Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 84 - Kincir Angin


__ADS_3

Xin Chen menerima surat yang diberikan oleh Xiu Juan ragu-ragu, sembari itu tatapannya tetap tak berpaling dari Youji. “Aku akan membaca surat ini nanti, sebelum itu aku akan sangat berterimakasih jika kau mau mengambil tanggung jawab untuk mengurus murid-murid dari sekte Gunung Tawon Emas.”


"Tentu saja, itu sudah menjadi tanggung jawab kami."


Xin Chen menyimpan surat tersebut di dalam sakunya dan berjalan menuju Jin Youji.


Saat jarak di antara keduanya sudah cukup dekat, Xin Chen mengeluarkan suara. Berbicara kepada Youji. “Aku rasa impian untuk bertarung melawan musuh klanmu masih bisa dicapai.”


Youji mengangkat kepalanya perlahan.


“Sungguh? Atau kau hanya ingin menghiburku saja? Chen, tentu saja dengan sebelah tangan aku masih bisa tetap hidup tapi keadaannya sudah tak sama lagi seperti dulu.”


Xin Chen tertawa kecil memperlihatkan senyumnya yang khas, “Kalau begitu tunggulah hingga esok pagi.”


Jin Youji masih tak mengerti dengan apa yang Xin Chen katakan tapi mau bagaimana lagi yang bisa dilakukannya sekarang adalah menurut. Tidak ada daya lagi untuk berceloteh atau sekedar bertanya maksud perkataan tersebut.


Sementara itu di belakang Xin Chen para warga mulai ribut sendiri atas penyerangan yang baru saja datang ke desa mereka, menanggapi keributan tersebut akhirnya Xiu Juan buka suara.


"Tenanglah, tidak ada yang perlu dikawatirkan lagi. Desa ini sudah aman."


"Bagaimana kami bisa tenang, apalagi melihat luka Xin Chen separah itu..." seorang nenek uzur menunjuk Xin Chen takut. Tak berani meneruskan kalimatnya.


“Jika kalian belum tahu, yang baru saja menyerang desa ini adalah Zhang Ziyi si Pengenali Roh. Mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang mendengar namanya karena memang pria itu sudah menjadi buronan semenjak maraknya pembunuhan massal yang terjadi belakangan," terang Xiu Juan.


"Pembunuh tanpa tubuh ini tak sama seperti musuh yang biasa kita lihat di Kekaisaran Shang. Level kekuatannya juga lebih tinggi dibandingkan kita.” Xiu Juan memberikan sedikit jeda untuk melihat respon warga-warga sekitar dan memang benar beberapa dari mereka yang berasal dari Kekaisaran Wei dan Qing pasti pernah mendengar julukan tersebut.


Sebagai salah satu pendekar aliran hitam yang telah memasuki level tertinggi kepala Zhang Ziyi bahkan dihargai dengan nilai jutaan keping emas oleh Kaisar Qing. Bukan tanpa alasan, pendekar ini kerap kali mengganggu wilayah teritorial Kekaisaran lain. Jumlah bunuhannya dalam sekali bertindak juga sangat banyak.


Di Kekaisaran Shang, hanya dengan dirinya sendiri Zhang Ziyi berhasil melumpuhkan ekonomi perdagangan dengan membinasakan desa-desa yang memproduksi banyak bahan pokok.


Oleh sebab itu juga Xiu Juan begitu panik saat Wei Feng menyebutkan bahwa Xin Chen sedang bertarung dengan sosok buronan banyak Kekaisaran ini.


“Namun kalian tidak perlu takut, malam ini nama Pengendali Roh telah dihapus oleh Xin Chen pahlawan baru Kekaisaran kita. Aku benar-benar tak menyangka kau berhasil mengalahkannya…”

__ADS_1


Xiu Juan menggeleng karena sudah kehabisan kata-kata. Membayangkannya saja sudah sangat mustahil dan kini kenyataannya, Zhang Ziyi si Pengendali Roh telah tewas di tangannya.


Sontak saja Yu Xiong bersorak gembira, melihat Xin Chen dapat mengalahkan salah satu musuh yang telah meneror Kekaisaran Shang akhir-akhir ini membuatnya turut bangga. “Kakak Chen, kau sangat keren!” teriak Yu Xiong dengan semangat, anak kecil itu melompat tak karuan hingga membuat tubuhnya huyung.


Ibu Yu Xiong hanya tertawa kaku melihat kelakuan anaknya. Meski pun tadi sempat dicekik oleh Gu Long namun anak itu masih terlihat baik-baik saja.


“Xiong'er! Kalau kau ingin terlihat keren juga bersiaplah untuk melawan monster paling menakutkan.”


Yu Xiong berseru. “Monster apapun akan aku taklukan!"


“Benarkah? Bagaimana dengan yang berdiri di sampingmu?’”


“Aaaaa ibuu!”


Xin Chen tergelak lucu melihat bagaimana ekspresi Yu Xiong saat melihat ke sampingnya di mana Wei Feng sudah siap untuk mencakarnya.


