Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 295 - Kalah


__ADS_3

Xin Chen berhenti tepat setelah menyerang. Masih dalam posisi yang sama.


Sementara Xin Zhan bertahan di pijakannya, sunyi senyap menjedai akhir pertarungan kakak beradik itu. Ren Yuan menutup mulutnya tak percaya pada Xin Zhan, matanya kembali berkaca-kaca hendak menumpahkan air mata.


"Zhan'er ...."


Pedang kayu milik Xin Zhan patah. Begitu juga semangat dalam diri pemuda itu. Tidak ada kekalahan yang lebih menyakitkan dari pada hari ini. Xin Zhan mencengkram kayu yang hanya tersisa setengah itu erat-erat. "Mengapa begitu sulit untuk menyuruhmu menurut, Chen."


Suara Xin Zhan berubah dingin. Xin Chen hanya bisa melihat punggung Xin Zhan dari belakang. Kakaknya itu mengeraskan tulang rahangnya. Dia yakin dirinya berhasil mengenai Xin Chen, hanya saja di detik-detik terakhir adiknya itu menggunakan teknik rahasia yang bahkan hingga detik ini tidak dikuasainya dengan sempurna. Teknik mengelabui musuh dengan mengandalkan kecepatan, di mana tadi Xin Zhan melihat Xin Chen menyerang dari arah yang berbalik. Seperti melihat cermin. Apa yang dilihatnya tadi adalah kebalikan dari arah serangan yang masuk.


Xin Chen tak mengucapkan apa-apa, tahu jawabannya hanya akan membuat kakaknya betul-betul marah.


Dia justru memalingkan wajah ke arah Ren Yuan yang tampak gelisah. Walaupun tak sesuai dengan keinginan hatinya, dengan berat hati Ren Yuan mengumumkan pemenang latih pedang ini.


"Pemenang pertarungan ini adalah ..."


Ren Yuan melihat Utusan Kaisar di sebelahnya. Laki-laki itu seakan-akan menunggu dirinya memberi tahu siapa yang menjadi lawan bertanding Xin Zhan. Menyadari tatapan Ren Yuan, dia kembali menunduk, ada rasa takut saat wanita itu melihatnya.


Ren Yuan meralat. "Xin Zhan kalah, maka sebagai hukumannya dia harus menangkap Kumbang Tujuh Warna."


Entah hanya rasa takutnya, namun Ren Yuan takut utusan itu akan memberi tahu perihal ini pada Kaisar. Terlebih sebagai Pilar Pertama baru, pengawasan terhadap anaknya Xin Zhan mulai diprioritaskan. Mungkin saja informasi tentang Xin Chen akan bocor oleh utusan sekaligus mata-mata Kaisar Qin itu.


Xin Chen menjatuhkan senjatanya. Pertarungan telah berakhir. Dia tahu Xin Zhan pasti begitu terpukul dengan kekalahannya.


Xin Zhan menyoroti adiknya dengan mata yang begitu menyeramkan, Xin Chen mundur saat Xin Zhan melaluinya dan nyaris menabrak. "Pergilah ke mana pun sesukamu. Tapi aku tak mengakui pertarungan kali ini. Kita akan bertarung serius ke depannya. Antara hidup dan mati jika perlu."


"Tidak perlu," sanggah Xin Chen. Xin Zhan tak membalikkan badan dan hanya berhenti berjalan.


"Tanpa perlu bertarung aku tahu kau akan memenangkannya." Xin Chen tak tahu Xin Zhan memasang wajah seperti apa, dia hanya mengatakan yang sejujurnya.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah bisa membunuhmu."


Sekilas Xin Zhan tampak mencengkram pedang kayu di tangan kanannya, namun pegangan itu meregang kembali. "Benar, itulah yang membuatmu selalu kalah dariku."


Dia kembali berjalan sambil menggumam kecil, "Tapi aku mengakui kekuatanmu."


Xin Zhan pamit pada Ren Yuan, bersama utusan Kaisar yang hanya membungkukkan badan sopan. Mereka pergi meninggalkan kediaman. Xin Chen tak melepaskan pandangan dari arah pintu, tak menyadari ibunya sudah berada di dekatnya.


