Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 310 - Sulit Diartikan


__ADS_3

"Arrghh! Maniak api, ini aku! Heeey! Lihat sini!"


Xin Chen dan Salamender Api kontan menoleh ke arah pesisir pantai di mana seorang laki-laki dengan Surai Biru tengah melambaikan tangan dengan hebohnya. Shui meloncat berkali sewaktu Salamender Api melihat, memastikan penglihatannya benar apa tidak.


Pertarungan mendadak berhenti saat Shui menampakkan diri, dia segera berubah ke wujud naga air kecil dan terbang menuju pulau terpencil di mana Salamender Api berada. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai, dia segera dihadiahi oleh tatapan membunuh dari Salamender.


"Maniak apa tadi kau bilang?"


"Aish, telingamu itu sepertinya belum dikorek jutaan tahun. Ck, jadi seperti ini-" Shui merubah wujudnya menjadi manusia lagi, rambutnya yang panjang beterbangan membuat Salamender Api terpukau.


"Bhahhaha! Sial, apa-apaan itu?! Kau sedang bercanda?" Salamender Api tak sanggup menahan tawanya lagi, matanya sampai berair demi menahan tawa agar tak membuat Shui tersinggung


"Jangan menertawaiku, cicak. Begini-begini aku juga belajar tentang perubahan wujud. Walaupun sedikit lebih jelek darimu."


"Jadi kau tahu tentang perubahan wujud manusia dari dia?" tanya Xin Chen sedikit kebingungan. Shui hanya menghela napas tak suka.


"Ya, ya. Kurang lebihnya begitu. Lagipula dibandingkan aku, cicak berapi ini juga pernah berbaur dengan kaum manusia. Dan lebih lama dari siluman mana pun."


Salamender menghembuskan napas berapi, "Sekarang cicak berapi?! Bertarung denganku, Naga Air! Aku pasti akan memotong ekormu!"


"Khem! Siluman ini sama sekali tidak paham sopan santun. Sekarang aku seperti manusia, Cicak. Jadi aku tahu tata Krama yang baik dan benar."


Wajah Salamender Api terlihat kesal. Namun beberapa saat kemudian dia mengubah wujudnya ke yang paling kecil. Seperti yang pernah dilakukan oleh Shui tadi. Kali ini hanya ada mereka bertiga di pulau tanpa penghuni itu. Terjadi sunyi senyap untuk sesaat hingga akhirnya Shui memecah keheningan.


"Tanpa aku jelaskan kau pasti sudah tahu apa yang terjadi."


Begitu mendengar Shui, Salamender Api menjawab ketus. "Ini sama sekali bukan urusanku. Yang bermasalah di sini adalah mereka yang terlibat dan aku tidak terhitung ke dalamnya."


"Kau terlibat, tak lama lagi. Jangan berbohong, kau pasti sudah merasakannya, bukan? Awal dari sebuah kehancuran. Setengah dari kita sudah dihabisi oleh Naga Kegelapan dan tak lama lagi, entah itu aku, atau kau akan mati olehnya. Kita tidak akan bisa bertahan jika kita tidak bersatu."

__ADS_1


"Dengan manusia-manusia lemah ini?"


Hanya satu jawaban dari Salamender Api, cukup untuk membuat suasana kembali hening seperti semula.


"Kau tidak bisa meremehkan mereka ...."


"Aku tahu kau begitu merindukan orang itu. Tapi jangan sampai membuatmu benci hingga semua manusia kau anggap sama."


"Diam dan urus urusanmu sendiri."


Aura mencekam di antara keduanya membuat situasi semakin memburuk. Xin Chen menengahi, "Menurutmu kau sanggup untuk menghadapi Naga Kegelapan sendirian?"


"Aku hanya akan mati konyol melawannya."


"Kami juga merasakan hal yang sama. Tidak ada satu pun dari kita yang sanggup melawannya sendirian. Karena itu kami mengajakmu. Perang akan kembali terjadi kurang dari satu tahun ini dan aku yakin mereka akan membawa Naga Kegelapan untuk menghancurkan Kekaisaran Shang."


"Apa katamu? Mereka siapa? Naga busuk itu membawa pasukan?"


