Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 328 - Terjaga dari Maut


__ADS_3

"Itu artinya kita tidak punya pilihan untuk mundur?"


"Kalau aku saja tidak masalah. Tapi kalian bertiga ... Aku tidak tahu sampai mana aku bisa ...." Xin Chen berhenti sebentar, Wei Feng segera menyerobot. "Jika benar itu terjadi, jangan pernah berpikir untuk mundur demi menyelamatkan kami. Kau tahu, hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Empat Unit Pengintai dan juga orang-orang Kekaisaran Shang. Hei, kawan, tidak usah ragu begitu. Kau ditakdirkan lahir dari seorang pemimpin. Wajar saja kau memiliki tanggung jawab besar atas keselamatan banyak orang."


Wei Feng menepuk-nepuk tempat tidur, lalu menyamankan posisinya. "Aku tidur dulu."


Ruangan besar yang gelap dan pengap itu mendadak hening. Xin Chen menatapi sekitarnya dalam diam. Malam terlalu larut, dia tidak bisa meninggalkan tempat ini seperti malam kemarin. Karena dia juga tak ingin membiarkan tiga kawannya dalam bahaya selagi dirinya melakukan pencarian.


"Tertidurlah, sampai kau tak ingat bagaimana cara membuka matamu."


Suara berbisik dari tempat yang jauh seketika membuat punggungnya tegak. Xin Chen menyadari hawa kehadiran lain di sekitar ruangan. Tidak begitu dekat darinya. Mungkin di arah pintu yang sama sekali tidak terbuka.


'Tidak mungkin ada yang bisa memasuki tempat ini, kecuali dia pengguna roh.'


Berselang tak lama setelah itu, suara-suara besi terdengar menyentuh lantai. Pelan dan perlahan. Terdengar rapalan aneh setelahnya yang diiringi dengan bangkitnya sesuatu di depan sana. Dalam gelap yang membutakan, Xin Chen hanya bisa melihat bayangan-bayangan hitam berbaju besi tengah berbaris di paling ujung. Mungkin sekitar tiga puluh, tak memiliki hawa manusia. Tidak ada embusan napas atau detak jantung. Hanya saja, di beberapa detik kemudian berpuluh-puluh pasang mata merah terbuka di sana.


Xin Chen sontak berdiri.


"Semuanya, bangun!"


Tapi tak ada yang mendengarkan kata-katanya, Xin Chen mengulang sekali lagi. Dari 49 orang di ruang tersebut, tak ada satu pun yang terbangun oleh teriakan kerasnya. Ada yang ganjil, Xin Chen mengitari sekitar mencari si pemilik kekuatan misterius.


"Wah, ternyata ada satu jiwa yang terjaga dari tidur lelapnya. Siapakah gerangan ...? Apakah kau tidak makan seharian dan lolos dari obat racikan ku?"

__ADS_1


"Kau meracuni mereka semua?"


"Tenang, tenang saja. Mereka tidak akan mati. Kecuali jika mereka tidak terbangun malam ini." Orang tersebut belum memunculkan dirinya. Xin Chen tak berani menggunakan kekuatan roh yang dia sembunyikan semenjak memasuki tempat ini. Tidak ada senjata atau pertahanan diri. Xin Chen memilih menyimpan cincin ruang tanpa membukanya lagi karena di dalamnya berbagai pusaka penting disimpan.


Andai saja sosok itu menyerang, Xin Chen hanya bisa menghindar.


"Sayangnya di pertunjukan malam ini semua orang tertidur. Tidak apa-apa. Kita mempunyai satu penonton spesial yang akan menjadi tamu utama malam ini. Bersiaplah, karena ..."


Seberkas cahaya muncul, menyerupai warna merah gelap yang pekat. Semakin lama wajah bengis terlihat di sana, dia berpenampilan seperti gelandangan. Namun kekuatannya terasa begitu berbahaya.


"Pion-pionku ini akan memakan semua pionmu. Maaf saja jika jiwa mereka ikut ku ambil."


"Menyerang di saat semua orang tertidur, kau hanya mencari keuntunganmu sendiri. Pengguna roh memang mengerikan."


"Hei, hei. Kau ini anak baru? Sudah bukan hal baru lagi para pengguna roh menyerang di tengah malam. Sampai menghabisi satu desa. Apalagi dalam perang, serangan akan datang dari mana saja. Kebetulan saja malam ini kau selamat. Kau bisa kabur, kuhitung sampai tiga."


