Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 176 - Api Tak Berwujud


__ADS_3

"Aku menginginkan permata milik Naga Es."


"Apa katamu?" Xin Fai sedikit membentak. "Mau sebanyak apa lagi kekuatan yang kau inginkan?!"


"Aku tidak pernah menginginkan apapun dari kekuatan-"


"Tidak menginginkannya, ya? Lantas jika tidak menginginkannya, kau bisa saja menyerahkan permasalahan ini kepadaku. Tidak perlu memaksakan diri jika ini terlalu berat bagimu. Hanya itu saja, aku sudah memberikanmu kesempatan dua kali. Aku tidak pernah mengatakan kecewa terhadapmu, atau apapun yang memaksamu untuk menjadi kuat melebihi siapapun." kilah Xin Fai panjang lebar, dia tak bisa lagi membiarkan putranya bertindak semaunya lagi. Sudah cukup baginya.


"Tapi ayah yang bilang aku harus melindungi kalian, saat tiba waktunya-!" Napasnya tercekat. "Aku berlari sejauh ini, mempertaruhkan nyawaku. Aku sudah mati ratusan kali agar bisa sampai di sini dan baru sekarang ayah berkata demikian?!"


"Kekuatan hanya akan membuatmu tamak. Tidak ada yang perlu kujelaskan lagi. Setidaknya ikutilah permintaanku, bukan sebagai ayahmu tapi sebagai Pilar Kekaisaran. Berkeberatan?" nada bicaranya Xin Fai terdengar dingin. Baru kali ini dia tak menatap wajah Xin Chen saat sedang berbicara.


Qiang Jun yang telah berhasil membunuh Ular api yang membuat pusaran api di sekelilingnya telah menghilang. Membebaskan Qiang Jun kembali, pria itu akan menyerang dalam hitungan detik.


"Baiklah. Jika itu mau ayah. Aku tidak akan mencampuri urusanmu atau apapun lagi. Sebagai Pilar Kekaisaran ini memang tanggung jawabmu. Dan maafkan aku hanya bisa memberikan rasa malu padamu. Mungkin aku akan pulang untuk menemui Ibu. Dan mulai detik ini, sesuai kataku tadi aku akan melepaskan nama klan-"


"Tutup mulutmu, Chen!"


Suara itu terdengar menggelegar, Xin Chen benar-benar membungkam mulutnya tanpa sadar. Jantungnya berdebar kencang. Tekanan ini jauh melewati ambang batas, tak pernah dia rasakan kemarahan sebesar ini dari Ayahnya.

__ADS_1


Meski takut Xin Chen masih menjawabnya, "Laki-laki tidak akan menarik kata-katanya. Aku sudah mengatakannya, takkan mungkin mengingkarinya."


"Duduk di situ. Dan jangan pernah mengatakan kata-kata itu sekali lagi."


Xin Chen duduk bersila, mencoba memperhatikan dengan baik pertarungan di depannya.


Tapi jika diperhatikannya sekali lagi, pertarungan ayahnya bahkan nyaris tidak diperhitungkan. Dia bergerak sesuai instingnya, membuat tiap gerakan sangat sulit ditebak. Sama halnya seperti Qiang Jun, hal itulah yang membuat mereka seimbang.


Dia menciptakan seruling hitam yang diciptakan dari perubahan bentuk roh, memainkan nada Irama Kematian dengan sangat lancar. Berbeda saat pertama kali dimainkannya, nada itu kali ini sama halnya seperti api yang tak berwujud. Diam-diam membakar jiwa seseorang, menggerogoti kesadaran seseorang dan mematikan lawan dalam pikiran.


Meski tak terpengaruh dampak Irama Kematian karena Xin Chen yang mengendalikannya, Xin Fai tahu betul Irama Kematian adalah salah satu jurus kuno yang ditakuti pada masanya. Langkah kaki Qiang Jun goyah, di sisi lain energi alam yang ditarik Xin Chen sudah melebihi separuhnya. Dan itu akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Xin Chen takkan tinggal diam meskipun ayahnya menyuruhnya diam.


Qiang Jun mengepung Xin Fai dengan menjebaknya dalam jurus berkecepatan tinggi, perangkap yang tercipta dari angin hasil tebasan pedang Qiang Jun amat berbahaya. Sedikit bergerak kulit tidak hanya robek, bahkan akan terpotong langsung dari tubuh.


