Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 316 - Perekrutan


__ADS_3

Ye Long menggigit belut itu sambil menatap mereka kebingungan, terlebih lagi pada laki-laki yang paling besar di antara mereka. Dia seperti ingin mengamuk tetapi mencoba menahannya sampai kedua telinganya hampir berasap.


"Katakan padaku siapa yang memelihara naga jelek ini?"


Ye long mengernyit kesal. "Siapa yang kau bilang jelek?"


"Namamu Xin Chen, bukan? Berkeberatan tidak aku jadikan naga ini santapan makan malam?"


"Terserah padamu saja."


Ye Long tak mengerti situasi yang tengah terjadi, yang pasti di detik selanjutnya Huo Rong mengejarnya begitu kencang hingga membuat jantungnya seperti ingin lepas.


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, Huo Rong tak mengizinkan Xin Chen pergi begitu saja. Karena menurutnya Kekaisaran Qing adalah tempat yang berbahaya apalagi untuk pendatang baru sepertinya. Xin Chen tak mungkin bagaimana sistem di Kekaisaran ini bekerja, terlebih lagi pengawasan ketat di sekitar sini berkemungkinan membuatnya tertangkap dan dihukum mati tanpa pertimbangan. Beda ceritanya jika dia berada di tempat ini, pulau yang sangat dihindari dan jrang di datangi oleh siapa pun.


Jadi untuk itu, sementara ini Xin Chen hanya mendengar bagaimana Huo Rong menjelaskan Kekaisaran Qing.


"Kau datang ke sini untuk menyusup, bukan?" Huo Rong tak begitu tertarik dengan makanan yang ditawarkan Shui. Tampaknya si naga air membawa banyak persediaan dari Lembah Para Dewa.


"Apa kau juga membawa si bodoh ini untuk misi penyusupan itu?" Dia menunjuk Shui yang sedang memakan makanannya sambil merebahkan diri di atas rumput-rumput basah. Yang ditunjuk merasa tersinggung. "Jika aku bodoh mungkin aku tak akan kembali ke sini setelah ditangkap penjaga itu."


"Baiklah, si bodoh yang beruntung." Huo Rong meralat, membuat Shui langsung melemparnya dengan buah apel yang masih digigitnya setengah. "Kurang ajar!"

__ADS_1


"Tidak, aku hanya akan pergi ke sana sendirian."


"Kau tidak punya identitas sebagai rakyat Kekaisaran Qing. Kau sudah kukatakan sebelumnya kan, jangan sekalipun meremehkan penjagaan di sini?"


"Aku berniat membelinya dari penjaga kota. Mungkin dengan sedikit uang mereka akan melakukannya."


"Uang tak akan mampu untuk menyogok penjaga keras kepala seperti mereka. Kau tahu, nyawa mereka lebih berharga dari uang yang kau tawarkan."


Huo Rong terdengar menghela napas, "Sudah ku tebak, kau memang tak mempersiapkan diri sejak awal."


Suara Huo Rong terdengar putus asa. Dia membuang pandangan jauh, khawatir karena hal ini Xin Chen benar-benar akan ditahan di Kekaisaran Qing. Dengan begitu dia tak akan bisa mencapai tujuannya demi menyatukan ketiga kekaisaran.


Hari sudah malam kembali, Huo Rong dan Shui memilih tidur. Hari sudah begitu larut malam itu namun Shui terbangun dan mendapati Xin Chen tengah berada di sampingnya.


Shui masih mengumpulkan kesadaran, hanya sepenggal kata yang didengarnya dari Xin Chen yaitu pergi. Dia menangguk-angguk setuju dan kembali tidur.Dan baru sadar di keesokan harinya Xin Chen sudah menghilang dan Huo Rong mengamuk kencang padanya. Untung saja kali itu, Shui dapat membujuknya untuk kembali ke Lembah Para Dewa.


**


Di beberapa perbatasan berdiri kawasan yang dilindungi dengan ketat, Xin Chen mengawasi dari jauh sambil melihat bagaimana gelandangan yang tak memiliki keluarga dibunuh di tempat tanp ampun. Mereka berhati dingin sekaligus bertangan besi. Tak ada satu pun ari pengunjung yang berani menoleh pada gelandangan tersebut dan memilih lewat begitu saja. Mereka sudah menganggapnya sebagai hal biasa.


