarung mati-matian untuk mendapatkan apa yang sedang dicarinya.
Bunyi gemerisik dedaunan akibat tersapu angin samar-samar mulai terdengar, ketika Xin Chen membuka matanya dia sadar hari telah pagi.
Xin Chen membuka matanya, tak melihat Rubah Petir di manapun. Karenanya dia memutuskan untuk menunggu sebentar, mungkin Rubah Petir sedang sibuk mengurus sesuatu.
"Kau sudah bangun?"
Dari kejauhan terdengar Rubah Petir berbicara, rubah itu kembali dengan seekor ayam hutan di tangannya. Xin Chen mengangguk pelan sembari memerhatikan ayam tersebut.
"Kenapa tidak membangunkanku? Mungkin aku bisa membantumu menangkap ayam itu."
"Untuk urusan menangkap ayam aku yakin kau bisa, tapi membutuhkan waktu yang lama," sahut Rubah Petir sembari menciptakan bara api menggunakan perubahan energi. Dalam waktu singkat saja ayam tersebut telah terpanggang sempurna di depannya.
Xin Chen terbatuk-batuk menontonnya, kalau dia yang melakukannya mungkin membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Itupun dia tak yakin ayamnya masih layak dimakan atau tidak.
Perut Xin Chen mulai berbunyi keroncong, saat Rubah Petir menatapinya, anak itu hanya memamerkan senyuman bodoh. "Aku cuma kelaparan, hehehe."
"Makanlah, kita harus segera melanjutkan perjalanan ke Desa Huaxi."
Xin Chen mengangguk sembari mengeluarkan sebuah kitab dari cincin ruangnya, membuat Rubah Petir tertarik dengan isi kitab tersebut.
"Ini kitab ilmu meringankan tubuh, mungkin sambil berlari aku bisa mempelajarinya."
Rubah Petir tersenyum, tampaknya anak itu mulai merubah pemikirannya. "Baguslah, kau mulai terpikirkan untuk menjadi kuat."
Xin Chen menoleh ke Rubah Petir dengan sebelah alisnya yang naik, "Ah itu.... Benar juga, ya." Dia melanjutkan kembali. "Sebelumnya kalau di rumah aku tak seniat ini karena ada Zhan Gege di sana, tidak akan mungkin aku bisa melewati kekuatannya."
__ADS_1
Rubah Petir memahami sedikit situasi Xin Chen, tak berapa lama dia menyuruh Xin Chen untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan.
"Aku yang akan menjadi pilar Kekaisaran berikutnya."
Beberapa desa terlalui begitu saja, dalam perjalanan yang memakan waktu hingga seharian penuh itu Xin Chen hanya sibuk melatih ilmu meringankan tubuhnya. Dia berupaya keras sampai Rubah Petir yang sibuk berbicara padanya pun tak dia hiraukan.
Rubah Petir menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan Xin Chen ini. Untuk beberapa waktu dia mulai berpikir untuk berhenti sebentar apalagi setelah mengamati wajah Xin Chen kini, dia terlihat sangat kelelahan.
Xin Chen menganggukkan kepalanya, masih sibuk mempelajari kitab di tangannya. Mulai dari pernapasan tingkat tinggi, pernapasan air dan langkah kilat. Banyak hal baru yang dia temui di kitab tersebut.
Dibandingkan dengan kitab di perpustakaan, kitab ini menjelaskan dengan lebih rinci bagaimana menerapkan ilmu tersebut. Xin Chen tak menuruti apa kata Rubah Petir. Dia memilih melanjutkan latihannya dengan mempraktekkan apa yang telah dia pelajari.
"Tersisa dua hari lagi sebelum racun itu membunuh kakakku, Guru, apa menurutmu kita sudah dekat dengan tujuan?" Xin Chen memulai obrolan tiba-tiba membangunkan Rubah Petir yang sedang bermeditasi.
Jauh melihat ke beberapa tempat agak terang, di mana rumah-rumah berjejer rapi di sana Rubah Petir pun menunjukkan ke sana.
"Setahuku setelah melewati desa itu kita akan sampai ke tempat tujuan, daerah perbatasan Kekaisaran Shang dan Qing berada di pinggiran desa setelahnya."
"Istirahatlah sebentar, kau takkan tahu bahaya seperti apa yang sedang mengincar nyawamu di sana."
Perkataan Rubah Petir ada benarnya juga, dan seperti nya Xin Chen juga sudah mulai kelelahan. Terlalu sibuk berlatih membuatnya lupa beristirahat.
