
Esok harinya berjalan begitu lama, pembelakalan, persiapan dan uji ketahanan dilakukan berurutan. Wei Feng sudah bertanya berkali-kali pada orang yang berjaga di markas pusat dan mereka mengatakan bahwa tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini.
Satu hari ini Xin Chen nyaris tidak mengatakan sepatah kata pun dan hanya bisa menatap dinding tinggi markas pusat yang harus dilaluinya agar bisa keluar dari tempat ini. Baik Wei Feng dan Yu Xiong juga tidak tega melihatnya seperti itu. Tapi dengan keluar di tempat ini, Xin Chen pasti akan langsung ketahuan. Mereka kembali diistirahatkan di kamar masing-masing setelah menjalani beberapa tes dan uji kemampuan.
Wei Feng merangkul pundaknya, dia menghela napas berat. "Jika kau benar-benar mengkhawatirkan ibumu maka pergilah. Aku akan mencari cara agar kepergianmu tidak diketahui oleh prajurit yang berjaga."
"Aku tidak yakin cara itu bisa."
"Lalu kau mempunyai cara lain?"
Xin Chen terdiam. Untuk ketiga kalinya Wei Feng mendecak, dia juga dibuat frustrasi oleh permasalahan ini.
"Empat hari. Pemeriksaan dan pendataan ulang akan dilakukan empat hari lagi. Jika kau tidak kembali maka tamat sudah riwayatku. Selebihnya serahkan padaku."
Yu Xiong ikut menimbrungi. "Aku juga akan membantu Kak Wei untuk menyembunyikan kepergianmu. Pergilah, kami akan menjaga misi ini tetap berjalan meskipun kau tidak di sini."
Walau seperti tidak mungkin tetapi Wei Feng dan Yu Xiong mengatakannya begitu percaya diri. Xin Chen tahu cara ini sangat berbahaya, tapi dia juga tidak mempunyai cara lain demi menyusul Xin Zhan untuk menyelematkan Ren Yuan.
"Aku mengerti."
Wei Feng mengeluarkan gulungan kertas yang berhasil dicurinya dari ruangan adminstrasi yang sudah tidak terpakai lagi siang tadi. Dia yakin setidaknya dengan peta dasar markas pusat Xin Chen tahu apa yang harus diperbuatnya.
__ADS_1
Ketiganya sama-sama penasaran dengan isi gulungan itu. Beberapa bagian telah dimakan rayap dan lusuh oleh tumpahan air.
"Kemungkinan peta ini sudah sangat lama. Struktur bangunan dan susunan markas bisa saja berubah."
"Tapi lihatlah, setidaknya di bagian gerbang sampai ke halaman itu masih tetap sama, bukan?" Wei Feng menunjuk gambar yang diyakininya sebagai halaman depan. Terlihat dari bentuk menara tinggi yang berada di tengah-tengah dan berseberangan langsung dengan halaman luas tersebut.
Xin Chen mengangguk kecil, dia beralih ke bagian timur di mana terdapat sebuah terowongan kecil. Terdapat beberapa kode dan sebutan yang tidak mereka pahami, Xin Chen memperhatikan lebih jelas terowongan tersebut. Mungkin letaknya hampir berdekatan dengan tempat yang mereka tinggali saat ini.
"Apa? Kau berniat lewat dari sana?" tanya Wei Feng penasaran. Di sisi lain dia ragu terowongan itu masih berfungsi atau tidak, karena bisa saja terowongan itu dihancurkan. Andai pun masih ada, resiko melewati tempat sempit seperti itu jauh lebih besar.
"Jangan." Yu Xiong menarik tangan keduanya dari peta itu, dia mengambil kertas tersebut dan merobek-robeknya hingga koyak. "Kak Wei, kau tidak lihat orang-orang yang menggunakan pakaian serba tertutup tadi? Mereka memiliki kekuatan yang sama seperti Kak Chen," cekal Yu Xiong berusaha menjelaskan. Meskipun tak terima peta itu dikoyak, Wei Feng berusaha untuk mendengar.
