Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 341 - Tempat dan Waktu Berbeda


__ADS_3

Kini Yung Qi tidak bangun lagi seperti yang sebelumnya, hanya air mata yang terus berjatuhan dari matanya, bercampur dengan darah dan pasir.


"Bunuh aku," kata Xin Chen pada akhirnya walaupun dia tahu Yung Qi yang sekarang tak akan mampu untuk melakukannya. Benar saja Yung Qi hanya tertawa kesakitan, tangan kanannya bergerak pelan menggenggam tanah. Hanya sekilas Xin Chen dapat melihat kesedihan yang menyakitkan dari tatapan laki-laki itu. Dia kehilangan sesuatu yang benar-benar dicintainya melebihi nyawanya sendiri.


Yung Qi tak bisa melakukan apa pun setelah kematian tunangannya. Dia tidak diperbolehkan menyeberangi perbatasan tanpa izin atau jabatan yang membolehkannya meninggalkan Kekaisaran Qing. Hanya prajurit yang bertugas seperti kaum bangsawan elit yang diperbolehkan untuk menyeberangi perbatasan. Mereka harus membayar mahal agar bisa melewati jalan yang dilindungi sangat ketat itu beserta surat izin lengkap.


Yung Qi nyaris tak pernah menemukan penduduk Kekaisaran Shang setelah kematian calon istrinya dan hanya bisa menyimpan dendam itu di dalam hatinya. Dia mengikuti setiap seleksi prajurit setiap tahunnya, di tahun-tahun itu tentu saja berbeda dengan tahun ini di mana siapa pun yang gagal harus mati. Dulu mereka dapat kembali ke tempat asal dengan selamat. Asalkan tak melakukan kejahatan atau pun tindak kriminal.


Dan di tahun ini Yung Qi yakin dia menemukan satu dari sekian banyaknya orang yang dicarinya selama tiga tahun ini. Orang yang memiliki darah yang sama dengan pembunuh tunangannya. Tidak peduli apakah memiliki kaitan atau tidak, Yung Qi terlalu putus asa dan hanya mengedepankan marahnya dengan berharap istrinya akan tenang setelah pembalasan dendamnya.


Yung Qi berusaha untuk mengubah posisinya agar bisa telentang melihat begitu indahnya suasana malam itu. Pencahayaan di mana-mana dan acara yang sebelumnya dibuka dengan meriah kini menjadi parade berdarah. "Apakah semua yang aku lakukan hari ini akan membuatnya senang?" Yung Qi memaksakan suaranya untuk keluar walau sebenarnya dia hanya berbicara untuk dirinya sendiri.


"Tidak?" Yung Qi menjawab pertanyaannya sendiri dan merasa bodoh. Dia tersenyum pahit, samar-samar dirinya merasa seperti kematian memang akan datang menjemputnya sebentar lagi. Kematian seperti ini bukan kematian yang dia inginkan. Yung Qi benar-benar menyesal hingga dia hanya bisa menangis mengingat kembali wajah tunangannya.


Hanya dengan mendengar Yung Qi sudah mengetahui saat ini Xin Chen tengah berjalan menuju tempatnya. Dia sudah tahu apa yang ingin dilakukan Xin Chen dan hanya menunggu pemuda itu mengambil nyawanya. Di saat itu Yung Qi merasa seperti dia benar-benar tidak merelakan kematiannya. Dari awal dia tahu dirinya akan menang melawan musuhnya, tapi dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang seperti Xin Chen. Dia kuat, Yung Qi memang tidak bisa menang dengan kekuatannya. Tetapi sekali pun dia adalah orang terhebat di Kekaisaran ini, dia tidak yakin dapat membunuh Xin Chen. Karena dia merasa orang itu bukanlah musuh yang harus dibunuhnya.


"Lakukanlah ... Waktumu tidak banyak." Yung Qi pasrah, matanya kosong menatap ke langit malam dengan awan tipis putih yang bergerak mengikuti arus angin. Dia menarik napas dalam yang hanya menyakiti organ dalamnya yang telah rusak parah.

__ADS_1


"Kau ingin tunanganmu tenang, bukan?"


