Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 164 - Perang Besar IV


__ADS_3

Tak terasa cuaca buruk kembali datang saat Rubah Petir menunjukkan amarahnya, langit yang menggelap seolah benar-benar hendak malam, tiada sinar matahari lagi yang menyinari Kota Renwu. Muncul sebuah tanduk di kepala Rubah Petir, di mana semua kekuatan elemen mengalir di dalam sana cukup deras.


Semua yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun mulai menampakkan jati dirinya, wujud selanjutnya yang Rubah Petir miliki jauh berbeda dari yang sebelumnya.


Bahkan hembusan napasnya saja menimbulkan angin kencang, Rubah Petir menunduk bersiap menerkam musuhnya. Tidak terlihat apapun saat rubah itu berlari karena terlalu cepatnya, hanya bunyi tanah retak yang dipijak Rubah Petir serta raungan kencang rubah tersebut.


Naga Kegelapan memuntahkan api yang melebar di atas permukaan tanah, dalam seketika membakar apapun yang ada dalam radius seratus meter. Untungnya Xin Chen telah memprediksikan hal itu dan memancing Han Wu bertarung ke tempat yang jauh dari para siluman itu.


Sementara Han Wu seperti mengumpati sesuatu setiap kali Xin Chen memasukkan serangan dan di saat bersamaan roh juga menjebaknya dalam kurungan asap. Kekuatan para roh yang merubah wujud mereka menjadi semacam asap dan mengelilingi Han Wu, membatasi jarak pandangnya sehingga dari segala arah Xin Chen dapat memberikan serangan kejutan.


Semakin berada dalam situasi tersudutkan Han Wu kian mendapatkan kesadaran penuh. Dia menyumpah serapah tak habis pikir, seharusnya jiwa sekarang sudah beristirahat tenang tanpa perang dan darah lagi namun ketika menyadari dirinya dibangkitkan dalam situasi penuh kehancuran, Han Wu rasanya ingin sekali membunuh siapapun yang memanggilnya ke mari.


"Apa-apaan ini, seharusnya aku sudah mati hari itu. Dan mengapa juga lawanku hanya seorang bocah sepertimu?" Han Wu menarik dirinya, namun tangannya melawan kehendaknya, tubuh Han Wu menginginkan dirinya untuk membunuh anak itu.


Dan dirinya kini telah melepaskan jurus Api Pemusnah. Xin Chen berdiri tepat di tengah mantra bertuliskan alfabet kuno yang telah dibuatnya menggunakan tetesan darah di tangannya. Jurus itu adalah jurus tingkat tinggi yang hanya bisa dikuasai oleh sedikit orang yang bahkan bisa dihitung dengan jari.


Tidak ada satupun manusia yang dapat melarikan diri dari kurungan api itu. Bahkan jika pun lawannya menggunakan perubahan bentuk wujud roh atau menghilangkan dirinya dengan pusaka Topeng Hantu Darah.

__ADS_1


"Ku katakan padamu, bocah. Jurus ku itu takkan pernah padam sebelum dia membakar orang yang terperangkap di dalamnya. Semakin lama kau di dalamnya maka semakin panas juga api itu akan melelehkan mu. Ya, maaf-maaf saja aku tidak berniat menyelamatkanmu atau apalah hanya saja melawan musuh yang lebih muda dariku membuat harga diriku jatuh." Han Wu mengoceh panjang lebar, sambil menunggu reaksi lawannya yang telah terperangkap dalam api itu dia mempelajari sekitarnya dulu.


Kekacauan ini sudah jauh lebih parah dari perkiraannya, melihat tiga siluman raksasa bertarung hebat dan juga dua sosok dengan aura yang begitu hebat tengah bertarung di atas sana.


Hanya dengan sekali lihat Han Wu tahu mungkin jika melawan sosok yang membawa pedang berbahan Baja Phoenix itu mungkin dirinya masih bisa mengimbangi, namun jika lawannya itu adalah seorang pria dengan dua pedang di tangannya itu. Mungkin dalam kurun waktu setengah jam dia yang akan lebih dulu mati di penggal.


Tanpa terasa sudah berlalu hampir dua puluh menit semenjak Xin Chen terjebak dalam jurusnya. Tidak heran, dengan jurus yang dipelajarinya dari Kitab Terlarang yang tergolong sebagai salah satu jurus tertinggi di dalamnya, Api Pemusnah takkan memberikan kesempatan hidup bagi korbannya.


