Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 42 - Tipu Daya


__ADS_3

Mata kemerahan akibat mabuk tersebut menatap Xin Chen tajam sekaligus mengancam, "Darimana kau bisa tahu cara untuk menyembuhkanku? Apa kau orang-orang dari sana juga? Atau kau memiliki obatnya? Jawab!"


"Aku bukan orang-orang dari sana, hanya saja sudah melewati Desa Hantu dan mencuri sesuatu di tempat persembunyian mereka."


"Kau kira aku akan percaya?" Pria itu menguji keberanian Xin Chen lagi.


"Seharusnya kau bisa mempertimbangkan lagi mengapa aku bisa selamat dari sana tanpa terjangkit penyakit." Teman-temannya mengerubungi Xin Chen, meski masih sedikit tak percaya mengapa anak itu tak menimbulkan gejala seperti yang mereka rasakan. Kulit gatal ingin terbakar, mata memerah dan detak jantung yang semakin melemah.


"Kau memilikinya-?! Berikan padaku!"


"Padaku saja!"


"Awas! Aku yang lebih dulu memintanya!"


Para pria dewasa itu berebutan meminta, saling dorong mendorong agar tak terhalangi yang lainnya. Xin Chen tertawa miris, meski sebelumnya mereka terlihat seperti teman sehidup semati tapi di saat-saat seperti justru hanya mementingkan keselamatan nyawa masing-masing.


"Aku akan memberikannya jika kalian menjawab pertanyaanku."


"Biar aku saja yang menjawabnya!"


"Ck, minggirlah sialan! Tadi kau tak mau mengurus anak ini, sekarang malah berebutan begini!"


"Kau tak suka memangnya? Mau bertarung denganku?"


Perdebatan demi perdebatan keluar dari mulut mereka, yang akhirnya membuat Xin Chen kelelahan melerai. Dia menunggu orang-orang ini diam lebih dulu agar bisa didengar.


"Sudah, diam dulu. Dengarkan aku." Xin Chen mengeluarkan beberapa botol dari cincin ruang. "Aku memiliki banyak, bahkan cukup untuk kalian semua. Satu perwakilan saja sekarang menghadap padaku."


Salah seorang langsung unjuk diri. Xin Chen langsung melemparkan pertanyaannya. "Selain kelompok kalian, masih ada lagi kelompok Manusia Darah Iblis yang tersisa?"


"Ya, asal kau tahu saja beberapa dari kami masih bisa bertahan hidup hingga hari ini. Hanya saja, mereka bertahan dengan cara menyamar. Menyamar menjadi penjaga kampung-kampung kecil atau petani."

__ADS_1


"Begitu, bukankah katanya kalian tidak bisa hidup tanpa membunuh? Kalian iblis yang haus darah, tidak mungkin bisa hidup dengan damai seperti manusia biasa."


Mendengarkan lontarannya pria itu jadi sedikit menahan omongannya, merasa Xin Chen mungkin saja tidak memihak mereka.


"Tenang saja. Aku takkan mengeluarkan senjataku untuk memerangi kalian, kalau tidak untuk apa aku membawa obat ini."


"Haha! Benar juga! Kau hanya ingin informasi dari kami, bukan?" Tawanya menggelegar. "Dengar, ini memang rahasia di antara kami. Kau bisa menemukan satu tempat di mana sisa Manusia Darah Iblis tinggal bersama. Mereka memang terlihat seperti orang-orang pada umumnya. Tapi jika malam hari, mereka akan membunuh."


"Bisa beritahu mereka di mana?" Xin Chen bertanya balik.


"Seharusnya mereka masih di arah Utara, masih sangat jauh dari tempat kita. Hati-hati jika masuk ke tempat itu pada malam hari, bukan hanya puluhan orang yang menyerangmu, tapi ratusan," katanya berharap Xin Chen takut akan Manusia Darah Iblis ini. "Nah, sekarang berikan kami penawarnya."


Xin Chen tersenyum kecil, memberikan puluhan botol kaca berwarna hijau terang tersebut. Mereka pun menerimanya dengan senang hati. Karena bagaimanapun walau bisa bersenang-senang, jika tubuh digerogoti penyakit aneh seperti ini sama saja mereka tak bisa menikmati.


Xin Chen berbalik badan, berniat meninggalkan desa tersebut. Bahkan kepala desa tak pernah percaya Xin Chen malah menyembuhkan musuh mereka ini. Dia hampir saja menangis seperti perempuan, mungkin memang salahnya memperlakukan Xin Chen dengan sangat buruk tadi.


Sebelas orang di belakang sepenuhnya sudah menelan ramuan tersebut, menunggunya bekerja untuk menyembuhkan penyakit mereka. Tapi siapa sangka, justru radang di dalam tubuh semakin menggila. Kulit mereka seolah terbakar layaknya kertas. Menggerogoti tubuh dari dalam dengan sangat ganas.


