
Seperti yang dikatakan pemuda itu YuangXe telah berubah menjadi medan tempur yang seolah-olah tak ada habisnya, dimulai dari beberapa bulan semenjak rumor Armor Dewa Perang terdengar hingga saat ini tanah tersebut menjadi buruan para pendekar dari seluruh penjuru. Kekaisaran Shang mengalami dampak cukup besar dengan banyaknya kedatangan orang-orang asing. Mereka juga menimbulkan kejahatan-kejahatan baru hingga para penjaga setempat tak sempat mengurusi satu per satu.
Hancurnya segala benteng dan pertahanan di tempat itu menjadi pertanda bahwa YuangXe telah menyerah di bawah kaki musuh yang terus menerus berdatangan. Xin Chen sendiri tak yakin jika Kota Renwu yang dulu masih bisa bertahan jika berada di situasi yang sama seperti YuangXe. Tidak ada yang membantu mereka selain diri mereka sendiri.
Wanita-wanita tergeletak sekarat, beberapa dibawa di atas pundak para pendekar asing. Sementara itu para lelaki dibuat mati mengenaskan, kebakaran di sana telah membakar hampir seluruhnya tanah YuangXe.
"Ini terjadi begitu cepat. Aku baru meninggalkan YuangXe Beberapa hari."
"Ada beberapa dari mereka yang memang menunggu saat ini tiba. Dengan tidak adanya pemimpin semangat bertarung kami merosot ke titik terbawah. Tidak ada yang mau bertahan, mereka semua takut. Sebegitu pentingnya pemimpin bagi kami ..."
Ye Long memelankan laju sayapnya, melihat dari bawah di mana kobaran api tengah menunggu mereka. Angin panas berhembus bersama bau darah yang terus berjatuhan di YuangXe.
"Selagi aku pergi cari ke mana pencuri kitab itu, Ye Long."
"Rrarrgh, jangan lupa dengan makanku. aku belum makan hampir satu minggu."
Pemuda YuangXe menunjuk dirinya kebingungan. "Lalu denganku?"
"Kau mau turun atau melompat dalam api itu terserah. Tapi kalau mau mencari ke mana adikmu itu silakan. Naga itu juga tidak ada kerjaan. Temui aku besok malam di sini."
*
"Oh, lihat, lihat!" Seseorang berseru kencang, melihat sekelebat bayangan aneh di atas langit. Dia tampak begitu terkejut. "Ada seekor naga!"
"Naga, katamu? Mana?!"
Sayangnya saat yang lain melihat ke atas tak ada apa pun yang mereka temukan di sana. Detik itu semua orang menatap anak buah berpangkat paling rendah itu dengan wajah hendak memaki. "Kau paling tahu bagaimana cara mempersingkat hidupmu."
__ADS_1
"Tidak, aku benar-benar melihatnya! Itu-!?"
Seketika lehernya terputus, semburan darah mencuat seperti air mancur, membuat puluhan laki-laki yang berada di dekatnya mundur serempak. Bayangan hitam yang sebelumnya mendarat di atas mereka kini telah berdiri. Samar-samar terdengar suara rendah yang membuat lutut mereka lemas.
"Para pecundang, hanya berani main di belakangku?"
Tak ada yang sanggup bergerak atau berpikir melarikan diri, sebagai kelompok lemah yang hanya mencari harta dari mayat-mayat yang sudah mati, mereka selalu menghindari Peperangan. Lalu datang untuk mencari harta dari mayat yang sudah dikerubungi lalat. Seperti burung pemakan bangkai. Hanya saja kali ini mereka tahu incaran mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi, terlalu banyak musuh yang datang hingga YuangXe menjadi sehancur ini.
"Siapa kau?"
"Apa pentingnya siapa aku?"
"Ja-jangan bilang dia orang yang sudah membunuh Hantu dari YuangXe dan Pembasmi Roh Yuhao." Salah satu berbisik pada temannya, tapi ketika dia menoleh ke samping hanya ada sebuah tubuh tanpa kepala, darah dari bagian leher yang terpotong membasahi baju lelaki itu.
