
Youji berhasil lolos di garis akhir sebagai lima belas besar, dia terkejut bukan main saat tak mendapati teman-temannya. Sorak-sorai menggema di sekitar arena, beberapa tamu yang menonton terlihat semangat melihat lima orang berpacu cepat di arena. Hanya dua orang yang bisa selamat. Tiga orang memimpin di depan, mereka sama-sama panik demi menyelamatkan diri sendiri. Salah satunya berbuat curang dengan mencelakakan orang di sebelahnya.
Kuda dari depan berhenti tiba-tiba, kuda di belakangnya nyaris menabrak. Wei Feng dan Yu Xiong yang sebelumnya berada di barisan mulai mengejar dua orang tersisa di depan. Kuda yang mereka naiki berlari lebih kencang. Meskipun dua orang di atasnya seharusnya membuat kuda itu lebih lamban, tetapi kelincahannya berhasil melewati satu peserta lain. Dua orang mengejar di belakang mereka.
Sekarang Wei Feng hanya perlu mengejar orang di depannya. Orang yang tadi mencelakakannya sampai terjatuh dari kuda. Preman itu menoleh ke belakang sambil berjaga-jaga, dia sudah memperkirakan Wei Feng akan membalasnya. Kedua kuda mulai sejajar, Wei Feng tidak berhasil menyenggol kuda di sebelahnya.
Di saat yang bersamaan kedua kuda melewati garis akhir. Diikuti dua kuda lain di belakangnya. Wei Feng dan Yu Xiong turun dengan wajah yang menyimpan rasa takut. Terlebih lagi Yu Xiong, dia menoleh pada Wei Feng yang tampak lebih serius dari sebelumnya. Dua orang telah mati saat menginjak garis akhir. Mereka dibunuh di tempat tanpa belas kasih. Sekarang hanya tersisa mereka bertiga. Harus ada salah satu yang mati di antara mereka.
Dan Yu Xiong tahu bahwa kuda mereka sedikit tertinggal dari lawan. Itu artinya, antara Yu Xiong atau Wei Feng harus mati.
"Tidak perlu merasa bersalah. Aku tidak terlalu becus menunggang kuda. Hahaha, hari yang sial, sial. Setidaknya nanti jika Youji mati aku tidak perlu khawatir ditampar oleh ayahnya." Wei Feng tertawa pelan lalu mengeluarkan helaian napas pasrah. Yu Xiong tak menjawab apa pun selain diam memperhatikan wajah Wei Feng yang berusaha untuk baik-baik saja.
"Kalau kau mati, aku juga harus mati."
"Jangan konyol. Ibumu akan membenciku. Yang membawa kalian berdua ke sini adalah aku. Aku bertanggung jawab atas kalian berdua." Wei Feng melipat kedua tangan di belakang kepala, "Setidaknya sekali seumur hidup. Aku merasa hidupku sedikit lebih berharga. Berjuang di sini membuatku sadar, nyawaku ternyata berharga juga."
"Berhenti berbicara seperti itu-"
Satu prajurit berdiri di hadapan Wei Feng, keduanya menelan ludah ketakutan. Preman yang menjebak Wei Feng telah pergi ke barisan peserta yang lolos sambil tersenyum tengik ke arah mereka. Tangan Yu Xiong mendingin, dia bersiap melindungi Wei Feng andaikan pedang di pinggang laki-laki itu hendak menebas kepalanya.
"Tunggu apa lagi? Segera bergabung ke tenda, putaran kedua akan dimulai sebentar lagi."
__ADS_1
Wei Feng dan Yu Xiong yang sebelumnya dilanda ketakutan besar mendadak bingung, mereka berdua saling berbagi tatapan.
"Tunggu, apakah kami berdua lolos?"
"Peraturan di sini, siapa pun berada di peringkat tiga terakhir kalah. Caramu menang tidak mempengaruhi apa-apa."
