Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 29 - Kekecewaan Besar


__ADS_3

"Lepaskan aku Guru, ck! Lepaaas!" Xin Chen meronta-ronta di bahu Rubah Petir, mengumpat kesal beribu kali. Dia ingin sekali saja memukul pria bernama Liu Fengying itu.


"Kau bukan bandingannya, bodoh."


"Baru kali ini kau menyebutku bodoh," pikiran Xin Chen teralihkan. Dia teringat akan Liu Fengying kembali. "Lepaskan aku!!"


Rubah Petir melemparnya asal, membuat Xin Chen jatuh dalam posisi buruk. Kepalanya lebih dulu mendarat ke tanah.


"Guru, paling tidak perlakukan muridmu ini sedikit lebih baik." Gerutuan kecil keluar, Xin Chen duduk bersila di tanah, tangannya meremas rambut gelisah.


"Aku tahu kau pasti akan kecewa mendengarnya," ucap Xin Chen kemudian.


"Kau tak berhasil mendapatkannya? Itu karena salahmu, bertindak ceroboh."


Xin Chen merenungi kesalahannya lama, Rubah Petir memaklumi kesalahan ini hanya saja akibat fatal ini tak bisa dielakkan.


"Aku sudah berhasil mendapatkannya, kata penjual itu si pembuat racun hanya membuat beberapa penawar dan yang kubawa tadi adalah yang terakhir...."


"Jadi ke mana perginya penawar itu?"


"Pecah..."


Rubah Petir menjitak kepalanya agak keras, "Kalau kau tak mendapatkannya mungkin kita masih memiliki kesempatan untuk menyusup, tapi kau malah menghancurkannya?"


Xin Chen mengangguk ragu, tahu di posisi ini dia benar-benar melakukan kesalahan berat. "Sialnya kenapa aku malah tidak terpikirkan untuk menyimpannya di cincin ruang?"


Rubah Petir enggan menjawab selain menunjukkan wajah kecewa berat.


"Apa kau memiliki jalan keluar lain?"


Rubah Petir duduk di sampingnya ikut berpikir keras. "Menggunakan permata siluman ular, mungkin?"


Xin Chen menarik napas berat, "Racun di tubuh Zhan Gege agak berbeda, Guru. Di dalamnya ada racun mematikan sekaligus kutukan. Dengan permata itu mungkin racunnya hilang, tapi tidak dengan kutukannya. Dia tetap akan mati dalam waktu tujuh hari..." Jelas Xin Chen lemah. Menatapi langit-langit siang dalam kerisauan.


Xin Chen tiba-tiba membaringkan tubuhnya, terlalu lelah untuk berpikir hingga titik ini. Semua yang telah dilakukannya sia-sia, bahkan sedikitpun penawar tadi tak sempat diambilnya.


Melihat keresahan Xin Chen Rubah Petir juga tak tega, dia sebenarnya ingin membantu namun letak permasalahannya ada di kutukan yang dikatakan Xin Chen. Helaan napasnya terdengar kesekian kali.


Rubah Petir menoleh ke arah Xin Chen yang menutupi dahinya dengan lengan. Tampak sedang tertidur.


"Guru, apa menurutmu aku ini benar-benar gagal?"

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Aku gagal menyelamatkan Xin Zhan..."


Walaupun tak enak hati Rubah Petir mengiyakannya, karena memang seperti itu adanya. "Ya, Kau sendiri yang mengatakan tidak ada yang bisa menyembuhkan kakakmu selain penawar itu."


"Itu berarti aku memang anak gagal."


Sontak Rubah Petir tak menyangka pembicaraan ini malah menyinggung Xin Chen, dia berpikir untuk mengelak tapi Xin Chen sudah lebih dulu bangkit. Meninggalkannya di padang rumput sendiri.


"Mungkin setelah ini aku takkan kembali lagi ke rumah, Guru, aku akan mencari semua yang kubutuhkan untuk menghadapi musuh lama ayah itu, katakan pada Ayah untuk tidak mencariku lagi."


"Chen, kau mau ke mana?!"


Xin Chen berhenti sebentar, menoleh sedikit sebelum benar-benar meninggalkan Rubah Petir. Meskipun baru sebentar dia seperti sudah mengenal rubah itu sejak lama.


"Aku sudah mencelakakan Zhan Gege dan tidak bisa mengatasinya dengan tanganku sendiri. Apa menurutmu aku masih pantas menjadi anaknya?"


*


Xin Chen berjalan semakin jauh, dari sama Rubah Petir dapat mendengar anak itu bergumam. "Menurutku tidak."


Xin Chen melepaskan Topeng Hantu Darah, berjalanan sendirian di tengah keramaian. Tak terasa langit mulai menggelap kelam, tak berselang lama hujan pun turun dengan deras membasahi atap-atap perumahan.


Xin Chen mendengus kecil, memakan roti itu sedikit.


"Hei apakah di luar aman?"


