Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 205 - Mata-mata Pemburu


__ADS_3

Mungkin kata-kata sederhana itu hanya untuk menghiburnya, akan tetapi bocah itu menangis. Mengelap matanya dengan punggung tangan, tersedu sedan cukup lama. Dia mengangguk susah payah, tak sanggup mengeluarkan suara.


"Aku pasti akan menjaga mereka, aku bersumpah ..."


Lan Zhuxian baru saja merebut tombak di tangan musuh, menghantam dua tombak dengan menyilang di leher lawannya. Membuat kayu itu patah, pria di depannya tumbang. Hanya tersisa dirinya sendiri yang berdiri di tengah malam gelap gulita.


Xin Chen terkekeh geli. "Kalau begini terus aku juga tidak perlu repot-repot turun tangan."


"Saya dengan senang hati membantu Tuan Muda."


Tapi sepertinya Lan Zhuxian tak menangkap wajah kesal di muka Xin Chen.


"Aku bisa mati kebosanan kalau semua hal kau yang kerjakan."


"Memang seperti itu tugas saya, Tuanku."


"Hah!" Seru Xin Chen memutuskan alur perdebatan. Lan Zhuxian mengangkat kepalanya.


"Ada apa, Tuanku?"


"Begini, begini saja." Xin Chen menjentikkan jari, "Tugas pertamamu, mencarikan anak-anak ini tempat tinggal. Punya ide?"


Lan Zhuxian menatap lima anak-anak yang saat itu menatapnya balik dengan bola mata berharap.


"Saya tidak berkeberatan membawa mereka berlima ikut-"

__ADS_1


"Jangan bercanda. Kau mau membuat pasukan anak-anak di belakangku? Kita bukan sedang pergi bertamasya." Urat-urat di kening Xin Chen muncul, sejak awal dia memang tidak bisa mengandalkan orang lain seperti Lan Zhuxian. Mungkin pergi sendirian adalah pilihan yang menurutnya sangat tepat.


Namun saat dia melihat bocah kecil itu, Xin Chen teringat dirinya di masa lalu. Bepergian bersama Rubah Petir dalam petualangan pertamanya menjelajahi dunia. Dia terdiam cukup lama, tak tahu ke mana perginya rubah menyebalkan itu. Xin Chen tetap tak bisa melupakan bahwa sosok rubah itu begitu penting bagi dirinya.


"Tuan, saya punya beberapa kenalan yang tinggalnya di atas bukit. Dia penjual informasi juga, kudengar orang itu membuka panti asuhan di rumahnya."


"Kalau begitu ..." Xin Chen menarik napas berat, "Kau bawa mereka ke tempat yang aman. Pastikan keselamatan hidup mereka."


"Dengan senang hati, Tuanku."


Xin Chen telah menghilang dalam kegelapan malam, Lan Zhuxian menengok kan pandangan ke segala arah. Menggumam kecil pada dirinya sendiri, "Lalu orang-orang dewasa ini? Juga dititipkan ke panti asuhan?"


Lan Zhuxian ditimpa permasalahan besar yang membuat kepalanya pusing bukan kepalang. Dia tidak tahu harus mengapakan orang-orang dewasa yang sudah pingsan tersebut. Jumlah mereka tergolong banyak. Mengangkat mereka satu per satu hanya menghabiskan waktu.


"Kita harus segera pergi. Orang-orang dewasa ini pasti memiliki cara sendiri untuk bertahan hidup." Lalu Lan Zhuxian memasukkan beberapa keping emas ke dalam saku mereka. Hanya itu uang yang dia punya. Mungkin cukup untuk mereka membeli makan.


"Berhenti!"


Seorang laki-laki dengan dada terbuka menunjukkan dadanya yang bidang, sedang temannya kurus ringkih berjalan congkak, dia yang baru saja berteriak. Wajah kedua dari mereka pongah, khas para perampok yang menguasai hutan dan tempat sepi. Membatasi wilayah tertentu sebagai tanah mereka dan mengharuskan korbannya membayar 'uang lewat'.


Xin Chen kehabisan sabarnya, sudah berapa kali dia dicegat dalam tiga hari terakhir ini. Panas juga matanya melihat tampang sombong itu.


"Hoi, hoi, kau tidak mengacuhkan kami?" Si pria yang lebih besar mendorong bahu Xin Chen dengan pedang yang masih disarungkan. Namun yang dirasakannya hanya benda itu tidak menyentuh apa pun.


