Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 26 - Pesan Peracik Obat


__ADS_3

Xin Chen sendiri tak mengerti permasalahan politik di antara kedua kubu ini, perebutan wilayah kerap kali terjadi di Kekaisaran Shang. Jika perang sudah dikumandangkan korban jiwa pun turut melayang. Sejak dulu dua kubu ini sering kali mengalami permasalahan serius. Membuat Qin Minjie harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Agar tak terjadi perang yang akan merugikan rakyatnya sendiri. Dan dalam hal ini Qin Minjie yakin jika api perang telah berhembus bukan hanya kedua belah kubu yang akan berperang, Kekaisaran lain pun turut mengambil keuntungan dengan menyerang Kekaisaran Shang.


Meski pihak mereka memiliki jagoan-jagoan hebat, namun musuh pun sama halnya. Di pihak mereka ilmu hitam berkembang pesat, tentu saja tingkat mereka jauh lebih tinggi. Menghadapi situasi seperti itu Qin Minjie harus benar-benar mengambil keputusan tepat.


Qin Minjie selaku Kaisar saat ini tentu tak menginginkan hal itu terjadi, dengan perjanjian yang dibuat dengan kesepakatan akhirnya satu desa telah mereka ambil alih. Dia telah menyetujui perjanjian yang dibuat Kaisar Qing.


Lokasi desa yang terletak jauh terpencil dan sulit dijangkau oleh pemerintahan membuat orang-orang bebas melakukan apapun di sana.


Xin Chen tersadar dari lamunannya, ketika melihat sekitar keadaan sudah menjadi gaduh. Salah satu dari pemuda di bawah berhasil tertangkap siluman dan dibunuh seketika. Mereka yang kalah taruhan pun hanya bisa mengeluh. Jika jagoan mereka berhasil terbunuh mau tak mau mereka harus membayar uang taruhan.


Untuk terakhir kalinya Xin Chen mengajak Yan Xi berbicara, "Apa kau tahu di mana tempat untuk membeli penawar racun?"


"Ah, setelah keluar dari sini kau hanya perlu belok ke kiri, nanti di sana kau akan melihat sebuah toko tua."


"Baik, terimakasih."


Sebelum benar-benar pergi, Yan Xi menyahutinya sekali lagi. "Pelelangan Pil Dewa Matahari akan dilaksanakan setengah jam lagi, pastikan kau mengikutinya, ya."


Di balik senyum ramah Yan Xi, Xin Chen yakin pria itu sedang menguji dirinya. Atau hanya sekedar ingin bersombong diri atas kekayaan sekte Rajawali Emas. Xin Chen menggendikan bahu, berlalu kemudian.


"Terlalu banyak hal yang harus kupikirkan hari ini, sial..." gerutunya kecil, bagaimana bisa dalam kurun waktu kurang dari seminggu ini hidupnya berubah drastis. Dari yang awalnya hanya bermain-main seperti anak kebanyakan harus menyelesaikan satu per satu masalah dengan sendiri.


Xin Chen mengerti apa yang Ayahnya katakan dulu, menjadi seorang pengelana tak semudah itu. Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya sakit.


Tiba di tempat yang dikatakan Yan Xi, Xin Chen segera masuk ke dalam. Dia menemukan seorang kakek berumur di dalam, mengangkat kepalanya dari buku tebal yang sedang dia baca.


"Apa kau mencari sesuatu?


Xin Chen mengangguk pelan, sembari memperhatikan berbagai ramuan dan pil-pil yang diletakkan dalam kotak khusus, bahkan untuk seukuran pil saja barang-barang tersebut disimpan di tempat terkunci.


"Apa kau memiliki penawar racun yang bisa membunuh seseorang dalam tujuh hari?"

__ADS_1


Mendengar hal itu sang kakek tua meletakkan bukunya, seperti sedang mengingat-ingat, sembari mendekati Xin Chen. "Racun Kobra Api maksudmu?"


"Y-ya... Seperti itulah," jawab Xin Chen seadanya.


"Hah... Kau tahu, racun itu akhir-akhir ini terlalu bahaya, bukan hanya meracuni tapi kutukan yang mengikat korbannya itu sangat sulit dihilangkan. Aku tak bisa menjualnya kepadamu."


"Apa kau tak yakin aku bisa membelinya dengan harga yang kau mau?" Xin Chen menyela cepat.


"Bukan begitu, Tuan. Hanya saja aku memang sudah tak menjualnya lagi." Kakek tersebut beralih kembali ke bumi bacaannya, tak mau melayani Xin Chen lagi.


Terdengar suara helaan napas yang berat, Xin Chen mengeluarkan beberapa permata dan harta dari cincin ruang. "Apakah segini cukup untuk membelinya?"


Kakek tersebut menoleh sedikit, menggeleng-gelengkan kepala. "Aku benar-benar tidak menjualnya, percayalah, pil itu takkan bisa kau beli dengan uang-uangmu itu."


Xin Chen mengeluarkan semua hartanya, baik dari uangnya pribadi maupun dari harta yang dia dapatkan dari Asosiasi Pagoda Perak.


