
Siang hari datang begitu cepat, desas-desus di sekitaran kamp tak henti-hentinya terdengar. Mulai hari ini pelatihan dan pembekalan dipercepat tanpa adanya kejelasan. Unit Satu hanya mengatakan bersiap dan perang. Selain itu anggota lain hanya bisa menduga-duga apa yang sebenarnya akan mereka hadapi. Bukannya mereka tak tahu tentang penyerangan tempo hari yang membuat Bai Huang pincang, tapi kejelasan tentang pelaku dari perbuatan tersebut tak ada yang tahu.
Rumah penempa pedang mulai terdengar ribut, berbagai jenis pedang dan senjata lainnya dibuat oleh orang-orang ahli. Mereka tak berani beristirahat sebab Tian Xi—yang ada di mana-mana—mengintai mereka siang malam. Nan Yin dan beberapa perempuan ditugaskan untuk membuat dan mengolah makanan serta mengumpulkan obat-obatan.
Sepanjang jalan bukan hanya sekali dua kali Xin Chen mendengar pembicaraan mengenai siapa sebenarnya Pimpinan Empat Unit Pengintai. Mengingat mereka bekerja padanya tanpa tahu siapa sebenarnya yang mereka ikuti. Banyak yang begitu melebih-lebihkan, bahkan mengatakan sesuatu yang di luar nalar.
Dua orang tengah menggotong kayu besar, nyaris mengenai Xin Chen yang jelas-jelas berjalan di pinggiran.
"Awas, hei!"
"Tidak lihat orang sedang bekerja?!" Mereka membentak, tetapi tak melanjutkan karena sibuk dengan pekerjaan sendiri. Xin Chen melihat sebuah rumah dengan desain unik di dekat sana. Tak begitu jauh dari tempatnya berdiri, sebuah rumah yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Nuansa merah dan bunga yang menjalar sampai ke dinding, indah seperti rumahnya dulu.
"Senior Bai ..." Xin Chen tahu Bai Huang melakukan itu untuknya, tapi laki-laki itu tak mungkin berinisiatif membuat rumah ini sendirian. Terdapat beberapa tempat latihan dan pepohonan rindang serta tangga batu yang untuk menaiki letak rumah yang berada di tempat yang lebih tinggi. Bai Huang sengaja memilih tempat yang agak terpelosok dan juga tinggi karena seingatnya rumah kediaman klan seperti itu.
"Terharu?"
Xin Chen menoleh ke belakang, seorang gadis menatapinya penuh percaya diri.
"Kau—" ucapannya terpotong begitu saja.
"Ah, tidak perlu berterima kasih. Aku tahu kau begitu bahagia sampai-sampai ingin meneteskan air mata saat melihat rumah ini, sudah hampir selesai. Senior Bai juga bilang dia akan menambahkan jembatan seperti rumahmu di Lembah Kabut Putih."
"Siapa?"
"Huh? Siapa? Akulah yang merencanakannya untukmu, aku pernah dengar kisahmu dari Senior Bai. Dan merasa tak ada salahnya membangun rumahmu kembali di sini." Nan Yin bertolak pinggang dengan wajah angkuh, bersiap dalam hitungan ketiga, Xin Chen pasti akan memujinya.
"Bukan itu, kau siapa?"
"A-APA?!"
Nan Yin histeris, tidak mungkin Xin Chen melupakannya. Nan Yin mengepalkan sebelah tangan emosi, dadanya naik turun tak beraturan. Jelas-jelas gadis itu sedang marah besar, tapi dia tak mau menampakkannya.
__ADS_1
Dia tersenyum paksa. "Aku adiknya Nan Ran."
Xin Chen mengingat-ingat, saat dia berhasil bertarung melawan empat Unit Pengintai bersama prajurit dari Benteng Fugi. Dia bertemu dengan tiga orang dari Kekaisaran Qing.
"Jadi namamu Nan Yin?"
Nan Yin ingin menangis. Dia pikir setidaknya Xin Chen mengingat wajahnya, sekarang namanya saja dia baru tahu.
"Iya ..."
Xin Chen berlalu dari hadapannya, mendekati rumah itu lebih dekat. Meskipun tak begitu sama namun nuansanya yang nyaman membuat Xin Chen kembali teringat akan rumah lamanya. Dia berkata halus. "Sebenarnya tak perlu membuatkan ini," gumamnya kecil.
