
"Kau dan anakmu rupanya sama-sama banyak protes. Padahal di depanmu sedang ada marabahaya masih sempat-sempatnya mengajak bicara."
Xin Fai mengunci mulutnya rapat-rapat, enggan berdebat dengan Rubah Petir lagi. Memang semakin tua dirinya sulit menghindar dari omongan pedas seperti itu, mungkin karena belakangan si mulut silet itu tak bersamanya kemampuan ilmu silat lidahnya juga menurun.
"Anakku, dia mengorbankan dirinya pada roh penghuni Kitab Pengendali Roh."
"Apa katamu?" Karena terlalu fokus dengan pertarungannya sendiri Rubah Petir sampai mengabaikan Xin Chen, dia kaget tak main-main. Sangat lama dia terkejut dan Xin Fai tak kunjung meneruskan kalimatnya, sama tak terimanya dengan Rubah Petir.
"Kau tahu apa arti kontrak dengan roh bukan?"
Rubah memastikan dengan kekhawatiran yang tak kunjung menghilang dari wajahnya, "Saat suatu kontrak telah didirikan maka kedudukannya sangat kukuh seperti gunung yang menancap di bumi, ketika kau melanggar isi kontrak maka kau pantas mendapatkan hukuman dari langit. Mati. Kurasa tak perlu kuberitahu hal itu lagi padamu."
"Aku sudah mengetahuinya, dan semua itu terjadi begitu saja. Aku tak mengetahui bagaimana dia seperti itu. Seolah semua beban itu berada di pundaknya, dan kewajibannya adalah mengalahkan musuh di sini..."
Rubah Petir tak bisa menyalahinya, beban itu dipikul oleh anak berumur sepertinya. Dia didewasakan oleh masalah yang datang padanya, segala tanggung jawab terhadap kedamaian dunia ini. Rubah Petir menyadari hal itu membuatnya tertekan begitu dalam. Sampai melakukan segala cara seperti ini.
"Aku tak mengerti perasaannya, mungkin akulah yang gagal menjadi gurunya."
Pembicaraan hanya sampai di situ, Naga Kegelapan kembali menyerang Rubah Petir dan bersiap meledakkan satu kota dengan Api Keabadiannya. Guncangan hebat itu membuat para pendekar panik, api berukuran besar berkumpul di mulut naga tersebut. Shui berusaha menghentikannya tapi Naga Kegelapan berpindah cepat.
Naga Kegelapan berada tepat di atas mereka, semburan api menguasai segala tempat. Rubah Petir menggunakan cakarnya untuk menahan api tersebut, para pendekar terus berkurang. Tak satupun dari mereka selamat setelah terkena semburan Api Keabadian. Bahkan bersisa saja tidak.
Rubah Petir mendengus kecil, dia menatap xin fai sebelum berbicara tenang seperti biasanya.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi ke depannya, jangan pernah menyesali itu. maaf, karena mungkin setelah ini aku tak bisa lagi berdiri di belakangmu. Seluruh kekuatanku telah hampir habis. Dan terima kasih telah menolongku hari itu. Hanya itu saja."
Tak berapa lama Rubah petir mengeluarkan sisa-sisa kekuatannya, langit mengaung menimbulkan bunyi berderum yang menakutkan. Tepat setelahnya sentakan petir yang tidak biasa menyambar Naga Kegelapan. Untuk yang pertama kalinya naga itu menjerit kesakitan, suaranya tenggelam oleh bunyi bumi yang seolah sedang mengamuk.
Xin Fai tak menyia-nyiakan kesempatan itu sama sekali. Pedang Manusia Iblis dan pedang Kaisar Langit yang telah menyatu di tangannya kini berayun ringan membelah kepala naga itu. Seolah-olah badai yang jauh lebih besar datang.
Pusaran angin yang melintasi kawah gunung di dekitar Kota Renwu berputar hebat membuat sekumpulan debu beterbangan menutupi pandangan.
Di tengah suasana kacau itu Naga Kegelapan tak pernah menyadari Rubah Petir sudah memasuki perubahan wujud Siluman Penguasa Bumi. Wujud terakhir yang hanya dimiliki siluman kuat terpilih sepertinya, dan Naga Kegelapan sendiri tak memiliki keistimewaan tersebut-lebih tepatnya dia melepaskan diri sebagai SIluman Penguasa Bumi dan kehilangan kekuatan aslinya sebagai mahkluk terkuat.