Sekali lagi Xin Chen menggagalkan serangannya, nyaris sepersekian detik pedang di tangan Qiang Jun akan menghantam kepala lawannya di dalam pusaran angin tersebut. Xin Chen menggunakan kemampuan Topeng Hantu Darah, menghilangkan wujud targetnya selama sepersekian detik sebelumnya. Xin Fai tak terkejut lagi dan justru membalas Qiang Jun.


Tarikan pedang dari bawah memutuskan sebelah tangan Qiang Jun, dalam keadaan menegangkan tersebut tak disangka-sangka Qiang Jun salah perhitungan. Darah mengucur deras dari tubuh tersebut, Qiang Jun mencoba memulihkannya tapi baru disadarinya, kekuatan alam di sekitarnya telah dialihkan ke tubuh Xin Chen. Sementara itu sejak tadi dia terus menggunakan teknik tingkat tinggi yang menguras sebagian besar tenaga dalamnya.


Mata Qiang Jun pertama kali tertuju pada Xin Chen yang duduk diam sembari memejamkan mata, dengan sisa-sisa kekuatannya dia menerjang ke arah Xin Chen.

__ADS_1


Xin Fai tidak menyangka di saat-saat seperti ini justru Qiang Jun menyerang anaknya. Dia mencoba menghalau akan tetapi hal itu terjadi begitu cepat. Xin Chen takkan bisa menahan lelaki itu, pergerakannya melebihi kecepatan kilat.


Matanya terpejam damai, Xin Chen menyatukan jarinya membentuk segitiga. Para roh memberitahunya, seseorang datang. Para roh itu adalah dirinya.


Dalam beberapa buku yang dibacanya, terang akan terlihat saat gelap berada di sekitarnya. Jika di buku itu, kegelapan hanya menjadi pendukung agar cahaya dapat bersinar terang maka Xin Chen ingin menjadi gelap yang melenyapkan cahaya itu bersinar. Qiang Jun yang sekarang harus dibunuhnya.


"Akhirnya kau yang datang padaku." Xin Chen membuka matanya saat Qiang Jun mendekatinya.


"Teknik kesepuluh Kitab Pengendali Roh - Gerbang Dewi Kematian."


Tak diduga kekuatan alam yang sedari tadi disimpan Xin Chen keluar di satu detik menyeramkan itu, seketika bayangan hitam raksasa yang separuh dari ukuran Siluman Penguasa Bumi menutup langit kota.


Kekuatan roh menyatu membentuk sebuah piramida yang sepuluh tangan di sekitarnya. Di bagian paling atas piramida itu muncul sebuah wajah cantik bak dewi dengan bulu mata lentik nan panjang, wajahnya bengis melebihi iblis. Tiap-tiap jarinya dihiasi kuku panjang yang tajam. Tangan itu memanjang dan memaksa Qiang Jun masuk ke dalamnya.


Semua orang yang sempat melihat jurus itu diam tanpa terkecuali, sama halnya seperti Xin Fai. Dia bahkan tak menyangka anaknya masih menyimpan satu jurus tersebut dengan level kekuatan yang jauh lebih besar. Energi alam yang ditarik Xin Chen dari Qiang Jun membuatnya dapat menggunakan teknik spesial itu. Xin Chen hanya mendapatkan kesadarannya, sementara roh dari Kitab tersebut memaksanya menggunakan jurus itu untuk membunuh Qiang Jun.


Karena apapun keinginan Xin Chen adalah keinginan para roh tersebut. Mereka adalah satu.


Gerbang menutup, tubuh Qiang Jun telah terperangkap di dalam. Seketika suasana hening terdengar mematikan. Dua menit berjalan tanpa pergerakan akhirnya Xin Chen dapat mengendalikan tubuhnya kembali. Dia memerhatikan seksama gerbang besar tersebut.

__ADS_1


Di tempat lain cukup banyak pendekar yang terkesima dengan jurus yang dikeluarkan Xin Chen, bahkan sedikit yang percaya itu adalah anak kedua dari Pedang Iblis mengingat apapun yang dikabarkan tentangnya adalah hal-hal buruk. Sementara Xin Zhan tidak mungkin menguasai teknik dari aliran hitam tersebut


__ADS_2