
"Chen'er, bangun. Sudah pagi." Xin Chen terbangun dari tidurnya saat suara sang ibu terdengar, hal pertama yang dia lihat saat membuka matanya adalah senyuman manis Ren Yuan.
"Ah... Anak pemalas ini..." Terdengar adik dari Ayahnya menggerutu di depan pintu. "Lihatlah orang-orang sudah habis bahan cerita di ruang tamu dan dia masih mengukir danau di kasurnya!" Xin Xia menambahkan. Memang sudah kebiasaannya merecoki hidup Xin Chen.
Xin Chen tertawa masam, lelucon Xin Xia sudah terlalu basi baginya. Anak itu mengelap mulutnya dan bangun untuk mandi. Ren Yuan sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Xin Xia. "Dia pasti sangat kelelahan. Kita tunggu saja dia di ruang makan."
Xin Xia mengikuti Ren Yuan dari belakang, di pagi ini tanpa diduga tamu-tamu penting berdatangan ke rumah mereka. Tak hanya Yong Tao dan dua Pilar Kekaisaran lain yang datang, namun juga kepala keluarga bangsawan pun turut berhadir menyambut berita baik ini.
Karena bagaimanapun sejak hari di mana Xin Zhan diracuni, berita buruk perihal kondisi Xin Zhan ini telah tersebar ke seluruh penjuru tanpa terkecuali. Kabar pun semakin memanas saat terdengar kabar bahwa Xin Chen melarikan diri di hari yang sama. Menimbulkan kesan seperti melarikan diri dari kesalahannya.
Yong Tao tak sabar lagi ingin melihat sosok anak kecil yang menjadi dalang sekaligus penyelamat ini, saat melihat dari lorong rumah anak itu sedang berjalan linglung. Masih mencoba mengumpulkan nyawanya. Kantuk berat dia rasakan saat melewati lorong-lorong rumah dengan malas.
Jamuan makan berlangsung sederhana, sesekali pandangan mereka jatuh pada Xin Chen, anak itu terlalu tak peduli dengan sekitarnya. Dibanding menyahuti para kepala keluarga bangsawan yang sibuk membahas tentang dirinya, bola mata Xin Chen justru berfokus ke luar jendela.
"Chen? Ada apa?" Ren Yuan membuyarkan lamunan Xin Chen.
"Ibu... Aku ingin berbicara dengan Ayah dan Ibu. Hanya kita bertiga, boleh?"
Pilar Kekaisaran ke tujuh yang merupakan seorang wanita menutup wajahnya dengan kipas, tampak berat hati mendengar permintaan tersebut.
"Apa ada satu hal yang tak ingin kau bahas dengan kami?"
Xin Chen menunduk. "Ayah, Ibu. Aku tunggu di kamarku."
Sontak wanita itu tercengang melihat kelakuan Xin Chen, sama sekali tak menghargai dirinya sebagai Pilar Kekaisaran ketujuh. Bagaimanapun dia memiliki nama baik. Jarang sekali orang bersikap acuh padanya.
Xin Fai menundukkan kepala sedikit, merasa perbuatan Xin Chen agak berlebihan. "Maafkan putraku, tapi ada baiknya menghargai keinginannya untuk saat ini. Kurasa dia ingin membicarakan hal yang tidak baik dibicarakan di depan umum."
Meskipun masih agak kesal dia tak bisa berbuat apa-apa, jamuan makan menjadi lebih kaku dari biasanya. Sementara tuan rumah tidak di sana Yong Tao berbicara banyak tentang situasi Kekaisaran.
__ADS_1
Xin Chen menunggu kedua orang tuanya di kamar, saat pintu kamar terbuka kepalanya terangkat. Bersiap-siap mengutarakan sesuatu. Beberapa kali bibirnya tertahan, berat untuk mengucapkan keinginannya saat ini.
"Ayah, Ibu, sore ini mungkin aku akan pergi lagi dari rumah untuk waktu yang lama."
Ren Yuan jelas terkejut tak main-main, belum genap sehari pulang ke rumah Xin Chen kembali membuatnya khawatir. Seperti saat dirinya hampir kehilangan Xin Zhan kemarin.
"Chen'er, tidak bisa... Kau lebih aman berada di sini. Lagipula kakakmu sudah selamat. Hanya butuh beberapa hari sampai tubuhnya pulih total."
