Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 206 - Sembilan Prajurit


__ADS_3

Dalam sekejap mata delapan orang prajurit telah berdiri berkerumun di sekeliling Xin Chen dengan memasang mata awas, tak satu pun dari mereka berpaling dari Xin Chen. Sang pemimpin menaikkan sebelah tangannya sebagai isyarat pada bawahan.


"Siapa kau sebenarnya?"


Xin Chen tak menjawab, lalu pria itu berteriak keras. "Jika kau tidak menjawab maka kami akan menganggapmu musuh kami!"


"Kalian terlalu panik, aku hanya orang sekitar sini yang kebetulan lewat. Lagipula salah kalian sendiri berdiskusi di tempat terbuka seperti ini."


"Apa saja yang kau dengar." Pemimpin prajurit itu menurunkan nada bicara, membuat suasana mencekam secara drastis. Darah yang mengalir melewati matanya dan mengering di sana membuat hampir separuh wajah lelaki itu tak terlihat. Dia mendekat pada Xin Chen dengan tatapan memburu.


"Seperti itukah kalian bersikap pada penduduk biasa? Kupikir para prajurit memiliki etika sendiri dalam melayani masyarakat."


Dibilang begitu dia terdiam dengan wajah tersinggung, suara napasnya yang berat terdengar sangat jelas. Xin Chen mengangkat pinggiran topi capingnya sehingga wajah pria itu terlihat jelas di matanya.


"Kau tampak seperti orang asing."


"Daripada itu, aku sudah mendengar sedikit perbincangan kalian. Kalau kalian mengijinkan aku ingin mendengar lagi langsung dari kalian."


Salah satu prajurit hendak maju untuk melawan Xin Chen namun sang pemimpin segera menahan dadanya, mengamati Xin Chen lebih rinci dar sebelumnya. Tentu sebagai prajurit senior dia dapat memahami bahwa pemuda asing itu bukanlah orang biasa. Menyinggung tetang etika prajurit yang tidak banyak di ketahui masyarakat, kemungkinan besar pemuda itu adalah salah satu keturunan bangsawan.


Oleh karenanya pria itu sedikit melunakkan pembicaraan agar tidak setegang tadi, "Sebelumnya perkenalkan namaku Mou Zhueyang. Ditugaskan untuk misi penyelidikan ke selatan Jembatan Shangyu."


Mou Zhueyang menoleh ke belakang di mana hanya sekitar delapan prajurit yang tersisa bersamanya, "Sebelumnya jumlah kami seratus, tapi ... Kami kalah telak di pertarungan enam hari lalu."


Harga diri Mou Zhueyang terluka saat mengatakannya, terbunuhnya para anggota prajurit karena kecerobohannya membuat situasi semakin runyam. Xin Chen membaca kegetiran di wajah pria itu, memprihatinkan.

__ADS_1


"Bahkan, mayat teman-teman kami digantung di pohon dan dibiarkan mati hingga membusuk. Cara pemakaman yang begitu hina bagi seorang prajurit yang mengabdikan seluruh hidupnya pada kekaisaran. Aku tidak bisa menerimanya ... Tapi aku juga tidak berdaya."


"Lalu kapan kalian berencana menyerang balik?"


Mou Zhueyang mengangkat kepalanya, menatap Xin Chen lama. "Mari ikuti kami, kita bisa mendiskusikannya di benteng kota Fugi."


**


Malam yang cerah oleh penerangan bintang dan bulan purnama di Kota Fugi, tempat yang terlalu terlihat biasa untuk sekedar dianggap kota. Jalan kota yang begitu lengang tiba-tiba dilewati oleh barisan prajurit. Jumlah mereka tak begitu banyak, menggunakan zirah berwarna merah darah. Mou Zhueyang baru saja memberhentikan langkah saat memasuki benteng kota.


"Tuan bisa bermalam di sini jika mau, saya akan menyiapkan kamar untuk anda."


"Tidak perlu. Mungkin malam ini aku tidak tidur."


"Tidak, tepatnya kita semua yang takkan tidur."


Air muka Mou Zhueyang berubah cemas, "Maksud anda?"


"Kita akan merencanakan penyerangan untuk besok malam mulai dini hari ini. Itu pun jika kau mau menerima saranku."


"Itu gila!" Mou Zhueyang melotot dan dadanya naik turun, namun di situasi itu dia tetap memasang sikap siaga. Segera diajaknya Xin Chen masuk untuk mendiskusikan permasalahan ini. Sebuah ruangan yang bernuansa gelap diterangi oleh lilin dan lentera menjadi sangat mencekam.


