
"Guru Yuhao itu, dia yang membuat kakakku terjebak di hutan dan ditangkap oleh mereka! Aku berani bersumpah dia yang membawanya ke sana, bukan adikku sendiri yang ingin menerobos ke luar! Potong lidahku ini jika benar aku berbohong!"
"Kalaupun benar, bukankah memberitahu keberadaan pusaka yang kita jaga selama ratusan tahun ini tetap tindakan tercela? Kau menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun leluhur kita dengan Kaisar! Kau meludahi sumpah itu! Anak biadab!"
Pemuda itu mencoba melindungi tubuhnya dengan dua lengan, dia diinjak-injak oleh puluhan orang. Namun tak sedikit pun terlihat amarah ketika dirinya dihajar, bibirnya yang meneteskan darah mencoba berbicara. Jarinya bergetar hebat.
"Wanita itu, dia tak bisa dipercaya. Dia sudah menipu kita, dan bukan mauku untuk melakukan ini! Dia bilang jika aku tak segera mencari adikku maka dia akan dibakar hidup-hidup oleh orang luar. Aku tak bisa diam. Dan saat ini aku sadar, dia sengaja membuatku kacau dan menunggu waktu yang tepat saat kami salah langkah."
"Aku tak meminta pembelaanmu."
Suara istri sang pimpinan lebih terdengar seperti geraman, dikatupnya gigi rapat-rapat. Jika saja dia tidak ingat bahwa anak laki-laki itu adalah anak dari salah seorang laki-laki berpengaruh di YuangXe maka dengan senang hati akan digoroknya leher anak itu. Namun pikirnya lebih baik jika hukum yang membalas tindakan itu.
"Kau harus dihukum mati. Dengan cara paling hina hingga ayahmu pun akan menangis melihatmu. Tapi aku tak yakin apakah dia masih hidup atau tidak-"
"Guru Yuhao telah tiada."
"Apa katamu-?!" nada melengking terdengar keras.
"Aku melihatnya. Pengguna roh itu yang membunuhnya."
"Tidak mungkin ...." Istri pimpinan YuangXe jatuh terduduk, tiba-tiba dia merasa kehilangan daya. Jika Yuhao saja tak sanggup menahannya, maka Hantu dari YuangXe akan mati. Tidak ada yang bisa mereka harapkan selain diri mereka sendiri.
"Keluarkan semua mantra yang diberikan Yuhao! Cepat! Bentengi tempat ini tanpa celah-"
"Boleh aku bantu?"
"Lakukan apa saja!" Wanita itu merinding saat tiba-tiba saja penurunan suhu terjadi, telapak tangannya yang berkeringat seperti membeku. Di belakangnya ratusan mantra telah terbakar oleh api biru yang terus menjalar membakar tali-tali yang diikatkan mantra. Begitu pun yang terjadi dengan rumah Yuhao yang menyimpan banyak sekali kertas.
__ADS_1
Orang-orang YuangXe mencoba melawan, tak bisa dipungkiri kekuatan fisik mereka dapat menumbangkan apa pun dengan mudah. Apalagi tubuh lawan dua kali lebih kecil dari tubuh mereka sendiri.
Tetapi hal itu seolah-olah tak ada gunanya jika dihadapkan dengan seorang pengguna roh. Jika pun ada di antara mereka yang menguasai ilmu tersebut, karena kekuatan Xin Chen lebih mendominasi roh-roh di tangan mereka bisa langsung dihancurkan.
Waktu berlalu begitu cepat sampai-sampai wanita itu tak sanggup untuk berkedip, melihat mereka terkepung oleh api keabadian yang menjalar cepat. Tak ada yang mampu memadamkannya. Hingga akhirnya sosok yang menjadi penyebab kekacauan tersebut meletakkan sebuah mayat di tanah. Lalu menghilang dan muncul lagi di atas benteng paling tinggi.
"Yuhao, pemimpin kalian dan Hantu dari YuangXe telah tiada."
"Aku pernah mendengar tentang kelicikanmu dari Guru Yuhao, tapi tak ku sangka kau tak berhati seperti ini. Menyingkirkan orang-orang penting di sini hanya untuk membuat kami merasa tak berdaya?"