"Dia bekerja sama dengan Kekaisaran Qing, yaitu Kekaisaran ini. Mereka memiliki-"


Salamender Api memotong lebih dulu, "Ratusan bahkan jutaan prajurit gila bertarung. Oi, manusia. Lawanmu ini adalah musuh yang tidak sepadan. Melawan Naga Kegelapan dan prajurit Kekaisaran Qing?! Yang benar saja!" Dia menggeram hendak mengamuk, tapi karena tubuhnya kecil Xin Chen justru melihatnya seperti seekor lipan yang disiram air panas.


Salamender Api bukan tidak tahu bagaimana Kekaisaran Qing ini. Dia berada di sana jauh lebih lama dari siapa pun dan pernah menjadi pengelana di antara para manusia. Menempuh kerasnya kehidupan manusia yang begitu rumit serta kekejaman mereka yang bahkan melampaui nalarnya sendiri. Semenjak dulu, Kekaisaran Qing di kenal sebagai Kekaisaran yang gila militer. Mereka bahkan menyebut Kaisarnya dengan sebutan Dewa Perang. Sumber kekuatan yang berlimpah serta senjata yang berkualitas di tempat ini bukan hanya omongan belaka.


Bahkan hampir setengah Kekaisaran dipakai sebagai pusat pemerintahan militer. Bisa dilihat dari tembok tinggi yang menjulang membatasi kawasan militer dengan pemukiman kumuh para masyarakat. Anak-anak perempuan dan wanita adalah pihak yang paling tidak beruntung jika dilahirkan di Kekaisaran ini. Karena mereka tak lebih dari alat tak berguna yang membuat penuh Kekaisaran.


Dan juga bukan tanpa alasan Salamender Api mengatakan demikian, jika Kaisar benar-benar turun tangan untuk menghadapi Kekaisaran Shang, dia pasti akan mengerahkan seluruh kekuatan. Yang di mana hanya dengan mendengar suara tapak kaki dari bawah laut, Salamender Api dapat mendengar ratusan ribu suara derap kaki yang menggunakan baju besi.


Ketidakpercayaan Salamender Api akan rencana tersebut dipatahkan begitu saja oleh pemuda itu. "Aku juga sedang mengumpulkan pasukan. Sebanyak apa pun mereka, jumlah bukan sebuah tolak ukur untuk memenangkan pertempuran."

__ADS_1


"Ya ... Ya. Aku juga pernah membacanya dari buku berisi taktik berperang. Hanya saja ini gila."


"Aku lebih baik mati dalam perjuangan daripada mati diinjak-injak."


Salamender Api terdiam, dia melihat Xin Chen dengan jelas kali ini. Sekilas bayangan sesosok laki-laki bermata hitam pekat muncul di sana, Salamander Api langsung merendahkan intonasinya.


"Kalian sebenarnya tidak membutuhkanku untuk berperang. Karena aku tak akan merubah apa pun. Lihat, kemampuanku ini hanya cukup untuk melindungi diriku sendiri. Sementara Naga Kegelapan memilki jenis api yang lebih unggul dariku."


"Ayolah cicak bakar, baru kali ini aku lihat kau pesimis begitu."


"Berhenti menamaiku dengan sebutan aneh."


Xin Chen merasa harus membujuk Salamender Api terus selagi siluman itu tenang.


"Jika yang kau takutkan adalah prajurit itu aku dengan senang hati akan menghancurkan mereka terlebih dahulu."


"Hoo, terlihat menarik. Bagaimana caranya? Kau terlihat yakin sekali menghadapi ratusan ribu prajurit itu sekaligus. Jika hanya mengharapkan kekuatan api atau roh sekalipun, kau tidak hanya akan kalah oleh mereka, kau justru akan kalah dengan dirimu sendiri. Ingatlah, kau manusia. Memiliki batas kemampuan untuk mengeluarkan kekuatan."


Salamender Api tersadar dengan omongannya, dia meralat. "Tapi aku tak yakin kau masih memiliki tubuh seperti manusia ..."


beberapa saat Salamender Api merasa tak nyaman. Apalagi Xin Chen justru mengabaikan kata-katanya.


"Jika aku bisa menyingkirkan setidaknya seratus ribu prajurit, apa kau bersedia untuk pergi dari sini dan berkumpul di markas kami?"


"Bagaimana jika aku tak mau?"


Xin Chen menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku tak ingin kau mati karena bertarung sendirian. Atau ... Tidak ada siapa pun yang membantumu saat kau sekarat."

__ADS_1


Detik itu Salamender Api tersadar, manusia itu menatapnya dengan kesedihan yang sama dengan dirinya saat tahu Rubah Petir telah tiada.


__ADS_2