Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 294 - Pertarungan Terakhir


__ADS_3

Aura mencekam di antara kedua pemuda itu membuat Ren Yuan seram di tempat, dia mundur ke tempat semula untuk memperhatikan jalannya pertarungan tanpa ada kecurangan. Baik Xin Zhan maupun Xin Chen sama-sama tak melepaskan pandangan dari lawannya, nyaris tak berkedip demi tak kecolongan.


Xin Zhan mulai mengerti cara bertarung adiknya itu, dia tak membuka kesempatannya sendiri melainkan menunggu musuhnya yang melakukan kesalahan. Seperti yang di awal di lihatnya, Xin Chen memfokuskan pertahanan dirinya, dengan begitu selama pertarungan berlangsung dia dapat dengan mudah membalas balik saat melihat lawan lengah.


Berbanding terbalik dengan Xin Chen, dia tak tahu seberapa banyak ilmu berpedang yang telah dikuasai Xin Zhan. Ada begitu banyak ahli pedang di Kekaisaran ini dan sebagai anak bangsawan dan memiliki status sosial tinggi, pastinya Xin Zhan dilatih oleh orang-orang hebat.


Kakaknya mengangkat senjata di atas kepala, bertarung dengan cara lain yang tampaknya penuh dengan taktik. Xin Chen sempat tertegun, dia seperti pernah melihat gaya bertarung itu. Ingatannya terhubung ke Desa Pelarian yang pernah dikunjunginya dan seorang laki-laki penempa pedang bermarga Jin. Mereka memiliki ilmu berpedang yang unik, Xin Chen merasa dirinya harus berhati-hati jika tak ingin kalah.


Pedang kayu mengincar Xin Chen tanpa diduga, lawan yang tak berhasil mengenainya membelokkan arah serangan yang lagi-lagi nyaris mengenai Xin Chen. Belum kehabisan taktik, Xin Zhan menyepak tanah dengan kakinya. Membuat abu berterbangan menutupi pandangan.


Di balik kepulan abu, Xin Zhan muncul begitu cepat. Tak ada waktu untuk menghindar lagi, tiga kali serangan itu cukup mengejutkan. Sebelum Xin Zhan berhasil mengenai adiknya seseorang muncul di pintu belakang rumah dan berseru agak keras.


"Tuan Muda! Rapat sebentar lagi akan dimulai!"


Xin Zhan memasang wajah masam, dia melirik ke arah Xin Chen kembali dan adiknya itu sama sekali tak menunjukkan pergerakan. Bisa saja Xin Chen menyerang ketika kakaknya lengah, hanya saja menang dengan cara itu baginya lebih mengenaskan daripada kalah secara terhormat.


"Tunda sepuluh menit lagi."


"Tapi, Tuan Muda! Semuanya sudah berkumpul di aula!"


Wajah tembok Xin Zhan seolah-olah menegaskan bahwa keputusannya tak bisa diubah lagi. Laki-laki yang diutus langsung oleh Kaisar itu menundukkan kepala mengerti, sekilas tengkuknya dingin karena merasa ditatapi oleh mata kejam Xin Zhan. Di Kota Fanlu siapa yang tak tahu betapa mengerikannya Xin Zhan ketika marah, dia tak mengatakan apa-apa namun cukup untuk membungkam mulut orang lain.

__ADS_1


Ren Yuan memberikan pilihan.


"Bagaimana jika kita tunda dulu. Mungkin besok akan kita lanjutkan."


"Tidak bisa. Besok aku sudah tak ada lagi di sini."


"Kau harus ada di sini sampai besok!"


"Kalau kau menang dariku." Nada bicara Xin Chen terdengar tegas, tak mau menerima debat lagi. Xin Zhan menarik napas pusing, di sisi lain dia tidak bisa membiarkan pilar lainnya menunggu. Dipikir-pikir mungkin ini rapat pertamanya sebagai Pilar Pertama.


Antara bertarung melawan Xin Chen atau menghadiri rapat Pilar Kekaisaran membuat Xin Zhan pusing.


"Kalau begitu kita bertarung dalam satu kali serang saja. Siapa pun yang berhasil mengenai senjata lawan yang menang."


"Baiklah."


