Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 312 - Mantan Sepuluh Terkuat


__ADS_3

"Menurutmu manusia itu benar-benar mampu untuk melakukannya? Maksudku, Naga Kegelapan dan para prajurit kekaisaran qing adalah orang-orang yang berbahaya. Jangan menganggap remeh mereka jika tak ingin mati konyol."


"Percaya padanya. Mungkin hanya itu yang bisa aku katakan padamu. Sesulit apa pun keadaannya aku yakin dia tak akan menyerah. Dan yang ku tahu darinya, dia bahkan tak ingin datang ke sini tanpa ku ajak. Padahal aku tahu kau memang sulit diajak bekerja sama dan memaksa Xin Chen untuk ke tempatmu. Sekarang pilihan ada padamu. JIka kau menolak aku juga tak memaksa,begitu juga Xin Chen. Kau boleh kembali sekarang. Kami akan melanjutkan rencana seperti semula."


Shui beranjak pergi ke arah Xin Chen meninggalkan Salamender Api yang hanya bisa berdiam diri, memikirkan semua hal yang baru saja trjadi. Tentang perang antar kekaisaran, kematian rubah dan ancaman Naga kegelapan. Dia menggeleng pelan, lalu berbalik menuju sarang.


Salamender Api melihat Xin Chen sekilas sebelum pergi dari pulau tersebut, samar-samar dia dapat melihat bayangan sesosok laki-laki yang tengah bersandar pada batu curam. Memainkan sebuah irama musik yang menenangkan. Tak bisa dipungkirinya, hanya mendengar beberapa detik saja Salamender dibuat kembali pada masa lalu. Saat itu, di mana dia masih menjadi bagian dari manusia dan menciptakan sebuah irama lagu yang mampu menenangkan pikiran.


'Kenyataannya aku dan kau adalah sama. KIta sama-sama berjuang untuk sesuatu yang kita anggap benar.'


Meski sudah terhitung ratusan tahun semenjak mereka berpisah, dia msih dapat mengingat kata-kata Rubah Petir hari itu. Saat akhrnya sang rubah memutuskan untuk mengasingkan diri demi menjaga Kitab Terlarang.


Xin Chen berhenti memainkan irama itu dan menyimpan kembali serulingnya, Shui mengatakan sesuatu hingga akhirnya mereka sepakat untuk pergi. hanya menoleh pada Salamender Api sebagai akhir kata dan segera kembali ke pesisir sebelum penjaga yang menangkap Shui tadi kembali.


Kini mereka sudah berada di pesisir pantai, tak terasa hari sudah menjelang sore. Ombak pantai berkali-kali menyapu tanah, menghilangkan bekas jejak kaki keduanya. Semua telah berakhir, tidak ada yang dapat Xin Chen lakukan pada siluman itu. Dia juga sebenarnya tak ingin memaksa. melihat seberapa besar kemarahan salamender api saat mendengar kematian sahabatnya. Mungkin butuh waktu hingga dia memutuskan untuk bergabung.


Shui angkat bicara. "Aku minta maaf. Malah menyuruhmu melakukan hal yang sia-sia. Aku kenal siapa salamender api itu. bahkan rubah sahabatnya sendiri saja tidak mau dia dengarkan. Jangan menjadikannya beban pikiran."


"Sekarang kau sudah tahu soal beban pikiran?"

__ADS_1


"Kenapa? Bai Huang sering mengatakannya padaku. Tapi sepertinya semenjak memiliki wujud manusia ini aku lebih banyak merasakan perasaan aneh. Kau tahu, saat aku melihat anak kecil di kota ini rasanya aku tak tega membiarkan mereka begitu saja."


"Itu karena kau menganggap mereka sama denganmu. Kau sekarang dianggap manusia." Shui mengangguk-angguk, teringat akan salamender api yang sempat menyebutkan soal kenalan manusianya. Mungkin kematian orang tersebut begitu menyakitkan hingga akhirnya membuat salamender berbalik membenci orang tersebut. Terlalu hanyut dalam dugaan sendiri Shui sampai tak menyadari Xin Chen sudah berhenti di tempat. Hendak mengeluarkan pedang saat mendapati sesosok laki-laki dengan penampilan layaknya petarung tengah mendelik padanya. Tatap mata keduanya membuat suasana yang memang seram bertambah suram.


