Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 245 - Naga yang Kelaparan


__ADS_3

"Tuan, berhentilah sebentar," tahan seorang dengan pakaian resmi kelompok pejuang Kota Fanlu. Xin Chen membalikkan badan merasa terganggu, setahunya dia memasuki kota ini tanpa sedikit pun dicurigai, di tatapnya laki-laki itu heran. Dia tampak masih begitu muda untuk menjadi seorang pejuang, umurnya di bawah 17 tahun dan memiliki raut wajah yang tampak ramah.


Pemuda itu setengah berlari untuk menyusul Xin Chen hingga akhirnya dia menarik napas, membungkuk sekilas. Tampak begitu sopan meski pun usianya masih tergolong muda.


"Anda hendak pergi ke mana?" tanyanya saat melihat pemuda itu pergi ke pelabuhan, Xin Chen bergeming beberapa detik dan menjawab dengan nada heran. "Kenapa memangnya?"


"Ah, begini. Maaf sebelumnya. Saya hanya ingin menyampaikan demi kebaikan anda sendiri jika hendak berlayar melewati lautan tempat ini. Api semakin mendekat dan membuat air laut tak stabil. Jika hendak menyebrang sebaiknya menggunakan kapal besar yang tahan panas atau dilindungi lapisan logam berat untuk menghindari kebocoran kapal, kapal itu sendiri kemungkinan akan kembali dalam lima hari ke depan. Saya tak menyarankan untuk melintasi perairan ini dengan perahu kayu biasa. Beberapa pelayar dan pendatang menjadi korban beberapa hari lalu. Saya tak ingin jatuh korban lagi karenanya."


Pelabuhan di kota Fanlu yang ramai dipenuhi oleh banyaknya orang yang sengaja menunggu, kebanyakan dari mereka adalah pendatang dan musafir yang berkelana. Xin Chen mendekat ke jembatan, merasakan suhu tak biasa dari air tersebut. Semakin parah, kelihatannya. Meski pun api di bawah permukaan laut itu mungkin takkan mencapai kota Fanlu dalam beberapa tahun ke depan, tetapi suhu yang dibawa dari tengah laut sana begitu panas. Dari kejauhan sudah terlihat kabut tipis akibat uap panas.


Seseorang berceletuk, "Tak lama lagi Kota Fanlu tak ada bedanya dengan Kota Renwu. Api akan terus membakar sehingga seluruh Kekaisaran ini habis."


"Nah sebelum itu terjadi, ku pastikan kau lebih dulu mati oleh pemerintahmu sendiri." Segelintir orang itu tergelak, menggunjing orang pemerintahan memang sesuatu yang seru untuk perbincangkan.


Mereka baru menyadari kehadiran Xin Chen di sana, salah satu melambaikan tangan ke arahnya.


"Oi, sedang tunggu apa? Bergabunglah kemari."


Xin Chen mengikuti apa katanya, mereka menatap pemuda itu dengan raut wajah penasaran.


"Hai, kau sebenarnya berasal dari mana?"

__ADS_1


"Tidak bisa kukatakan dari mana. Aku orang kekaisaran Shang."


"Oh, aku merasa auramu sangat berbeda. Hm, apa hanya perasaanku saja?" gumamnya, Xin Chen tak menjawab. Dia justru mengalihkan topik pembicaraan.


"Bagaimana keadaan Pilar Pertama? Ku dengar sempat terjadi sesuatu terhadapnya?"


"Oh ... Kau juga sudah mendengarnya? Heran, padahal orang-orang di sini sudah sepakat merahasiakan. Memang tak ada yang bisa dipercaya." Laki-laki itu mendecak dua kali dengan prihatin, dia menjawab setengah hati. "Syukur saja nyawanya terselamatkan. Orang bilang, ada sosok misterius yang datang di saat Tuan Lan An sekarat. Tuan Muda Xin Zhan yang mengatakannya langsung, dan dia juga mengatakan itu ada kaitan dengan yang sosok yang menyelamatkan saat hampir tewas di perairan Kota Renwu."


Xin Chen mengangguk, "Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Kau begitu mengkhawatirkannya, Tuan. Memang dia saudaramu?" Sahut yang lain dengan nada ketus, tampak tak suka pembicaraan mereka dialihkan dengan pembahasan tentang Pilar Kekaisaran pertama.


"Hahaha, rupanya ada yang masih peduli padanya. Hai, dengar. Kau menanyakan nyawanya sementara dia pun tak peduli dengan nyawamu. Kerjaannya hanya pulang balik berkeliaran tanpa menghasilkan apa-apa. Memalukan."


