Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 86 - Empat Unit Pengintai


__ADS_3

Jin Sakai menceritakan bahwa akhir-akhir ini desa di seberang mulai ramai oleh para pendekar kelas atas maupun kelas bawah, entah dalam tujuan apa tapi Jin Sakai bisa menjamin mereka semua datang untuk tujuan yang sama.


Desa yang dimaksud oleh Jin Sakai adalah desa Shengyou yang sangat terkenal akan hasil sumber daya buminya. Di desa ini banyak pandai besi handal yang tinggal menetap. Sayangnya akhir-akhir ini terjadi sesuatu yang sangat tak diinginkan. Seperti yang telah diketahui segelintir pendekar mulai mencari-cari Pusaka Langit yang tersebar di seluruh Kekaisaran Shang. Dari segelintir orang itu akhirnya semua orang tahu dan ikut mencarinya dengan mengandalkan informasi rahasia.


Hingga akhirnya desa Shengyou telah dipenuhi oleh pendekar aliran hitam maupun putih, saling bertarung memperebutkan senjata tempur yang paling banyak dicari oleh para jagoan hebat. Sebuah senjata khusus yang diciptakan Han Zilong dan disebut-sebut sebagai penempa paling hebat tanpa tanding.


Saat mendengar kabar tersebut Xin Chen teringat akan peta yang diambilnya dari alkemis gila dari Desa Hantu. Membuat Jin Sakai ikut penasaran dan sedikit mencuri pandang ke arah peta tersebut.


Xin Chen meneliti setiap daerah yang ditandai dalam peta tersebut dan benar saja salah satu di antara delapan tempat di sana adalah Desa Shengyou, Desa Pandai Besi termakmur di Kekaisaran Shang.


'Sepertinya aku juga harus memastikan benar tidaknya keberadaan Armor Dewa Perang itu...' batinnya merenung agak lama, di satu sisi memang dia bertujuan untuk mendatangi desa sisa kumpulan Manusia Darah Iblis untuk menumpas mereka. Menjadikan Desa Shengyou sebagai tujuannya sekarang mungkin akan menunda perjalanan ke tujuan awalnya.


"Tapi jika kau berpikir untuk datang ke sana, ku katakan saja kau harus sangat berhati-hati. Karena kudengar juga di sana telah datang sebuah kumpulan petarung hebat. Mereka menyebut diri mereka sebagai Empat Unit Pengintai."


"Empat Unit Pengintai?" ulang Xin Chen bertanya-tanya, tidak pernah mendengar nama itu di manapun sebelumnya. Jin Sakai menuangkan secangkir teh lalu menyodorkannya pada Xin Chen sembari menjelaskan.


"Empat Unit Pengintai ini adalah kelompok praktisi perang yang hebat. Ah, saat melihat mereka datang bersama pasukan kavaleri saja sudah membuatku merinding. Mereka berpasukan kuda, bersenjatakan armor dan pedang kelas atas yang dipenuhi permata siluman. Tentu saja permata itu adalah milik siluman level tinggi, bisa kau bayangkan betapa kuatnya kelompok itu?"


"Memang mereka seberapa banyak?"

__ADS_1


"Satu unit bisa sepuluh orang. Tapi jika kau lihat lagi sepuluh orang itu sama saja dengan melawan seratus pendekar menengah."


Dalam situasi ini Jin Sakai tak mungkin berbohong apalagi hanya sekedar menakut-nakuti, karena sejak awal dialah yang memulai topik pembahasan perihal desa Shengyou.


"Maksudku mengatakan ini agar saat kau pergi jangan sampai melewati desa itu, apalagi dengan membawa Naga Hitam. Aku yakin Empat Unit Pengintai takkan melepaskannya walaupun kau berlutut."


"Justru aku akan tetap pergi ke sana walaupun kau melarangnya," tukas Xin Chen yakin, seperti biasa cahaya pada bola matanya menampakkan keberanian penuh walaupun harus menantang bahaya.


Jin Sakai nyaris menyemburkan teh dalam mulutnya saat mendengar jawaban yang di luar dugaannya itu, maksud dia mengatakan ini memang sekedar memberi peringatan agar Xin Chen tak pergi ke sana. Karena akan membahayakan nyawanya dan juga Naga Hitam.