"Jika dari awal aku ingin membunuh kalian, aku bisa saja membakar satu YuangXe ini dengan Api Keabadian. Tanpa repot-repot masuk dan menghabiskan waktu meladeni kalian."
Balasan tersebut membuat wanita itu agak gentar, mereka kehabisan langkah. Serangan fisik tak berguna pada pemuda itu, para pengguna roh kehilangan kesadaran dan mantra-mantra yang disiapkan sudah dibakar.
"Lalu apa? Apa maksudmu melakukan ini semua?!"
Derap kaki dari kejauhan bukanlah kebohongan, wanita itu sendiri dapat mendengarnya. Ada lebih banyak wanita di tanah YuangXe. Sedangkan lelaki banyak yang tewas akibat berburu melawan siluman demi mencukupi makanan mereka sehari-hari
Di tanah yang mereka perjuangkan ini, tak ada lagi yang bisa diharapkan. Sungai telah lama kering, tanaman tak dapat tumbuh di sana. Dan juga nyaris tak ada lagi binatang atau hewan yang tersisa. Mereka memakan mereka semua, termasuk serigala dan katak.
Anak-anak kecil memandang ke arah Xin Chen gelisah, para wanita melindungi anaknya sedangkan laki-laki berdiri di barisan paling depan dengan membawa senjata.
"Apakah kau percaya pada manusia?"
Pertanyaan Xin Chen membuat wanita itu gamang, dia yakin itu adalah isyarat. Mereka semua sudah terkepung dan tak memiliki pilihan selain kalah.
"Aku tak ingin mempercayai mereka ..."
__ADS_1
"Kau hanya memikirkan keegoisanmu sendiri, keputusanmu berarti besar bagi nyawa-nyawa orang di belakangmu yang kau sebut saudara."
"Jangan mencoba menasehatiku!"
"Kalau begitu aku akan kembali. Armor Dewa Perang masih ada di tempat yang sama, tidak kusentuh sama sekali. Tapi kalian harus ingat sumpah pada Kaisar. Jangan sampai benda itu jatuh ke tangan yang salah."
Sepeninggalan Xin Chen wanita itu diam beribu bahasa.
Semua dugaan memenuhi pikirannya, Xin Chen mengetahui benda itu dan tak menyentuhnya terdengar seperti sebuah ancaman. Namun di sisi lain, dia sadar Xin Chen tidak berbohong. Apalagi sampai meninggalkan YuangXe saat kemenangan sudah ada di depan matanya. Seperti yang Xin Chen bilang tadi, hanya perlu membakar satu YuangXe dengan Api Keabadian.
Api Keabadian yang membakar mantra lenyap tak bersisa, para penduduk mulai mencemaskan sesuatu. Jauh dari selatan, segerombolan pendekar berkuda memacu cepat ke tempat mereka. Wanita itu semakin kalut saat suara lain saling menyahut hingga terjadi debat. Dia menoleh ke belakang, di mana puluhan-bahkan hampir ratusan orang tengah menggantungkan hidup padanya.
"Ca-cari orang tadi, kita harus membicarakan sesuatu dengannya. Dan juga kau," wanita itu menunjuk anak Hantu dari YuangXe.
"Tetap di sini denganku."
*
"Hoi, apa yang kau lakukan? Bukankah kau ke sini untuk pusaka itu?" celoteh Shui yang kini bertolak belakang. Dia memandang tak percaya ke arah Xin Chen yang hanya memasang wajah tak peduli.
"Panggil yang lain, kita kembali."
Shui menaikkan sebelah alisnya, tak setuju dengan keputusan Xin Chen. Dia sudah tahu apa yang terjadi di YuangXe. Meninggalkan pusaka itu di tempat yang sudah rapuh begini bukanlah tindakan yang tepat. Jika suatu saat benda itu jatuh ke tangan orang kuat aliran hitam, di masa depan Xin Chen pasti dibuat kewalahan menghadapinya.
"Ya sudahlah. Mau dipikir sambil kayang juga aku tak mengerti bagaimana otakmu itu bekerja."
"Saudara, tolong jangan pergi dulu."
__ADS_1