
"Perlihatkan padaku bagaimana teknik yang diajarkan oleh Pedang Iblis."
"Hanya akan aku tunjukkan jika kau memberi tahu di mana Armor Dewa Perang berada."
Hantu dari YuangXe lantas tertawa, "Oh? Kau memburu itu juga? Tindakan yang konyol. Kau hanya akan mati sia-sia di sana. Mereka semua adalah kelompok anti-roh. Dan kau adalah satu-satunya yang paling diawasi, mereka mempersiapkan diri sebelum kau datang. Dari jauh-jauh hari."
"Karena orang yang kalian sebut Guru Yuhao itu?"
"Bukan, karena—" Ucapannya seketika terpotong.
Hantu dari YuangXe seolah-olah dikendalikan oleh sesuatu, tampang suramnya menjadi iblis. Matanya tajam menatap Xin Chen yang kini memperhatikan keanehan tingkah laku laki-laki tersebut. Tanpa mengucapkan apa pun lagi dia menyerang membabibuta. Tebasannya merubuhkan pepohonan tinggi, menimbulkan getaran hebat saat pohon tersebut tumbang.
Hantu dari YuangXe itu hanya menatap hampa, pandangan yang kosong itu seolah-olah tak diisi jiwa. Dia memasukkan serangan ketika lawan lengah, ditangkis dan dibalkkan kembali. Namun kali ini Xin Chen tak memberikan waktu untuk lawannya berpikir. Serangan yang agresif dari kedua kubu membuat hutan belantara rusak, Hantu dari YuangXe itu melompat di dahan pohon yang tinggi. Menangkap tubuh Xin Chen dan mengikatnya dengan tangan dari belakang. Berniat menjatuhkan diri bersama pemuda itu ke tanah dengan kepala menghadap ke bawah.
Tepat saat kepala mereka hampir menabrak tanah Xin Chen menghilangkan diri, membuat lawannya mencari-cari.
Hantu dari YuangXe yang penuh dengan taktik dan teknik curang membuatnya pantas disebut lawan yang keras. Bukan sekali dua kali dirinya bertemu dengan musuh seperti itu, hanya saja Hantu dari YuangXe ini adalah pembunuh senior yang telah menyelami pembantaian manusia manusia selama puluhan tahun. Hal itu jelas membuat perbedaan semakin jauh di antara mereka berdua.
"Aku bisa berbuat curang untukmu."
"Cih, aku sudah menantikannya sejak awal. Lebih-lebih lagi dengan teknik pembunuh milik Ayahmu. Aku tahu kau menahan diri karena takut aku menirunya, bukan?"
"Kau tidak akan bisa menirunya."
Hantu dari YuangXe tertawa terbahak-bahak, tampaknya Xin Chen terlalu meremehkannya. Dia adalah pendekar yang bahkan mempelajari satu jurus hanya dalam semalam. Bukan hal sulit lagi untuk meniru teknik yang hanya ditunjukkan sekali saja.
"Aku sudah puluhan tahun menjadi seorang pendekar, anak muda. Aku jauh lebih senior darimu. Kau terlalu menganggap ku enteng. Aku akan memilikinya bagaimana pun caranya."
"Sebelum kau melihat teknik itu, kupastikan kau mati lebih dulu."
__ADS_1
"Oh, hahahha. Aku suka semangat itu." Senyum miring di wajahnya terkesan mengejek, namun ekspresi itu mendadak menghilang ketika angin kencang datang. Dia tak dapat memastikan apa yang sedang terjadi, namun pergerakannya perlahan-lahan melambat hingga akhirnya kesadarannya melemah.
Xin Chen sempat mempelajari bagaimana Yuhao mengendalikan rohnya untuk mengacaukan pikiran orang lain. Memanfaatkan penyerangan ke jiwa seseorang untuk mengambil alih kesadarannya. Hantu dari YuangXe sempat melepaskan diri, Xin Chen mencoba tiga kali sampai akhirnya laki-laki itu tak lagi bergerak.
Dengan kesempatan beberapa detik itu Xin Chen merebut ketiga pedang di tangan lawan, laki-laki tersebut membelalak menyadari ketiga pedang tak lagi di tangannya. Matanya yang merah bergulir ke arah tangan Xin Chen.
"Itu adalah senjata roh—"
Benda itu menghilang ke dalam cincin ruang penyimpanan.
"Untuk apa kau menyimpannya-!?"
"Oh, pasti mahal. Bagus untuk dijual." Tanggapan pemuda itu membuat urat-urat di lehernya hampir putus.