Wei Feng tentu senang, entah mungkin terjadi kesalahan atau memang Dewi keberuntungan sedang berada di pihaknya. Yu Xiong teringat, di awal-awal pertandingan tadi satu orang jatuh dari kudanya yang kabur dari arena pertandingan. Tidak ada yang menyelamatkannya. Mungkin dia termasuk sebagai salah satu dari yang gagal. Wei Feng baru menyadarinya saat Yu Xiong menjelaskan. Mereka adu jotos, lalu saling merangkul dengan tawa lebar.
"Kita menang!"
Putaran kedua dimulai, keduanya belum sempat kembali ke tenda yang disiapkan. Peserta telah berkurang begitu banyak, mungkin hanya tersisa setengah lebih dari jumlah awal. Sekitar 180 orang lagi yang akan saling bertanding di arena. Kedua puluh kuda berbaris, demi mempercepat waktu mereka langsung memulai putaran kedua.
Dalam sepuluh menit putaran kedua berakhir, Xin Chen sampai di garis akhir pada menit keenam. Bisa dikatakan dia unggul karena berhasil menyalip di awal-awal, cara yang membuatnya menang telak. Wei Feng dan Yu Xiong segera menyambutnya di depan tenda sambil tertawa-tawa.
"Hahhaa, kau lihat! Kita berhasil, hahaha."
"Belum, kita belum berhasil. Masih ada banyak hal yang belum kita lakukan. Menjadi prajurit bukan sekedar memanah atau berkuda. Sepertinya hari ini akan menjadi hari penentuan."
"Serius, kau tahu dari mana ini semua belum berakhir?"
"Ini memang hari terakhir. Tapi bukan berarti seleksi terakhir. Mereka hanya menginginkan seratus orang. Mungkin bisa saja angkanya berkurang. Omong-omong caramu jatuh tadi benar-benar tidak elit, Kak Wei."
__ADS_1
Wei Feng bertolak pinggang dengan wajah masam. "Sekarang kau mau menertawaiku?"
Xin Chen menepuk pundaknya dengan wajah mengejek. "Aku sudah puas menertawaimu tadi. Bagaimana rasa tanah di Kekaisaran Qing? Aku melihatmu mencium tanah lalu duduk terheran-heran."
"Sial. Mau tertawa saja sampai memperhatikan sedetail itu. Bahaya juga kau orangnya."
Tawaan Xin Chen dan Yu Xiong membuat telinganya panas. Untuk urusan menertawakannya kedua orang itu memang kompak. Mereka duduk di sebelah Youji yang juga tak kalah senangnya dengan mereka.
"Wei Feng, kau memang suka sekali membuat orang jantungan."
"Kita semua sama saja. Lihat kecambah ini kemarin, dia hampir jatuh dari ketinggian."
Jika diingat-ingat apa yang dikatakan Wei Feng benar, baik dirinya, Wei Feng, Yu Xiong atau pun Xin Chen sama-sama pernah berada di situasi sulit.
"Jadi ini yang Kak Chen katakan di awal, ya?" gumam Yu Xiong. Ketiganya menoleh, dia meneruskan sambil menyengir. "Bantu aku di saat aku berada di posisi yang sama."
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan satu sama lain." Youji mulai terlihat yakin, "Dengan begitu kita semua bisa bertahan hingga akhir."
Wei Feng dan Yu Xiong sontak bersorak, diikuti oleh keributan di sekitar mereka. Ada begitu banyak yang berjuang mati-matian demi bertahan hidup. Di arena memacu kuda, pertandingan masih terus berlanjut. Debu-debu di jalan beterbangan beriringan dengan tapak kaki kuda yang bersaing mencapai garis akhir. Terjadi perkelahian akibat kecurangan yang terjadi di arena, dua orang yang seharusnya selamat itu langsung dibunuh karena dianggap menghalangi jalannya pertandingan. Tidak ada toleransi, tidak ada belas kasih.
Pertarungan selanjutnya seharusnya akan melibatkan senjata dan perlengkapan perang. Persiapan sudah dilakukan. Tengah hari datang, putaran terakhir telah selesai menyisakan 152 orang.
__ADS_1