"Mengapa?"
Dia tak menjawab apa pun setelah itu, ada beberapa hal yang tak ingin dikatakannya pada orang asing. Nan Yin mencoba mengerti hal itu, dia tersenyum pahit. Mengingat kata-kata Shui tentang seorang gadis bernama Fu Yu yang merupakan bagian dari masa lalu pemuda itu. Dan Xiu Qiaofeng yang diketahuinya oleh Bai Huang juga.
Nan Yin mengangkat wajahnya, berusaha untuk tetap seriang tadi. Jika dia murung terus Tian Xi pasti akan segera tahu dan meledeknya habis-habisan.
**
Shui melompat tinggi ke dalam danau, merasakan nikmatnya air tersebut. Sudah begitu lama dia tidak berendam dan merasa kulit-kulitnya seperti rusak.
Dari kejauhan Xin Chen menatapi seseorang tengah mandi di sana, rambutnya begitu panjang hingga Xin Chen berpikir itu wanita dan segera memutar balik.
Tapi tidak ada yang memiliki rambut biru selain Shui. Shui yang menyadari kehadiran Xin Chen segera melambai-lambaikan tangan antusias.
"Kemari! Aku yakin kau bahkan belum mandi setelah meninggalkan Kota Renwu!"
Xin Chen mendekati ujung jembatan dan duduk dengan ujung kaki menyentuh permukaan danau. Shui memprotes. "kau tidak tahu betapa segarnya air di sini!"
"Kau tidak melakukan tugas apa pun?"
__ADS_1
"Memang tugasku apa?" Shui menenggelamkan kepalanya dan muncul beberapa detik kemudian, tampak bosan. "Mereka tak membagikan tugas apa pun padaku."
"Tidak mungkin tanpa alasan." Xin Chen memandang Shui prihatin, membuat si Surai Biru terusik.
"Apa?"
"Aku yakin kau tidak becus untuk segala pekerjaan."
Shui tak mengiyakannya, tapi memang itulah yang terjadi. Dia menghancurkan beberapa barang, tak tahu cara melatih bagaimana dan hingga membakar satu rumah karena memasak seekor cumi. Xin Chen tak memprotesnya apa-apa selain memasang tatapan prihatin dan itu membuat Shui kesal.
Shui memainkan air di atasnya, membuat gelembung-gelembung tipis naik ke permukaan.
"Tentang Salamender Api itu, apa kau yakin dia masih di tempat yang sama?"
Pertanyaan itu membuat gelembung-gelembung tersebut pecah.
"Pertanyaan yang bagus. Jawabannya tidak. Itu sudah lama sekali sejak kami terakhir kali bertemu dan dia tinggal cukup jauh. Mungkin saja sekarang sarangnya sudah diketahui manusia. Jika itu terjadi aku tak yakin kita bisa bertemu dengannya dalam jangka waktu dua bulan saja."
"Maksudmu kalau dia masih di tempat yang sama kita dapat bertemu dengannya selama dua bulan ini? Di mana dia sekarang?"
"Kekaisaran Qing."
Shui mengucapkannya dengan yakin, "Arah tujuanmu mungkin sama dengan rumahnya. Hanya saja letaknya begitu berbahaya sehingga kau harus bersiap kulitmu dilelehkan olehnya."
Salamender Api, dari namanya saja Xin Chen sudah menduga kekuatan jenis apa yang dimiliki Siluman Penguasa Api tersebut. Tetapi tak ada yang perlu dikhawatirkannya karena panasnya Api Keabadian mungkin setara dengan tingkat kepanasan milik Salamender tersebut.
"Kau tak bisa meremehkannya, aku bahkan mulai berpikir agar kau saja yang menemuinya. Terakhir kali bertarung dengan Salamender itu kulitku rusak parah. Aku air dan dia api, seharusnya api yang kalah. Tetapi begitulah, Salamender itu memang tak begitu hebat tetapi untuk urusan membakar, aku yakin dia sanggup menjadikanmu manusia panggang—"
Shui berdeham. "Sial, aku lupa kau memiliki wujud roh."
"Kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri."
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Kau mau bertemu dengannya. Aku akan membantumu pergi menemuinya. Jika tidak juga tak masalah, tapi aku tak berani mengatakan kau masih bisa menang melawan Naga Kegelapan tanpa Rubah Petir."