Xin Chen sendiri hanya hanya menggunakan wujud berbentuknya di saat-saat tertentu. Menggunakan tubuh manusia juga menyerap kekuatan rohnya yang dulu sempat hancur saat berhadapan dengan Ratu Iblis. Tak bisa dipungkiri lagi, saat itu sang Ratu Iblis berhasil membunuh keseluruhan roh yang bersemayam di Kitab Pengendali Roh.

__ADS_1


Alasan mengapa Kota Renwu menjadi tanah yang menyeramkan adalah karena nyawa ribuan manusia habis di tanah bekas perang itu. Roh-roh di sana tidak tenang, mereka hancur lebur tertimpa reruntuhan, terbakar api, tersayat besi dan dilelehkan Naga Kegelapan. Hanya dalam satu malam, tanpa tanda-tanda apa pun kota itu hancur menjadi bumi yang hangus di peta Kekaisaran Shang.


Menunggu balasan pun tak mendapat apa-apa, pria tadi berniat menyandung kaki Xin Chen. Lagi, dia hanya menyepak udara kosong. Kali ini serius, dia menatap Xin Chen dalam ketakutan yang tidak ditutup-tutupi.


Seolah-olah mendukung suasana, Xin Chen malah tersenyum seram. Membuat laki-laki dengan badan kekar itu hampir kencing di celana.


"Se-setan!!!" pekiknya, pontang-panting kabur setelah senyuman mengerikan itu, bulu kuduknya naik saat aura dingin menghantuinya. Sampai-sampai pria itu tak memedulikan lagi kantong uang yang dia jatuhkan, dia sadar dan terlalu takut untuk kembali mengambilnya.


Xin Chen tertawa terkekeh, mengambil kantong uang tersebut dengan senang. "Salah sekali menjadikanku sasaran kalian. Seharusnya ku sita sekalian pakaian dan pedangnya." Xin Chen mendengkus miris, orang-orang seperti mereka mau diganjar dengan hukum atau ditakuti dengan dikurung di penjara takkan pernah takut. Merampok mereka balik menjadi cara paling menyenangkan bagi Xin Chen untuk memberikan mereka kesadaran. Walau pun dirinya sendiri tidak yakin apakah itu benar-benar berpengaruh apa tidak.


"Ulah mereka lagi!?"


Geram disertai kemarahan muncul di balik-balik pohon yang agak jauh darinya, Xin Chen mendekati ke sumber suara. Mengintip kurang lebih delapan prajurit sedang berbaris, berkumpul merundingkan sesuatu. Beberapa dari mereka terluka parah, darah di wajah mereka mengering. Menjabarkan seberapa besar pengorbanan mereka untuk mengabdikan diri kepada Kekaisaran. Tanggung jawab yang diberikan pada kelompok prajurit adalah beban berat; melawan musuh yang diam-diam menghancurkan mereka.


"Tidak kusangka, orang-orang itu memilih kabur dari pada mempertahankan tanahnya sendiri! Orang-orang dungu-!" Kekesalannya memuncak di siang yang terik, makin memanas-manasi kepalanya yang terlanjur dilalap emosi.


"Kita harus mengajukan permohonan bantuan ke atasan, ini tidak bisa dibiarkan lagi! Mereka sudah melanggar perjanjian di tujuh tahun lalu. Perjanjian Pedang Iblis dan Qin Yijun ... Semua pengorbanan Pedang Iblis sia-sia! Tidak akan kubiarkan itu terjadi, kerahkan semua yang kita punya-"


"Tapi kita tidak mempunyai sisa pasukan lagi. Semua habis, banyak yang mengundurkan diri. Mereka tidak mau bersusah payah mengorbankan nyawa hanya demi sebuah tanah melarat ..."


Yang tertinggi di antara mereka hanya mendecakkan lidah kesal. Moral para prajurit semakin menurun dari tahun ke tahun, motivasi untuk melindungi semua orang menjadi motivasi untuk menyelamatkan diri sendiri. Sebagai seorang yang paling senior, pria itu merasakan betul perubahan ini.


"Kalau begitu, kita saja! Kita akan mengusir mereka dengan atau tidak adanya pertumpahan darah! Aku tidak peduli lagi, setidaknya dengan begini nyawa kita mati dengan terhormat!"


Suara pria itu menggelegar keras, bergemuruh di telinga prajurit lain. Orang-orang tangguh dengan pendirian sekuat baja itu berani mati demi Kekaisaran yang bahkan tak memandang mereka. Harga diri yang mereka junjung setinggi langit kadang membuat Xin Chen iri.

__ADS_1


"Hei, seseorang memata-matai kita! Pasti dia salah satu dari mereka! Tangkap dia!"


Seketika mata-mata prajurit teralih ke arah Xin Chen hendak memburunya.


__ADS_2