"Hitung sampai seribu. Aku tidak akan angkat kaki dari sini."


"Oh-ho-ho! Tamu spesial kita ternyata berperan sebagai pahlawan! Pahlawan tanpa senjata?! Tanpa perisai? Sungguh menggelikan." Dia tertawa sampai bahunya naik turun, "Baiklah~"


Ketiga puluh prajurit kompak mengangkat wajahnya, Xin Chen mencuri pandang ke belakang.


Wei Feng, Youji dan juga Yu Xiong tertidur. Makanan tadi siang tadi telah dicampurkan sesuatu, membuat mereka semua tak bisa terbangun. Mungkin efeknya baru bekerja sekarang, Xin Chen tidak bisa menebak berapa lama obat itu bekerja. Jika sampai pagi, kemungkinan seluruh orang di tempat ini akan dibuat habis oleh laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Mau dengar kabar baik atau kabar buruk dulu?"


Dia tidak menunggu jawaban dan langsung melanjutkan. "Kabar baiknya aku hanya bisa mengendalikan tiga puluh prajurit ini dalam tiga jam."


"Kabar buruknya?" kata laki-laki itu tertawa singkat. "Hanya dalam waktu tiga jam aku mampu meruntuhkan satu bangunan ini."


Dia menghilang, tetapi tawanya masih terdengar menghantui asrama. Xin Chen mendekati prajurit tersebut. Mereka masih tak melakukan pergerakan apa pun. Di tangan mereka ada satu pedang yang cukup untuk memotong tubuh manusia. Xin Chen sedikit curiga setelah sepuluh menit belum ada pergerakan. Hingga ketika dirinya hendak menyentuh salah satu prajurit, prajurit roh itu merespon dan membuat semuanya bergerak mengacungkan pedang ke atas.


Kini Xin Chen menghindar, mereka semua mengincarnya. Salah satu prajurit menabrak ujung rancang. Matanya yang bercahaya menyoroti satu manusia yang tengah tertidur dan langsung memotong kepala orang itu tanpa ampun. Xin Chen berbalik badan, matanya dibuat silau oleh cahaya merah yang begitu terang. Dalam gelap itu, semua mata menyorot ke arahnya dan mengejarnya.


Karena tahu mereka ingin menyerangnya, Xin Chen membawa mereka ke bagian kamar mandi. Memanjati dinding-dinding pembatas saat kerumunan prajurit tersebut berdesakan masuk dalam kamar mandi yang sempit. Dia menguncinya segera. Mengejar satu prajurit yang tadi telah membunuh satu orang dan sedang mencari mangsanya yang lain.


Xin Chen mengendap-endap dari belakang, lalu mengunci pergerakan prajurit roh tersebut. Dia merebut pedangnya. Hanya saja cengkraman tangan besi pada pedang tersebut di luar nalarnya. Bahkan seperti sudah menyatu. Xin Chen meninju wajahnya. Membuat kepala tersebut terlepas dari tubuh. Tak lama, hanya dua detik, kepala itu kembali ke tempat semula.


Xin Chen mendecak dan mundur. Dia harus melakukan sesuatu karena di ruang kamar mandi, prajurit tersebut mulai menghancurkan pintu.


"Apakah pahlawan kita akan mati di malam yang membingungkan ini? Teman-temannya membuat dia kesusahan. Sedangkan nyawanya sendiri saja sudah di ujung tanduk."


Xin Chen menengadah dan melihat seseorang di atasnya sedang menonton. Dia timbul tenggelam di langit-langit yang temaram. Jika Wei Feng yang melihatnya sekarang, pasti laki-laki itu akan berteriak kesetanan.


Awalnya laki-laki itu yakin Xin Chen hanyalah pemuda biasa. Tapi ada sesuatu yang tidak terlihat di matanya. Instingnya mengatakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Namun meskipun begitu, kuat atau tidaknya pemuda itu, dia merasa tak akan tersaingi oleh siapa pun.


Suara siulan lamat-lamat terdengar. Laki-laki itu mengerutkan alisnya bingung. Tidak ada dampak apa pun baginya. Namun para prajurit roh mengeluarkan reaksi yang tidak biasa.

__ADS_1


__ADS_2