"Akan lebih baik kalau kalian semua ke neraka, tapi neraka saja enggan menerima manusia seperti kalian."
Di dalam gelapnya malam, senyum iblis terkembang sempurna di bibirnya. "Aku undang kalian ke neraka ku. Menjadi prajurit-prajurit roh yang akan menangis darah hanya untuk dilempar ke liang kubur. Mau mencobanya?"
Saat semuanya berlari hanya ada satu laki-laki yang berdiri gemetaran, dia memegang rantai di tangan sembari tatapannya yang terus mengarah pada Xin Chen. Takut jika berkedip satu kali saja lehernya akan bernasib sama dengan temannya yang sudah tewas.
"Kau menerima undangannya? Selamat. Kau menjadi yang pertama di sini."
Lututnya semakin terlihat bergetar, namun wajahnya yang tegas memperlihatkan nyali laki-laki itu jauh lebih baik dari pada teman-temannya.
"Aku tahu kau memiliki benda itu! Serahkan padaku jika mau hidup!"
"Aku orang yang sulit mati, asal kau tahu."
__ADS_1
Langkah sosok dalam kegelapan itu kian mendekat, membuat pendekar itu tanpa sadar mundur. Dia mengeratkan pegangannya pada senjata, menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan serangan.
Saat dia berlari cepat, pemuda itu tak menghindar sedikit pun. Dia tersenyum penuh kemenangan, mengeluarkan senjata rahasia di balik bajunya. Menancapkan belati kecil ke jantung Xin Chen.
Matanya melebar, tengkuk laki-laki itu seketika dingin seperti disirami air es. Dia menggerakkan kepalanya ke samping, melihat jelas wajah tersebut masih ada di dekatnya.
Belati itu tembus di tubuh yang terlihat sangat nyata itu. Bukannya membuat musuh mati, justru saat ini perutnya yang bocor. Pedang telah menembus tubuhnya, Xin Chen tak serta-merta melepas, dia mengalirkan serangan petir pada tubuh tersebut hingga lawannya mati mengenaskan.
Ditatapnya pedang tersebut, rusak akibat kekuatan petir yang dulunya diberikan sang rubah. Tiba-tiba saja rasa sedih itu kembali, Xin Chen berusaha untuk menepisnya berulang kali. Mulai berpikir untuk menghapuskan segala emosi dalam dirinya. Jika hal seperti itu saja dapat mengganggunya maka tujuan menyatukan Tiga Kekaisaran hanya angan belaka.
Dari arah samping seseorang hendak menusuknya tepat di bagian wajah.
Xin Chen tahu akan kehadiran itu, lagipula dia tak akan terkena jika memakai tubuh roh. Namun ketidakpeduliannya itu membuat identitasnya terungkap, Xiu Qiaofeng menatap tak percaya ketika wajah itu menoleh ke samping. Dia menjatuhkan senjata tanpa sadar kemudian mundur.
Rasa terkejut di wajahnya itu seperti orang yang baru saja melihat hantu. Tujuh tahun ini, keluarga Xiu terus mengatakan bahwa sosok yang berdiri di depannya ini sudah mati. Tak ada yang percaya ada manusia yang selamat dari Api di Kota Renwu. Termasuk Xiu Juan sendiri.
Xiu Qiaofeng tak percaya sosok yang selalu dianggap sebagai rival itu masih mengembuskan napas. Ada rasa lega dan bahagia saat melihat orang itu seperti dugaannya.
Sementara Xin Chen memasang wajah kesal. Tanpa menjelaskan apa-apa dia pergi.
"Tu-tunggu!"
"Kenapa kalian membuang dan juga menyerang mereka?"
"Apa katamu? Tidak. Jelaskan dulu, kau masih hidup?"
"Lalu?"
__ADS_1
Xiu Qiaofeng tak terbiasa dengan tanggapan itu, dia yakin Xin Chen yang dulu berbeda dengan sosok yang berdiri di depannya sekarang.
"Baiklah aku jawab. Setelah itu kau jawab pertanyaanku. Oke?" Melihat tak ada tanggapan Xiu Qiaofeng tak berpikir panjang, dia segera melanjutkan.