Delapan orang saling duduk berhadapan sementara Xin Chen dan Mou Zhueyang duduk bersampingan.


"Sebelum itu, saya yakin tuan adalah salah satu pendekar dari keluarga bangsawan di Kekaisaran ini. Boleh perkenalkan nama anda sebelum kita memulai rapat ini?"

__ADS_1


Xin Chen berpikir-pikir dulu sebelum memberitahukan informasi identitasnya, berpikir sembilan orang ini memiliki sikap setia dan jujur. Mereka takkan mungkin membocorkan identitasnya jika sudah berjanji.


"Xin Chen. Anak kedua dari Pedang Iblis."


Tanpa harus memberikan bukti apa pun Mou Zhueyang mempercayainya, dia hafal betul bagaimana rupa Pedang Iblis. Meski pun tak menjumpainya secara langsung setidaknya mereka pernah datang ke Kota Renwu dan melihat wajah Patung Pilar yang sengaja dibuatkan untuk mengenang mereka. Mou Zhueyang agak menyayangkan patung-patung itu lenyap terbakar di kota api; Kota Renwu dan sekarang telah digantikan oleh pilar lain yang berbeda.


Walau sudah menebaknya Mou Zhueyang tetap tak percaya yang duduk di sampingnya sekarang adalah Xin Chen. Pria itu meneguk ludah kasar, sambil berbicara. "Ternyata berita itu bohong, Tuan Muda Xin Kedua tidak mungkin mati semudah itu. Anda telah kembali, kami sangat gembira mendengarnya."


Mou Zhueyang membungkukkan badannya dengan sikap hormat.


"Sekarang permasalahan kita adalah perkampungan di perbatasan selatan. Aku membutuhkan gambaran keadaan di sana, bisa seseorang menjelaskan?"


Mou Zhueyang berdeham, menyuruh penjaga yang berdiri di dekat pintu memanggil seseorang yang dipersiapkan. Sosok laki-laki dengan seluruh badan nyaris tertutup memasuki bilik dan bersujud. Dia berbicara setelah dipersilahkan Mou Zhueyang.


"Saya adalah pengintai yang diutus langsung oleh pilar ketujuh demi mengatasi permasalahan ini."


"Seharusnya keadaan ini termasuk gawat dan mendapatkan perhatian khusus dari pihak pemerintah? Kenapa diabaikan begitu saja? Lalu apa-apaan denga Pilar ketujuh itu? Dia tidak turun tangan dan hanya menyuruh sedangkan dirinya sendiri tidur di rumah?"


Pengintai itu tak berani berbicara lebih jika itu tentang atasannya, takut ada seseorang yang mengadu dan dirinya akan diganjar hukuman atau dikeluarkan dari pekerjaannya. "Saya tidak berani, tuanku. Kami sebagai mata-mata hanya menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan. Semuanya diatur oleh yang lebih berkuasa, itu ketentuannya."


Lalu dia melanjutkan. "Tuan pasti pernah mendengar wilayah kesepakatan yang dijalin demi perjanjian damai oleh dua pemimpin kekaisaran, tempat itu sekarang berubah menjadi medan perang. Lembah Para Dewa, di tempat itu orang-orang Kekaisaran Qing telah pergi demi janji damai. Namun sesuatu yang lebih berbahaya datang menyerang tempat itu. Empat Unit Pengintai, begitu mereka menyebutnya. Mereka menyatakan diri tidak berasal dari Kekaisaran mana pun sehingga sulit mengganjar mereka dengan hukum ..." Pria itu menyesal mengatakannya.


"Mereka melakukan perluasan wilayah dan menghancurkan desa-desa di sekitar tempat itu. Salah satunya perkampungan tanpa nama yang ditinggali oleh ratusan kepala keluarga. Mereka membakar, memperbudak, menganiaya dan memperkosa para perempuan. Tindakan keji itu ... Saya tidak bisa tinggal diam dan puluhan kali saya melaporkannya-!"


Suara pria itu merendah. "Lalu apa yang bisa saya perbuat? Mereka berjumlah dua ratus lima puluh orang penjaga. Saya tidak yakin apakah anggota dari empat unit utama berada di sana. Yang pasti orang-orang itu berbahaya. Bahkan hanya tiga orang saja bisa menumbangkan ratusan prajurit ...."

__ADS_1


__ADS_2