
Hembusan angin yang sangat kuat mengganggu pandangan Han Wu, di balik kepulan debu yang begitu tebal muncul Xin Chen secara tiba-tiba. Sebuah tangan roh muncul di bawah kaki lelaki itu mencoba menangkapnya. Han Wu mundur ke belakang dengan spontan, kali ini Xin Chen sangat serius.
Baru saja menapakkan kakinya ke tanah, tempatnya berpijak bergetar hebat. Siluman roh yang bergabung dengan kekuatan Api Keabadian keluar dari bumi, lipan yang ukurannya hampir seukuran sebuah rumah dan begitu panjang membuka mulutnya lebar-lebar. Belum habis sampai di situ, Han Wu kembali di kejutkan oleh sambaran Hujan Petir yang mendadak muncul dan mencoba membunuhnya.
"Dia tidak bermain-main lagi seperti tadi?" Han Wu mengelak, siluman lipan tersebut merayap sangat cepat. Tanah yang dilaluinya terbakar oleh api dan takkan padam sekalipun dirinya mematikannya dengan es. mahkluk itu terus memutarnya, sementara Han Wu menghindar dan terus menghindar sampai dirinya sadar telah mengambil langkah yang salah. Lipan tersebut sengaja mengurungnya di dalam pusaran dan tak membiarkan Han Wu kabur dengan membuat lingkaran berapi.
Di lain sisi kaki Han Wu berhasil di tangkap dengan sebuah tangan roh yang bahkan melebihi ukuran tubuhnya sendiri. Dia mencoba melihat Xin Chen sekali lagi, tatapan mata itu sama sekali tak berubah. Kedua tangannya terus mengendalikan tiga jenis kekuatan, menghancurkan Han Wu tanpa menyentuhnya sama sekali.
Han Wu menahan napasnya, perlahan-lahan Xin Chen mengangkat kepalanya dan tersenyum. Senyuman yang sulit diartikan.
"Matilah dengan tenang."
Cengkraman tangan Roh membuat tubuh Han Wu serasa dicekik, perlahan kekuatan roh menggerogotinya. Membuat tubuh tersebut dilubangi di beberapa bagian. Sementara lingkaran api yang mengerubunginya menjadi semakin tinggi, tubuh Han Wu tidak terlihat lagi.
Hujan Petir telah berhenti dan berganti menjadi sebuah jurus yang berbeda, seluruh kekuatan petir yang seharusnya mencakup area yang luas mulai berkumpul di satu titik. Kekuatan tersebut menyatu dan membesar layaknya teknik Hukuman Langit. Tak menunggu lama petir langsung jatuh dan menimbulkan bunyi besar hingga membuat tanah di sekitarnya seakan meledak.
Tangan Roh yang tadinya mengikat tubuh Han Wu perlahan memudar, lingkaran api biru mulai mengecil. Xin Chen hanya bisa melihat pakaian yang dikenakan lelaki itu tadi, tubuhnya telah dihabisi hingga menjadi abu. Setidaknya kali ini Xin Chen bisa menarik napas dalam-dalam, pertarungan melelahkan ini membuat pikirannya menjadi kacau.
Kakinya terasa lemah, Xin Chen jatuh berlutut. Seluruh kekuatannya telah dikerahkan untuk menghabisi Han Wu. Xin Chen kehabisan napas, untuk yang kedua kalinya dia memuntahkan darah, dia telah menggunakan kemampuan hingga melampaui batas yang seharusnya. Jika terus begini dirinya hanya akan jatuh pingsan dan menjadi beban.
Xin Chen menengadah ke atas langit, melihat Ayahnya baru saja memalingkan wajah setelah melihat hasil pertarungan tadi. Entah mengapa Xin Chen merasa senang, untuk satu hal ini saja dia ingin sekali meringankan beban di pundak ayahnya.
__ADS_1
"Kesadaranku, mungkin aku akan ...." Tubuhnya limbung, kedua tangannya bergetar hebat. Kekuatan Api Keabadian yang sama dengan milik Naga Kegelapan itu memang memiliki level berbahaya yang sangat tinggi. Semakin dia mengandalkan kekuatan tersebut maka Api Keabadian akan mengambil imbalan yang setimpal dengan apa yang didapatkannya. Saat pandangannya mulai kabur dan tubuhnya nyaris menghantam tanah, sesuatu menahannya.
"Kau sudah berusaha keras. Istirahatlah dulu."
Dia sedikit tertegun, namun tersenyum beberapa saat.