Tentu Xin Chen tak sebodoh itu untuk melewati jalan depan. Padahal tempat yang dimasukinya adalah pedesaan yang tak begitu besar. Kebanyakan dari masyarakatnya hanya berkebun dan bertani, meski keadaan di luar desa sangat menyeramkan tetapi keadaan di desa tersebut bisa dibilang damai. Xin Chen dapat melihat mereka saling bertukar sapa dan kebanyakan anak-anak mengerubunginya sambil memamerkan mainan mereka.

__ADS_1


Namun kedamaian itu seketika musnah saat segerombolan laki-laki berkuda datang. Mereka memakai baju perang lengkap dengan penutup kepala. Saat mereka datang, kepala desa segera menyambut dan bersujud di depan kudanya.


"Maaf, Tuanku. Kami sudah menyerahkan semua anak laki-laki darri desa ini. Hanya tersisa orang tua anak-anak-"


Kata-katanya terhenti saat kaki kuda menginjak kepalanya, jenderal tersebut seolah tak memedulikan apa katanya. Mata sipitnya mengawasi setiap deretan rumah, dia memacu kudanya ke tengah dan sengaja menginjak tubuh kepala desa. Diikuti bawahannya di belakang, mereka membuat satu desa yang awalnya ramai berubah hening. Tak ada yang berani mengangkat wajah.


"Kami menerima perintah untuk mengumpulkan sebanyak dua ratus ribu prajurit lagi! Desa ini harus menyumbang setidaknya dua puluh orang lagi, dari klan mana saja! Tidak ada bantahan! Atau dalam waktu dekat rumah dan anak istri kalian dibakar di tempat!" Teriakannya yang menggelegar cukup membuat orang-orang ketakutan. Kepala desa yang sedari tadi bersujud gemetaran bersuara dengan pasrah.


"Baik, Tuan. Saya usahakan ..."


"Mundur!" Saat jenderal itu menarik lagi pasukannya dan pergi dari sana, barulah mereka bising. Tak ada lagi yang mau menyerahkan anak mereka, tapi di sisi lain mereka sudah tak mempunyai pilihan. Di desa itu hanya tersisa beberapa orang saja. Sang kepala desa berdiri dengan wajah kotor oleh tanah, dia menatap rakyatnya dengan mata bersalah. Matanya terlihat memerah, tak mampu menghadapi mereka bagaimana.


"Apakah ada yang bersedia untuk turun ke medan perang? Sungguh, kalian akan mati dengan kehormatan jika mengikuti mereka. Walaupun harus meninggalkan keluarga tercinta ..."


Beberapa dari mereka membantu laki yang sudah berusi lima puluh tahun itu bangun, mereka tampak memprihatinkan. Sebagai pendatang Xin Chen belum mengambil tindakan apa pun. Dia juga sebenarnya tak ingin memperumit urusan kepala desa yang tampak begitu cemas itu.


Awalnya tak ada yang mau unjuk diri, tapi akhirnya satu kepala keluarga angkat tangan. "Aku merasa harus melindungi istri dan putri-putriku. Aku juga ingin melihat bagaimana putraku yang sudah lebih dulu ikut bersama mereka ..."


Setidaknya dengan kesediaan laki-laki itu, ada beberapa laki-laki lain yang mengatakan bersedia. Yang paling muda di antara mereka adalah yang berusia delapan belas tahun. Kini sudah terkumpul sebenyak delapan belas orang di tengah desa, dari yang muda higga dewasa. Kepala desa mulai cemas krena tampaknya mereka sudah tak memiliki laki-laki lagi di desa ini. Sedangkan delapan belas orang itu sudah termasuk dirinya sendiri.


"Apakah masih ada yang bersedia?" Mereka saling berbagi pandangan, tak ada lagi kepala keluarga, anak laki-laki muda atau dewasa yang tersisa.

__ADS_1


Hingga akhirnya terdengar keributan dari satu rumah.


__ADS_2