"Xin Zhan masih seperti kakakmu yang dulu. Dia hanya akan marah melihatmu pergi. Tapi dia jauh lebih marah jika melihatmu terluka." Perlahan Ren Yuan mengusap rambut anaknya, Xin Chen menahan tangannya, lalu tersenyum tipis.


"Aku sudah mengenalnya sejak kecil."


Ren Yuan tak tahu lagi harus mengatakan apa pada anaknya, dia juga tak mampu menggambarkan betapa bahagianya dirinya akan kepulangan Xin Chen. Seolah-olah penyakit yang menggerogoti tubuhnya menghilang, Ren Yuan melihat lengan kiri anaknya. Begitu lama hingga Xin Chen merasa aneh.


Dia membuka lipatan lengan bajunya. "Aku memakainya. Agar suatu saat aku kehilangan arah, kalung ini akan menuntunku untuk pulang ke rumah."


"Ibu tak pernah merayakan hari kelahiranmu lagi. Masuklah ke rumah, makan yang banyak, kau pasti hanya makan makanan kering selama ini."


"Aku akan pergi. Bilang pada Kakak Zhan, aku sudah tak menginginkan Kumbang Tujuh Warna itu."


Ren Yuan mencoba menghentikannya, "Apa kau tak ingin melihat bibi dan pamanmu? Kau masih ingat dengan mereka, bukan?"


"Ibu," panggilnya. Dia tak berani menatap Ren Yuan saat itu. Tahu kepergiannya begitu sulit dilepas oleh ibunya.


"Hanya kalian berdua yang tahu tentangku. Orang lain tidak boleh tahu. Karena jika hal ini menyebar, aku takut kalian akan diincar."


Xin Chen membuka matanya, berusaha untuk menghadapi Ren Yuan yang hanya dua meter berdiri di belakangnya.


"Mata itu ...."

__ADS_1


Ren Yuan menutup mulut, teringat birunya Api Keabadian di Kota Renwu yang dengan kejam membakar tanah tersebut.


"Aku adalah Pimpinan Empat Unit Pengintai. Nama ini hanya akan membawa petaka bagi kalian. Aku pulang, agar ibu tahu aku masih hidup. Juga aku tak ingin ibu melupakanku. Itu saja."


Ibunya mengangguk, hingga air mata yang menggenang di matanya berjatuhan. "Ibu akan mencoba mengerti, Chen'er." Firasatnya benar, bahwa sosok misterius tanpa identitas itu adalah putra keduanya. Ren Yuan tak mungkin salah mengenal putranya. Anak itu bisa saja membunuh banyak orang dalam satu malam. Dia begitu mengingat hari-hari perang di Kota Renwu dan anaknya itu membunuh tiga orang hebat selama pertarungan.


"Kalau aku sudah kembali nanti, tolong sambut kami, ya?"


Kata 'kami' itu berarti besar bagi Ren Yuan. Dia berusaha keras untuk tidak menangis, tetapi hal itu sangat sulit baginya. Tujuh tahun berpisah dengan anaknya Xin Chen dan hanya bisa bersamanya tak lebih dari satu hari. Ibu mana pun pasti tak akan rela melepaskannya.


"Kami akan sangat merindukanmu. Pulanglah bersama ayahmu. Ibu akan memasak sup terenak untuk kalian."


"Kalau begitu aku pergi."


*


Extra-part.


Ren Yuan masuk ke kamar, melihat semangkuk sup yang sebelumnya dibuatkan Xin Chen untuknya yang sudah mendingin.


Dia menyicipi satu sendok. Satu sendok yang berisi satu bakul garam.


"Asin!"


*


Wkwkk dah lama gak buat extra part ୧( ˵ ° ~ ° ˵ )୨ cuma tambahan cerita gaje aja sih, thor kadang mumet juga mikirin alur cerita ini. Susah bet kek mikirin utang negara.


Sabtu Minggu bukannya keluar rumah malah mendekam kek tahanan, tapi gak apa demi menjaga janji thor hari itu.

__ADS_1


Ya, cerita ini harus ditulis sampai tamat. Makasih untuk kalian yang mau mengawalnya sampai tamat juga! Bagus enggaknya cerita ini kembali lagi ke readernya, hehehe, thor cuma bisa menulis sebisa mungkin.


__ADS_2