Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 277 - Lima Perintah


__ADS_3

Ye Long kembali tertangkap dan kali ini dia tak bisa melakukan perlawanan lagi. Sayapnya terluka dan di kakinya dirantai dengan besi tebal. Tubuhnya yang menyembunyikan Lan Zhuxian digiring menuju sebuah besi besar di mana di bawahnya api telah menyala. Membuat bejana raksasa itu berwarna kemerahan oleh panas api.


Ye Long tak masalah jika tubuhnya yang dilelehkan di dalam api tersebut, tapi Lan Zhuxian pasti akan langsung tewas dalam hitungan menit. Melepaskannya sendiri bukan pilihan yang bagus, orang-orang YuangXe tak segan membunuhnya.


Kedua pilihan itu membuat otak Ye Long yang biasanya tidak berfungsi harus bekerja keras. Matanya yang hitam pekat menatap nyalang ke arah laki-laki tambun yang merupakan pemimpin YuangXe. Dia mencoba melibas ekor ke arah manusia itu namun sayangnya serangan itu langsung ditahan oleh yang lain.


Satu-satunya cara untuk kabur adalah mengamuk, Ye Long membakar sekitarnya membuat para manusia itu berpencar. Dia membakar rantai-rantai tersebut hingga meleleh dan menjadi abu.


Memanfaatkan kelengahan Ye Long, pimpinan YuangXe melompat ke atas kepala Ye Long. Membuat naga itu panik dan menggerakkan kepalanya ke kanan-kiri dengan cepat. Gerakan itu membuat laki-laki itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di depan muka Ye Long.


Ye Long membuka mulutnya lebar-lebar dan hendak mengabukan lelaki tersebut. Namun tepat saat mulutnya terbuka, tongkat besi keras digunakan pimpinan YuangXe untuk menyangga mulutnya.


Kepala naga itu kembali bergerak agresif, rantai melingkar di lehernya dan memaksa Ye Long untuk menunduk sejajar dengan tanah. Tak ada lagi pemberontakan.


"Naga yang setia. Apakah manusia yang kau sembunyikan itu adalah majikanmu?"


Karena mulutnya disangga, Ye Long tak bisa berbicara dengan jelas. Orang-orang YuangXe mengira naga itu hanya berbicara bahasa binatang.


"Lepaskan dia, atau kami akan membuka paksa. Pasti dia adalah orang yang dicari itu."


Ye Long mendesis saat kerumunan semakin mempersempit jarak, dia benar-benar dikerubungi seperti lalat. Bagian-bagian tubuhnya dilukai agar membuka sayapnya di mana Lan Zhuxian pingsan akibat benturan keras saat mereka jatuh tadi.


"Aku beri kau kesempatan sekali lagi. Buka sayapmu atau kami akan membakarnya dengan paksa."


Naga itu memaksa mulutnya berbicara, "Aku pastikan akan membakar kalian setelah ini."


"Hm? Sudah bisa berbicara, ya? Baguslah!" serunya lantang. "Tapi sayangnya ini tempat kami. Siapa pun yang masuk tanpa izin harus mati, sudah begitu aturannya." Seringai berganti dengan senyum menantang, hal itu memancing emosi Ye Long.


"Aturan hanya berlaku bagi yang menaatinya. Lagipula aku tak sama seperti kalian. Ikan-ikan teri sialan, lihat majinganku datang-! Arghh, ekor!"


Ekor Ye Long mengibas sana sini, seseorang mencoba mengupas kulitnya yang tebal.

__ADS_1


"Ini bagus dijadikan baju zirah."


Detik itu keberanian Ye Long menciut, dia seperti dikeliling oleh pemangsa ganas. Semua bagian tubuhnya pasti diambil oleh manusia-manusia itu. Mulai dari kata, ekor, kulit, sayap dan juga kepalanya. Membayangkan tengkoraknya dijadikan pelindung kepala seperti milik pimpinan YuangXe membuat isi perut Ye Long berputar.


Mungkin karena telah lama mengenal Xin Chen, Ye Long lupa bahwa manusia tetap sama. Begitu banyak yang kejam kepada siluman sepertinya. Mereka hanyalah alat dan sumber kekuatan. Tak pernah lebih dari itu.


"Kau pasti lapar, 'kan?" Laki-laki itu membawa kambing bakar di kedua tangannya, menawarkan kepada Ye Long sambil menggerak-gerakkannya. Kepala Ye Long terus mengikuti pergerakan kambing bakar tersebut. Dia benar-benar lapar.


"Apa? Kau juga suka dengan hiasan berkilau ini? Ambillah. Tapi serahkan manusia itu padaku."