"Kembalikan! Itu adalah hadiah dari leluhurku!"
"Leluhurmu? Itu artinya Yuhao bukan satu-satunya alasan mengapa kalian dapat berkomunikasi. Atau jangan-jangan nenek itu adalah bagian dari kalian?"
Xin Chen hendak mengubah arah jalan saat tiba-tiba nyanyian aneh berdengung di sekitar mereka yang ditumbuhi oleh rumpun bambu. Ada seseorang yang bernyanyi dengan suara aneh tersebut, lebih terdengar seperti mantra panjang yang mengganggu pikiran.
Xin Chen mengeluarkan serulingnya, mengganggu irama tersebut dengan nada dari Irama Kematian. Sontak saja sosok berpakaian serba tertutup itu tercekik di tempat. Dia mulai goyah di pijakannya. Sementara Hantu dari YuangXe hendak membantunya sebelum jiwa dari orang tersebut habis direnggut Xin Chen.
"Apa yang kau lakukan? Kami bahkan tidak membunuh satu pun orang kalian!" Nada bicara laki-laki itu meninggi, arti solidaritas di tanah YuangXe melebihi ikatan kekeluargaan sendiri. Jika satu dari mereka sakit maka semua orang akan sama kesakitannya.
"Kalian tak membunuh? Jadi roh-roh yang dikumpulkan Yuhao itu?"
"Kalian saling membunuh hanya karena sebuah pusaka. Dan dari semua jebakan yang dipersiapkan tak ada yang benar-benar membunuh. Tetua kami menggunakan cara itu karena tahu, jika orang YuangXe yang turun tangan tamat riwayat kalian."
"Aku mengerti."
__ADS_1
Hantu dari YuangXe itu nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Xin Chen.
"Kau semudah itu percaya denganku?"
"Bukan artinya aku percaya padamu. Tapi aku tahu kalian adalah orang-orang jujur. Ada sesuatu yang dititipkan pada kalian sehingga kalian harus membangun benteng tinggi, kalian menutup diri demi menjaga sesuatu yang dipercayakan Kaisar ratusan tahun lalu."
Orang dari YuangXe di tangan laki-laki itu kembali mendapatkan kesadarannya, menatapi musuh mereka yang hanya bergeming di tempat. Hantu dari YuangXe tak bisa bertarung dengan membawa orang sepertinya, namun meskipun tahu akan hal itu musuh mereka tak menyerang.
"Apa kau percaya jika aku katakan bahwa pembantaian desa itu bukan karena inginku?"
"Lalu?"
"Mereka mencuri titipan itu."
"Kau punya bukti? Jika suatu saat Kekaisaran Shang berdamai dengan YuangXe kemungkinan kepalamu akan dicari dan dipenggal atas hukuman mati. Tidak ada toleransi untuk itu."
Lelaki itu tampak seperti laki-laki pada umumnya, berita tentangnya memang benar adanya. Membunuh banyak manusia dengan tangan yang sudah telanjur bersimbah darah, ada begitu banyak dosa yang ditanggungnya.
"Titipan itu ... Apakah memberatkan kalian semua?"
"Aku kehilangan saudara-saudara ku ..." Nada bicaranya melunak, tidak sekeras tadi.
"Kekuatan kalian yang dulu mungkin sanggup untuk melindunginya. Namun saat ini semua Kekaisaran telah tahu apa yang kalian sembunyikan itu."
"Lantas? Kami harus melarikan diri seperti pengecut?" Dia tersinggung berat. "Tanah ini satu-satunya yang dihadiahkan Kaisar. Anak-anak kami akan terus tinggal di sini, bahkan jika ayahnya mati di medan tempur—"
Xin Chen mulai memahami bagaimana situasi di tempat ini, walau tak semuanya. Dia mengeluarkan beberapa pusaka langit yang telah disimpannya baik-baik selama ini.
"Ada enam lagi pusaka langit seperti itu. Aku sudah menjaganya tujuh tahun ini, sebagai anak dari Pedang Iblis menggunakannya untuk sesuatu yang salah hanya akan mencoreng namanya. Kau lebih tahu hal itu daripada aku."
__ADS_1
Hantu dari YuangXe itu sekilas menatapnya dengan pengharapan hingga akhirnya dari arah selatan kekuatan besar sebelumnya kembali datang mengincar Xin Chen.
"Aku tak akan membiarkan kau meracuni saudaraku dengan kata-katamu!"