
Qiang Jun berhasil mematahkan Jurus Ilusi Hujan Darah, hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk kembali mendapatkan kesadaran. Xin Fai kembali menghunus pedangnya, pedang Baja Phoenix di tangannya telah retak. Hanya butuh lima ayunan pedang Qiang Jun saja, benda itu akan patah berkeping-keping.
Sementara di kedua tangan Qiang Jun tercipta Pedang Kaisar Langit dan Pedang Manusia Iblis yang diciptakannya sendiri.
Qiang Jun sama sekali tak menampakkan ekspresi wajah apapun, dia benar-benar seperti benda mati yang digerakkan dengan tali. Setiap serangannya berhasil Xin Fai tepis, sejauh ini pertarungan mereka mulai berimbang semenjak Han Wu dialihkan ke Xin Chen dan Naga Kegelapan bertarung melawan Shui.
Xin Fai sempat tak habis pikir, jika seandainya Xin Chen tidak datang hari ini mungkin dirinya akan menghadapi ketiganya sendirian. Kekuatan anaknya itu bahkan masih membuatnya terkejut hingga detik ini. Xin Chen tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan perkiraannya. Pertarungan Han Wu dan para roh di bawah sana berjalan sengit sekali, Xin Chen mulai menguasai keadaan. Dengan berbagai trik licik dan juga kotornya tak sulit untuk menipu lawannya
Seperti yang diharapkan anak itu pandai membaca pikiran lawannya dan mempermainkan mereka dengan memberikan kejutan yang membuat sakit jantung. Dia sempat terkejut juga mengapa Shui tiba-tiba datang dan sadar semua itu pasti ada kaitannya dengan anaknya.
'Hah kupikir cukup sampai di sini anak itu memberikan kejutan untuk ku.' Xin Fai hanya melirik sekilas ke bawah, memindai bagaimana pertarungan di bawah berlangsung. Xin Chen masih di atas awan, dia dapat mengendalikan kekuatan aliran hitam dengan kesadaran penuh. Biasanya saat menggunakan kekuatan seperti itu kebanyakan pendekar akan dibutakan oleh kekuatannya dan menjadi tidak terkendali, menghancurkan apapun di sekitarnya dan berujung membunuh temannya sendiri.
"Dasar murid nakal! Kau meninggalkanku di pelabuhan begitu saja!?!"
Sahutan menggema di balik punggung Xin Chen, terlihat hantu berwujud rubah sedang mengintai di belakangnya. Siap membuatnya terbakar dengan listrik panas. Hal itu membuatnya meloncat kaget, tak kuasa menyembunyikan Kitab Pengendali Roh di hadapan Rubah Petir. "Tidak perlu kau sembunyikan aku juga sudah tahu kau mempelajarinya semenjak membunuh Zhang Ziyi."
Xin Chen memperbesar jarak dari Han Wu, pria itu tampaknya mulai tidak seagresif sebelumnya setelah sadar setiap ayunan pedangnya takkan melukai Xin Chen. Mau itu kekuatan menghilangkan wujud dari Topeng Hantu Darah maupun wujud roh sama-sama membuat lawannya itu sulit dilukai. Dan sekarang datang sosok berkekuatan besar lainnya, Xin Chen merasakan perbedaan dari tubuh Rubah Petir.
__ADS_1
"Heh? Sepertinya kondisi tubuhmu jauh lebih baik daripada sebelumnya, Guru."
Rubah Petir tertawa terbahak-bahak, ingin sekali dia mendamprat wajah muridnya itu karena terlalu terkejut. Kutukan dari Dewa Petir yang sebelumnya menggerogoti tubuhnya kini lepas, tampaknya sang Roh Elemen Angin mencabut kutukan itu setelah Xin Chen dengan berani menantang Roh tersebut untuk membantunya. Dalam artian lain dia telah mendapatkan kepercayaan dari si Pemilik Elemen Angin.
Sebenarnya hukuman itu membunuhnya dalam kurun waktu seribu tahun sesuai perjanjian langit, dia merasa hidupnya seperti kembali bersinar. Namun Rubah Petir tak bisa tetap tenang saat tahu kota Renwu porak-poranda, dia dapat merasakan kekuatan dahsyat berpusat di tempat ini dan segera datang.
Rubah Petir melihat Shui yang mulai kesusahan, dia melirik Xin Chen sekali lagi. "Jangan membuatku malu dengan pertarungan anak-anakmu itu. Cepat bunuh dia dan lakukan pekerjaan lain yang lebih berguna."
"Uhuk! Uhuk!" Xin Chen tertohok, meskipun rubah berbicara hanya dengan mulut tapi dirinya mendengar pakai hati. Ucapan itu terasa menyakitkan, bagaimana mungkin dia yang sudah bertaruh nyawa seperti ini dibilang bermain-main.
"Sekarang aku menyesal mengapa kutukan itu menghilang," cibirnya dan masih terdengar oleh Rubah Petir.