Ye Long mendekat dengan mata tak lepas dari kambing tersebut. Meski demikian kedua sayapnya saling terkatup rapat, dia seperti kangguru yang sedang menggendong anak.


Laki-laki itu tak keberatan kambing tersebut dimakan cuma-cuma oleh Ye Long, mengambil hatinya adalah cara yang lebih baik daripada kekerasan dengan seekor siluman.


Niat hati berbuat baik, justru pimpinan YuangXe terkena musibah. Ye Long bukan menggigit kambing melainkan kedua tangannya hingga berdarah-darah. Sebelum naga itu menyemburkan api keabadian, tiga laki-laki dewasa lain sudah sigap untuk menghentikannya. Besi besar menghantam tengkorak Ye Long hingga berbunyi keras.


Pemimpin YuangXe kehilangan banyak darah, tak habis-habis dia mengumpat untuk Ye Long. Naga itu kehilangan kesadaran, kepalanya yang bocor oleh duri dari besi tadi mengucurkan darah di tanah berpasir. Tak ada pergerakan lagi dari naga itu sehingga pimpinan YuangXe yang telanjur termakan emosi berniat menghabisi nyawa sang naga.


Suara itu membuatnya berhenti bergerak, puluhan tatap mata berpaling ke arah yang sama. Di tempat di mana seseorang berdiri di atas benteng tertinggi. Gelapnya malam membuat wajahnya tak terlihat. Dan juga bulan di atas mereka tampak tak biasa, Xin Chen berhasil menggunakan Mata Ilusi mengambil kesadaran para pemain alat musik yang sedari tadi mengacaukan pikirannya. Dan yang lebih penting.


Satu hal yang tak bisa dihindarinya. Pertemuan. Meskipun dia masih belum menampakkan wajah namun gadis itu sudah mengenalnya. Dan kini jurus Mata Ilusi yang hanya ada di Kitab Pengendali Roh semakin memperkuat bahwa dirinya adalah sosok yang telah menghilang tujuh tahun di Kekaisaran Shang.


Pimpinan YuangXe mengangkat tangannya yang masih berdarah-darah saat kelompok pemanah hendak menyerang Xin Chen. Luka koyak yang cukup dalam itu tak membuatnya gentar sedikitpun. Justru dia lebih tertarik saat merasakan hawa kekuatan yang telah lama dinantinya.


"Pengguna roh, itu kah kau?"


Beberapa orang YuangXe hanya berdiri dengan mata kosong ke arah langit. Ada beberapa yang kebal dengan jurus tersebut dan mereka memiliki kekuatan yang setingkat dengan Xin Chen.


"Tinggalkan tempat ini dan bawa benda itu tanpa menimbulkan perang di tanah kami."


"Tetap tinggal di sini dan nyatakan sumpah setia pada Kaisar."

__ADS_1


Pimpinan YuangXe nyaris tak habis pikir bagaimana Xin Chen mengatakannya dengan lepas. Dia tak peduli siapa YuangXe dan musuh yang sedang dihadapinya.


"Beritahu aku dari mana kalian berasal dan kembali ke tempat asal kalian dengan membawa pusaka itu."


"Perintah keempat, tetap tinggal di sini dan bersiaplah berperang dengan prajurit Kekaisaran Shang."


Entah perintah atau apalah itu, pimpinan YuangXe lebih menangkap itu sebagai ancaman. Apalagi melihat mata biru tersebut menghujam ke arahnya.


"Atau terakhir, langsung ke intinya saja. Tetap berada di sini dan serahkan benda itu padaku."


"Oh, hahaha! Langsung ke intinya! Kau memang tidak suka basa-basi, ya?" cibir laki-laki itu dengan nada sinis.


Saat pemuda itu turun dan berpijak tepat di depannya, tengkuk laki-laki itu sempat dibuat dingin


"Gunakan namaku sebagai Pimpinan Empat Unit Pengintai, maka mereka akan mencariku demi benda itu."


"Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu? Dan juga ini adalah sesuatu yang tidak bisa kami berikan kepada siapa pun, termasuk kau sekalipun!"


"Lalu kau akan menjaganya selamanya sampai anak-anak kalian habis dibantai mereka semua?"


Laki-laki itu mendadak kehabisan kata-kata.


"Aku sudah menjaga banyak pusaka, termasuk Baja Phoenix dan Topeng Hantu Darah."


"K-kau memilikinya-!?"


"Aku sudah menjaganya demi menghindari pertumpahan darah akibat perebutan pusaka tersebut."


"Kalau begitu–"


Sebelum sempat mengutarakan kalimatnya, kepala pimpinan YuangXe jatuh menggelinding ke tanah. Dia mati berdiri tepat di depan Xin Chen.

__ADS_1


__ADS_2