
Ren Yuan terdiam beribu bahasa.
Air mata mengalir pelan di pelupuk matanya, tak mempercayai apa yang dilihatnya kini adalah nyata. Selama ini Ren Yuan terus percaya putra keduanya masih hidup, namun seiring berjalannya waktu, dia mulai meragukan hal itu. Hanya beberapa tanda misterius yang datang tanpa adanya kepastian. Apakah tanda itu dari anaknya atau bukan. Pesan di kayu yang dibawa perahu dari Kota Renwu, kalung kerang yang kembali ke rumahnya. Yang Ren Yuan buat untuk Xin Chen. Beberapa orang menganggapnya terlalu menduga-duga. Namun mereka tak tahu, perasaan seorang ibu sangat kuat.
"Kau sudah pulang ... Anakku ..." Ren Yuan memaksakan senyumnya, tetapi bibirnya memaksa untuk menangis. Dia meraih tangan putra keduanya yang seperti balok es, dingin. Seperti dulu ketika terakhir kali Ren Yuan menyentuhnya.
"Aku belum ingin pulang, sampai aku menepati janjiku."
Ren Yuan memeluknya begitu lama, hingga Xin Zhan yang melihatnya hanya memasang tatapan seakan-akan ingin mengamuk. Tepat saat Ren Yuan melepaskan Xin Chen, detik itu juga dia melayangkan tinju.
Xin Chen menahannya dengan sebelah tangan, tatapan mereka saling bersitegang satu sama lain tanpa ada suara. Ren Yuan mencoba melerai.
"Xin Zhan, bukankah seharusnya kau senang adikmu sudah pulang?"
"Kenapa tidak sekalian kau mati saja?!" Teriakan Xin Zhan menggelegar kencang, dia menelan amarah yang sedari tadi ditahannya. Memandang wajah sang adik yang seperti tak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya tujuh tahun ini.
"Kau hidup, tapi kau berpura-pura mati sehingga ibu terus memikirkanmu. Siang sampai malam, hingga tidak bisa tertidur. Setiap hari mendatangi kuil untuk mendoakan keselamatanmu! Dan kau berkeliaran entah ke mana tanpa memedulikannya?! Kau benar-benar sampah!"
Terjadi perkelahian kecil, namun Xin Zhan sadar dirinya sudah dewasa. Dia hanya memandang adiknya dengan mata penuh kecaman. "Aku tak bisa memaafkan perbuatanmu ini. Kau bersujud pun tak akan ku maafkan."
Xin Zhan belum puas berbicara, dia terus melanjutkan. "Dulu kau pergi saat aku sakit, hingga ibu ketakutan setengah mati karena keselamatanmu. Lalu kau pergi lagi, dengan alasan ingin mengembara dan segala macamnya. Ibu mengizinkanmu, sekali lagi. Kali ini, kau tak meminta izinnya, pergi sesuka hatimu dan kembali sesuka hatimu pula. Kau kira masih pantas kakimu menginjak di rumah ini?"
Xin Zhan yang terus-menerus memojokkan adiknya membuat Ren Yuan cemas. Dia berulang kali memotong ucapan anak tertuanya tetapi Xin Zhan tak mau mengalah dan terus mengatai tanpa berpikir dua kali.
"Sekarang kau mau apa lagi? Minta izin dan pergi lagi? Lalu apa? Pergilah! Kau tidak membutuhkan ibu lagi, kau sudah terlalu hebat. Ibu mati pun, kau takkan mau datang ke pemakamannya. Setidak peduli itu kau padanya, Xin Chen!"
__ADS_1
"Zhan'er, berhenti sekarang juga!" Ren Yuan kembali batuk, lebih parah dari sebelumnya. Xin Zhan yang ikut panik hanya bisa mengusap pelan punggung ibunya.
"Kenapa kau hanya diam? Matamu sudah buta? Atau telingamu sudah tuli? Cih, katakan sesuatu!"
"Benar aku ingin mengatakan perpisahan sekali lagi."
Akhirnya pemuda itu berbicara, Ren Yuan menatapnya dalam-dalam. Ada rasa tak rela ketika Xin Chen mengatakannya. Kali ini penuh dengan sesal dan rasa tak berdaya.
"Aku pernah berjanji padamu tujuh tahun lalu, membawa ayah pulang dengan selamat ke pelabuhan. Aku bersumpah hari itu, aku akan menepatinya bahkan jika harus menebus dengan nyawaku."