Utusan Kaisar yang merasa tak dianggap di sana dibuat terpesona ketika melihat Xin Zhan bertarung dengan sangat serius. Baru kali ini dia melihat ekspresi Xin Zhan yang seperti itu. Dan lagi, seseorang yang menutupi wajah dengan tudung jubah saat dirinya datang. Orang itu seperti tak ingin dia melihat wajahnya.


Tak bisa dibohongi sosok tak dikenal itu memiliki sikap bertarung yang nyaris sama seperti Xin Zhan, dia tak bisa mengukur mana yang lebih unggul. Tuan Muda Xin Zhan atau lawannya itu.


Ren Yuan diam-diam berharap anak pertamanya menang. Dia ingin Xin Chen terus di rumah. Walaupun terkesan egois, sebagai ibu siapa yang ingin melihat anaknya berjalan di tengah bahaya sendirian. Sekalipun Xin Chen bertekad untuk menyelamatkan ayahnya, dia masih bisa melakukannya di Kota Fanlu, bahkan mendapatkan dukungan dari Kaisar maupun masyarakat.

__ADS_1


Tangan Ren Yuan saling mengatup. Sementara kedua anaknya mengangkat pedang ke arah lawan. Detik-detik berlangsung begitu menegangkan, angin siang menggoyangkan rambut mereka. Begitu pelan, hingga samar-samar dapat terdengar suaranya yang mengisi keheningan di siang hari itu.


Di pertarungan terakhir ini Xin Chen dan Xin Zhan tak mau salah langkah, tidak ada pula yang mau membuka celah sehingga sangat sulit untuk menentukan titik kelemahan lawan. Hanya ada satu harapan, keberuntungan lawannya melakukan kesalahan. Pertarungan kali ini begitu singkat, tidak seperti yang sebelumnya di mana mereka saling adu strategi dan kecepatan.


Ren Yuan menarik napas, padahal dua putranya yang bertarung namun justru dirinya yang gugup. Ditatapnya Xin Zhan dan Xin Chen bergantian. Melihat apakah mereka sudah siap untuk babak terakhir. Bukannya tak tahu, penentuan kali ini amat memberatkan untuk kedua belah pihak. Dia tahu bagi Xin Chen, permintaan Xin Zhan adalah sesuatu yang berat. Tujuh tahun ini menyembunyikan diri dari semua orang, pasti Xin Chen memiliki alasan yang kuat. Ren Yuan sempat bertanya-tanya tentang siapa yang membuat Xin Chen kembali ke Kota Fanlu untuk menemuinya.


Rasanya Ren Yuan tak ingin melihat siapa pemenang dalam pertarungan ini, dia benar-benar takut akan kehilangan Xin Chen untuk yang keempat kalinya. Harapannya pada Xin Zhan begitu besar, dan anak pertamanya itu sudah mengetahui betapa ibunya itu mengharapkan kemenangannya.


Xin Zhan merasa ada beban berat yang ditumpukan di bahunya. Dia tak berani menatap Ren Yuan saat ini karena itu hanya membuatnya gugup.


Sedangkan Xin Chen baru berpikir bagaimana wajah Ren Yuan nanti setelah mengetahui dirinya adalah Pimpinan Empat Unit Pengintai. Dan semakin dalam dirinya mempelajari ilmu aliran hitam yang membelakangi prinsip klan Ren sebagai aliran putih. Bukan hanya Ren Yuan saja tapi seluruh keluarga Ren akan menentangnya. Atau paling tidak memberikannya hukuman cambuk seratus kali.


Rasa terancam terlihat jelas di wajah keduanya, ketika Ren Yuan berseru untuk pertarungan terakhir, Xin Chen dan Xin Zhan maju bersamaan. Jarak keduanya semakin mendekat, Ren Yuan tak dapat memastikan apa yang terjadi karena pergerakan itu terjadi begitu cepat. Hanya saja dia dapat mendengar bunyi kayu yang menjadi penanda pertarungan terakhir. Matanya terbuka lebar, hasil pemenangnya telah ditentukan. Salah satu dari anaknya memberikan serangan kejutan yang tak disangka-sangka.


*


Baca dan like merata ya, kalau mau spam komen boleh juga jadi keliatan rame aja gitu wkwk


Biar apa?


Untuk menghibur authornya lah, udah capek-capek nulis eh cuma dibaca doang

__ADS_1


Kayak udah capek curhat panjang lebar cuma dibalas dengan kata "Masih mending kamu, aku dulu begini begini begini."


(°-°)ᕗ


__ADS_2