Naga itu mengaung hebat, memperlihatkan taringnya yang tajam-tajam dan melibaskan ekor kokohnya kepada Rubah Petir.
Tak disangka justru Rubah Petir menangkap ekornya dan membanting tubuh Naga Kegelapan, air laut naik saat guncangan dahsyat itu seolah mengoyak langit.
" Asal kau tahu, aku pernah bertarung dengan Siluman Penguasa Bumi nomor satu. Dan aku mempersiapkan diriku selama ratusan ribu tahun untuk bisa menghadapinya." bisiknya, kilau perak matanya yang indah kian menyempit, menampilkan kebengisan di tiap tarikan senyumnya.
Naga Kegelapan menjadi berang, tak kuasa menahan luapan amarah dia kembali membakar apapun yang berada di sekitarnya.
Wujud terakhir dari Rubah Petir, layaknya seekor ubah dalam jubah zirah. Lapisan-lapisan cahaya yang tak tertembus pedang meindungi setiap bagian tubuhnya. Dan juga di sekitar tubuh siluman itu berjajar penuh cabang-cabang petir yang begitu menyiksa.
Kungkungan petir yang tebalnya melebihi tembok istana Kaisar, begitu tinggi hingga nyaris menjarah seisi langit dan juga aliran kekuatan yang amat menakjubkan mengurung baik Rubah Petir maupun Naga Kegelapan di dalamnya.
Penjara itu makin lama makin mengecil, Rubah Petir mencekik leher Naga itu hingga beberapa lapis kulit krasnya berbunyi gemeretak. Tak membiarkan hal itu terjadi Naga kegelapan mencoba melepaskan diri tetapi sayangnya kekuatan Rubah Petir kali ini jauh lebih besar dibandingkannya.
__ADS_1
Tetapi tampaknya hal itu tak berlangsung lama hingga perlahan naga kegelapan dapat merasakan cengkraman di lehernya mengendur. Rubah Petir berada di titik penentuan; antara dirinya yang mati di tangan Naga Kegelapan setelah kehabisan semua kekuatan atau lawannya itu akan mati lebih dahulu di dalam kungkungan ini.
Prediksi yang disimpulkannya sendiri membuat Rubah Petir mendecih tipis, jelas saja dia akan kalah melawan Naga Kegelapan.
Naga Kegelapan berniat meledakkan api biru di depn muka Rubah sebelum Shui datang, menyemburkan air dalam kecepatan tinggi. Air itu bergerak melesat membelah udara, hingga sampai di mata Naga Kegelapan air itu terasa seperti pisau yang mengiris pupil matanya.
Shui mengikatnya tanpa ampun, dia berteriak nyaring.
"Lang!"
Serigala buas itu muncuk dengan gagah berani, bulunya yang masih indah bergerak saat kakinya mendarat di antara mayat-mayat manusia. Dia mengangkat kepalanya, "Pada akhirnya kau tetap membutuhkanku, bocah bodoh."
Xin Fai menggaruk tengkuknya ngeri tatkala pandangan suram ditujukan ke arahnya. Lang, yang belakangan ini mendapatkan luka akibat misi yang beberapa bulan lalu dia berikan terpaksa menghentikan pengembaraannya.
Luka di tubuh Lang dikatakan memang takkan pernah sembuh lagi, hal itu membuat Lang merasa tak berguna selain dipertugaskan dalam misi penyusupan atau pengintaian.
"Bersiap untuk membuat Mantra Api!"
Xin Fai mengangguk sepakat, Shui melepaskan muntahan kekuatannya berupa gelombang air yang langsung menyapu daratan dan mayat-mayat. Kungkungan petir melemah dan akhirnya rusak oleh gelombang tersebut. Shui bertarung kembali melawan Naga Kegelapan semampunya.
Di tengah-tengah pertarungan sengit itu Xin Fai muncul di balik kepulan asap, melepaskan tendangan yang sangat amat kuat yang menghantam telak Naga Kegelapan. Tak main-main, hal itu membuat jantung siapa pun seolah berhenti berfungsi. Tubuhnya yang bahkan tak sebanding satu persen pun dengan Naga Kegelapan berhasil membanting tubuh yang hampir melingkupi Kota Renwu itu.
Lang mengaktifkan mantra api. Dia masih begitu ingat pertempurannya melawan Naga Es baik dengan Xin Fai maupun dengan Qiang Jun. Mau dibandingkan dari segi mana pun pertarungan melawan Naga Es tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pertarungan melawan Naga Kegelapan.
__ADS_1