Berbanding terbalik dengan Xin Zhan, suara Xin Chen lebih pelan dan rendah. Ada begitu banyak luka tersirat di raut wajahnya.
"Aku tak berani pulang sebelum sumpah itu ku tepati. Hanya saja, seseorang menyadarkanku."
Bayangan ketika dirinya melihat Yuhao tewas tertikam di tangannya sendiri terlintas, dia menyesal hari itu. Jauh di lubuk hatinya, dia merasa Ren Yuan dan Yuhao begitu sama. Mereka begitu mencintai anak-anak mereka, berkorban mati-matian dan bahagia hanya karena mendengar tangisan anaknya. Namun saat kehilangan, mereka terluka sampai tak sanggup lagi tertidur lelap.
Xin Zhan tak menjawab apa-apa, sekilas tampak gusar di wajahnya. Merasa dirinya terlalu berlebihan memarahi Xin Chen. Tak tahu apakah ucapannya tadi melukai Xin Chen.
"Chen'er ..." Ren Yuan menyuruh anaknya duduk di sisi ranjang, sama halnya seperti Xin Zhan. Hanya dengan melihat dua putranya saat ini, Ren Yuan merasa dunia telah kembali. Dia memeluk keduanya erat, kali ini tak ingin menangis lagi. Butuh sepuluh menit sampai Ren Yuan mau melepaskan mereka berdua. Xin Zhan menarik napas sesak, dia hanya bisa memandang adiknya yang telah berubah menjadi seseorang yang berbeda.
"Coba buka matamu."
"Tidak mau."
"Buka! Atau aku congkel dengan jepit rambut ibu." Temperamen Xin Zhan yang biasanya tenang tiba-tiba saja kembali seperti dulu. Di Kota Fanlu dia dikenal sebagai pemuda dengan sikap santun dan lembut, hanya saja saat melihat wajah adiknya itu, rasa ingin mengomel-ngomel kembali datang.
__ADS_1
"Zhan'er, jangan memaksanya." Ren Yuan menatap Xin Zhan dengan wajah galak, meski hanya terkesan dibuat-buat. Xin Zhan mendumel tak jelas.
"Chen'er, kau sudah makan?"
"Biar aku buatkan." Xin Zhan hendak berdiri, Ren Yuan tersenyum melihat kelakuan anak pertamanya itu. Meskipun perlakuannya pada Xin Chen begitu buruk namun dia tak bisa menyembunyikan kepeduliannya pada adiknya. Ren Yuan ikut berdiri, menepuk pundak Xin Zhan.
"Duduklah, biar ibu yang buat. Karena adikmu sudah pulang."
Xin Chen hanya terdiam ketika mendengar derap kaki Ren Yuan yang sudah menghilang di ambang pintu. Sementara Xin Zhan di sebelahnya terus mengawasi, mencuri-curi kesempatan menunggu adiknya membuka mata.
Dia mengembuskan napas gusar, mengambil secarik kertas di atas meja.
"Lihat, aku memiliki informasi tentang keberadaan ayah."
Benar dugaannya, Xin Chen membuka mata. Dalam sekejap hanya hening mengisi di antara mereka. Xin Zhan yang terkejut dengan bola mata biru adiknya, dan Xin Chen yang merasa tertipu oleh kakaknya.
"Kau-?" ucap mereka bersamaan.
Xin Zhan lebih dulu bertanya, tentu dengan muka penasarannya yang sungguh menyebalkan.
"Kau mempelajari ilmu medis? Oh aku yakin kau sekarang menjadi anggota bandit dari Kekaisaran Wei. Tapi jangan sampai seperti ini juga! Pergaulanmu jelek sekali! Bagusnya aku tak berharap apa-apa soalmu. Adik yang menghilang tujuh tahun ini ternyata hanya menjadi anggota bandit rendahan."
"Kau sendiri, menjadi kacung para bangsawan. Kalau ayah melihatmu pasti wajahnya langsung berkilap karena bangganya."
"Mulutmu-!" Xin Zhan menarik napas tiga kali. Dia yang paling tertua dan harus sabar. Tapi wajah Xin Chen itu, memang diciptakan untuk membakar emosinya
__ADS_1
"Kenapa? Tidak terima biasanya jika apa yang dikatakan sesuai dengan fakta." Xin Chen menatap kalung di tangan Xin Zhan yang mirip dengan yang dia pakai tadi.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Chen. Bilang apa yang kau lakukan tujuh tahun ini. Jika tidak, aku akan menyeretmu untuk jadi santapan buaya di sungai."