Xin Chen tertegun mendengar sebuah suara menyapa telinganya, dia menoleh ke belakang tak mendapayi siapapun. Hanya rumah kayu yang sudah tak berpenghuni.


"Aku di dalam sini."


Xin Chen menyipitkan matanya, melihat sepasang mata tengah mengintipnya dari balik celah kayu. "Kau mengejutkanku," rutuknya.


"Maaf, maaf. Aku sedang terjebak di sini selama tiga hari. Bisa kau berikan aku sepotong roti dan juga air?"


Xin Chen mengiyakannya, dia memberikan makanan terakhir dan sedikit minuman dengan sedikit membuka pintu.


Mereka saling diam untuk beberapa lama hingga akhirnya sosok di dalam rumah kembali mengeluarkan suara. "Kau anaknya Xin Fai, bukan?"


"Y-ya?" Xin Chen agak terkejut, biasanya orang-orang akan menyebut ayahnya dengan nama julukan atau pilar pertama, pria ini tampaknya mengenal Ayahnya secara pribadi.

__ADS_1


"Kau siapa? Dan kenapa bisa terperangkap di sini? Bukannya pintunya terbuka lebar, kau bisa keluar juga."


"Itu... Sebelumnya perkenalkan aku Shen Xuemei, mungkin ayahmu pernah menyebutkan tentangku padamu?" Di balik dinding tersebut Shen Xuemei mengembangkan senyum percaya diri.


"Tidak, aku tidak pernah mendengar namamu. Maaf."


Shen Xuemei tertohok berat. Mengumpati teman lamanya itu dalam hati. "Ha-ha lupakan, begini, aku terperangkap di sini atas suatu alasan. Kau lihat lima orang di luar? Mereka sedang mengincarku."


Xin Chen menatapi lima pendekar berjubah tersebut. "Mereka dari Lembah Para Dewa."


"Kau mengetahuinya? Tampaknya mereka sangat berbahaya. Dua dari lima pendekar itu merupakan pendekar agung. Apalagi mereka memiliki senjata mengerikan."


"Jadi itu yang menahanmu? Memang kau diincar karena apa?"


"Ah, kau tidak tahu, ya. Tubuhku dapat menghancurkan racun apapun."


Xin Chen berhenti mengunyah, membalikkan badannya secepat kilat. "Kau pasti bisa membantuku!"


"Membantu? Sebelum itu sebaiknya kau pikir dulu cara agar aku bisa kabur dari dua pendekar agung itu."


Xin Chen mengangguk pelan, menurutnya hal ini tidaklah sulit dia lakukan. Shen Xuemei menangkap samar binar mata Xin Chen dari balik celah, rasanya dirinya kembali di masa lalu. Ketika bertemu Xin Fai di Kuil Teratai dan melihat temannya itu berkembang dengan sangat cepat. Mungkin meskipun Xin Chen tak bernasib buruk seperti ayahnya yang kehilangan orangtua saat masih kecil, dia masih memiliki motivasi kuat untuk melindungi orang-orang yang dia sayang.


Shen Xuemei tak pernah menyangka ide Xin Chen sedikit lebih buruk dari perkiraannya. Anak itu malah mengajak para pendekar agung itu berkelahi. Dia melemparkan lima batu bersamaan, meskipun mereka masih bisa menghindar cepat, kemarahan tak bisa dielakkan.


"Bocah ini, apa yang kau lakukan?!"


"Mau mati, ya?"


"Anak ini sepertinya sudah tidak waras!"


Lontaran umpat-mengumpat terus terdengar, Xin Chen menimang-nimang batu di tangan kirinya. Melemparkan sepuluh batu lagi lalu berlari kencang sambil memeletkan lidah.


"Bapak-bapak tua yang kesepian, kejar aku kalau berani!"


"Memang minta dihajar!!"


Xin Chen berlari secepat kilat, dia tak menyangka latihan yang dia lakukan seharian penuh tempo lalu akan menyelamatkannya pada situasi ini. Setidaknya kecepatan berlarinya masih lebih baik dari sebelumnya, apalagi dengan tubuh kecil Xin Chen bebas menyalip di kerumunan.


Aksi kejar-kejaran ini membuat ricuh daerah sekitar, air banjir yang menggenang di jalanan akibat hujan tadi terciprat mengenai baju orang-orang di sekitar Xin Chen, anak itu tertawa senang. Membuat orang lain kesal memang hobinya sejak dulu beberapa penduduk berhenti sambil mengernyitkan dahi melihat mereka berkejaran seperti tikus dan kucing.


Tak bisa dipungkiri kecepatan berlari pendekar agung memang tak main-main, walaupun sejak awal jarak mereka cukup jauh Xin Chen masih bisa disusul. Memang kelima Pendekar itu smasih memasuki tahap satu, yang termasuk awal tapi kecepatan berlari mereka setara dengan kecepatan kilat.

__ADS_1


*


__ADS_2