Jika Xin Chen bersikukuh seperti ini, siapapun takkan mampu mengubah jalan pikirannya lagi. Namun Jin Sakai masih terus memperingati, tahu ini akan menjadi masalah ke depannya jika terus dibiarkan.


"Chen, kau tidak tahu marabahaya apa yang mengintai mu di sana. Setidaknya dengarkan apa kataku dan pahami ini baik-baik. Empat Unit Pengintai adalah orang-orang yang tak berperasaan, bertangan besi dan liar. Mereka sudah menguasai Desa Shengyou hanya dengan mengandalkan sepuluh orang terbaik saja. Kau bayangkan, satu desa."


"Naga Hitam akan tetap selamat dan aku harus ke sana Paman Jin. Jika benar apa yang sedang mereka cari ada di sana kurasa Kaisar Qin juga takkan berdiam diri saja di kursi singgasananya."


Membawa nama Kaisar Qin, Jin Sakai lantas terdiam dan mengembuskan napas kasar. Setelah diingat-ingat lagi Xin Chen memang memiliki garis keturunan yang cukup penting di Kekaisaran Shang. Sudah tidak heran lagi tanggungjawab seperti ini juga akan dianggap serius oleh Xin Chen.


"Hah.... Kenapa jadi seperti ini. Padahal aku hanya ingin melarangmu dan justru sekarang kau malah ingin pergi ke sana. Memangnya apa yang sedang dicari oleh Empat Unit Pengintai dan para pendekar dari sekte aliran hitam itu? Siang malam bertarung untuk menjelajahi wilayah desa Shengyou."

__ADS_1


"Kalau kau ingin tahu, yang mereka cari di sana adalah Pusaka Langit seperti Baja Phoenix. Tapi aku yakin kekuatan dari Armor Dewa Perang jauh lebih hebat dibandingkan Baja Phoenix sendiri."


"A-apa?! Armor Dewa Perang?" Youji sedikit tersedak napasnya sendiri. Sebagai seorang pandai besi Youji cukup tahu perihal Han Zilong maupun senjata yang diciptakan seperti Baja Phoenix, Armor Dewa Perang dan dua pedang legendaris tersebut.


"Iya, benar sekali kak Youji. Kau pasti berpikir Armor Dewa Perang telah dihancurkan bukan?"


Youji tertegun, benar apa yang dikatakan Xin Chen. Dalam sejarah yang tertulis dikatakan jika Armor Dewa Perang telah dihancurkan dengan melelehkan besi dari senjata tersebut, membuat siapa pun takkan bisa memilikinya untuk kepentingan diri pribadi yang hanya akan menimbulkan peperangan tanpa henti.


Sewaktu mendengar Armor Dewa Perang ternyata masih ada dan terus diperebutkan oleh para pendekar hebat, Youji juga tak habis pikir mengapa Xin Chen berani ikut memperebutkan senjata Pusaka Langit tersebut.


Meskipun tahu Xin Chen bahkan bisa mengalahkan Pengendali Roh akan tetapi musuh yang akan Xin Chen hadapi di desa Shengyou jauh lebih banyak.


Dalam artian lain kemungkinan besar Xin Chen akan bertemu dengan puluhan orang seperti Zhang Ziyi dan mereka pun bergerak dalam satu unit tersendiri. Mengalahkan sepuluh orang berkekuatan tinggi seperti itu adalah sebuah kemustahilan baginya.


"Chen, ini sudah terlalu berbahaya. Kau mengerti tidak jika di desa Shengyou sudah tak lagi sama dengan musuh yang kau hadapi di sini. Kekuatan mereka... Seperti yang ayahku katakan."


"Kak Youji, aku bisa menjamin nyawaku. Sebaiknya kau mempersiapkan diri saat tiba waktunya nanti. Kemungkinan besar kita akan menjadi rekan seperjalanan," Xin Chen tersenyum setelah mengucapkannya. Jelas membuat dahi Jin Sakai berlipat tiga berusaha mengartikan maksud perkataannya.


"Rekan seperjalanan?"

__ADS_1


"Ya," ucapnya singkat. Xin Chen melebarkan peta di atas meja sehingga semua orang bisa melihat dengan jelas, Ibu Jin Youji yang semula hanya diam pun turut mengeluarkan suaranya.


***


__ADS_2