“Hahahahha bocah penakut,” ledek Wei Feng tertawa senang sekali. Menakuti Yu Xiong cukup menghiburnya juga setelah sebelumnya bertarung sampai-sampai tak sempat menarik napas. Perlahan arah pandangan Wei Feng berganti pada Xin Chen, tampaknya dia baru saja selesai berbicara dengan jin sakai.


“Hm? Terdengar seperti kau tak rela aku meninggalkan desa ini?” balas Xin Chen balik, Wei Feng langsung mengeraskan suaranya, “Hah! Peduli setan! Untuk apa pula aku harus bersedih kalau kau pergi dari sini, sudahlah!”


"Rasanya aku tidak menyebutkan kata sedih tadi, atau itu memang yang sedang kau rasakan sekarang?" ejek Xin Chen lagi.


Jelas saja Wei Feng langsung mengamuk.


“Kak Chen, kau benar-benar akan pergi? Kenapa tidak tinggal di sini saja? Ibu akan memasak sop daging setiap hari untuk kita.” Mata Yu Xiong berkaca-kaca, wajar saja dia masih anak kecil.


Ditinggalkan oleh teman yang dianggapnya sudah sangat dekat seperti ini tentu akan membuatnya menangis. Beda cerita jika Wei Feng yang menangis, dia takkan mungkin menunjukkan kesedihannya itu walau sebenarnya merasakan hal yang sama seperti Yu Xiong.


Di desa ini satu-satunya yang mau menemaninya hanya Xin Chen. Selama ini Xin Chen tak pernah menuntut sikapnya harus baik atau tidak jika ingin berteman dengannya.


Sama halnya seperti Yu Xiong, sebagai satu-satunya anak yang paling kecil di desa ini karena memang penghuninya tak melebihi angka 50, dan juga tak memiliki teman seumuran dengannya Yu Xiong merasa kesepian. Tidak ada yang mau bermain dengannya kecuali ibunya.


Xin Chen mengeluarkan sebuah kincir angin yang dia simpan dalam cincin ruang lalu memberikannya pada Yu Xiong, dia menyodorkannya sekali lagi saat melihat anak itu malah melamun, “Anggap saja hadiah dariku. Walaupun harganya juga tak seberapa. Besok pagi bangun cepat ya. Kuharap kau mau mengantarku sampai ke gerbang desa.”

__ADS_1


“Baik…” Yu xiong mengelap kedua matanya yang basah, dia memeluk kaki Xin Chen erat sekali.


“Semoga kita bisa bertemu lagi.”


Yu Xiong mengepalkan sebelah tangannya. “Bagaimana pun aku harus mencarimu, Kakak Chen! Anggap saja sekarang aku akan menjadi rivalmu.”


“Hey… hey! Tidak boleh!” sebuah protes keluar dari mulut gadis seumuran xin chen. “Tuan Xin yang Bodoh ini sayangnya telah menjadi rivalku!” Xiu Qiaofeng


langsung bergabung seenaknya.


“Hah? Bukannya kau sendiri yang bilang dulu kalau tandinganmu hanya Zhan Gege?”


“Banyak tanya! Aku tidak peduli dengan apa katamu. Baik kau atau kakakmu, kalian takkan bisa merebut gelar Pilar Pertama dari tanganku!”


Xiu Juan dan Xin Chen sama-sama menghembuskan napas pasrah, Xiu Qiaofeng memang takkan berhenti mengoceh sebelum lawan bicaranya mengalah. Tapi di balik sikap itu semua Qiaofeng adalah gadis yang baik, cerdik, mandiri dan sedikit heboh. Setiap kata yang keluar dari bibir manisnya umpama bom beracun. Sama menusuknya seperti mulut xin zhan.


Xin Chen tak bisa membayangkan jika putri Klan Xiu ini beradu mulut dengan saudaranya itu. Bisa-bisa Lembah Kabut Putih jadi kacau karena ulah mereka.


Tak mau menghabiskan waktu karena malam mulai larut akhirnya Xiu Juan menyampaikan hal penting lainnya pada Xin Chen. “Xin Chen, atas kerja kerasmu membunuh Zhang Ziyi Kaisar Qin akan memberimu hadiah setimpal. Maka dari itu, kau bisa ikut bersama kami untuk kembali ke Lembah Kabut Putih sekaligus untuk menemui keluargamu.”


Mulanya Xiu Juan rasa mengajak Xin Chen bukan perkara sulit mengingat memang anak itu sudah lama tak kembali ke keluarganya.


“Maaf jika aku terkesan lancang, Nyonya Xiu. Mohon sampaikan pada Kaisar Qin jika uang itu sebaiknya digunakan untuk memperbaiki desa yang dihancurkan oleh si pengendali roh.”


"Dan mengenai surat ini..."


***


:v


baru ingat kmrin ada janji crazy up, malah kelupaan 😳 yamaap tugas numpuk jd ya sampai jungkir balik ngerjain tugas sama novel bersamaan.


Malam Minggu depan aja ya ekekeke🏃🏽‍♀️

__ADS_1


__ADS_2