Shui terkesiap. Merasa tak asing dengan laki-laki tersebut. Tapi dia tidak tahu dengan jelas dan hanya bisa diam sembari menganalisa. Dibandingkan menatap Shui, laki-laki itu jauh lebih tertarik dengan pemuda tersebut. Dia melebarkan senyuman sombong. Pembawaannya angkuh dan juga berlagak di depan Xin Chen. Detik berlalu dengan keduanya yang saling menatap dalam diam. baik laki-laki itu mau pun Xin Chen tak ada yang mau membuka suara.


Shui mengambil alih perhatian, "Siapa kau sebenarnya?"


"Kau sudah tidak mengenalku?" Biarpun bertanya begitu, dia tampak tak terkejut lagi. Samar Xin Chen seperti melihat kobaran api di kedua bola mata laki-laki tersebut. Garis wajahnya terlihat unik, terlihat dewasa dan memakai kain yang melingkar menutupi kepala. Laki-laki itu memakai tiga gelang emas dengan ukiran aneh. Baru pertama kali ini Xin Chen melihat orang sepertinya. Mungkin lebih tterlihat seperti seorang pendatang dari Kekaisaran lain."


Tanpa banyak basa-basi laki-laki itu mengeluarkan pedang dengan tatahan yang rumit, terlihat mahal dan juga berbahaya. Seperti pedang yang memang diciptakan oleh pandai besi dari pemerintahan. Xin Chen tak serta-merta mengikuti laki-laki itu.


Dia memaksa maju dan melibaskan senjatanya, sedangkan Xin Chen menghindar. Shui berniat menahan tetapi laki-laki itu justru membentaknya. Seperti memiliki dendam kesumat pada Xin Chen, laki-laki itu menebaskan senjatanya dengan brutal.


Mungkin bagi sebagian orang serangannya tampa tak beraturan. Tapi bagi Xin Chen lai-laki itu berbahaya, dia tahu apa yang sedang dilakukannya. Dan setiap ayunan pedangnya bisa membuat lawan mati jika tidak siaga. Dalam satu hentakan yang keras, Xin Chen tak dapat lagi menghindar dan menggunakan lengannya untuk menahan senjata tersebut.


Namun sedetik sebelum pedang itu mengenai pergelangan tangannya Xin Chen berbalik menangkap senjata tersebut dengan tangan kosong. Menghentikan pergerakan gesit lawannya.


"Apa maksudmu tiba-tiba menyerangku?"

__ADS_1


"Aku adalah salah satu utusan yang ditugaskan membunuhmu sebelum kau mengacaukan prajurit Kekaisaran Qing."


Dengan begitu percaya dirinya dia memperkenalkan diri, "Perkenalkan namaku Huo Rong. Mantan Sepuluh Terkuat di tempat ini."


Sepuluh Terkuat adalah sebutan orang-orang Kekaisaran Qing kepada mereka yang ditunjuk sebagai pahlawan oleh Kaisar. Kedudukan mereka juga didasarkan dari seberapa besar kekuatan dan kontribusi mereka dalam pemerintahan. Xin Chen tak merasa aneh lagi, pantas saja cara berpakaian laki-laki ini sangat berbeda.


Kali ini Huo Rong mengalirkan kekuatan api pada pedangnya, membuat besi tersebut terbakar. Dia menunjuk Xin Chen dengan mata pedang, menantangnya dengan berani.


Lalu tatap mata Huo Rong berganti pada Shui yang terlihat lebih lemah, dia meloncat cepat dan tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Shui. Menanggapi serangan tersebut Shui tak tinggal diam, dia mengeluarkan kekuatan air yang sanggup dikeluarkannya. Membuat pedang berapi milik Huo Rong berasap oleh air. Namun bukannya memadam, api di pedang tersebut semakin membesar.


Satu sentakan berikutnya, Shui menyadari Xin Chen berada di sebelahnya dan mengambil alih pertarungan. Dia sama sekali tak menggunakan tubuh roh lagi. Karena dalam pertarungan nyata seperti ini kemampuan berpedangnya juga akan berkembang seiring berjalanya waktu. Dibandingkan memakai tubuh roh yang hanya membuatnya seperti seorang pengecut. Bertarung curang dan menyerang musuh dari tempat yang aman.


"Tidak akan kubiarkan kau menginjakkan kaki di tempat ini."


Xin Chen tersenyum singkat.


"Kalau begitu sekalian saja kau yang kuinjak."


Huo Rong tersinggung berat. Dia mulai mengamuk.

__ADS_1


__ADS_2