"Percuma saja. Aku tidak bisa membunuhmu." Bola mata Yung Qi mulai memucat, bibirnya mengatup beberapa kali agar dapat mengambil oksigen. Rasa sakit itu datang lagi dan mungkin kali ini adalah yang terakhir dan paling menyakitkan. Dia akan kehilangan nyawanya sebentar lagi sementara itu waktu terus berjalan. Sebentar lagi seleksi akan berakhir. Sebenarnya Xin Chen masih dapat menang karena dia telah membunuh banyak. Hanya saja jika tidak membunuh sekarang maka prajurit di belakangnya yang akan membunuh Yung Qi.


"Kenapa? Kau juga tidak bisa membunuhku?" Paru-paru Yung Qi bocor, darah dari mulutnya keluar saat dia terbatuk. Napasnya mulai melemah, Yung Qi menelan ludah dengan susah payah.


"Aku lebih baik mati di tanganmu sekarang. Setidaknya aku pernah berjuang sekali seumur hidup. Walaupun kau anggap itu tidak berguna ... Aku ingin semua orang tahu bahwa tunanganku begitu berharga ..."


Dia terdiam ketika merasakan tangan Xin Chen mengangkat tangannya dan meletakkan pedang di telapak tangannya.


Mulut laki-laki itu bergetar, wajah tengiknya yang beberapa hari lalu sangat menyebalkan berubah. Yung Qi menggenggam pedang tersebut dengan sisa kesadarannya. Xin Chen meletakkan tangan kirinya di atas tanah dan membantu Yung Qi mengarahkan mata pedang. Pedang di tangan keduanya menusuk tangan Xin Chen.


Sunyi senyap terjadi. Wajah tak percaya serta terharu tergambarkan di wajah semua tamu yang menyaksikan kejadian tersebut. Xin Chen dan Yung Qi mengakhiri pertarungan mereka dengan cara yang berbeda. Perhatian mereka lebih banyak tertuju pada Xin Chen di malam itu. Satu tepuk tangan terdengar di bangku tamu, Yan Xue prajurit utama berdiri sambil menyorakkan namanya. Lalu diikuti oleh yang lainnya hingga dalam seketika suasana menjadi kembali ricuh.


Xin Chen mencabut pedang di tangannya. Menatapi Yung Qi yang mulai dapat tersenyum menatap langit malam. Hatinya terasa lebih lapang. Detik itu Yung Qi merasa dengan senang hati untuk mati, semua beban yang menimpa pundaknya menghilang.


"Aku bisa melihatnya tersenyum ..."

__ADS_1


Tidak ada yang melihat Xin Chen tersenyum tipis. Dia menoleh ke sebelah kiri di mana Youji dan Yu Xiong yang semenjak tadi hanya melindungi Wei Feng tengah memperhatikannya. Xin Chen mendekat dan membawa Wei Feng ke dekat Yung Qi.


"Temanku, Wei Feng. Ibunya juga mengalami hal yang sama seperti tunanganmu."


"Aku sama sekali tidak berkeberatan ..." ucapan Yung Qi mulai tersendat-sendat akibat darah yang menggenangi tenggorokannya. "Jika dengan menyerahkan nyawaku untuk menyelamatkan nyawanya adalah kebaikan ... Lakukanlah."


Xin Chen mengangguk, dia membantu tangan Wei Feng memegang pedang yang mengarah ke dada Yung Qi.


Sebelum pedang itu benar-benar membunuhnya, Yung Qi sempat mengatakan sesuatu dengan senyuman.


"Jika kita bertemu di tempat dan waktu yang berbeda ... apakah kau mau menjadi temanku?"


"Tentu saja."


Yung Qi tewas dengan senyuman yang masih terlihat di wajahnya. Laki-laki itu terlihat seperti orang yang tertidur dengan damai. Setelah semua itu Wei Feng baru tersadar, melihat sekitarnya yang mulai diisi keributan dari mulut tim kelompok merah. Mereka mulai mempertanyakan tindakan Xin Chen yang justru menyelamatkan nyawa salah satu anggota kelompok biru. Protes menjadi perdebatan panjang, banyak yang khawatir jika Xin Chen menyelamatkan satu nyawa dari kelompok biru maka pertarungan akan dibatalkan dan mereka akan melakukan pertarungan ulang.


Di tengah situasi yang semakin memanas Xin Chen membuka suara, membuat yang lainnya terdiam.

__ADS_1


__ADS_2