Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 28 - Musuh Lama Telah Kembali


__ADS_3

Akibat kebocoran penyusupannya, Xin Chen ditempatkan pada situasi rumit di mana seluruh pendekar yang menjaga tempat ini telah beraksi, jika mengandalkan kekuatan Topeng Hantu Darah yang hanya bisa menghilangkan dirinya selama 5 detik, Xin Chen yakin takkan selamat malam ini.


Di sisi lain pasukan mulai digerakkan di sekitar gerbang utama, menutup segala akses dari seluruh arah tanpa terkecuali. Membuat Xin Chen terperangkap di dalam Lembah Para Dewa.


Xin Chen merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia seceroboh ini. Seharusnya dia pergi bersama Rubah Petir, tapi saat berpikir lebih jauh mungkin Rubah Petir takkan membantunya. Xin Chen harus mencari jalan keluarnya sendiri menghadapi permasalahan ini.


Setelah memastikan kiri kanannya aman, Xin Chen melompat ke atap perumahan dan berjinjit di atasnya hati-hati. Waspada orang di dalam ruangan itu mendengar tapak kakinya. Xin Chen memutar pandangannya ke arah timur dan melihat satu tempat yang memungkinkannya untuk melarikan diri.


Masalahnya adalah dia benar-benar harus memperhitungkan keberhasilan pelarian diri ini. Jarak rumah yang dapat dia gunakan untuk bersembunyi berkisar puluhan meter, waktu lima detik rasanya tak cukup untuk pergi menembus dinding tersebut.


Sedangkan di sekitarnya, meski tak sebanyak di tempat lain para penjaga tetap mengawasi. Kebanyakan mereka adalah pemanah handal, hanya satu bidikan saja kepalanya akan tembus oleh panah.


Xin Chen tak mau berpikir panjang lagi, semakin lama mengulur waktu semakin besar pula kemungkinan dirinya akan tertangkap. Dia turun sangat waspada, bersembunyi di balik tumpukan jerami di dekat kandang kuda.


Xin Chen menghentakkan kakinya sedikit, "Kali ini nyawaku benar-benar bergantung pada kaki ini."


Bersiap mengambil ancang-ancang dan berlari secepat mungkin, Xin Chen hampir berhasil menembus dinding Lembah Para Dewa. Namun sayangnya di waktu yang tak diduga kakinya tersandung oleh ranting kayu.


Tak perlu memakan waktu banyak semua perhatian tertuju padanya, Xin Chen masih berada dalam mode hantu sehingga dirinya tak bisa dilihat oleh siapapun.


Napas Xin Chen kian berat, dia harus segera melepas mode hantu ini sesegera mungkin. Langkah kakinya semakin cepat menembus ke dinding gerbang di waktu yang nyaris terlambat.


Keluar dari Lembah Para Dewa Xin Chen mengembuskan napas berat, denyutan di dalam otaknya mulai terasa. Tampaknya penggunaan kekuatan roh tersebut menyerap banyak energinya yang tidak seberapa.


Daripada memikirkan rasa sakit Xin Chen bergegas berlari jauh dari sana, tapi kebebasannya tidak benar-benar terwujud. Sosok pria di belakangnya sedang mengintai beserta aura pembunuh yang sangat pekat.


Hawa mematikan itu secara langsung berdampak pada Xin Chen, pemuda kecil itu memalingkan wajahnya ke belakang. Mendapati sosok pria yang agak berumur sedang memainkan cambuknya.


Berbeda dengan para pendekar di sini, pria itu tak memakai jubah atau segala atribut yang bersangkutan dengan Lembah Para Dewa. Suara mendesis terdengar dari mulutnya, terdengar mengancam.


"Seekor tikus sedang bermimpi bisa keluar dari kandang macan setelah nekad berkeliaran, apa kau kira tidak ada yang bisa menangkapmu?" Cambuk Neraka bergerak liar, bahkan saat cambuk tersebut menyambar dinding bekas goresan yang dihasilkan sama halnya dengan pedang tajam.

__ADS_1


Xin Chen membalikkan badannya kembali, sadar ada sesuatu yang salah dengan pria itu. Setelah melihat lebih jelas lagi, orang yang sedang berbicara di belakangnya itu memiliki ekor layaknya kalajengking berukuran besar.


Mana mungkin manusia biasa memilikinya kecuali memang tubuhnya sudah bersatu dengan siluman. Praktek ilmu hitam sendiri terlalu bahaya, salah-salah berbuat bukan hanya nyawa tetapi jiwa juga menjadi taruhannya.


Satu per satu penjaga gerbang mulai berkerumun, mereka meloncat di atas gerbang dan mendapati Xin Chen di sana.


"Itu dia! Cepat tangkap anak itu!"


Sosok pria itu mengangkat tangannya melarang.


"Biar aku yang mengurusnya, kalian boleh kembali."


Para pendekar di belakangnya merasa tak perlu khawatir lagi jika dia yang menangkap Xin Chen, hanya melihatnya saja sekilas bahkan siluman saja sudah ketakutan. Di tempat ini bisa dikatakan dia adalah satu dari beberapa orang terkuat Lembah Para Dewa.