Xin Chen tertawa licik, " Kau bodoh? Seharusnya kau menyimak kata-kataku tadi..." Dia mengulang kembali apa yang sudah dikatakannya tadi sambil memasang senyuman licik.


"Aku takkan mengeluarkan senjataku untuk memerangi kalian, kalau tidak untuk apa aku membawa obat ini." Senyum lebar terpampang di wajah Xin Chen, membuat para Manusia Darah Iblis itu segera memuntahkan isi perut mereka.


"Untuk memerangi kalian, aku tidak perlu senjata. Cukup dengan botol-botol ini dan dengan ketamakan kalian juga, kalian akan terbunuh sendiri."


Darah mengucur membasahi tanah desa, membuat para penduduk di sekitar berteriak. Xin Chen meneruskan kata-katanya tak peduli. "Salahkan diri kalian sendiri. Aku tidak pernah mengatakan ini obatnya, kan? Kalaupun memang obat berarti obat untuk memudahkan jalan kalian menuju neraka."


Xin Chen mengeluarkan panahnya, khawatir para pendekar ini malah menyerang masyarakat sekitar. Meski belum terlalu ahli membidik setidaknya masih bisa mengenai tubuh musuh. Satu demi satu mulai tumbang tak bernyawa, terlihat seperti pembunuhan berencana yang dilakukan seorang anak kecil. Hal ini tentu makin membuat kesan mendalam terhadap Xin Chen.


Musuh telah mati sepenuhnya bersama genangan darah.


"Tu-tuan, tunggu sebentar!" Kepala desa datang tergopoh-gopoh, baru saja dirinya selesai menyiapkan imbalan karena berhasil menyingkirkan Manusia Darah Iblis ini dari desanya. "Terimalah ini, walaupun tidak banyak. Ini bentuk terimakasih kami kepada kalian. Kalau kau ingin sesuatu katakanlah, mungkin aku bisa memberikannya padamu." Pria itu menunduk menunjukkan rasa hormatnya.

__ADS_1


Xin Chen menerima dengan senang hati, tidak ada kata basa-basi atau apapun. Yang namanya uang, makanan dan harta memang tidak baik ditolak, pikirnya.


Sejenak dia teringat akan sesuatu, "Apa kalian memiliki bom asap?"


"Bom asap?" Kata kepala desa itu, mengingat-ingat benda itu. "Ah, itu. Peledak yang dibuat para perompak laut itu?"


Xin Chen sendiri tak begitu tahu mengenai bom asap yang tempo lalu ditemukannya di Asosiasi Pagoda Perak. Tidak jelas dari mana asalnya bom tersebut berasal, tapi dari kabar yang terdengar para perompak di Kekaisaran Shang mempelajari cara meracik bom tersebut di negeri orang. Hal inilah yang membuat bom asap sulit ditemukan di Kekaisaran Shang bahkan di toko gelap sekalipun.


Kepala desa menggelengkan kepalanya, merasa tak pernah melihat bom asap itu.


"Kau mencari ini?" Ujar seorang pemuda dengan pakaian layaknya pelaut. "Aku menemukan beberapa dari bom ini mengapung di lautan. Mungkin karena pertempuran para perompak dengan Aliansi Pedang Suci di laut."


"Aliansi Pedang Suci?"


"Oh, kau belum tahu? Walaupun tugas mereka sudah selesai, atas nama Pedang Suci Chang Wei masih bergerak bersama teman-temannya. Mereka mengarungi samudera dan menumpas iblis-iblis kotor di lautan." Pemuda itu menyodorkan sepuluh bom asap sekaligus, "Aku berterimakasih padamu karena sudah membantu kami. Boleh tahu namamu siapa? Kami akan mengingat kebaikanmu ini."


"Namaku..." Xin Chen terdiam sebentar, "Tunggu, kalau Aliansi Pedang Suci ada di sini kenapa kalian tidak meminta pertolongan mereka saja?"


Kepala desa dan penduduknya memasang wajah putus asa, "Kau tahu, sangat sulit memanggil mereka ke sini. Sebelum bisa memanggil mereka, Manusia Darah Iblis sudah lebih dulu membunuh orang-orangku," ucapnya.


"Begitu, ya sudahlah. Aku harus pergi."


Rubah Petir dan Xin Chen bergerak setelah berpamitan, membuat pemuda yang memberikannya bom asap tadi kebingungan.


"Tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku!"


Xin Chen melambaikan tangannya dari kejauhan. "Namaku Xin Chen."


"Apa-!?"


*

__ADS_1


__ADS_2