
Menghilangnya Lembar Ketiga seolah-olah membuat langit di atas sana runtuh, pria bertopeng gagak itu mematung seakan-akan kakinya sudah tertancap di bumi. Dia bergeming untuk beberapa saat, tak mengatakan apa-apa. Dirinya terlalu terkejut untuk sekedar berteriak atau pun bergerak.
"Apa yang baru saja kau lakukan, bajingan?!!" Suara itu menggelegar sangat kuat, teriakannya tak habis sampai di situ, laki-laki tersebut kembali berteriak. "Manusia hina! Dengan semudah itu kau melenyapkan pusaka berharga itu?"
"Berharga, katamu? Kalau sudah jatuh ke tanganmu, benda itu tak lebih dari seonggok sampah yang membawa penyakit." Xin Chen tertawa dalam hati, kini wujudnya kembali menghilang di balik-balik pepohonan. Tak berlangsung lama tawanya menggelegak hingga membuat kuping laki-laki itu memanas, seperti menertawainya dalam kemenangan paling hebat.
Meskipun amarahnya tak kunjung redam, pria itu, seperti biasa masih bisa tertawa bahkan di waktu-waktu sulitnya. Mulutnya terbuka, mengeluarkan nada sombong setelahnya.
"Lalu kau pikir, dengan memusnahkan pusaka itu kau dapat mengalahkan ku? Sadar dirilah akan posisimu, sampah. Kau tak lebih dari seekor kelinci yang berhadapan dengan seekor beruang."
Xin Chen telah menghilang di antara udara-udara perang, tumpukan mayat atau reruntuhan bangunan. Dia tak menunjukkan keberadaannya sama sekali, kecuali dengan suaranya yang terus terdengar. Entah dari mana asalnya.
"Aku tak pernah berpikir bisa mengalahkanmu, pak tua jelek." Xin Chen menahan kalimatnya, di balik bayang-bayang tersebut dia menarik senyum bengis. "Tapi untuk urusan membunuhmu, kupastikan seribu persen aku akan melakukannya."
"Kita lihat saja, apa kau berhasil menghentikannya atau tidak ...."
Pria bertopeng gagak mengibaskan lengan jubahnya, lalu menghilang dari pandangan. Hanya Ratu Iblis dan tiga iblis ciptaannya tersisa. Tapi tampaknya keempat mahkluk itu sangatlah kuat. Xin Chen tak yakin dengan dirinya sendiri, terlebih lagi setelah mengukur seberapa besar kekuatan sang wanita iblis itu. Dia bukan tandingannya Han Zilong, apalagi Han Wu. Mungkin jika berhadapan dengan Ayahnya, kesempatan menang sangatlah kecil.
Sepuluh tahun lalu, saat kebangkitan Ratu Iblis satu-satunya yang menyelamatkan mereka dari kemalangan tersebut adalah kenyataan bahwa Raja Iblis dapat menenangkan si Ratu Iblis, yang memiliki kekuatan langka. Ancaman terbesar bagi manusia. Xin Chen pernah mendengar kisah pertempuran ini dari para prajurit dan orang-orang tua pensiunan yang tak lagi turun ke medan perang.
__ADS_1
Mereka mengatakan, hari itu bahkan jauh lebih mengerikan dari mana pun. Ratusan ribu orang mati dalam beberapa hari, dan hari ini Xin Chen dihadapkan pada perang yang dia dengarkan dari orang-orang tua tersebut. Rasanya seperti mimpi, mimpi buruk yang takkan ingin dilihatnya seumur hidup.
Xin Chen memberanikan diri untuk menyerang Ratu Iblis, dia mengandalkan segala kekuatannya untuk bisa menembus pertahanan musuh tersebut.
Tak disangka-sangka sebuah dinding besar muncul di belakangnya. Dari benda itu ratusan panah berkekuatan roh menyerbunya.
"Lawan terbaik untukmu adalah temanmu sendiri, manusia."
Xin Chen baru menyadarinya, kekuatan roh dari Kitab Pengendali Roh terhisap dalam tangan Ratu Iblis. Dia segera menghindar dari segala serangan, tiga di antaranya berhasil mengenainya telak. Belum-belum panah itu telah meledakkan api, perubahan kekuatan yang begitu cepat itu membuat Xin Chen kewalahan. Tahu begini lebih baik dia menyusun rencana sebelum menyerang sang Ratu Iblis.