"Mundurkan pasukan! Pelaku sudah tertangkap, Jenderal Besar kita, Liu Fengying akan menangani masalah ini!"


Xin Chen tersedak napasnya saat nama tersebut dikumandangkan dengan lantang, tak terbersit sedikitpun di pikirannya dipertemukan dengan sosok paling sering dibicarakan oleh orang-orang.


'Bukankah mereka bilang Liu Fengying sudah mati?' batin Xin Chen mulai menerka-nerka, dia menatap tiap inci Liu Fengying. Baru kali ini dia melihat sosok pendekar terkuat aliran hitam tersebut. Memang sangat, bahkan terlalu mengerikan untuk dilawan anak sekecil dirinya.


Mata Liu Fengying yang sudah berubah kemerahan akibat adaptasi dari tubuh Siluman Kalajengking membesar ketika angin meniup wajah Xin Chen. Membuat tanda bunga api di keningnya terbuka.


Xin Chen tak menjawab, di sisi lain pula tubuhnya terasa sangat berat. Untuk melangkah saja dia mulai kepayahan. Tekanan dari hawa pembunuh Liu Fengying sangat tidak biasa, bahkan untuk anak seukuran Xin Chen mungkin akan pingsan saat terkena dampaknya.


"Kalau begitu lenyaplah dari muka bumi ini!" Ekor kalajengking mulai bergerak menebas apapun yang dilaluinya. Membuat retak tanah dan menimbulkan angin kencang di sekitar.


Xin Chen menghindari setiap gerakan lawan dengan gesit, dia meloncat tinggi saat ekor tersebut mengincar kakinya kembali. Serangan susulan terjadi beruntun setelahnya tanpa jeda, kecepatan Liu Fengying tanpa ampun, baru kali ini Xin Chen melihat gerakan secepat ini.


Bertahan hanya tiga menit akhirnya lengan Xin Chen terkena imbas pukulan, ekor tersebut bergerak dari atas hendak menikam racun pada tubuhnya yang terbaring di tanah.


Xin Chen lantas menghindar, masih bisa menyelamatkan nyawanya sendiri.

__ADS_1


Tapi dia baru menyadari sesuatu yang sangat buruk, botol penawar untuk Xin Zhan terguling ke samping dan pecah oleh ekor kalajengking Liu Fengying.


"Apa...?"


*


Penawar tersebut meresap ke dalam tanah, terlanjur terkena udara membuat semua khasiat lenyap tak bersisa. Bahkan tak memberi waktu pada Xin Chen untuk mencerna apa yang telah terjadi.


Karena kecerobohannya kini penawar tersebut telah hancur, sedangkan besok adalah hari terakhir Xin Zhan bisa bertahan hidup. Bibir Xin Chen bergetar saat berujar, "Kau memecahkan penawar itu?"


"Hm? Apa itu penting bagimu?" Liu Fengying melebarkan senyumannya. "Tampaknya aku baru saja melakukan sesuatu yang buruk."


Xin Chen berdiri sembari mengepalkan tangannya, erat-erat dia merasa tak terima lagi. Tapi di sisi lain hal ini murni terjadi karena kesalahannya, mau menyalahkan Liu Fengying pun tak bisa. Semua sudah terlanjur terjadi.


"Kau..." Energi yang sama mulai berkembang pesat dalam tubuh Xin Chen, kemarahannya mulai berapi-api ingin sekali menghantamkan kakinya di batang hidung Liu Fengying.


Belum sempat mengambil langkah untuk menyerang, tiba-tiba saja dadanya ditahan oleh Rubah Petir. Energi listrik datang menyetrum Xin Chen, membuatnya tak bisa bergerak dalam waktu lama.


Rubah Petir tak mengucapkan apapun, dia segera membawanya pergi dari sana dengan kecepatan kilat.


Liu Fengying menyipitkan mata melihat sosok bertudung itu, merasa kekuatannya mungkin akan setara atau lebih kuat dengannya meski bertubuh kecil. Sebuah senyuman menakutkan terkembang di sana.


"Kau akan melepaskan anak itu begitu saja?" Sebuah suara lain terdengar dari atas, sosok misterius lainnya muncul. Dari pakaian yang dia kenakan pria itu terlihat seperti seorang bangsawan.


"Cih, melawan anak kecil sepertinya hanya akan membuatku malu." Liu Fengying menatapi kejauhan. "Aku ingin melihat sendiri bagaimana iblis kecil itu tumbuh, selagi kekuatan baruku berkembang... Dan semua persiapan kita berhasil diselesaikan..."


Liu Fengying berkacak pinggang, "Aku tak yakin dia masih bisa menghentikan kemarahanku."


Suara tawa licik terdengar di atasnya, sosok tersebut memiringkan kepala. "Kau akan melihatnya asal mengikuti apa perkataanku."


*

__ADS_1


kakvi: Chen, siap2 kena hujat readers yaa aing pergi dulu baybay!!🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️


Chen : 😔😑🙄😒 seterah!


__ADS_2