Di masa lalu dengan jurus itu Han Wu berhasil menaklukkan jenderal perang Kekaisaran Wei, membantai sebuah klan bangsawan dalam satu malam dan mengambil nyawa Putri Kaisar.


Dosa-dosanya semasa hidup memang takkan termaafkan, belum lagi banyaknya nyawa yang hilang di tangannya. Hanya dengan dua tangan itu, Han Wu menempatkan para manusia pada kesengsaraan, membunuh pagi sampai malam tanpa puas.


Hingga penyesalan datang di akhir, seandainya dia tak menggunakan kekuatan dan senjata itu untuk menghabisi puluhan ribu manusia, andai saja dirinya bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya, dan berharap apapun yang dilakukannya semasa hidup akan dikenang oleh semua orang di masa depan.


Sekilas Han Wu mengeluarkan air matanya, bersama dengan turunnya hujan deras di atasnya. Dunia terlihat seperti sedang kiamat, gempa di mana-mana, tanah yang retak dan petir yang menyambar-nyambar.


"Andai hari itu aku membunuh Ayah lebih awal, dia takkan mengelana mencari semua pusaka ini. Mata ku takkan gelap oleh kekuatan dan hari ini tidak akan terjadi selamanya.." Rambutnya yang panjang bergerak di tiup angin badai, dia tetaplah Han Wu yang menciptakan kehancuran sebelum Qiang Jun lahir 11 tahun sesudahnya, namun jiwanya kini hanya mengharapkan ketentraman.

__ADS_1


"Ah sudahlah, anak itu juga tidak ada harapan. Lebih baik ku cari saja siapa penyebab pertarungan ini ...."


Deg!


Jantung Han Wu berdenyut perih, terasa seperti sesuatu menghujam di dalamnya dalam satu detik. Tampaknya keinginannya untuk membunuh si pengguna Ilmu Pemanggil tak membiarkannya pergi begitu saja.


Dia harus tetap membunuh Xin Chen dan mendapatkan pusaka langit yang berada di tangannya. Otaknya terus mengulang-ulang hal tersebut, namun hatinya tidak. Sudah cukup kehancuran yang dia lakukan.


Han Wu menjatuhkan pedangnya, namun sesuatu yang mengendalikannya memaksa lelaki itu membakar Xin Chen dalam Api Pemusnah.


Kaki Han Wu bergetar, dirinya digerakkan tanpa keinginannya. Berjalan mendekati lingkaran api yang mengepung Xin Chen kemudian tanpa disadari, tangannya menciptakan sebuah api kecil nan tajam di jemari Han Wu. Dia memotong urat nadi di punggung tangannya, membuat darahnya menetes di atas api.


"Kitab Terlarang - Pintu Neraka!"


Han Wu memuntahkan darah segar, meski bukan dengan tubuh asli namun efek samping dari jurus ini tetap terasa. Dia jatuh berlutut, ini adalah satu-satunya jurus kehancuran yang dia pelajari dari Kitab Terlarang. Beberapa saat yang lalu Han Wu juga menyadari bahwa sosok pendekar yang melawan Qiang Jun juga mempelajari kitab yang sama dengannya.


Hanya saja sepertinya orang itu tidak mempelajari teknik yang dikhususkan untuk membunuh dan menyebabkan kehancuran massal. Seperti Jurus Ilusi Hujan Darah yang hanya dipergunakan untuk menjebak musuhnya. Tidak langsung membunuh seperti apa yang dilakukannya sekarang.

__ADS_1


Teknik Pintu Neraka miliknya menimbulkan loncatan cahaya api merah yang menyembur hingga ke atas langit. Kobaran itu menari-nari dan sama sekali tak terpengaruh oleh arah angin. Membakar dan terus membakar hingga ke tulang dan menyisakan abu. Terakhir kali menggunakan teknik ini Han Wu berhasil mengambil nyawa seorang jenderal perang, tidak bisa dipungkiri lagi nyawa anak itu sudah habis bahkan sebelum dirinya menggunakan jurus Pintu Neraka.


"Cih, terlalu berlebihan. Sampai menggunakan teknik ini untuk membunuh seorang bocah sepertinya...? Tidak masuk akal." Han Wu mencebik tak habis pikir.


__ADS_2