Sementara Shui telah lecet di beberapa bagian, api biru itu menjadi penghalangnya. Dan lebih lagi kekuatan tubuh Naga Kegelapan di atas dirinya ataupun Rubah Petir.
Naga Kegelapan yang menyadari kini dirinya diserang dari dua arah akhirnya melarikan dirinya. Namun bukan karena takut atau menghindari mereka, namun saat Naga Kegelapan berhenti di satu titik sirip-sirip di bagian tulang belakangnya berbunyi retak. Perubahan wujud baru dimulai, setengah wajah Naga Kegelapan dilindungi oleh retakan es yang sepuluh kali lebih keras dibandingkan kulit Shui.
Dan mata Xin Fai tak bisa luput dari wujud yang tak asing itu.
__ADS_1
"Naga itu ... Dia menjadi seperti Naga Es ...." gumamnya teringat dengan masa lalunya, di sepuluh tahun lalu ketika dirinya mempertaruhkan nyawa dan bertarung mati-matian mengalahkan Naga Es. Tak disangka setelah kematian naga itu, Naga Kegelapan mengambil kekuatan dari siluman pengendali es itu.
Dikarenakan tubuh Naga Es yang sangat tebal dan besar para manusia menyerah untuk mengorek tubuhnya dan mencari permata di dalamnya, Xin Fai juga tidak terpikirkan untuk mencuri apa yang seharusnya dimiliki oleh naga itu dan mengingat cuacanya ekstrim di sana, dirinya pun yakin tidak ada manusia sinting yang mau mengorek tubuh Siluman Es raksasa selama bertahun-tahun untuk mendapatkan batu permata.
Hanya saja kelalaiannya kini mulai menampakkan masalah, sebelah mata Naga Kegelapan berubah. Sebelah mata yang dapat mengendalikan waktu, Xin Fai berteriak. "Jangan menatap matanya atau dia bisa kalian akan terpengaruh oleh pengendalian waktu milik Naga Es!"
Shui tahu benar tentang hal itu, dahulu dialah yang membantu Xin Fai mengalahkan Naga Es di kutub Utara. Mengalahkannya hingga memakan waktu berhari-hari di tengah badai salju tak berkesudahan. Hari-hari menegangkan itu masih terekam jelas di kepala Xin Fai. Maka dari itu saat menceritakan tentang Naga Es dirinya sangat berhati-hati, mengalahkan Siluman seperti mereka adalah ketidakmungkinan yang bisa dilaluinya karena beruntung memiliki pedang Manusia Iblis dan Kaisar Langit.
Dan sekarang Xin Fai sadar segala hal yang terjadi sepuluh tahun lalu menimbulkan gelombang yang lebih besar, kehancuran lainnya datang. Tentang 2 pedang pusaka miliknya yang diperebutkan oleh Kekaisaran Qing dan kematian Naga Es hari itu.
Langit mendung berkali-kali menghujani Naga Kegelapan dengan petir, kehancuran semakin tak terelakkan. Kini satu kota Renwu hancur tanpa pengecualian, sementara para penduduk segera diungsikan di kota yang bersebrangan. Kendati demikian korban jiwa masih terus berjatuhan, baik nyawa para pendekar maupun para penduduk yang tidak sempat melarikan diri, mayat-mayat mereka tergeletak dan semakin remuk saat tubuh tiga siluman itu membentur tanah.
Xin Chen menatap ke tiga siluman yang sedang bertarung itu, siapapun yang melihatnya mungkin akan pingsan di tempat. Ukuran tubuh yang hampir menyentuh awan serta getaran hebat yang mereka timbulkan. Rasa takjub sekaligus mengerikan berkecamuk dalam pikirannya.
Sementara Han Wu kini telah kehabisan langkah karena para roh memakan tubuhnya. Kekuatan dari roh ini seperti menyembuhkan kekuatannya yang sempat terkuras habis. Xin Chen tak mengerti mengapa Kitab Pengendali Roh memiliki kemampuan yang begitu hebat seperti ini, seharusnya untuk keunikan tersebut Kitab Pengendali Roh setara dengan tujuh pusaka langit milik Han Zilong.
Atau ada satu kemungkinan lain, Xin Chen yakin Kitab Pengendali Roh adalah senjata mengerikan yang disembunyikan dengan rapat-rapat. Salah satu pusaka langit yang hanya bisa diketahui segelintir orang aliran hitam terkuat. Jika benar demikian, dia merasa bersyukur telah menyembunyikan identitasnya setelah kematian Zhang Ziyi.
__ADS_1
Andai saja dia mengakui dirinya sebagai orang yang membunuh pendekar itu maka Xin Chen yakin ribuan pendekar aliran hitam dari Kekaisaran Wei yang sama mengerikannya seperti Zhang Ziyi akan ikut bertarung memperebutkan pusaka itu di sini.