Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 351 - Jalur Perbatasan


__ADS_3

Jalur perbatasan terlihat lebih ramai, kuda-kuda pengangkut barang menguasai hampir separuh jalan. Debat antara para pedagang dan pembeli membuat suasana menjadi ramai. Berkali-kali terdengar sahutan panjang di jalan tersebut.


Xin Chen hampir saja menyenggol laki-laki yang tengah berteriak keras itu. Dia sedang berteriak pada pengangkut barang untuk bergegas. Akhirnya dia tiba di gerbang perbatasan yang tinggi dan ditandai dengan bendera Kekaisaran Qing.


Semua tempat dijaga ketat, Xin Chen sampai curiga bahwa Kekaisaran Qing sebenarnya kelebihan prajurit sehingga menempatkan pekerja dengan jumlah tidak masuk akal di seluruh penjuru Kekaisaran. Entah dari mana mereka mendapatkan uang untuk membangun kekaisaran, padahal menggaji prajurit sebanyak itu menghabiskan uang yang sangat banyak.


Xin Chen memasuki benteng secara diam-diam, menghilang dari tempat itu dan memasuki wilayah Kekaisaran Shang. Beberapa pilar yang dibangun untuk membatasi wilayah telah roboh tanpa pernah diperbaiki. Memasuki wilayah Kekaisaran Shang, Xin Chen hanya melihat beberapa penjaga yang duduk di satu pos. Mereka terlihat lebih santai daripada prajurit di Kekaisaran Qing.


Tidak ada yang melihatnya Xin Chen memasuki kawasan hutan. Di tempat itu terdapat beberapa reruntuhan yang telah ditutupi oleh lumut. Xin Chen duduk di sana, menyalakan api karena hari mulai beranjak malam. Hanya terdengar suara binatang dan burung-burung di hutan yang gelap dan sepi itu. Sesekali gemuruh bersahutan di atasnya, angin badai bertiup pelan.


Api unggun di depan Xin Chen bergerak-gerak tertiup angin, sementara pemuda itu masih duduk di sana. Benar seperti dugaannya. Seseorang akan datang. Dia hanya sendirian di sana, terlihat terluka dan mengalami cedera serius di pergelangan tangan.


"Chen ...?"


Xin Chen mengangkat wajahnya, Xin Zhan dapat melihat sepasang mata berwarna biru terang itu tengah menyorot ke arahnya. Dia mundur dan segera mengeluarkan senjata waspada.


"Aku bukan musuhmu."


Saat mendengar suara itu baru Xin Zhan dapat mengenalinya. Sepertinya baru kali ini Xin Zhan melihat mata tersebut, mengingatkannya pada api keabadian yang menghancurkan Kota Renwu.


"Kau-"


"Apa kau menemukan jejaknya?"


Xin Zhan duduk segera di dekat api unggun, pandangannya muram sementara mukanya tertekuk ke bawah. Kakaknya hanya mengepalkan tangan dan meninju tanah dengan kesal.


"Mereka membawa lari ibu ke Kekaisaran ini. Mereka tahu satu-satunya tempat yang sulit ku raih adalah Kekaisaran Qing. Semua prajurit dan bawahanku mati terbunuh selama pengejaran."


Sekarang Xin Chen tahu mengapa Xin Zhan sampai mengirimkan surat padanya. Dia terlalu putus asa sampai tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa.


"Kau tahu aku ada di dalam dari siapa?"

__ADS_1


"Seseorang berambut biru. Dia orang aneh yang juga ditahan di perbatasan beberapa hari lalu. Dia mengatakan kau ada di sana. Aku sebenarnya tidak bisa mempercayai dia ... Tapi dia tidak berbohong."


Xin Zhan terlihat kalut. Pikirannya dipenuhi oleh kecemasan dan kekhawatiran akan keselamatan ibunya.


"Sial, padahal aku sudah berjanji padamu untuk menjaga ibu."


"Kita sama-sama pecundang yang tidak becus."


Xin Zhan menoleh ke arahnya yang tak beda paniknya dengan dirinya sendiri.


"Mengejek diri sendiri?" tanya Xin Zhan.


"Mengejekmu sekalian."