"Aku sangat membutuhkan pil itu."


Saat merasakan sesuatu yang bergemerincing terdengar kakek tersebut menengok cepat, matanya yang sayu terbuka sedemikian rupa melihat gunungan koin emas tersebut. Bahkan mungkin melebihi ribuan koin emas.


"Nyawa kakakku lebih berharga dari uang-uang ini."


Sang kakek berlari kecil ke dalam ruangan penyimpanan tokonya, mencari-cari dengan teliti dan akhirnya menemukan apa yang diminta Xin Chen.


"Ingatlah, ini hanya satu-satunya penawar yang diciptakan oleh pembuat racun itu. Selain ini tidak ada yang bisa menawarkan racun terkutuk itu. Pastikan kau menjaganya dengan baik."


Pesan pria tua itu didengarnya dengan baik, meskipun agak kesal karena dia baru memberikannya setelah melihat gunungan harta tapi Xin Chen tetap bisa tersenyum ramah. Setidaknya dengan penawar ini nyawa Xin Zhan aman.


Hanya saja sekarang ini dia harus memikirkan cara untuk keluar dari Lembah Para Dewa hidup-hidup, Xin Chen tak begitu yakin bisa menerobos pintu gerbang utama sebab penjagaan di sana sangatlah ketat. Puluha penjaga dengan kekuatan setingkat Pendekar besar berjejer rapi dengan perlengkapan penuh.


Satu-satunya jalan adalah menembuskan diri dari dinding kokoh menggunakan Topeng Hantu Darah. Xin Chen bergerak ke tempat yang terlihat sepi, baru saja terpikirkan untuk mengaktifkan kekuatan tersebut tiba-tiba terdengar suara dari balik punggungnya.

__ADS_1


"Hei, anak kecil! Kita berjumpa lagi!"


Rupa-rupanya Yan Xi di sana, berhasil membuat Xin Chen terkejut bukan main


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya sambil melongokkan kepalanya sana-sini.


"Eh... Bermain-main?"


"Aneh juga kerjaanmu, daripada kau bingung lebih baik ikut denganku. Acara pelelangan akan segera dibuka."


"Tu-tunggu dulu, aku tidak ikut–"


"Sudahlah jangan malu-malu, aku akan membayarmu agar bisa masuk ke sana. Berterimakasihlah padaku."


Xin Chen diseret paksa menuju tempat yang dilihatnya di awal tadi, sebuah bangunan bercorak putih tulang yang ramai oleh pengunjung dari kelas atas. Mereka masuk, Yan Xi bahkan sesekali menyapa orang-orang yang dikenalnya di sana.


'Malah terperangkap di tempat ini lagi, bagaimana caranya agar aku bisa keluar cepat dari tempat ini?'


Setahunya acara pelelangan ini akan berlangsung lama, Xin Chen berkali-kali meminta pada Yan Xi untuk pergi namun pria itu tak membolehkan. Entah memang sifatnya yang mudah akrab dengan orang asing atau memang niatnya untuk memamerkan uangnya pada Xin Chen, Yan Xi tetap menyuruhnya tinggal beberapa menit lagi.


Acara lelang berlangsung dengan sengit, satu demi satu barang langka diperlihatkan di depan dengan penawaran tinggi. Hingga akhirnya tiba di acara utama, di mana Pil Dewa Matahari diletakkan pada kotak bening, hanya ada satu dan diperebutkan dengan harga yang tak masuk akal.


"Aku akan membelinya dengan harga 1 miliyar, jika ada yang ingin bertanding dengan sekte Rajawali Emas silakan. Aku takkan segan-segan menaikkan harganya."


"Sekte Relung Awan akan membelinya dengan harga 1,2 miliyar."


Penawaran semakin lama menjadi semakin tinggi, hingga di harga sepuluh miliyar dan mereka tak sanggup lagi menaikkan harga, beberapa sudah menyerah namun segelintir dari mereka tetap bertahan.


Akan tetapi dengan terpaksa pembawa acara lelang menunda keberlangsungan acara, salah satu penjaga berbisik padanya.


Dari tatapan wanita tersebut Xin Chen yakin Tuan Muda yang sebelumnya sudah terbangun dari pingsan dan mengatakan tentang dirinya. Xin Chen melirik kanan kiri, mengeluarkan sebuah bom asap dan pil berwarna kuning dari sakunya.

__ADS_1


Ketika bom asap memenuhi area tengah para tamu pandangan semua orang teralihkan sepenuhnya ke titik itu, tanpa mereka ketahui sosok anak kecil tengah berlari kencang. Dan menghilang dari kerumunan.


Wanita pembawa acara tentu tak tinggal diam, dia menyuruh beberapa Pendekar menyelidikinya. Walaupun sudah memasang siaga tingkat tinggi, wanita itu tetap tak menyadari bahwa Pil Dewa Matahari telah ditukar dengan pil yang hampir mirip dengannya, yaitu sebuah pil tidur yang harganya hanya beberapa keping perunggu.


__ADS_2