Xin Chen melihat mereka dengan tak percaya, bagaimana mungkin mereka berpikir demikian sementara jelas-jelas Lan An mempertaruhkan nyawa untuk membela mereka. Xin Chen ingin membela Lan An tapi rasanya itu tak akan mengubah apa pun. Dia bangkit dari tempatnya, mencari penginapan untuk bermalam beberapa hari sebelum meninggalkan Kota Fanlu.


Dia izin pamit pada orang-orang tersebut, melihat-lihat Kota Fanlu dan menunggu malam tiba.


Dari beberapa kabar yang terdengar memang Lan An telah pulih namun tak sepenuhnya, dia harus beristirahat untuk beberapa saat dari pekerjaannya. Xin Chen memutuskan untuk meninggalkan tempat itu saat tengah malam datang, dengan perahu yang sempat di sewanya sore tadi.


Mungkin perahu itu dapat mengantarkannya hanya sampai ke tengah laut, sisanya Xin Chen menggunakan wujud rohnya untuk melewati lautan. Tidak begitu sulit baginya mengingat bagian tubuhnya sekarang adalah roh seutuhnya.

__ADS_1


Api Keabadian menguasai daratan Kota Renwu, semakin tinggi dari terakhir kali Xin Chen melihatnya. Membentuk semacam penjara api biru yang tak bisa dilalui manusia sama sekali, ditatapnya tempat itu lama. Rasanya tujuh tahun di tempat itu membuatnya teringat akan hari-hari yang dilaluinya. Xin Chen menapakkan kakinya pada tanah yang begitu panas di daratan itu. Api biru seolah-olah menyambut kedatangannya, angin laut berhembus kencang menerbangkan jubahnya dengan bebas.


"Aku tahu kau masih di sini."


Xin Chen mengitari sekitarnya dengan teliti, dia masuk ke dalam dan melihat dengan lebih jelas lagi. Hampir tak ada kehidupan di sana, sebelum meninggalkan tempat ini dia sempat mencari tahu keberadaan Naga Hitam itu, meskipun tak menemukannya, Xin Chen sempat merasakan hawa kehadiran naga itu di tanah ini.


Tenggorokan Xin Chen tercekat, dia berusaha memadamkan kemarahan di hatinya. Hari itu, dia membuang Ye Long karena marah begitu menguasai hatinya. Xin Chen tak tahu apakah itu benar-benar salah Ye Long, namun naga itu hanya ingin menyelamatkan ayahnya. Sama halnya seperti Xin Chen.


Dan dia baru menyadari, hari itu Ye Long tak menginginkan baik Naga Kegelapan maupun Xin Fai tewas dalam peperangan.


"Ye Long ...." panggilnya kecil, nyaris tak bersuara. Xin Chen memutar pandangannya ke segala arah di mana api terus berkobar besar. Dia menatap sebuah bayangan di balik birunya Api Keabadian. Bayangan itu menunduk di hadapan sebuah benda.


Kala itu, Xin Chen sedikit terkejut saat melihatnya. Naga itu, dia berada tepat di tempat di mana terakhir kali Xin Chen membuangnya. Tak pernah bergerak sama sekali dari sana, tak pernah meninggalkan Kota Renwu demi menunggu majikannya. Naga itu, terlalu takut untuk kembali sendirian. Dia menghabiskan hari-harinya untuk mengukir sesuatu di tanah, walaupun api selalu menghancurkan apa yang ingin dibuatnya.


Semenjak hari itu, Ye Long kehilangan namanya. Dia tak berani menghadapi Xin Chen karena majikannya pernah mengatakan bahwa dirinya tak ingin melihat Ye Long lagi. Hal itu begitu berbekas di hati Ye Long, dia tak bisa melakukan apa pun selain bertahan di tempatnya. Luka di sayapnya dari peperangan sebelumnya telah tertutup rapat dan meninggalkan bekas sayatan jelas, naga itu hanya memakan burung-burung pelikan saat musim berganti.


Hari itu, Ye Long tak sempat mencari buruannya. Tidak ada lagi yang bisa dia tangkap. Bahkan saat menyelam di bawah laut. Makanan habis dan dia tak makan sudah hampir dua bulan. Naga itu kelaparan dan memutuskan untuk tidur, mengingat esok mungkin saja makanannya akan datang. Dia tidur di tempat biasanya, semenjak Xin Chen pergi Ye Long bisa dengan bebas tidur di tempat itu. Dia hanya akan pergi jika Xin Chen datang ke sana. Takut menampakkan dirinya kembali.


Di bawah kaki Patung Pilar pertama, Naga itu mendengus kecil. Perutnya terlalu kelaparan hanya untuk menyadari sesosok manusia sedang menatapnya dari belakang.


"Ye Long ...?"

__ADS_1


__ADS_2