Mau menyesal pun tak ada gunanya, kini Ratu Iblis berhasil memerangkapnya dalam pusaran para roh, dia masih terus menciptakan kekuatan asing yang membuat Xin Chen gelisah tak main-main. Wujud roh yang dimiliki Ratu Iblis satu-satunya yang dapat melukainya.
"Kenapa? Kau mulai terlihat takut? Baru melihat bagaimana dunia yang sebenarnya, bocah kecil?"
Tidak seperti biasanya, kali ini Xin Chen tak bisa menyahut. Senyum di bibirnya membeku, tatapannya terlihat getir. Tampak di wajahnya keputusasaan. Tak biasanya dia merasa sekalah ini, hanya dengan bertarung beberapa menit dia tahu benar perbedaan kekuatan mereka layaknya langit dan bumi.
Penciptaan dan penghapusan adalah kekuatan paling terkutuk di dunia, hal itu takkan pernah dibantahnya lagi seperti saat dirinya mendengar kisah-kisah di luar nalar itu dari mulut para orang tua.
Terlalu larut dalam strategi yang dibuatnya sendiri, sampai Xin Chen tak sadar Lan An sedang bertarung dengan Ratu Iblis, berulang kali tubuhnya terpental menghancurkan puing-puing kayu. Iblis itu masih setia menghabisinya, kekuatan seperti itu memang takkan sebanding dengan kekuatan manusia biasa.
__ADS_1
Tak membiarkan Ratu Iblis berbuat lebih jauh, Xin Chen memasuki pertarungan. Memecahkan perhatian Ratu Iblis itu dan mengacaukan serangan yang dia tujukan pada Lan An.
Ratu Iblis tertawa-tawa bengis, menganggap pertarungan ini layaknya permainan yang menyenangkan. Dia dengan mudahnya melepaskan kekuatan besar, membuat tanah tempat mereka berpijak longsor ke dalam.
Sementara Rubah Petir tak membiarkan hal itu begitu saja, menyadari muridnya sama-sama dalam posisi sulit, Rubah Petir mengalihkan perhatian Ratu Iblis tersebut.
Monster berkekuatan dahsyat itu kini beralih menyerang Rubah Petir, Xin Chen terluka banyak. Meskipun dapat menyembuhkannya, wujud roh yang dia miliki tetap rusak. Sama halnya dengan tubuh manusia, hanya saja dia tidak mengeluarkan darah.
Tak disangka Rubah Petir dapat bertarung seri melawan wanita monster tersebut, mereka sama kuatnya. Hanya saja ketika Ratu Iblis terkena imbas serangan Rubah Petir, dia segera melepaskan kemampuan penghapusannya untuk menghilangkan luka di tubuhnya.
Rubah Petir memuntahkan darah, dia mencapai batasnya. Melihat Rubah Petir mulai mundur dan tak ada yang berinisiatif untuk maju kembali, Ratu Iblis kembali mengeluarkan tawa yang berapi-api.
Xin Chen mengamati wanita iblis itu seksama, hasrat membunuhnya melebihi batas wajar. Dia berbeda dari Han Wu, Han Zilong dan Qiang Jun. Wanita Iblis itu seolah-olah memiliki kesadaran penuh atas dirinya sendiri, meskipun Lembar Ketiga sudah musnah tapi tampaknya hal itu malah berdampak buruk. Ratu Iblis yang di hadapannya ini begitu leluasa, sorot matanya yang kejam sekaligus bengis layaknya jarum beracun yang mematikan.
Di waktu yang sama Xin Chen mengingat kembali, laki-laki bertopeng itu tak mengatakan sesuatu seperti boneka atau pertunjukan lagi. Dia hanya mengatakan 'menghentikan' iblis itu.
"Sudah ku duga, rencana pak tua jelek itu sudah kacau." Xin Chen mengusap wajahnya gusar. "Dan yang mengacaukannya adalah aku."
Pertama kalinya dalam hidup Xin Chen benar-benar menyesali tindakannya, melenyapkan Lembar Ketiga ibarat menghancurkan dinding yang mengendalikan Ratu Iblis. Jika lawannya adalah pikiran pria bertopeng itu, mungkin Xin Chen bisa memutar otaknya sedikit.
__ADS_1
Tapi jika lawan aslinya adalah Ratu Iblis yang telah menguasai kekuatannya sejak lahir, tak perlu memperkirakan lagi, dia pasti kalah jauh dari iblis tersebut.