Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 200 - Seorang Pembelot


__ADS_3

Qi Baixuan menuangkan secangkir teh untuknya dan juga untuk Xin Chen, melepaskan dahaganya di kedai teh itu stelah sekian lama. Qi Baixuan tidak memiliki banyak uang lai untuk sekedar bersantai-santai di kedai teh.


"Aku pernah sepertimu, itu dulu. Orang-orang Kekaisaran ini telah membutakan mata dan menulikan telinga mereka, biar pun kau berjuang mempertahankan mereka, lebih banyak yang mencaci maki keburukanmu."


Tanpa menunggu respon Xin Chen, Qi Baixuan menceritakan kisah panjang hidupnya. Dengan tatapan wajah miris saat mengingat itu semua. Baginya mengabdi pada Kekaisaran adalah suatu pekerjaan terhormat. Bahkan untuk seorang prajurit berpangkat rendah seperti dirinya.


Suatu waktu, dalam perjalanan tugas darurat di perbatasan, Qi Baixuan dihadapkan pada dua pilihan sulit. Dia memilih menyelamatkan rekan-rekannya yang hampir terbunuh dibanding menunaikan panggilan tugas. Mereka kalah dalam pertarungan, sang pemimpin yang tak ingin disalahkan justru melimpahkan kesalahan itu kepada Qi Baixuan. Membuat namanya hancur seketika dan disebut tak memiliki pendirian hingga akhirnya kehilangan pekerjaan.


Puluhan tahun mengabdi kepada Kekaisaran. Laki-laki itu tak pernah menikah hanya demi kesetiaannya kepada Kekaisaran yang dijunjungnya.


"Pemerintahan kita tidak sama lagi," tandas Qi Baixuan di akhir ceritanya. "Aku sudah dibuang dengan nama yang tercoreng, padahal keinginanku hanya mati terhormat sebagai prajurit. Sungguh sebuah penyesalan, namun aku tidak sepenuhnya menyesalinya. Aku hanya menyesali bahwa Kekaisaran Shang telah berubah semenjak kursi-kursi Pilar di gantikan."


Xin Chen yang semenjak tadi hanya menyimak akhirnya mengeluarkan suara, "Aku tak mengerti mengapa kau begitu mencintai Kekaisaran ini."


Qi Baixuan tergelak, sedikit menggelengkan kepalanya. "Kesetiaan kepada tanah air itu wajar bagi seorang prajurit lama sepertiku, aku hanya merasa dilahirkan untuk pekerjaan itu."


"Apa kau pernah merasa kesetiaan itu membutakanmu?"


Qi Baixuan sedikit berubah, raut wajahnya bimbang. "Entahlah ...."


"Kau merasa tindakan itu salah? Memperjuangkan sesuatu yang bahkan kau tak mampu menjaminnya?"


Qi Baixuan terpaku oleh kata-kata tersebut, "Tidak, tidak salah. Tapi jika kau sudah bulat dengan keputusanmu, tapi kau harus siap sewaktu-waktu keadaan berbalik menyerangmu. Pastikan jika kau takkan menyesalinya."


Xin Chen merenunginya sebentar, di sisi lain Qi Baixuan mengernyit aneh. "Omong-omong kau belum memberitahukan namamu. Siapa namamu?"

__ADS_1


"Chen."


Qi Baixuan menaikkan sebelah alisnya, seperti bertanya apakah hanya itu nama yang dia punya?


"Pengelana Chen lebih bagus." Qi Baixuan menentukan seenaknya, "Omong-omong kau sudah menyewa penginapan?"


"Belum."


"Ha! Baguslah kalau begitu, karena sudah mentraktirku di kedai ini bagaimana jika kau tinggal sementara di rumahku? Kota ini terlalu sia-sia jika kau tidak melihat keindahannya."


Xin Chen merasa penawaran itu bagus juga, dia tetap tak bisa menolak penawaran cuma-cuma bahkan jika orang seperti Qi Baixuan yang baru dia kenal menawarkannya. Laki-laki itu beranjak ke luar kedai dan yang pelanggan lain termangu saat melihat Qi Baixuan yang dicap sebagai seorang pembelot keluar bersama pendatang baru di kota ini. Layaknya melihat tawanan perang berbahaya yang baru saja melepaskan diri dari jeruji besi.


Namun tak satu pun dari mereka menghadang, Qi Baixuan menceritakan banyak soal kota ini. Juga menyinggung soal penjarah yang sempat membayang-bayangi Kota Qingyun. Agaknya laki-laki itu juga menutup mata dan telinga saat mereka membutuhkan pertolongan, bukan tanpa sebab, dia pun sekarang tak memiliki hak dan kewenangan atas permasalahan tersebut. Berurusan dengan pemerintahan di Kota Qingyun yang sekarang hanya mencari penyakit.


Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang letaknya paling pojok dan paling reyot di antara rumah yang lainnya. Di sekitar rumah Qi Baixuan sudah tak ada lagi yang menempati tanah tersebut, banyak yang menghindarinya semenjak tugas terakhirnya yang gagal itu. Qi Baixuan menyingkap kain yang menggelantung dan masuk di rumah sederhana itu.


Yang dipanggil menyahut kecil, lalu melongokkan kepalanya dari dapur. Menyadari ada sesosok asing yang bertandang ke rumah mereka, pemuda itu berumur sedikit lebih muda daripadanya, mengenakan putih yang lengannya digulung ke belakang. Sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Aih, memang hanya seperti ini rumah kami, Chen. Semenjak tak memiliki penghasilan kami hanya mengandalkan tanaman di ladang untuk bisa makan. Tidak ada daging, tidak ada arak. Hahaahah!" Qi Baixuan menertawai nasibnya sendiri, lalu menarik napas dengan lelah.


"Kau lapar?"


"Tidak terlalu-" ucapan Xin Chen terhenti saat Lan Zhuxian keluar dari rumah.


"Paman, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku." Lan Zhuxian menghadap ke arah Xin Chen. "Tuan, jika ingin makan atau minum tidak perlu sungkan. Aku sudah menyiapkannya di belakang."

__ADS_1


Qi Baixuan hanya menatap Lan Zhuxian hingga menghilang di ambang pintu, menatap Xin Chen yang juga tampaknya penasaran siapa pemuda itu. Nama Lan yang dimiliki Lan Zhuxian entah memiliki kaitannya dengan sosok yang begitu dikenal Xin Chen yaitu Lan An. Tapi Xin Chen memilih tak bertanya.


Qi Baixuan menyeloteh, "Lan Zhuxian itu dua bulan lalu kutemukan sekarat di perbatasan Kekaisaran Shang dan Qing. Usai kekalahan pihak kami atas pertarungan dengan sekelompok sekte aliran hitam, aku menemukannya di tepian sungai. Sekarat. Dia tak lebih dari seorang anak yang malang, jadi aku menampungnya di sini."


Xin Chen sedikit kagum dengan laki-laki itu, bisa saja Lan Zhuxian adalah orang jahat dan dengan membawa dan menjaganya hanya akan memperburuk namanya.


Dia hanya tak mengerti mengapa Qi Baixuan tetap berbuat baik bahkan setelah kehancuran yang dia alami, dikhianati oleh kawan sendiri serta kehilangan pekrjaan atas sesuatu yang bahkan bukan merupakan kesalahannya.


"Aku seringkali melihat orang-orang baik yang berubah menjadi jahat saat mereka dikhianati, dibuang atau kehilangan segalanya. Aku memang kesal saat melihatmu membantu para penjarah itu, kau adalah orang yang baik. Aku merasa begitu dan tak ingin kau terjerumus oleh kebaikan dan harapanmu kepada mereka. Manusia itu kejam," cerita Qi Baixuan panjang lebar.


"Lan Zhuxian memiliki teknik berpedang yang unik, jika kau ingin melihatnya ikutlah dengan ku. Mungkin sekaligus aku ingin melihat seberapa mahir kau berpedang."


Xin Chen bergeming di tempatnya, menyadari tanggapan itu Qi Baixuan memasang wajah tak enak. Dia juga seharusnya tahu bahwa Xin Chen telah berjanji untuk pergi ke sebuah tempat, Jembatan Shangyu tepatnya untuk memastikan dan mengambil tindakan apa benar desa di tempat itu sedang kacau.


Saat itu Qi Baixuan menaikkan tiga jarinya, "Tiga hari saja, tinggallah di sini untuk sementara."


Tak melihat ada pergerakan, Qi Baixuan menurunkan jariny canggung. Dia tak bisa menghindari tatapan mata itu begitu saja. Saat pandangan mereka bertemu yang tampak adalah sepasang bola mata biru, layaknya kobaran api yang menyala di kedalaman laut yang gelap. Qi Baixuan mengalihkan fokusnya, tak ingin mempermasalahkan warna mata yang unik tersebut.


Xin Chen menyelutuk. "Kau memiliki maksud lain menahanku di sini?"


Qi Baixuan mulai terlihat serius, benar dia memiliki maksud lain seperti yang dikatakan Xin Chen hanya saja dia tak menyangka pemuda itu menyadarinya.


***


Thor lagi terhura, gak nyangka para pembaca baik-baik banget ya Allah. Syukur alhamdulilah bisa kenal sama pembaca yg baik, ramah juga😭 Makasih banyak buat kalian, lope-lope sekebon 💗💗💗

__ADS_1


[edit] oiya, utk harga buku A Girl Named Aoi kisaran harganya 60-80 ribu yaa, bisa kurang atau lebih, Thor udh nanya harganya belum pasti juga😥 tergantung berapa halaman dan juga kualitas kertas katanya. utk pemesanan sndiri lewat shopee bisa, dan hanya dgn ikut waiting list kalian bakal dapat souvenir, xixixi


batas pengisian waiting list cuma sampe besok yaa temen-temen🥳


__ADS_2