Xin Chen memilih membaringkan tubuhnya di dekat pohon, melipat kedua tangan sebagai bantal kemudian bersiap tertidur. Namun sangat sulit untuk saat ini memejamkan mata.
Hari mulai larut malam dan Xin Chen tetap terjaga dari tidurnya, tak lama berselang terasa suara derap kaki dari kejauhan. Dia segera bersembunyi di balik pohon, mengintai kereta kuda yang sedang melewati jalan menuju desa.
Tidak ada yang aneh dari sana, kecuali satu orang dengan jubah hitam dan ukiran kecil di dada sebelah kirinya. Xin Chen yakin itu adalah orsng dari Lembah Para Dewa.
Berhubung kereta tersebut berjalan agak pelan dirinya memiliki kesempatan untuk mendekat, dia berjalan pelan-pelan sekali. Sambil menyiapkan beberapa senjata dan pil dari cincin ruang Xin Chen nekat memasuki kereta tersebut.
__ADS_1
Menurutnya tidak ada cara yang lebih mudah untuk menyusup ke Lembah Para Dewa kecuali dengan cara ini, meskipun berbahaya dan tak sempat memberitahu pada Rubah Petir Xin Chen tetap melakukannya sendirian.
Rombongan berkuda berhenti ketika terdengar suara mencurigakan dari belakang, memanfaatkan kesempatan tersebut Xin Chen menembus ke dalam kereta kuda menggunakan Topeng Hantu Darah.
Betapa terkejutnya Xin Chen saat yang dia dapati di dalam adalah seorang anak kecil yang hampir seumuran dengannya. Xin Chen bergerak gesit, dia membekap anak itu hingga pingsan.
"Tuan Muda, apakah kau baik-baik saja?" Sahut seorang pria di luar, Xin Chen memutar pandangan panik. Bagaimanapun dia harus menjawab dan menyuruh mereka melanjutkan perjalanan.
Namun hal itu berpotensi membuatnya dalam bahaya, tak berpikir lama Xin Chen mengeluarkan sedikit tangannya dari jendela. Memberi isyarat untuk bergerak kembali.
Kereta kuda kembali bergerak pelan, Xin Chen menelan ludah sambil mengusap dada. Sedikit mengintip ke belakang di mana Rubah Petir tak menyadari kepergiannya. Xin Chen khawatir Rubah Petir akan memarahinya nanti.
Dalam perjalanan Xin Chen mulai cemas, beberapa kali pria berjubah di luar mengajaknya berbicara.
Xin Chen memutar otaknya, sekilas senyuman jahil terpampang di wajah tampan anak itu. "Daripada aku ketahuan lebih baik menyamar betul-betul seperti ini..."
Xin Chen mengganti semua pakaiannya dengan yang dimiliki anak kecil di dalam kereta ini, dengan ini dia tak perlu bersembunyi lagi saat dilihat oleh mereka. Xin Chen mengeluarkan sebuah pil dari sakunya yang dia ketahui sebagai pil tidur. Dengan pil tersebut anak yang tengah pingsan itu takkan terbangun hingga enam jam ke depan.
"Tuan Muda, aku tahu ini pasti sangat mengganggumu. Tapi mengenai kegagalan pihak Asosiasi Pagoda Perak sendiri, apakah menurutmu Tuan Besar akan diam tentang ini?"
"Ya?" Xin Chen menyahut, "Kegagalan dari mana? Bukankah walikota telah menyerahkan artefak tersebut?' dia menjawab asal.
"Eh... Bukannya Tuan sudah melihat sendiri, artefak itu memiliki terjemahan yang aneh, tdiak ada petunjuk mengenai keberadaan Baja Phoenix."
Dari perbincangan tersebut Xin Chen ingat bahwa sebelumnya dia menyuruh roh untuk mengganti isi pesan di dalam artefak, Xin Chen sendiri tak mengetahui apa yang tertulis di dalamnya.
"Ah, aku lupa apa isi dari artefak itu. Bisa kau sebutkan lagi?"
Pria berjubah di luar menutup mulutnya, selain dia dan Tuan Muda tidak ada yang membaca isi artefak yang berisi ejekan seperti, 'Heii orang-orang kurang kerjaan'.
__ADS_1
Alih-alih menjawab pria itu malah mengganti topik pembicaraan. "Tuan Muda, ada apa dengan suaramu? Terdengar sangat berbeda dari biasanya?"