Dibanding hari-hari sebelumnya kini Xin Zhan merasa lebih tenang. Bukan sekali dua kali nyawanya terancam di hutan ini. Beberapa pendekar dan prajurit turun untuk membunuhnya. Xin Zhan terluka parah dan hanya mengandalkan tanaman obat di hutan untuk menyembuhkan lukanya.


"Sepertinya ini yang dikatakan ayah hari itu."


Ayahnya pernah mengatakan. Ada saatnya ketika mereka berdua harus berjuang sendirian. Demi sesuatu yang telah ditakdirkan di pundak mereka. Kepercayaan, kedamaian, keselamatan dan keadilan di tanah mereka. Xin Zhan mulai memikirkannya dan baru menyadari bahwa tugas yang ditimpakan pada mereka adalah sesuatu yang besar.


Tiba-tiba saja Xin Chen menepuk pundak Kakaknya. "Terasa berat di sini?"


"Tidak. Aku bisa menanggungnya. Tapi yang tidak bisa kujamin adalah jika aku tiada sebelum ayah kembali. Siapa yang akan menjaga Kekaisaran ini? Orang-orang busuk itu? Mereka pasti akan mengorbankan rakyatnya untuk menyelamatkan nyawa sendiri."


"Sepertinya aku juga harus mengikuti semangatmu," ujar Xin Chen kecil. Xin Zhan mencibir.


"Kau tidak akan bisa mengikuti semangat ini. Disuruh latihan saja malasnya setengah mati."


Xin Chen jadi teringat dengan masa lalunya. Memang di antara semua murid di Lembah Kabut Putih dirinya yang paling malas berlatih pedang.


"Si yang paling bersemangat sampai putus asa dan mengirimkan surat pada si orang malas untuk meminta bantuan. Tidak masuk akal."

__ADS_1


Terdengar decakan kesal di sebelahnya, Xin Zhan tidak mau lagi membalas ejekan adiknya yang memang suka menjawab itu. Terjadi hening selama beberapa saat.


"Kau mempunyai cara agar bisa masuk ke dalam?"


"Aku baru saja keluar dari Kekaisaran Qing."


"Ck, anak ini. Jangan memancing kemarahanku."


"Kau sedang mengancamku?"


Xin Zhan ingin sekali mencakar wajah adiknya. Demi menghindari pertikaian tidak penting dia segera mengatakan dengan jelas. "Aku tidak bisa masuk ke sana. Kalau kau saja mungkin bisa."


"Awal fajar nanti. Mereka akan bergantian berjaga. Di saat itu kita baru bisa bergerak."


Masih ada waktu beberapa jam lagi, Ye Long memunculkan diri. Dia langsung memakan api unggun tanpa ampun.


"Kadal rakus ini. Kalau kau matikan apinya akan ada satu orang yang kedinginan di sini."


"Ngah?" Ye Long yang sedang menggigit kayu-kayu berapi itu dibuat tercengang. Dia menyadari seseorang duduk di sebelah Xin Chen dengan muka yang tidak bersahabat.


"Majingan pandai membelah diri rupanya. Hebat juga."


Ye Long bergerak mencari mangsa di sekitar hutan.


"Kita baru bertemu beberapa waktu lalu. Kau memang tidak mengingatku?" Xin Zhan bersuara, membuat Ye Long menoleh. Dia menoleh ke arah Xin Chen. "Dan berhenti menyebutku orang yang kedinginan."


Ye Long baru teringat dengan orang yang ditemuinya di Kota Fanlu. Hanya saja dia tidak begitu mengingat wajahnya. Dia justru teringat dengan gambaran Xin Chen di pasir. Ada satu orang yang tingginya hampir sama seperti Xin Chen.


"Kalian bersaudara?"


Xin Zhan mengiyakan. Naga itu mengambil beberapa kayu dari hutan dan membakarnya di tengah-tengah Xin Chen dan Xin Zhan. Dia ikut duduk melingkari api unggun itu.

__ADS_1


Mereka sibuk berbicara hingga waktunya tiba. Xin Chen segera berdiri disusul Ye Long dan Xin Zhan. Sebelumnya adiknya itu tdiak menjelaskan dari mana mereka akan masuk. Dan Xin Zhan baru mengerti mengapa Ye Long memunculkan diri.


__ADS_2