"Ibu, aku ingin menjadi lebih kuat. Aku akan mencari jati diriku sendiri. Aku janji akan pulang," rayu Xin Chen. Dia memohon pada ibunya itu.
"Chen, apa kau sayang dengan ibumu?" Ren Yuan berkata lembut, nada bicaranya terasa bergetar di telinga Xin Chen.
"Justru karena aku sayang ibu lah aku ingin menjadi kuat..." Xin Chen beralih pada Ayahnya yang hanya menatap sedih. Tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya pada putra keduanya itu.
Xin Chen menarik napas dalam-dalam. "Agar aku bisa menjadi lebih kuat dan bisa melindungi semua orang. Melindungi Ayah, Ibu, Zhan Gege dan semua orang dengan kekuatanku."
Xin Chen sadar dunia ini terlalu berbahaya, ada begitu banyak rintangan yang harus dilaluinya ke depan. "Aku bukan orang seperti Zhan Gege, aku tidak bisa belajar pedang sehebat dirinya. Mau Ibu suruh Guru terhebat mengajariku sekalipun, aku takkan bertambah kuat."
Xin Chen melanjutkan kembali. "Satu-satunya guruku yang sebenarnya adalah alam. Aku mempelajari banyak hal di luar, belajar membuat kesalahan dan memperbaikinya dengan caraku. Kupikir dengan cara seperti itu aku akan bertambah kuat."
Lama terdiam akhirnya Xin Fai mengeluarkan suara, dia mengerti sepenuhnya apa yang diinginkan Xin Chen. Sebuah kebebasan di mana tidak ada yang mengomentari kesalahannya, dunia di mana dia bergerak tanpa harus didikte omongan orang. Dulu, dirinya juga seperti itu. Makanya Xin Fai dapat menyetujui permintaan Xin Chen meskipun tahu resikonya besar.
"Kau boleh pergi jika itu keinginanmu."
"Sayang, apa kau yakin?" Ren Yuan menatapnya sayu.
"Kita tidak bisa melarangnya, kalau kau tidak memberikan izin dia akan pergi dengan sendirinya."
Xin Chen menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, merasa rencana keduanya sudah terbaca duluan oleh sang Ayah. Xin Fai tertawa kecil, memeluk anaknya dengan erat.
__ADS_1
"Kapanpun kau ingin kembali, kau bisa pulang. Kami menunggumu."
"Ayah sendiri bagaimana?"
Xin Fai sebenarnya tak ingin mengatakan persoalan ini takut Xin Chen juga menjadi resah, tapi dia paham Xin Chen mungkin sudah mengetahui lebih banyak daripada dirinya sendiri.
"Ada banyak masalah timbul di Kekaisaran. Ayah akan menyelesaikannya satu per satu."
"Termasuk Liu Fengying?"
Ekspresi Xin Fai berubah drastis kala mendengar nama penjahat nomor satu itu disebut oleh anaknya sendiri.
"Liu Fengying?" ulangnya. Anggukan Xin Chen menjadi jawaban, Xin Chen tak mungkin berbohong kepadanya.
"Di mana kau melihatnya?" Xin Fai mulai mengintrogasi, akan tetapi Xin Chen menolak memberitahu.
"Aku akan mengurus hal ini sebisaku, Ayah. Kalau suatu saat nanti aku menemukan sesuatu tentangnya pasti akan mengabarkanmu."
Xin Chen memeluk ibunya sebentar, sejenak anak itu menadahkan tangannya mengeluarkan sebuah anting yang sangat indah.
"Aku menemukan ini di toko yang pernah aku kunjungi, kupikir dari ukurinnya ini mirip dengan lambang Keluarga Ren."
Ren Yuan menerima anting tersebut dalam kebingungan, memang baru-baru ini kakaknya, Ren Su mengatakan bahwa anting kesukaannya hilang begitu saja dari kamar. Hal ini tentu membuat wanita itu sangat sedih ketika menceritakannya.
"Darimana kau mendapatkan ini?"
Xin Chen tersenyum kecil. "Aku pergi dulu." Setelah mengambil tasnya dan mengambil langkah Xin Chen berlarian kecil di lorong rumah, menyempatkan untuk melihat kakaknya sebentar lalu meninggalkan rumah kembali. Meninggalkan tempat paling nyaman dan aman, menyambut dunia luar yang buas. Xin Chen bertaruh nyawa akan hal ini.
"Liu Fengying dan Lembah Para Dewa, sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan?"
__ADS_1