Saat mereka berpencar di tempat yang berbeda, kebetulan saat itu Yu Xiong dan Wei Feng bersebelahan. Mereka melihat sekelompok orang dengan pakaian serba hitam dan juga beberapa manik-manik di gantungkan di leher tengah melewati bangunan kedutaan. Yu Xiong memperhatikan mereka terus-menerus, membuat salah satunya sadar dan langsung menyerang Yu Xiong di tempat.
"Ku kira kau sedang sakit. Lagipula mereka tidak membawa hawa-hawa yang mencurigakan."
"Kak Chen bahkan bisa menyembunyikan seluruh kekuatannya tanpa ketahuan." Mendengar bantahan Yu Xiong, Wei Feng mengangguk meskipun air mukanya berubah gelisah.
"Jika cara ini saja tidak bisa dipakai aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Kau harus keluar dari sini sebelum empat hari mendatang."
"Aku minta maaf, Kak Chen. Aku hanya takut saat kau memaksa keluar dengan kekuatan itu mereka akan mengejarmu. Andai aku punya sesuatu untuk membantumu." Yu Xiong menyesali ketidakberdayaannya.
__ADS_1
"Aku akan mencari jalan lain."
Mereka dipanggil keluar oleh prajurit atasan, Xin Chen mengatakan dirinya tidak ikut. Wei Feng memakluminya dan akan mengatakan pada atasan bahwa Xin Chen sedang sakit. Di ruangan itu hanya tersisa dirinya sendirian menatap dinding putih kokoh yang membentengi markas pusat kemiliteran. Pandangannya terpaku pada tempat ini. Seperti tidak ada jalan keluar untuk kabur dari sana.
Kabur tanpa menggunakan kekuatan roh rasanya sangat tidak mungkin. Seperti yang pernah dikatakan Yu Xiong, jumlah prajurit di tempat ini lebih dari angka tiga ratus ribu. Angka yang sangat-sangat besar jumlahnya itu ditampung di tempat ini sekaligus.
Kini matanya beralih ke tempat di mana dirinya melihat Kaisar Yin. Laki-laki itu pasti sudah pergi dari markas ini. Xin Chen termenung cukup lama. Hanya saja matanya terus memperhatikan menara yang bahkan lebih tinggi dari dinding yang melingkari tempat ini. Dari puncak menara itu seharusnya tidak ada yang bisa melihatnya. Hanya saja cara untuk kabur dia belum bisa menemukannya.
Semua cara yang tersusun di kepalanya hanya berakhir buntu. Ada beberapa jalan yang bisa dilaluinya. Tapi di sepanjang jalan itu dijaga ketat oleh prajurit kelas teratas. Mereka bertugas menyambut tamu dan memeriksa siapa pun yang masuk ke dalam markas. Xin Chen curiga di tempat ini mungkin juga dilengkapi dengan mantra milik Yuhao. Jika benar demikian maka pilihan itu lebih gawat dari melewati jalan terowongan.
Dalam beberapa saat Xin Chen hanya bisa membuang napas panjang. Dia sudah memikirkan semua cara satu hari ini dan dari semuanya, kemungkinan penyusupannya terbongkar sangatlah tinggi. Ditatapnya langit malam yang semakin pekat. Hanya terlihat puncak menara yang menjulang tinggi. Gema dari suara lonceng membawa kembali kesadarannya. Satu jam berlalu begitu saja ketika dia sibuk berpikir. Xin Chen bangun dari tempat duduknya. Melihat keluar jendela agar bisa melihat lebih jelas menara tersebut.
"Hanya cicak gila yang bisa memanjat menara setinggi itu. Tidak mungkin."
"Rarrghh! Ini sudah berapa tahun, perutku sampai berjamur menunggu makanan datang!"
Geraman Ye Long membuatnya tertegun. Naga itu menggigit kayu di sekitarnya, sementara ekornya melibas ke segala arah. Dalam tiga detik saja naga itu berhasil membuat kamar seperti digulung angin topan.
"Bicara soal cicak sepertinya aku memiliki satu peliharaan yang memang mirip dengan cicak."
Ye Long mengangkat kepala. Mulutnya masih dipenuhi oleh kayu. Dia mundur ketakutan saat melihat wajah di depannya.
__ADS_1
"Majingan, kau tidak berpikir untuk menyuruhku memanjat menara itu, bukan?"
"Untuk inilah sayap dan kakimu diciptakan."