"Baik, Guru Rubah."
*
Tanpa sepengetahuan Xin Chen, Rubah Petir menyalurkan lebih dari seperempat kekuatannya pada anak itu. Karena kekuatan Rubah Petir sendiri hampir sama seperti yang ada di dalam tubuh muridnya itu dan telah menyatu dengan darahnya. Maka tak heran lagi hal itu membuatnya segera siuman dan bangun dengan kekuatan yang tiga kali lebih besar dari sebelumnya.
Rubah Petir telah kembali ke wujud aslinya, Shui tak sanggup lagi menahan Naga Kegelapan. Dia lah yang paling babak belur pada saat ini. Kemampuan asli Naga Air bukanlah bertarung, mungkin untuk melawan siluman selevel Naga Es dia masih sanggup, namun untuk menghadapi Naga Kegelapan yang kekuatannya nyaris tanpa batas, maka Rubah Petir adalah lawan terkuatnya.
Dia terus memperhatikan sekelilingnya, tanpa disengaja Xin Chen menangkap sosok Xin Zhan tengah bersembunyi di balik puing-puing kayu. Dia terlihat ketakutan dan tak berani bergerak setapak pun dari tempatnya. Ayahnya masih terus bertarung melawan Qiang Jun, kali ini dengan luka yang mulai terlihat jelas di sekujur tubuhnya. Keadaan telah berbalik gawat
Meskipun kali ini Han Wu tidak lagi terlihat di mana-mana namun dengan jatuhnya Shui dan Ayahnya yang terluka parah, maka mereka akan semakin dekat dengan kekalahan.
"Sial, berapa hari aku tertidur!?!" jeritannya sampai di telinga Rubah, siluman itu melirik ke arahnya sedikit dan hanya tertawa masam.
"Satu hari. Kau tertidur sampai satu hari, bodoh. Apa kau tidak lihat gurumu ini sampai kewalahan melawan Naga sialan ini?" ocehnya Rubah Petir, "Celaka, seharusnya aku pergi ke tempat si Salamender sialan itu lebih dulu," celotehnya tak habis pikir.
__ADS_1
Lebih parahnya lagi setelah sebelum Xin Chen pingsan, Ye Long diserang oleh Naga Kegelapan dan tubuhnya terpental sangat kuat. Rubah Petir tak yakin apa tulang-tulang naga itu masih utuh atau tidak. Mengingat tubuhnya masih kecil.
Saat berpikir hendak memarahi Xin Chen lagi, Rubah Petir sedikit terkejut saat mendapati mulutnya sudah dipenuhi dengan darah. Darah yang begitu banyak itu sampai membasahi bajunya, bukan hanya dirinya, Xin Zhan sampai memaku di tempatnya dan berpikir seratus kali untuk mendekati adiknya.
Mau tak mau Xin Zhan berlari ke arahnya dan membawa adiknya itu ke sebuah tempat yang tersembunyi. Dia langsung menyatukan alisnya, nada bicara meninggi.
"Kau pikir apa yang kau lakukan?!"
Dibilang seperti itu justru darah dari mulut Xin Chen semakin tidak terkontrol, Xin Zhan panik dan mengeluarkan sebuah botol berisi obat. Obat yang diracik oleh ibunya sendiri dan beberapa tanaman herbal yang berguna untuk menghentikan pendarahannya, namun darah itu tak berhenti mengalir dan terus keluar dari mulutnya.
Xin Zhan mengumpat-umpat tak jelas, dia benar-benar khawatir. Xin Chen hanya tersenyum, dia sadar meskipun perlakuan kakaknya itu sangat kasar dan sering sekali menghinanya itu semua dilakukannya agar Xin Chen sadar akan kekuatannya dan berlatih lebih keras lagi.
"Terimakasih."
"Hah? Chen, aku penasaran batu apa yang menimpa keningmu itu sampai tiba-tiba kau tahu cara berterimakasih."
Jelas Xin Zhan heran, bahkan di rumah dulu kepada ibunya saja Xin Chen jarang mengatakan kata-kata seperti itu.
"Dan maaf," lanjutnya. "Maaf aku membuat kalian semua khawatir. Maaf karena aku tidak di sini saat ibu menangis, tidak memikirkan bagaimana perasaan kalian, dan selalu merepotkanmu. Hehehe."
"Sial, sekarang aku malah berpikir setan jenis mana yang sukarela merasuki tubuhmu itu." Meskipun berbicara begitu Xin Zhan tetap mengobatinya.
__ADS_1